Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 29


__ADS_3

Brukk..


“Ra... sudah selesai belum sayang?” Pria manis yang sedang menahan rasa sakit di beberapa bagian tubuhnya itu memaksakan diri berjalan menghampiri istrinya karena dirasa sudah lama belum kembali. Lututnya terlalu kencang menabrak benda pembatas ruangan. Diketuknya pintu kamar seberang dimana Tamara berada.


 


Ujung netra seorang wanita yang masih terpaku pada tempat sampah itu seketika beralih pada suara orang di depan pintu.


“I-ya Mas, sebentar lagi.”


Tamara keluar dari kamar. Dilihatnya seorang pria yang berstatus kan suaminya itu sedang merintih kesakitan memegang lutut yang tadi terbentur benda keras.


“Kenapa memaksakan buat jalan sih, jadi tambah sakit kan. Tuh lihat lututnya berdarah lagi, padahal tadi sudah kering,” omel Tamara sambil membantu Ziddan berdiri dan membawanya ke dalam kamar tempat ia akan pindah.


“Aku khawatir kamu kenapa-kenapa di dalam. Sudah cukup lama aku menunggu.”


“Iya, tadi aku sempat melamun karena melihat suatu benda.”


“Benda apa?”


“Bukan apa-apa,” serobotnya cepat.


“Kenangan dari Reza ya?”


“Ah sudahlah. Aku sudah membuangnya.”


“Jadi benar benda itu dari Reza?”


Tamara tak menjawab pertanyaan suaminya itu. Ia mengabaikan dengan memainkan alisnya dan bibirnya di manyunkan. Kemudian melanjutkan kegiatannya beberes kamar Ziddan.


 


Setengah jam berlalu. Kamar Ziddan telah di sulapnya menjadi kamar sepasang suami istri pada umumnya. Pakaian mereka menyatu pada satu tempat yang sama, yaitu lemari berukuran sangat besar di tengah ruangan berurutan dengan ranjang tidurnya.


 


Sayangnya Ziddan tertidur saat istrinya selesai menata. Dengan perlahan Tamara bergabung pada ranjang luas itu. Ia masih membatasi jarak antara dirinya dan suaminya dengan guling.


“Alhamdulillah.. akhirnya selesai,” lirihnya memejamkan mata terbaring di samping suaminya yang sangat manis.

__ADS_1


Sesekali Tamara mengintip dengan menggerakkan bola matanya perlahan ke arah tubuh yang sedikit melingkar di atas kasur itu.


 


Ada sesuatu yang membuat sudut netranya tak ingin beralih dari objek yang di pandangnya saat ini.


“Ternyata kamu kalau lagi tidur tetap saja seperti gula.”


“Manis,” tambahnya lagi.


Tamara terpejam perlahan dengan matanya yang masih sembab.


 


***


 


Keesokan Hari.


 


 


Ia hendak membangunkan Tamara, tetapi tak tega melihat lelahnya yang terlukis jelas di wajah yang dibawanya tidur.


Tangannya tidak bisa menahan ingin mengusap pipi halus Tamara.


“Ra, kamu itu memang bidadari yang sangat cantik di duniaku.”


Wajahnya semakin mendekati wanita itu. Ia semakin kagum dengan kecantikan istrinya. Saat ini wajahnya dan wajah Tamara hanya berjarak sejengkal bayi. Sangat dekat.


Nafas hangat milik Ziddan dirasakan Tamara tiba-tiba. Ia kaget dan membuka matanya.


Ternyata benar Ziddan sedang berada tepat di depannya dengan memasang senyuman termanisnya untuk ke sekian kali. Tetapi entah dirinya tak ingin bergerak sedikitpun. Ada sesuatu yang menahan dalam dirinya. Perasaan cinta yang mulai tumbuh itu mungkin penyebabnya.


“Mas...” ucapnya pelan.


“Ya...”

__ADS_1


“Kamu kenapa menatapku sedekat ini.”


“Memangnya tak boleh?”


“Bukan begitu.”


“Berarti boleh, kan?”


Tamara terdiam, pipinya memerah malu.


“Aku ingin menciummu pertama kali di pipimu. Boleh?”


Matanya kini terbelalak membulat. Menambah dirinya terlihat seperti boneka Barbie dan membuat Ziddan sangat gemas.


Ziddan semakin mendekat. Kini tanpa jarak. Kedua tangannya yang berotot itu memegang wajah Tamara dengan lembut. Ia mengecup pipi istrinya penuh perasaan kasih sayangnya. Perasaan yang selama bertahun-tahun ia pendam kini akhirnya dapat tersampaikan dengan manis. Agak lama pria itu mencium istrinya.


“Aku sangat menyayangimu,” bisik Ziddan.


“Aaa-kuu... A-aku, Aku juga, Mas,” ucap Tamara gugup.


“Terima kasih.”


Kedua pasangan pengantin yang dapat dikata ‘baru’ itu larut dalam pelukan bersama dinginnya embun pagi.


“Mas, maaf bisa kamu lepas sebentar pelukanmu,” pintanya hati-hati.


“Ada apa?”


“Aku belum sholat subuh.”


Ziddan gegas melepaskan pelukan eratnya yang sebenarnya membuatnya candu.


 


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..


Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


 


__ADS_2