
Panggilan di layar gawai Tamara terhubung...
“Assalamu’alaikum. Hallo Mel, ada apa?”
“Wa’alaikumsalam. Hallo sayang, apa kabar? Akhirnya Lo telepon balik juga. Lagi sibuk banget yah nyonya Ziddan sekarang. Gue ganggu gak? Gimana dengan malam pertamanya? Oh gue lupa. Udah berkali-kali malam ya bukan malam pertama lagi. Eh eh terus udah ada tanda-tandanya belom?” oceh Meli tanpa henti. Tamara menjauhkan telepon genggamnya dari telinga. Suara nyaring khas Meli terdengar sangat berisik. Rasanya ia ingin tinggalkan panggilan itu untuk mengerjai sahabatnya.
“Hallo, Ra. Hallo... Hallo. Lo masih disana kan?”
“Iya aku masih disini, Mel.”
“Kok diem aja sih. Jawab dong.”
“Yang mana?”
“Hahhhh? Lo kira tadi gue lagi baca pidato apa? Sampe-sampe Lo gak dengerin!” gertaknya menambah suara Meli melengking. Tamara terkikik.
“Ya samalah kayak pidato. Ada apa sih tumbenan telepon?”
“Hooh. Ini gue lagi ada penelitian di daerah tempat tinggal Lo, Ra. Gue pengen mampir boleh gak ya sama suami Lo?”
“Tau dari mana tempat tinggalku sekarang?”
“Dari nyokap Lo lah. Siapa lagi. Gue kemarin telepon ke nyokap Lo. Habisnya Lo susah banget di hubungi.”
“Iya, aku akhir-akhir lagi banyak masalah, Mel.”
“Hah masalah apaan? Udah nikah juga masih banyak masalah.”
“Kamu pikir kalau udah nikah ga bakal ada masalah? Makanya cepet nikah sama si Jojo pacar kamu tuh biar tahu rasanya.”
“Hehe. Canda kali, Ra. Gimana boleh gak gue mampir?”
“Mampir aja, pasti mas Ziddan izinin kalo cuman kamu doang yang kesini. Nanti aku bilangin ke dia.”
“Oke, Ra. Besok gue kesana.”
“Udah dulu ya.”
“Eeh bentar-bentar. Gue penasaran. Elo udah mau itu belum sih?”
“Itu apaan, yang jelas!”
“Yaaa.. cetak anak lah.”
__ADS_1
“Belom.”
“Ih Lo gimana sih, Ra. Yaudah besok gue kesana bawain sesuatu deh.”
“Apaan?”
“Ada deh. Udah dulu ya sayang. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam...”
Suara panggilan di ujung telepon terputus. Wanita cantik berpostur tinggi itu kembali menemui suaminya.
“Ada apa Meli menelepon, sayang?”
“Dia sedang ada penelitian di dekat sini. Katanya mau mampir ke rumah besok. Boleh kan, Mas?”
“Iya boleh.”
“Terimakasih, Mas.”
Ziddan menjawab dengan senyum.
Di sebuah hotel.
Meli sengaja memilih hotel bintang lima di tengah kota besar untuk menginap beberapa hari selama melakukan penelitiannya itu. Dari dalam kamar yang disewanya terdengar suara tawa pecah Meli dengan keras. Ia sedang merencanakan sesuatu dan membayangkan hal itu akan terjadi dengan mulus. Rencana apa yang kira-kira akan dilakukan Meli? Yang pasti rencana itu untuk suatu kebahagiaan sahabatnya nanti.
“Ra, maaf kayaknya gue harus bertindak. Mending siang ini juga gue cari jamu kuat itu di daerah sini. Tapi kira-kira ada gak ya? Ah udahlah mending gue cabut sekarang juga.”
Meli bangkit dari rebahannya yang sudah ia jalankan setengah hari. Tidak ada kegiatan yang membuatnya tertarik di kota itu. Baru kemarin dia check in hotel, dan pelaksanaan penelitiannya akan dimulai lusa. Gadis yang cukup pintar itu melakukan penelitian karena mengikuti sebuah lomba di kampus tempatnya menimba ilmu bersama Tamara dulu.
__ADS_1
Langkahnya yang kecil sambil bersiul menyusuri koridor hotel. Saat ia akan masuk ke dalam lift ia berpapasan dengan laki-lali yang pernah menemani Tamara wisuda. Laki-laki yang pernah membuat sahabatnya itu tergila-gila di gandeng erat lengannya oleh seorang wanita.
“Itu bukannya Reza ya?” gumamnya.
“Za, Reza.....” Panggilnya keras namun tak terdengar. Malahan wanita yang menggandeng itu yang menengok ketika lift akan tertutup.
“Kayaknya emang bener tindakan gue ini. Gue harus beri ramuan jamu kuat buat Ziddan dan Tamara. Biar cowok pengkhianat itu nyesel nantinya lihat kebahagiaan mereka. Apalagi jika nanti sudah ada buah hati di antara mereka. Liat aja Lo, Za!” gerutu Meli di dalam lift.
Kemudian ia sampai di basement hotel. Segera Meli lajukan mobilnya membelah jalanan ibu kota di tengah teriknya matahari. Bola matanya beredar melihat kanan kiri setiap ruko dan toko-toko kecil di pinggir jalan. Namun belum nampak tulisan yang dicarinya.
Kendaraan itu terus melaju hingga ke pinggiran kota. Cukup jauh dari hotel tempatnya menginap. Pada jalanan sempit akhirnya dia menemukan sebuah toko kecil namun sangat ramai pengunjung. Yaps. Toko yang menjual berbagai macam jamu alami.
“Yes. Akhirnya dapet,” ucapnya girang dengan mengangkat kedua tangannya ke udara. Meli segera turun dan memesan jamu itu kepada penjaga toko.
“Pak, jamu itu ya satu aja.” Jarinya menunjuk salah satu kemasan yang terletak di etalase atas.
“Ini, Neng?”
“Iya, Pak.”
“Buat suaminya ya?”
“Ih bapak kepo aja nih. Udah langsung bungkus aja, Pak.”
“Siap, Neng.”
Meli kembali ke hotel dengan wajah semringah. Tak peduli apa kata bapak-bapak tadi yang menertawakannya. Yang terpenting ia mendapatkan barang itu, dan besok akan ia berikan kepada sahabatnya.
Bersambung....
*N**antikan episode menarik setelah Ziddan di jamu Meli ya*...
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰😍😍
__ADS_1