Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 61


__ADS_3

“Aku akan mengurus perceraian kita secepatnya. Masih beruntung kamu tidak di penjara, Mas.” Ayu tersenyum sengit.


“Apakah kamu melakukannya karena kamu masih mencintaiku? Benar begitu kan?”


Ayu berpindah langkah, ia meneliti tubuh Hans dari ujung kaki hingga kepala. Ayu memutari pria itu dengan masih tersenyum sengit seakan sedang berhadapan dengan musuhnya.


“Aku masih mencintaimu?” tanya Ayu getir. “Hah. Tentu tidak.”


“Ayu, sekali lagi aku minta maaf, jangan ceraikan aku. Apa kamu tidak kasihan kepada Sanya, anak kita?”


“Ck ck ck ... kasihan? Anak kita?”


“Oke, oke. Aku tahu kesalahanku sangat besar. Aku telah menelantarkanmu dan juga Sanya. Tapi aku sudah mendapatkan karma dari perbuatanku terhadap kalian. Jadi aku mohon maafkanlah aku, agar kesialan ini tak berlanjut. Aku tidak tahu akan tinggal dimana, Yu.”


“Hmm ... jadi kamu meminta maaf hanya untuk membebaskanmu dari karmamu? Enak sekali karmamu hanya beberapa hari saja. Kamu hanya kehilangan pekerjaan dan jabatanmu saja kan? Itu masih belum cukup untuk membayar perlakuanmu kepadaku. Jika kamu di penjara mungkin kamu akan mendekam di balik jeruji besi itu lumayan lama. Jadi, jika aku memaafkanmu hari ini rasanya tidak adil. Aku akan membuatmu menderita lebih dari ini! Hatiku sakit Hans! Sakit!”


“Ayu, tapi aku sudah di usir dari rumah kedua orang tuaku bahkan dari rumahku sendiri. Apa itu tidak cukup? Aku sudah hidup di jalanan karena tidak memiliki tempat tinggal. Semua orang membenciku. Aku tidak bisa menjalani hidup ini sendirian, Yu. Aku membutuhkanmu dan juga Sanya.” Hans memegang tangan istrinya yang sedang bergemuruh amarah.


“Hah? Apa kau bilang? Di usir dari rumahmu sendiri? Aneh. Tidak masuk akal, siapa yang akan mengusirmu?”


“Feni menjual rumahku ketika aku akan dibawa Ayah menuju kantor polisi.”

__ADS_1


“Hahahaha ... berita yang sangat menggembirakan. Terimalah karmamu dan selamat menikmati. Aku akan segera membuat surat gugatan cerai. Pergi dari sini dan jangan pernah kembali padaku!” Ayu berbalik badan, masuk ke dalam rumah Ziddan lalu menutup pintu.


“Ayu, maafkan aku.” Hans tampak pasrah ia kemudian pergi dari tempatnya mematung.


 


Sore ini Permana dan Sari akan menjemput Ayu beserta Sanya pulang ke rumahnya. Semua barang telah Ayu persiapkan. Ziddan nampaknya juga sudah berada di rumah, ia hari ini sengaja pulang lebih awal untuk menyambut mertuanya datang. Pukul empat tepat mobil Permana terlihat memasuki gerbang rumah Ziddan. Mobil yang tak kalah mewah dari mobilnya, perusahaan mertuanya itu sekarang sedang berkembang pesat. Bahkan Permana berpikir ingin membelikan mobil untuk Tamara. Namun, saat ini Ziddan masih menolaknya karena keadaan istrinya yang sedang hamil.


“Wah, terima kasih banyak Ayah. Namun, di hari-hari kehamilan istri Ziddan ini aku ingin menjadi sopir satu-satunya.” Ziddan tersenyum manis kepada mertuanya.


“Ayah setuju,” jawab Permana dengan tersenyum juga. Disusul Sari dan yang lainnya.


Ayu keluar dari kamar Tamu menggendong Sanya. Ziddan menghampiri membawakan barang. Tetapi justru Sanya yang minta untuk dibawanya. Tangan mungil balita itu meraih tubuh tinggi Ziddan. Ziddan pun menerima tangan Sanya, lalu menggendongnya.


“Iya kak, aku jadi terharu.”


Sanya memeluk erat omnya, nampak seperti seorang anak dan ayahnya. Ziddan lalu mengajak balita itu ke taman kecil sudut rumah. Lagi-lagi ada kolam ikan, memang hewan itu kesukaan Ziddan, sepertinya Sanya juga menyukai.


“Sanya Sayang, Om Ziddan akan sangat merindukanmu. Kamu jangan menangis lagi ya, suatu saat nanti kamu akan menemukan Papa yang baik yang menyayangimu seperti Om sayang dengan Sanya,” ucap Ziddan sembari mengelus punggungnya. Tamara melihat mereka dari balik tirai jendela ruang tamu. Kemudian ia melangkahkan kaki menyusul mereka.


“Mesra sekali kalian, Sayang. Aku jadi tak sabar menantikan kehadiran buah hati kita. Kamu sangat lembut kepada anak-anak, Mas. Aku jadi tambah sayang.” Tamara mencubit pinggang suaminya karena gemas.

__ADS_1


“Aaaaaa sakit, Sayang.”


“Maaf, aku sengaja.” Tamara tertawa puas. Sanya ikut tertawa meski dia tidak tahu apa sebab tantenya tertawa. Namun, suasana itu membuat Sanya bahagia, kebersamaannya dengan Ziddan dan Tamara sejenak dapat membuatnya melupakan Papanya.


 


 


 


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚

__ADS_1


Hai kesanyanganku, Selamat Siang. Sembari menunggu novel ini update silakan mampir di novel temanku.



__ADS_2