
Seperti biasa, setiap pagi Tamara memasak untuk sarapan. Walaupun dia agak tomboy sewaktu gadis tetapi dia suka memasak. Ayah dan ibunya juga kerap memuji masakan anaknya itu.
Ziddan hari ini tidak berangkat ke kantor. Ia masih diberikan surat izin dari dokter untuk beberapa hari ke depan hingga keadaannya pulih. Namun kendati demikian, dirinya tetap mengerjakan laporan-laporan dari rumah yang dikirimkan melalui email.
Di sebuah sofa berbulu berwarna merah hati ruang kerja terdapat Ziddan duduk sedang menikmati minuman yang tampak masih berasap. Meneguk dengan pelan sesekali meniupnya hingga wajah manis itu berpadu dengan asap.
“Aku sudah siapkan sarapan dan juga air panas dengan aroma terapi jika mau mandi.” Tamara tiba-tiba muncul.
“Aku mau mandi dulu saja, setelah itu aku mau lanjutkan pekerjaan. Banyak email masuk dari atasan. Biar nanti sarapannya aku makan sambil mengerjakan laporan,” ucapnya dengan menutup laptop.
“Kalau begitu aku bantu berjalan ke kamar mandi.”
“Iya. Terima kasih.”
“Kenapa terimakasih terus, ini sudah kewajibanku kok.”
“Alhamdulillah akhirnya perlahan kamu sadar dengan kewajiban seorang istri. Aku bahagia mendengarnya.”
“Iya mas, maafkan aku yang dulu,” ucapnya mengiba.
“Tidak apa-apa. Aku sudah memaafkan.”
Mereka telah sampai di kamar mandi, Ziddan melangkah masuk perlahan, Tamara menunggu di luar.
“Kamu tak ingin bergabung?” goda Ziddan dengan badan terlihat setengah dibalik pintu kaca itu.
“Apaan sih mas, masih pagi! Luka mu belum sembuh juga tu,” timpalnya memonyongkan bibir. Pria itu tertawa lepas. Kembali menutup pintu kaca.
Usai mandi Tamara membantu kembali suaminya menuju ruang kerja Ziddan yang sangat elegan. Dalam ruangan itu terasa nyaman, jendela kaca yang terbuka penuh membuat udara sepoi masuk dari taman kecil samping rumah megah Ziddan.
Tampak juga beberapa hiasan dalam ruangan itu. Ada ikan dengan ekor cantik warna-warni di dalam botol melengkung. Ziddan suka memelihara hewan laut cantik itu. Ia meletakkan di pojok meja kerjanya.
__ADS_1
“Sudah sampai. Sarapan untukmu aku taruh disini.”
“Ikan ku mana?”
“Ikan?” tanyanya yang hanya melihat meja itu di penuhi hidangan.
“Ooh, sudah aku goreng.”
“Apa? Kamu goreng?”
“Iya. Kok kaget?”
“Itu ikan kesayanganku, Ra...” lirihnya.
“Ikan kakap itu?”
“Bukan. Ikan hias yang aku taruh disini.” Menunjuk sudut meja yang sekarang di tempati piring.
“Hahaha...”
“Kenapa kamu tertawa.”
“Kamu tu lucu banget. Masak kerja lihatnya ikan. Mau makan juga sambil lihat ikan?”
“Jadi, aku kalah dengan ikan ya.”
“Kenapa kamu bicara seperti itu?”
“Tentu. Hewan itu kesayanganmu yang kamu jaga dengan baik, kamu rawat, dan dia juga bisa memberikanmu ketenangan karena pesonanya. Beda denganku. Yang kamu cintai tetapi tidak bisa memberimu kenyamanan.” Kedua matanya menatap nanar suaminya.
Ziddan menarik tangan Tamara lalu menciumnya.
“Ra... Aku mencintaimu tulus. Cinta yang tulus itu hanya selalu ingin memberi tanpa berharap menerima balasan. Seperti empat tahun yang aku lewati ini. Aku tak pernah mendekatimu, aku tak pernah menghubungimu sekalipun. Tetapi bagaimana caraku memberi cinta kepadamu? Kamu tahu tidak? Aku selalu menyelipkan namamu di setiap sepertiga malamku sejak hari pertama aku putuskan aku jatuh cinta padamu. Dan waktu itu ketika kamu masih berada di pondok. Bukan waktu yang singkat ‘kan?”
“Mungkin karena itu juga kamu berhasil memilikiku. Meski dengan jalan yang pahit.” Hatinya terasa campur aduk. Ada sedih yang mendalam jika mengingat jalan dipersatukannya dengan Ziddan. Namun ia kini juga merasa lebih bahagia setelah bisa menerima Ziddan sebagai suaminya.
“Tapi bagaimana kalau ternyata aku sudah menikah disaat kamu sedang berjuang untukku?” Ia melemparkan pertanyaannya tiba-tiba.
“Berarti kamu bukan jodohku.”
“Hanya begitu saja? Apa kamu tidak frustasi, depresi, lalu mentalnya down?”
__ADS_1
“Tidak.”
“Kenapa bisa begitu?”
“Karena aku tidak berharap kepadamu. Berharap kepada manusia hanya akan mendekatkan kita pada kekecewaan. Aku hanya berharap kepada penciptamu dan pemilikmu sesungguhnya.”
“Kamu selalu membuatku tenang dengan kata-katamu, Mas. Aku tak tahu bagaimana nasibku jika yang melamarku setelah kegagalanku menikah dengan Reza bukan kamu. Bagaimana jika Anto atau teman ayah yang mendekatiku itu. Pasti aku benar-benar depresi. Untungnya Allah memberimu untukku, bukan mereka.”
“Memangnya kenapa kalau mereka?”
“Atitude mereka buruk, Mas. Tetapi keduanya di kenal ayah dengan baik.”
Perbincangan itu telah menemani sarapan mereka pagi ini. Setelah itu Tamara menyiapkan obat untuk Ziddan dan membantunya menyuapkan minum.
“Oh iya, Mas. Aku memindahkan ikan kamu di dekat jendela.” ucapnya melirik ke arah tersebut.
“Syukurlah.. aku kira kamu benar memasaknya.”
“Tidak lah Mas, mana aku berani. Aku hanya pendatang disini. Aku pun sedang belajar mengetahui tentang kepribadianmu, kesukaanmu, dan hal yang membuatmu bahagia.”
“Kenapa harus kamu pelajari soal itu? Semua itu sudah ada dalam dirimu, sayang.”
Keduanya tersenyum. Tamara menemani suaminya bekerja dari rumah hari ini. Sesekali ia memijit lengan kekar itu.
Saat ia mengecek ponselnya ternyata ada sebelas panggilan tak terjawab dari sahabatnya sewaktu kuliah.
"Meli? ada apa ya?" gumamnya yang di dengar Ziddan.
"Kenapa sayang?"
"Sebentar Mas, aku telepon balik Meli dulu. Takutnya ada hal penting."
"Iya, baiklah sayang."
Tamara melangkah keluar meninggalkan suaminya seorang diri dalam ruangan itu.
Bersambung....
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘