
“Kamu benar, Dek. Selama ini kakak tidak menyayangi tubuh kakak sendiri. Kakak bahkan membiarkan kekerasan itu terjadi tanpa perlawanan. Kakak takut ....”
“Kenapa Kak Ayu harus takut? Lihatlah Sanya, Kak. Sanya ikut merasakan apa yang kakak rasakan. Tidak ada keceriaan dalam dirinya lagi. Anak seusia dia seharusnya tidak akan terlihat murung dan selalu menangis tanpa sebab. Itu karena Sanya merasakan apa yang kakak rasakan selama ini. Kakak tidak bisa menyembunyikan ini berlarut-larut, Kak. Carilah keadilan, munculkan keceriaan di wajah Sanya lagi.” Tamara menangis mencium tangan kakaknya. Ia membuka lengan baju kakaknya, dan benar ia melihat ada luka lebam yang cukup parah. Mungkin ini tidak terjadi hanya sekali dua kali.
“Kak, sudah berapa kali Mas Hans melakukan ini?” tanya Tamara geram. Tangannya mengepal. Kak Ayu kembali menangis, hingga tangisannya kini benar-benar pecah.
“Kak, apakah di saat aku menikah kekerasan ini sudah terjadi pada kakak?”
Ayu menganggukkan kepalanya pelan.
“Ya Allah, Kak.” Tamara kembali memeluk Ayu dengan terisak. Kedua wanita itu menangis tersedu. Pelukan mereka memberikan arti saling menguatkan.
Ziddan mengetuk pintu ruang rawat Kakaknya. Dia sudah meminta izin dokter untuk masuk, sebab Sanya menangis ingin bertemu ibunya. Tamara membiarkan ketukan itu hingga membuat Ziddan langsung masuk.
“Kak, maaf, Sanya ingin bertemu.”
Kak Ayu mengangguk dan mengulurkan kedua tangannya seakan ingin menangkap anaknya.
“Mama ....” Tangis Sanya pecah di pelukan Mamanya.
“Mama tidak apa-apa, Sayang. Mama hanya capek saja. Sanya nanti ikut dengan Om dan Tante dulu, ya. Kalau Nenek sudah datang nanti Sanya bisa ikut dengannya.”
“Kak, sebaiknya aku hubungi Difa untuk menjaga Sanya. Lagi pula Sanya sangat menyukai Difa kan.”
“Tetapi bagaimana dengan kuliahnya?”
“Difa anak yang pintar, Kak. Aku yakin kuliahnya sudah beres. Dia tidak pernah lambat mengerjakan tugasnya.”
“Jika Difa mau, Kakak setuju saja.”
“Suruh Difa tinggal ke rumah kita saja, Sayang. Jangan ke hotel.”
“Baiklah, Mas. Terima kasih banyak.”
__ADS_1
“Sam-sama, Sayang,” jawab Ziddan mengusap kepala istrinya.
“Sayang, Mas harap kamu tidak terlalu stres menanggapi masalah ini. Ingat kehamilanmu, ingatlah calon bayi kita, Sayang.”
“Iya, Mas.” Tangan Tamara menggenggam kuat tangan suaminya.
“Benar apa yang dikatakan suamimu, Dek. Kakak sekali lagi minta maaf, jika kakak mengetahui kehamilanmu lebih awal mungkin kakak tidak akan ke rumah kalian. Sekarang, Kakak hanya akan menambah beban pikiranmu, Dek.”
“Semua sudah digariskan seperti itu, Kak. Jangan menyalahkan diri kakak sendiri. Aku tidak akan lemah untuk hal ini. Jangan khawatir ya, Kak. Mas ....” Tamara menatap nanar suaminya. Lalu pria itu mengusap air matanya dengan lembut.
****
Sore hari, kedua orang tua Tamara datang ke rumah sakit. Dengan langkah tergesa, ia menelusuri koridor rumah sakit. Saat melewati taman mereka bertemu Ziddan yang tengah menggendong Sanya. Anak itu tertidur pulas. Sari yang melihat menantunya kelelahan segera mengambil alih cucunya dari gendongan Ziddan.
“Nak Ziddan, istirahatlah kamu. Kalau perlu pulanglah bersama istrimu. Kalian pasti lelah, untuk itu maka silakan kalian pulang saja. Biarkan kami yang menjaga Sanya dan Ayu.”
“Ibu bukanlah seorang gadis muda yang belum pernah memiliki anak. Kelima anak ibu di waktu kecil sering juga rewel seperti Sanya ketika ibu sakit. Ibu tidak akan heran, Nak.”
“Kalau begitu, Ziddan akan mengajak Tamara pulang dulu sebentar.”
“Pergilah. Besok saja kalian kemari.”
“Lalu Sanya akan tidur di mana?”
“Ayah tadi sudah menghubungi Difa untuk menyusul kemari. Jadi, jangan khawatir, Difa akan tinggal di hotel nanti bersama Sanya,” sahut Permana.
“Jangan, Yah. Biarkan Difa dan Sanya tinggal di rumah kami. Barang-barang Sanya juga masih di rumah kami.”
“Baiklah, nanti Ayah antarkan mereka berdua ke rumahmu. Terima kasih atas bantuanmu, dan maaf telah membawa masalah ini ke dalam rumah tanggamu.”
“Yah, jangan berterima kasih seperti itu. Aku juga anak Ayah dan Ibu. Dengan begitu, tentu kak Ayu adalah saudaraku.”
__ADS_1
“Iya, baiklah.”
“Ohya, sebelum aku pulang. Aku ingin bertanya satu hal, Yah.”
“Mau tanya apa?”
“Apa Ayah sudah menghubungi Mas Hans mengenai hal ini?”
Ibu pamit pergi membawa Sanya ke tempat yang lebih nyaman untuk menidurkannya. Setelah punggung wanita itu tak terlihat mereka melanjutkan pembicaraan.
“Ayah sudah mencoba menghubungi Hans. Tapi Hans mengabaikan. Sepertinya dia sudah tidak memedulikan Ayu lagi.”
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘
💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚
Hai selamat siang semuanya.
Saya datang lagi membawa rekomendasi novel milik teman. Jangan lupa mampir ya sembari menunggu novel ini update.
Sebutan anak haram melekat pada diri Rose sejak kecil karena ia tidak mengetahui siapa ayah kandungnya. Setelah sang ibu meninggal, Rose diasuh oleh paman dan bibinya. Namun bibi dan sepupunya yang kejam selalu memperlakukan Rose sebagai pembantu. Hingga pada usia empat belas tahun, nasibnya berubah total. Seorang pria bernama Denzel mengatakan bahwa Rose adalah pewaris dari Louis Brown, CEO Brown Group yang terbunuh secara misterius. Namun demi keselamatan dirinya Rose harus tetap menyembunyikan identitas aslinya. Rose memilih menjadi mahasiswi biasa di fakultas seni. Tidak ada yang mengetahui bahwa Rose sesungguhnya adalah pemilik perusahaan property Brown Group yang bernama Miss Black, sekaligus seorang violinis terkenal. Namun identitas aslinya hampir terbongkar ketika Luke, anak angkat Louis Brown datang untuk menuntut haknya. Akankah Rose dan Luke terlibat persaingan atau hubungan mereka justru berubah menjadi cinta?
__ADS_1