Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 60


__ADS_3

“Silakan kamu angkat kaki dari rumah ini!”


“Siapa kalian?”


“Aku orang yang sudah membeli rumah ini. Jadi silakan angkat kaki dari rumah ini!”


“Apa? Jadi Feni benar telah menjualnya?” Hans terduduk menarik rambutnya.


Beberapa hari kemudian setelah pengusiran itu, Hans akhirnya nekat menemui Ayu dan Sanya di rumah sakit. Namun, sesampainya di tempat itu ternyata Ayu sudah pulang di hari lalu. Hans menanyakan alamat Ayu ke bagian resepsionis rumah sakit. Tetapi mereka tidak bisa menyebutkan alamat itu dengan mudah kepada sembarang orang. Karena merupakan data pribadi pasien. Hans masih terus memaksa lalu mengatakan jika Ayu adalah istrinya. Dengan begitu pihak rumah sakit kemudian memberikan alamat itu.


“Terima kasih.” Hans langsung pergi menaiki taksi dengan sisa uang tabungannya yang tidak bisa diambil Feni.


Sopir taksi mengantarkannya pada sebuah rumah berdesain Eropa. “Apa benar ini rumah yang menampung Ayu? Inikah rumah adiknya yang kaya itu?”


Hans gegas mengetuk pintu yang menjulang tinggi di hadapannya. Pintu dibuka Tamara.


“Ada apa kamu kemari?” tanya Tamara menyimpan kedua tangannya di dada. Matanya muak melihat lelaki yang berada di depannya.


“Apakah anak dan istriku berada di sini? Kumohon izinkan aku bertemu dengannya.”


“Tidak akan!” Tamara masuk kemudian menutup pintu dengan keras lalu menguncinya.


“Siapa tamu itu, Dek? Kenapa kamu terlihat marah sekali.”


“Mas Hans, Kak.”


“Apa? Dia menemukan Kakak di sini?” Ayu terkejut, Sanya yang di gendongnya tiba-tiba menangis. “Sepertinya Sanya mengetahui keberadaan Papanya,” ucap Ayu menatap Tamara lekat.


“Lalu kakak akan membiarkan mereka bertemu?”


Pintu di ketuk lagi ketika Hans mendengar suara anaknya menangis.

__ADS_1


“Sanya, ini Papa, Nak. Papa kangen ingin bertemu denganmu. Bukalah pintunya. Sanya ....” Hans terus saja berteriak.


“Pappaa...” Sanya menangis menyebut papanya. Ia terus mengamuk Mama Ayu. Menarik badannya seakan memberikan isyarat ingin menemui pria di balik pintu.


“Dek, bagaimana ini?”


“Nggak Kak! Sanya tidak pantas bertemu Papanya yang sudah menelantarkannya.”


“Tetapi dia terus menangis dan menjerit memanggilnya. Hati kakak tidak kuasa menyaksikan ini.”


“Baiklah, aku akan dampingi kakak. Kita menemuinya hanya lima menit saja, Kak.”


Tamara membukakan pintu. Ayu menggendong Sanya lalu menemui Hans di temani Tamara.


Pria itu berlutut di kaki Ayu. Ia mengaku menyesal telah melukai hatinya. “Ayu, aku minta maaf. Aku tahu aku telah melukai hatimu sangat dalam.”


Tamara menyerobot, “Bukan hanya hati. Tetapi sekujur tubuhnya kamu lukai juga. Kamu lupa?”


Hans meneteskan air matanya. Ia baru tersadar akan ucapan adiknya. Hans kemudian memeriksa lengan Ayu. Di lihatnya dengan jelas tangan Ayu lebam akibat pukulannya. Hans kembali menangis, ia memeluk Ayu sekaligus Sanya.


“Cukup Mas, permintaan maafmu itu terlambat. Aku hanya memberimu waktu lima menit untuk bertemu Sanya. Setelah itu kamu bisa pergi meninggalkan rumah ini.”


Ayu menyerahkan Sanya kepada suaminya. Sanya menangis kencang saat berada di pelukan Papanya. Suasana haru membuat Ayu ikut menangis. Namun, tidak dengan Tamara. Ia merasa geram melihat Hans memeluk balita itu. Ingin rasanya Tamara membawa Sanya masuk dan menjauhkannya dari pelukan pria itu, meski dia tahu bahwa ia Papanya. Tak peduli lagi Tamara menyebut ia Papa dari anak itu atau bukan. Yang ia tahu dialah laki-laki terkejam.


“Waktu habis,” bentak Tamara.


“Tapi aku belum mau melepaskannya.”


“Terserah, jika kamu mau di habisi masa.”


“Di habisi masa? Maksud kamu?” Hans kebingungan dengan ucapan adik iparnya.

__ADS_1


“Kalau kamu tidak mau melepaskan Sanya sekarang juga, aku akan meneriakimu Maling.” Tegas Tamara.


“Kenapa kamu tega memisahkanku dengan anakku sendiri?”


“Aku tega? Aku memisahkanmu dari anakmu? Sungguh aku rasa kamu sedang mengigau,” sinis Tamara, ia memalingkan pandangan.


“Ya, tentu kamu tega. Apa bedanya kamu denganku?”


“Lihatlah suamimu ini, Kak. Dengar kan apa yang dia ucapkan?”


Ayu mengepalkan kedua tangannya. Ia mengambil Sanya dari pelukan suaminya, lalu menampar keras wajah Hans.


“Itu yang pantas untukmu.” Sanya menjerit ketakutan melihat pertengkaran itu. Lalu Ayu meminta Tamara membawa Sanya ke dalam rumah.


 


 


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


Mampir yaa....

__ADS_1


Demi kebahagiaan saudara kembarnya, Raya rela menerima permintaan Mahen untuk menikah malam itu juga dan tanpa sepengetahuan orang terdekat. Selama menjadi suami-istri, kehidupan mereka tak ada manis-manisnya, pertengkaran serta kekonyolan selalu membuat kedua orang tua mereka geleng-geleng dan khawatir hubungan kedua anaknya akan kandas di tengah jalan. "Jangan pernah kamu merubah batasan kita, Mahen! Lihat saja, jika kamu melanggar semua, maka saat itu juga aku akan minta cerai!" Apakah Raya akhirnya bisa menerima Mahen sebagai suaminya atau Raya akhirnya memilih untuk bercerai, setelah semua masalah saudara kembarnya selesai?



__ADS_2