
Setelah sampai di bandara terdekat dari rumah Ziddan, Permana dan Sari menaiki taksi online yang sudah di pesannya. Dalam riuhnya kemacetan jalanan ibu kota, mobil yang membawa pasangan pengusaha itu dengan tepat waktu mengantarkan penumpangnya pada tujuan, meski hujan deras dibelainya perlahan tadi.
“Terimakasih,” ucap sopir taksi lalu membalikkan arah kendaraannya. Permana dan Sari bergegas masuk. Baru pertama kali ini mereka datang ke rumah Ziddan. Namun jaman sekarang teknologi sudah canggih, tentu dengan cepat taksi online dapat menemukan alamat itu.
Sebuah rumah megah ada di hadapan mereka. Sari justru tercengang melihat rumah yang dikata menantunya ‘rumah kecil’ itu.
“Ternyata besar sekali dan bangunanya ke Eropa-an, kenapa dia bilang kecil rumah se megah ini,” gumamnya pelan
“Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam. Silakan masuk,” jawab Pratama, ayah Ziddan membukakan pintu yang menjulang tinggi di hadapan.
Tamara membuatkan teh hangat untuk mereka semua. Setelah semuanya siap dan berkumpul di ruang depan Pratama membuka pembicaraan bagaikan MC. Banyak sambutan dan basa basi. Tamara ingin segera selesai masalah ini.
“Langsung saja, Pak Tama. Ada apa ini sebenarnya?”
__ADS_1
“Apa Pak Permana dan Ibu Sari tahu, kalau Tamara meminta kamar terpisah dari suaminya, sejak awal menikah hingga saat ini?”
Permana tertegun. Sedangkan Sari tidak kaget, dia sudah menduga kalau anaknya akan melakukan hal itu.
“Maaf, kami tidak tahu soal itu,” jawab Permana gugup.
“Tamara, apa-apaan ini?”
“Tidak usah menghakimi Tamara seperti itu. Apa ayah lupa, siapa yang memaksa Tamara menerima lamaran Ziddan dan menikah cepat dengannya?” Sari membela.
“Wajar kalau Tamara bersikap seperti itu. Dia tidak cinta dan hatinya sedang terluka,” lanjutnya.
“Tapi tidak seharusnya dia minta pisah kamar bahkan sampai berbulan-bulan, Bu.”
“Sudah.. sudah. Maaf saya menengahi pembicaraan ini. Tamara tidak bersalah. Dia hanya berusaha menyembuhkan lukanya dan sedang berusaha menerima saya. Awalnya memang istri saya tidak mencintai saya. Tetapi aku yakin saat ini ia sudah bisa membuka hatinya untukku. Perlahan hatinya lembut kepada saya.”
“Tapi Ziddan, dia tidak akan bisa melupakan masa lalunya. Itu akan menjadi bumerang dalam rumah tangga kalian nanti,” cetus ibu Ziddan.
“Ayah, Ibu, dan semua. Untuk kali ini percayalah dengan kami. Kami dapat menyelesaikan masalah kami dengan sendiri.”
“Kita lihat saja nanti bagaimana rumah tangga kalian! Ibu ragu kalian akan baik-baik saja.”
__ADS_1
“Ya sudah, kita buat perjanjian. Jika Tamara tak bisa juga menerima Ziddan dengan baik sebagai suaminya. Maka kami akan kembalikan Tamara kepada bapak ibu Permana yang terhormat. Kami tidak mau pernikahan mereka ini dibuat permainan oleh anak Bapak. Harus ada tindakan tegas.”
Tamara menangis tersedu. Hatinya sangat sakit. Tidak ada orang yang bisa mengerti perasaan dia saat ini, kecuali ibu dan suaminya. Tetapi dua orang itu tidak dapat membelanya. Dia merasa serba salah.
“Baik. Saya terima,” jawab Permana mantap. Permana menatap anaknya sinis.
Persidangan memanas di ruangan itu akhirnya selesai. Ayah dan ibu Ziddan berpamitan. Mereka akan menginap di hotel dekat kompleks Ziddan. Sedangkan kedua orang tua Ziddan langsung pulang dengan membawa segenggam kekecewaan kepada menantunya.
Sari kali ini menangis terisak melihat keadaan anaknya. Sepanjang jalan sampai tiba di hotel dia tidak berhenti meneteskan air mata. Permana terus-terusan menyalahkan istrinya kalau dia selalu memanjakan anaknya itu. Permana minta seharusnya ia memberi ketegasan kepada Tamara.
Bersambung....
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
setelah ini akan ada episode baper-baperan. Ditunggu yaaa🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa....😘😘😘😍😍😍😍