
“Mel, masak kamu melewatkan memandang wajah gantengku sih. Mereka aja ada yang mencuri fotoku loh ketika aku berjalan kemari,” terang Reza dengan bergaya tampannya.
“Mereka siapa?” Meli membuka bukunya perlahan. Matanya membulat mencari sosok yang di maksud Reza.
“Tuh! Lihat tuh!” Reza menunjuk kumpulan gadis kampus yang mengintai keberadaan mereka.
“Bhahahahaha. Gila ya, gak pernah apa mereka liat cowok kaya Lo?”
“Ganteng kan aku?” ucapan Reza membuat Meli langsung terdiam. Benar yang dikatakan Reza. Pria itu memang sangat tampan. Pantaslah kalau dulu Tamara sampai tergila gila padanya. Wajah Reza seperti wajah orang Turki campuran Indonesia. Sedangkan Ziddan, pria berwajah manis khas Indonesia.
“Woy!” Reza memukul agak keras pundak gadis yang sedang bengong di hadapannya.
“Sakit tau! Lo kira badan gue kayak cowok!”
“Habisnya kamu lemot banget. Gimana mau gak?” Pertanyaan Reza membuat Meli bingung memberi jawaban. Meli tahu apa maksud Reza. Saat ini pria tampan itu sedang memintanya menjadi kekasihnya, pengganti Tamara.
“Aku pikir-pikir dulu deh.”
“Gaya banget sih, sok cantik nih anak!” Reza merangkul Meli dan menariknya kuat agar gadis itu mendekat.
Keduanya bertatapan mesra. Reza memburu manik mata indah milik Meli. Begitu pula dengan Meli. Dia terpaku menatap mata Reza. Setelah sadar, Meli memukul wajah itu dengan buku komik favoritnya.
“Lo mending pergi deh. Ganggu bacaanku aja!”
Reza terkekeh melihat Meli yang salah tingkah.
“Kalo emang suka ngapain gengsi sih, Mel,” celetuknya.
“GR banget Lo jadi cowok.”
“Kamu udah selesai kan hari ini? Tongkrong yuk, Mel! Aku yang traktir deh.”
“Yakin Lo mampu traktir gue? Jajan gue banyak.”
“Perlu lihat saldoku gak?”
__ADS_1
“Gaakk.. gak perlu. Yuk berangkat!”
Reza dulu memang sempat bangkrut yang kemudian di tolonglah Rista. Awal mula nasib buruknya adalah menerima tawaran bantuan dari Rista. Namun, sekarang Reza dan ayahnya sudah bangkit kembali dengan dibukanya toko kecil oleh-oleh pinggir pantai miliknya dulu yang pernah terbakar. Meski masih merangkak tetapi sedikit demi sedikit berbuah hasil yang menjanjikan. Cukuplah hanya untuk mentraktir Meli.
Mereka berdua melewati kumpulan gadis kampus yang masih berada di tempat yang sama saat mengintai tadi. Ketika tepat di hadapannya, salah seorang dari mereka berani dengan sengaja menyindir Meli.
“Sahabat macam apa. Gagal nikah ternyata karena di embat sahabatnya sendiri,” ucap gadis berambut pirang membuat langkah Meli terhenti. Wajahnya berubah geram. Namun, tangannya di tahan Reza saat ia akan melangkah ke arah gadis itu.
“Lepasin gue, Za.” Reza melepasnya.
“Elo tu siapa? Beraninya bilang gitu sama gue. Denger ya, Elo gak tau apa apa, jadi mending diem. Jaga mulut Lo!”
“Eh Mas, kamu buta apa gimana sih? Cowok tampan sepertimu kok mau aja sama cewek modelan begini. Jojo aja ninggalin dia karena gayanya kayak preman. Sok ngatur, sok berkuasa. Gak ada bagusnya,” nyinyir gadis itu menatap Reza. Reza hanya terkekeh. Kemudian ia membalas.
“Yang pasti Meli gak pernah urusin hidup orang seperti Anda.”
“Bye...” ledek Meli sambil melambaikan tangan dan membalas rangkulan Reza. Mereka berdua melanjutkan langkah menuju cafe yang terletak tak jauh dari kampus.
“Masih aja mikirin omongan, Mel?”
“Kesel aja gue.” Reza tak menggubris ocehan Meli yang terus menerus membanjiri telinganya. Dia memanggil pelayan yang sudah bekerja sama dengannya. Sebelum Reza ke kampus Meli, dia sudah memesan sesuatu. Ternyata Reza ingin memberi kejutan kecil untuk Meli. Sebuah meja di lantai atas di sulap menjadi tempat romantis.
Tidak lama pelayan itu datang dengan membawa hidangan dessert brownies cokelat yang di garnish dengan cantik. Potongan brownies itu berbentuk hati dan di atasnya terdapat surat kecil yang terbuat dari cokelat juga. Meli yang semula cemberut tiba-tiba tersenyum. Ia membaca tulisan di atas brownies. Sebuah ungkapan hati Reza.
‘Luka lama hanya bisa disembuhkan dengan jatuh cinta. Cinta datang dari arah mana saja. Termasuk dari kamu, penempat hati ini.’
“Apa ini, Za?”
__ADS_1
“Menurutmu apa?”
“Ihh, dilarang balik tanya!”
“Aku suka kamu, Mel.”
“Suka doang? Tukang cilok kalau gue kasih uang lebih juga suka sama gue.”
“Hahahaha.. ini yang bikin aku suka dari kamu. Kamu gadis yang ceria, periang, humoris. Dan selama ini aku sangat terhibur semenjak adanya kamu. Selain itu kamu gadis yang perhatian juga penyayang. Aku banyak berterima kasih sama kamu, Mel. Kamu udah berhasil buat aku lupa akan lukaku di masa lalu. Kamu membuat hidupku berubah menjadi pelangi setelah di guyur hujan.”
“Udah pidatonya?” Meli terkikik. Tapi wajahnya tidak bisa di bohongi. Ia sebenarnya merasa malu.
Reza yang gemas kemudian berdiri. Berpindah mendekati Meli.
“Nikah, Yuk,” bisik Reza.
“Bercanda?”
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
Terimakasih selamat berpuasa bagi yang menjalankan 🤗🤗🤗😘😘😘😘
Lope lope sekebun buat kalian ❤❤❤❤
__ADS_1