Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 13


__ADS_3

“Tamara.... bangun sayang,” ucap Sari berulang kali menepuk pipi anaknya agak keras. Meli masih berusaha menciumkan aroma minyak angin di hidung mancung itu. Semua orang menunggu gadis itu siuman, terutama Ziddan yang baru saja resmi menjadi suami sahnya.


 


Ziddan sangat khawatir dengan keadaan Tamara. Saat Tamara berlari tadi Ziddan sempat mengejarnya, ia mendengar apa yang di ucapkan Tamara di taman itu. Bahkan dia juga yang menggendong tubuh istri sahnya itu ke kamar yang penuh dengan dekorasi bunga mawar putih, bunga kesukaan gadis itu. Bau harum bunga itu terhirup oleh Tamara, kemudian membuatnya sadar. Tamara mengedarkan pandangannya yang sayu ke seluruh ruangan cantik itu. Terasa sedikit nyeri di kepala, ia meraih mawar putih yang bertebaran di kasur tempat ia terbaring.


 


“Reza, pasti kamu yang ngasih mawar putih ini kan?” desah Tamara.


 


Ibu meraih tangan berkulit putih nan lembut, lalu mengecupnya.


 


“Sayang, mana yang sakit?” Tangan dewasa itu masih terus mengusap lembut tangan anaknya.


 


“Disini, Bu.” Tamara menunjuk dada yang tertutup gaun pengantin. Sari menggenggam kedua tangan itu dengan kuat, lalu meneteskan air mata.


 


Meli kembali memberi kekuatan kepada sahabatnya, “Ra, saat ini ada yang jauh lebih menyayangi Lo. Lebih dari Reza. Dia berhati lembut, gak kalah ganteng kok dari Reza. Coba deh Lo lihat.” Meli menyuruh Ziddan yang berada diluar ruangan untuk masuk ke kamar Tamara yang juga akan menjadi kamarnya.


Ziddan melangkah meloloskan diri melewati pintu bertirai bunga melati. Senyuman termanis ia suguhkan untuk istri sahnya yang sangat cantik, tanpa make up saja kecantikannya bagai bidadari. Apalagi saat ini wajahnya di poles oleh perias yang ahli dibidangnya dengan bayaran mahal tentu saja hasilnya mengagumkan.


Laki-laki berkacamata itu kian mendekati istrinya yang masih terbaring. Sari menepi membiarkan Ziddan menggantikan posisinya duduk tepat di hadapan Tamara.

__ADS_1


 


“Bagaimana keadaanmu, istriku?” Tamara masih asing dengan statusnya saat ini. Ia meneliti dengan kedua bola matanya wajah pria yang saat ini mengaku sebagai suaminya. Tapi memang itu kenyataannya, Ziddan adalah suami sahnya. Tak ada Reza.


“Istri? Maaf Ustad, aku belum terbiasa dengan kata itu.”


 


Sari dan Meli yang masih berada di ruangan itu kemudian perlahan keluar diam-diam meninggalkan Tamara, bermaksud memberikan waktu bagi mereka berdua untuk saling berbicara dari hati ke hati.


 


“Tak apa, Tamara, aku akan menunggumu untuk bisa menerimaku. Aku telah lama mengenalmu, dan telah lama juga aku menyimpan perasaan cinta ini.”


 


“Kenapa ustad tidak pernah menyatakannya? Apa Ustad sudah tahu kalau aku menjalin hubungan dengan Reza?”


 


 


“Lalu apa sekarang ustad menyesal telah menikahiku yang masih menyimpan perasaan untuk Reza?” Kata itu terasa sakit di dengar Ziddan. Begitu mengusik batinnya. Namun dengan ketulusan cinta yang ia miliki, ia mencoba menerima bagaimanapun keadaan istrinya saat ini. Dia menganggap ini sebagai ujian dalam rumah tangganya.


 


“Tidak, aku anggap ini sebagai ujian untukku.” Ziddan menarik nafas kuat sebelum melanjutkan.


“Aku telah mengucapkan ijab kabulku. Itu adalah sebuah janjiku di hadapan Allah, aku akan menerimamu apa adanya, aku terima semua yang ada pada dirimu, kekurangan serta kelebihanmu. Masa lalu serta masa depanmu.”

__ADS_1


 


Tamara terdiam mendengar ucapan suaminya itu. Dilihatnya Ziddan oleh gadis itu mulai ujung kaki hingga kepala dengan sangat teliti mencari perbedaannya dengan Reza seperti apa kata sahabatnya tadi. Ziddan memang tak setampan Reza yang bertubuh kekar, tapi tinggi badannya melebihi Reza. Raut wajahnya yang teduh dan manis membuat orang tidak bosan memandang.


 


Tidak terasa perbincangan keduanya telah menghabiskan waktu hingga sore. Saudara-saudara Tamara melayani para tamu undangan karena masih ada yang berkunjung menikmati hidangan pesta dan ada pula yang sudah pulang. Ayah dan ibunya masih menemani rekan kerja mereka yang terlihat asyik bercakap. Meli mengetuk pintu kamar yang bertirai rangkaian melati itu dengan pelan, takut mengganggu pengantin baru. Setelah tiga kali ketukan akhirnya Tamara keluar dengan wajah lusuh.


 


“Ra, gue pamit dulu ya. Selamat malam pertama, sayang.” Meli mencium pipi sahabatnya. Kemudian ia mencari keberadaan suami Tamara di dalam.


“Ustad Ziddan, semoga sukses ya,” godanya.


 


“Mel.....” dengus kesal Tamara akan goda wanita itu. Meli segera berlalu meninggalkan keduanya di kamar.


 


“Tak usah diantar ke depan, kalian mandi saja sana berdua.” Sekali lagi wanita itu menggoda.


 


Tamara mengambil handuk bergegas mandi, mengacuhkan perkataan sahabatnya tadi. Bahkan tidak sedikit pun melirik suaminya yang sedari tadi justru memperhatikan tingkahnya seakan Ziddan memberi kode ingin mengikutinya ke dalam ruangan privasi itu.


 


Apakah Tamara akan luluh kepada Ziddan?

__ADS_1


Tunggu episode selanjutnyaa yaa.. Terimakasih sudah setia membaca novel ini 🥰🥰🥰🥰🥰


jangan lupa beri dukungan, like, komen, dan tekan love 😘😘😘😘


__ADS_2