Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 20


__ADS_3

“Bagaimana, sudah enakan?” tanya Ziddan merasakan tubuh yang menempel di dadanya itu memisah.


 “Sedikit lega. Terimakasih, ustad.”


 “Maksudku Mas,” ucapnya segera membenarkan.


 “Kalau kamu masih ingin bercerita, ceritalah. Aku akan selalu berusaha menjadi pendengar terbaikmu.”


 “Tapi kamu sudah harus berangkat kerja.” Tamara melirik mesin waktu yang Ziddan kenakan di tangan kirinya.


 “Jam berapa ini? Aku sampai lupa waktu.” Ia terkejut kalau sekarang masih pagi. Dan waktunya dia bekerja. Semua waktu seperti tersirap oleh kebersamaan mereka. Hhmm.. di pikiran Ziddan, ia masih ingin sekali bermomen seperti ini. Momen pertama kali Tamara bisa bersikap sedikit lembut kepadanya.


 


“Kalau aku kerja siapa yang akan menjagamu? Apa kamu bisa berjalan? Belum kan?”


 


“Aku masih bisa berjalan dengan kaki satunya. Lukanya agak diatas jadi bisa aku gunakan menapak.”


“Sebenarnya aku tak ingin meninggalkanmu sendiri dalam keadaan begini. Aku takut lukamu tambah parah. Tapi, hari ini aku tidak bisa izin karena ada rapat sangat penting. Rapat penentuan kerja sama dengan klien.”


 


“Aku bisa sendiri. Segaralah berangkat nanti kamu telat.”


 “Maaf sayang,” ujar Ziddan.


 “Tak apa,” ujarnya menunduk.


 


Ziddan gegas mengambil tas kerjanya lalu memakai jas sambil berjalan ke arah pintu. Namun, saat akan membukanya Tamara memanggil.


 “Tunggu sebentar. Kemarilah.”


 “Ada apa?” tanya khawatir pria itu.


 


Ziddan kembali mendekati istrinya. Wanita cantik itu meraih tangan kanan Ziddan lalu menciumnya.


“Hati-hati di jalan.” Senyum mengembang di wajah Tamara. Diikuti ekspresi tak percaya Ziddan membuka mulutnya. Kemudian semakin menyusut dan ikut tersenyum.


 


“Aku akan pulang lebih cepat hari ini.” Ziddan mengelus kepala wanita itu.


Tamara hanya mengangguk kecil tanpa memandang suaminya.


 “Assalamu’alaikum.”


 “Wa’alaikumsalam.”

__ADS_1


 


 


****


 


 


Sore hari ketika Tamara hendak mandi Ziddan pulang. Kali ini pintu kamarnya tak terkunci. Ia lupa.


 


Ziddan yang mengucap salam tak ada jawaban dari Tamara kemudian gegas mencari wanita itu. Ia khawatir terjadi apa-apa dengan istrinya. Di ketuklah benda penutup ruangan yang berwarna cokelat bertuliskan kamar tamu itu. Berkali kali tak ada sahutan. Akhirnya Ziddan melangkah meloloskan diri masuk ke kamar. Namun tak di temui istrinya di kasur mau pun di sudut-sudut ruangan. Ziddan terus melangkah mencari sosok wanita cantik. Ia mendengar gemercik air yang dengan pelan di jatuhkan dari arah kamar mandi dalam ruangan itu. Mendekatlah Ziddan, lalu mengetuk.


 


“Ra, apa kamu ada di dalam.”


“Aaw, perih.”


“Ra, apa kamu baik-baik saja?”


“Heem. Aku tak apa, hanya sedikit perih.”


Tamara kemana pun menggunakan satu kaki. Hingga ia mandi juga harus berdiri dengan kaki kirinya saja. Tapi saat ia hendak mengambil sesuatu ia menginjak air sabun di lantai yang sangat licin. Suara badannya jatuh sangat keras, membuat Ziddan yang sudah di ujung pintu balik lagi menuju Tamara berada.


 


 “Aku jatuh,” jawabnya sambil berusaha bangkit.


“Bisa berdiri?”


“Belum.”


“Buka pintunya.”


“Bagaimana bisa?”


“Baiklah aku akan mendobrak. Menjauhlah sekarang.”


Tamara gugup mendengar laki-laki itu akan masuk, dia dalam keadaan masih mandi. Tentu tak di balut apapun. Segeralah dengan posisi terduduk ia menggapai handuk diatasnya. Pintu terbuka. Dilihatnya Ziddan dengan sedikit keringat mengucur di dahi. Tamara masih dengan busa sabun di badannya tetapi sudah pakai handuk.


 


Ziddan seperti sedang melihat putri duyung terdampar di kamar mandi. Putih mulus cantik namun penuh dengan busa. Ziddan justru terkikik, namun tak dipungkiri ada sesuatu di bagian tubuh Ziddan yang bergejolak melihat istrinya hanya terbalutkan handuk.


Matanya tak sedikitpun berkedip.


 


“Hey, apa yang kamu pikirkan. Cepat tolonglah aku.” Tamara kesal plus takut.

__ADS_1


Ziddan gelapan mengusap wajah berkali kali. Mencoba membuyarkan pikiran traveling-nya.


“Maaf maaf,” ucapnya masih ragu bagaimana cara menolong Tamara. Ia masih penuh sabun. Apa yang harus ia tolong. Ziddan laki-laki yang polos. Belum pernah ia melihat pemandangan seperti itu, bahkan akan menyentuhnya. Bulu tangannya bergidik sendiri.


 


“Kamu pegang kuat-kuat handukmu. Aku akan membantumu berdiri lagi.”


Setelah bisa berdiri dengan bersandar tembok, Tamara menyuruh Ziddan untuk keluar dan menutup pintu kembali, namun tidak terkunci kali ini. Segeralah Tamara menyalakan shower membersihkan badan dari tumpukan busa.


 


“Mas, aku sudah selesai. Tolong bantu aku berjalan.”


“Aku boleh masuk?”


 


“Masuklah. Aku sudah pakai handuk.”


 


Pintu kaca terbuka. Pria itu masuk lalu mengudarakan tubuh istrinya dengan cepat.


“Hey. Aku hanya minta kamu bantu berjalan. Bukan menggendong.”


 


“Kelamaan,” cetusnya tanpa memandang Tamara sedikit pun. Ia takut tak bisa menahan dan berubah pikiran, bukan menolong lagi tetapi menikmati.


 


Dalam gendongan Ziddan justru Tamara menikmati wajah suami yang manis dan gugup menjadi satu itu. Sebenarnya ia gemas melihat kepolosan suaminya. Cinta nya begitu tulus, bukan di dasarkan nafsu.  


Hai Readers setia.... pasti momen begini yang ditunggu kan.. 😁😁 Berikan komentar like juga tekan love yaa 🥰🥰🥰😍😍😍


Harap bijak dalam membaca ya sayang 😘😘


Lopee sekebun buat semuaa 🥰🥰🥰


 


 


 


 


 


 


 

__ADS_1


 


__ADS_2