Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 38


__ADS_3

Reza menjadi terpikirkan omongan ibunya soal Meli.


 


“Bu, bolehkah aku menghubungi Meli? Ibu punya nomornya kan?”


“Tentu boleh..” ujar ibu Reza menyerahkan ponselnya.


Dalam percakapan antara Reza dan Meli terdengar di telinga ibunya bahwa anaknya meminta Meli untuk datang ke rumah sakit sebentar sebelum berangkat ke Bandung. Setelah sambungan itu terputus, ibu bertanya kepada anak semata wayangnya.


“Kamu meminta Meli datang kesini lagi, Za?”


“Iya Bu, aku ingin mengucapkan terimakasih sebelum dia kembali ke Bandung.”


“Kenapa tidak melalui telepon saja tadi?”


“Sekalian aku ingin menanyakan suatu hal tentang masalah yang sebenarnya terjadi padaku selama ini. Apakah ibu tahu semuanya?”


Ibu menarik nafasnya berat. Yang ia ketahui saat ini cuma penusukan yang terjadi pada dirinya. Sementara mengenai cerita lebihnya Ziddan ataupun Meli belum sempat bercerita. Abi juga hanya mengantar saja. Mereka semua berniat akan membahas masalah ini ketika keadaan Reza benar-benar sudah pulih.


 


Pagi setelah Meli selesai beres-beres barangnya, ia berniat untuk ke rumah Tamara terlebih dahulu. Dia sengaja berangkat pagi-pagi sekali ke kompleks Tamara sebelum Ziddan berangkat ke kantor, jadi Meli bisa meminta izin sama Ziddan untuk kebersamaannya sehari ini karena ia akan pulang ke Bandung sore nanti. Setelah itu Meli akan mengajaknya ke rumah sakit menjenguk Reza sebentar untuk berpamitan.


 


Gadis energik, cantik dan selalu ceria itu terlihat mengendarai mobil merahnya dan keluar dari basement hotel. Perlahan ia melajukan kendaraan roda empatnya membersamai terbitnya matahari yang sinarnya terpecah gedung-gedung bertingkat. Pemandangan yang menyapanya cukup membuat Meli tersanjung keindahan kota di pagi hari. Terlihat belum banyak mobil ikut bergabung dengannya membelah jalanan, sehingga polusi udara belum mencampuri embun yang berusaha membasahi bangunan-bangunan kaca ratusan gedung pencakar langit itu.


 


Kompleks perumahan elite yang ditinggali beberapa artis juga para pengusaha terkenal kini sudah terlihat di depan mata sipit gadis itu.


Hanya tinggal melaju sedikit lagi untuk menemukan rumah sahabatnya. Meli menepikan mobilnya ke sebuah bangunan yang berdesain ke Eropaan itu di ujung kompleks.


“Akhirnya gue sampai tepat waktu.” Melihat benda yang melingkar di tangan kirinya.


Meli melangkah santai dengan memainkan kunci mobilnya. Sesekali ia berjingkat dan berjoget kecil sambil menyanyikan salah satu lagu dari band Korea favoritnya.


 


“Assalamu’alaikum...” ucapnya mengetuk pintu.

__ADS_1


“Wa’alaikumsalam,” jawab seseorang dari dalam sedikit berlari mendekati pintu.


“Eh kamu Mel rupanya. Mari masuk, ikut bergabung sarapan dengan kami,” ajak Ziddan setelah membuka pintu.


“Waah asyik sarapan gratis,” jawab Meli tampak girang dengan ajakan Ziddan.


“Pasti kamu sengaja sudah merencanakannya kan? Hahaha,” timpal Ziddan meledek.


“Tau aja Pak ustad.” Meli langsung masuk menuju meja makan.


Terdapat Tamara sedang makan dengan lahap seperti orang kelaparan.


“Ra, Lo tu berapa hari gak makan?”


“Eh. Ada kamu, Mel. Tumben pagi banget kesini gak ngasih kabar lagi.”


“Iya, gue mau minta izin ke suami Lo buat ngajak Lo jalan-jalan sehari ini terus mampir ke rumah sakit. Soalnya nanti sore gue udah balik ke Bandung. Boleh gak Pak ustad?” Matanya beralih menatap Ziddan.


Ziddan memainkan alisnya tanda berpikir, lalu mengambil duduk di samping Tamara.


“Boleh sih. Tapi aku sedikit khawatir.”


“Ya aku tahu itu, Mel. Kamu kan juga sudah membuktikan dulu pernah menjaganya selama tiga tahun di Bandung.”


“Nah itu tahu,” celetuk Meli percaya diri.


“Tapi kamu kan belum pernah jagain ibu hamil.”


“Ibu hamil?” ucapnya sambil melototi Ziddan dan mulutnya terbuka lebar. Lalu berpindah ke Tamara. Tamara tertawa melihat ekspresi Meli. Hampir ia tersedak bakso.


“Iya. Sahabatmu ini sedang hamil.”


“What? Gue merasa jadi orang yang berhasil melakukan sebuah rencana besar. Benar-benar berhasil,” celetuknya seperti seorang profesor membuat Ziddan dan Tamara tertawa.


“Oke oke. Aku janji deh ustad, aku bakal jagain istrimu yang cantik ini dengan baik dan nanti aku kembalikan lagi ke rumah dengan selamat. InsyaAllah.”


“Baiklah. Kalau begitu aku izinkan. Hubungi aku kalau ada apa-apa sama dia. Soalnya Tamara masih suka mual. Tadi aja habis muntah-muntah.”


“Duh duh... bakal ribet nih,” gerutunya menggelengkan kepala.


“Gimana? Jadi mau bawa aku gak?”

__ADS_1


“Oke, jadi dong. Nanti gue beli plastik kresek dulu yang banyak buat jaga-jaga.”


“Yaudah bentar, aku ganti baju dulu.”


“Siap. Gue tunggu sambil ngunyah ya sayang,” celetuk Meli lagi.


 


Lima belas menit kemudian mereka siap berangkat bersamaan Ziddan yang juga sudah akan menjalankan mobilnya. Dua wanita itu memperhatikan mobil Ziddan berlalu hingga tidak terlihat lagi dari pandangannya.


 


“Ra, sebenarnya Reza sudah sadar dari kemarin. Tapi gue belum sempat ngabarin Lo.”


“Alhamdulillah aku seneng dengernya, Mel. Jadi karena itu kamu mau mengajakku kesana bertemu Reza.”


“Gak juga sih. Kemarin Reza telepon gue pake ponsel ibunya. Gue disuruh kesana. Jadi sekalian ajak Lo lah.”


“Terus sekarang kita mau kemana dulu?”


“Lo pengennya kemana?”


“Ke cafe yuk!”


“Boleh. Tapi tahan dulu muntahnya ya bumil. Nanti aja kalau udah dirumah lanjut lagi. Hahaha,” ledek Meli.


 


Meli kemudian mempersilakan masuk sahabatnya dengan lembut. Ia benar-benar menjaga Tamara dengan hati-hati.


 


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 😍😍🥰🥰🥰🥰


Lope lope sekebun buat semuanya ❤❤❤❤🤗🤗🤗


 

__ADS_1


__ADS_2