
Tutt..
Nada panggilan belum tersambung.
Ini ketiga kalinya Ziddan mencoba menghubungi. Namun, hasilnya nihil.
Tamara yang baru selesai memasak dan akan mengajaknya sarapan mengagetkan lamunan pria yang tengah di rundung gelisah itu.
“Ada apa, Mas?” tanya wanita hamil itu heran.
“Ibu,”
“Ada apa dengan ibu?”
“Aku juga belum tahu, sayang. Waktu aku cek handphoneku ada panggilan dari ibu tak terjawab semalam. Banyak pula. Aku jadi khawatir,” jelasnya cemas.
“Ayah juga tidak bisa di hubungi?” tanya Tamara lagi seraya mengusap pundak suaminya.
“Enggak bisa.”
“Bagaimana kalau kita datangi rumah ayah dan ibu.”
“Jangan dulu. Kita tunggu satu jam lagi. Barangkali ponselnya sedang kehabisan baterai.”
“Tapi kamu sebentar lagi akan berangkat kerja kan?”
“Iya. Tidak apa-apa nanti biar aku coba hubungi lagi di kantor.”
“Kalau begitu nanti kamu segera hubungi aku ya, Mas.”
“Iya sayang, tentu.”
Ziddan yang sudah selesai sarapan kemudian mencari keberadaan Tamara yang ternyata sedang muntah-muntah di toilet kamar.
“Sayang, kamu belum sarapan kan? Makanya habis ini makan dulu ya, mau aku suapin?”
“Enggak perlu kok, Mas. Aku bisa melakukannya sendiri.”
__ADS_1
“Yaudah. Kalau begitu aku berangkat dulu ya,” ucapnya mengulurkan tangan ke Tamara. Ziddan memandang ke istrinya. Bidadari cantik yang tak pernah bosan ia pandang.
“Iya mas.”
“Kamu hati-hati dan segera kabari ya kalau sudah terhubung dengan ibu.
Tamara mencium tangan suaminya. Ia memandang mobil itu melaju hingga tak terlihat lagi.
Di sela pekerjaan yang sedang tidak begitu menumpuk karena sudah ia bereskan tadi malam ketika lembur, Ziddan kembali berusaha menghubungi ibunya.
Akhirnya pria yang saat ini tengah duduk di bahu kursi ruangan ber-AC sambil memainkan laptopnya itu telah berhasil menghubungi ibunya. Terdengar suara lirih seorang wanita paruh baya di seberang benda kotak yang ia tempelkan di daun telinganya. Wajahnya perlahan terlihat berubah cemas dan berkata hati-hati.
“Sejak kapan ayah menderita penyakit itu, Bu?” tanya Ziddan dengan menggerakkan kedua kaki untuk berpindah ke luar ruangan. Langkah gontainya tertuju pada sebuah taman kecil yang terletak di belakang kantor dekat pantri. Ia merasakan sesak di dada ketika mendengar penjelasan wanita di ujung telepon itu, di tempat itulah Ziddan berusaha mencari pasokan udara yang luas, oksigen alami hasil dari tetumbuhan taman kantor. Barangkali udara itu dapat mengurangi sesak di dadanya.
“Saat ayah menyidang istrimu itu. Tekanan darah ayahmu sangat tinggi ketika tiba di rumah, Nak. Lalu ibu meminta bantuan tetangga untuk membawa ayahmu ke rumah sakit. Dan disana ayahmu di diagnosa punya penyakit jantung,” lirihnya menjelaskan.
“Kenapa ibu tidak memberiku kabar pada saat itu juga?”
“Pada saat itu ayahmu bisa cepat pulih, hanya dua hari dirawat karena belum terlalu parah. Tapi kemarin malam ibu sangat panik. Tengah malam ketika ayahmu tengah tertidur tiba-tiba jantungnya kambuh. Ibu tidak tahu harus menghubungi siapa lagi. Harusnya ibu menelepon ambulans tetapi saking gugupnya malah menghubungimu terus menerus. Setelah kepanikan itu coba ibu tepis, ibu kemudian keluar rumah mencari bantuan, datanglah bapak-bapak kompleks yang sedang berjaga di pos ronda, Nak. Sampai saat ini ayahmu masih lemah terbaring di rumah sakit kota.”
“Ya Allah, ibu tenang dulu ya disana, hari ini juga Ziddan dan Tamara akan terbang.”
“Tapi nak, nanti jika ayah melihat istrimu pasti jantungnya akan kambuh. Ayahmu terus saja memikirkan hal itu. Sebenarnya sudah lama ayah menginginkan cucu, jadi waktu itu ayah sangat berharap Tamara bisa segera memberikan cucu pada kami setelah kalian menikah. Namun, ternyata keadaan kalian seperti itu. Membuat kami kecewa.”
“Bu, sebenarnya Tamara sudah hamil. Saat ini kehamilannya menginjak bulan pertama.”
“Hamil dengan siapa jika denganmu saja dia tidak mau di sentuh!” gertak ibu sedikit menyakitkan.
“Tentu dengan Ziddan, Bu. Tidak ada laki-laki lain yang menyentuhnya. Hatinya kini sepenuhnya sudah diberikan untuk Ziddan, Bu.”
“Apa kamu percaya begitu saja dengan wanita itu?”
“Bu, lebih baik hal itu tidak usah di perpanjang lagi. Ziddan yakin dan percaya bahwa janin yang di kandung Tamara itu anak kami berdua. Sekarang ibu jangan berpikir hal negatif dulu. Ibu fokus menjaga ayah dulu ya, Bu. Ziddan pamit, Assalamu’alaikum,” ucap pria itu lembut sekaligus mengakhiri pembicaraan.
Pria ber-jas dengan kemeja maron yang menambah dirinya terlihat manis itu membalikkan tubuh dari tempatnya mematung tadi. Sekarang yang ada di pikirannya adalah segera melihat keadaan ayahnya dan meyakinkan kehamilan Tamara kepada kedua orang tuanya bahwa memang calon bayi yang sedang di kandung istrinya itu benar hasil hubungan mereka berdua. Bukan dari pria lain. Ziddan tahu betul rasa mahkota Tamara saat pertama kali ia dapat menembusnya. Sangat sempit bahkan membuatnya merasakan sakit. Tapi perihal itu tidak mungkin ia jelaskan untuk meyakinkan orang tuanya.
__ADS_1
Setelah mendapat izin dari bosnya. Ziddan gegas pulang ke rumah. Ia memberi tahu Tamara tentang semuanya. Segaralah Ziddan memesan tiket pesawat secara online agar saat tiba di bandara ia tinggal menunggu jam terbang saja.
Di dalam pesawat, Tamara sangat merasa mual. Bukan pertama kalinya dia naik pesawat, dia sudah beberapa kali terbang juga namun tidak pernah mabuk. Dia mabuk karena kehamilannya.
Meski dalam keadaan seperti itu Ziddan sangat perhatian terhadap istrinya. Ia memijat kecil tengkuk wanita itu. Berulang kali juga ia mencium kening dan pipi Tamara hingga wanita itu tertidur di dada Ziddan.
Perjalanan udara mereka telah usai. Sepasang suami istri itu masih saja terlihat romantis. Tamara yang kelelahan berjalan kemudian ia gendong di belakang. Semua pasang mata tertuju pada pasangan itu.
Langkah Ziddan yang tegap. Ditambah wajahnya yang menjadi idaman para wanita tambah membuat dirinya di perhatikan banyak orang. Apalagi ada seorang wanita yang tengah terpejam, tertidur di punggung lebar itu. Pasti setiap orang yang memandangnya merasa iri. Menginginkan keharmonisan seperti mereka.
Ziddan segera memilih taksi yang berjejer di parkiran. Taksi warna biru pilihannya saat ini. Ia menunjukkan alamat sebuah rumah sakit kota tersebut. Tempat dimana ayahnya mendapatkan perawatan medis.
Setengah jam kemudian mereka sampai pada tujuan utama. Ziddan menelusuri ruang rawat yang ditunjukkan oleh pegawai berseragam oren setelah ia bertanya pada bagian resepsionis.
Ziddan membuka sedikit pintu ruang VIP dimana ayahnya berada. Ia masuk dengan menggandeng Tamara, sejak tadi ia belum melepaskan genggamannya.
“Assalamu’alaikum,” salamnya membuat penghuni ruangan itu terkejut. Ibu dan ayahnya menoleh ke arah genggaman tangan itu.
Bersambung....
Hai Readers kesayangan,
Terimakasih sudah sertia membaca novel ini
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak hadir kalian ya.. dengan cara like, komen, juga tekan favorite 😍😍