
Hari-hari Tamara berlalu dengan bahagia hingga tak terasa kehamilannya kini sudah memasuki usia yang cukup untuk melahirkan. Bulan ke sembilan. Menurut dokter hari ini adalah HPL calon baby Tamara. Ziddan sebagai suami yang siaga telah mengambil cuti sejak dua hari lalu dari tempat kerjanya yang baru.
Tamara yang belum merasakan gejala apa pun kian cemas mondar mandir. Ia melakukan aktivitas yang dapat membuatnya lebih rileks. “Mas, kenapa aku belum merasakan kontraksi yang lebih kencang ya. Kenapa belum ada tanda-tanda seperti di artikel yang aku baca.”
“Sabar sayang, seorang bayi lebih tahu kapan dia akan keluar. Kalau sudah waktunya pasti akan memberikan tanda. Coba bawa sini.”
Tamara mendekati suaminya dengan wajah gelisah. Ziddan mendekatkan telinganya ke perut Tamara. Setelah pura-pura mendengar sesuatu ia lalu membisikkan ke perut. “Oh, jadi anak Papa ini masih nyaman di dalam perut Mama? Tapi Papa sama Mama udah nggak sabar pengen gendong kamu, Sayang. Papa punya banyak mainan buat kamu. Yuk keluar. Kita ketemuan di kasur ya, Papa tunggu,” bisik Ziddan.
“Iya, Pa. Sebentar lagi aku mau keluar,” bisik Ziddan lagi dengan menirukan suara baby. Membuat Tamara tertawa.
Sore hari ketika Tamara hendak mandi tiba-tiba perutnya terasa melilit, ia berjalan cepat ke toilet. Namun, yang keluar justru darah hingga membuatnya sangat terkejut. Tamara berteriak histeris. Karena darah yang keluar lumayan banyak disertai air bening dan kental.
Ziddan yang sedang rebahan di sofa sontak bangkit dan berlari ke dalam toilet yang tak terkunci. Dilihatnya Tamara yang lemas ia langsung menggendong wanita itu ke dalam mobil. Segera Ziddan mengambil barang-barang yang sudah ia persiapkan. “Kita harus segera ke rumah sakit sayang,” ucapnya panik. Padahal dia sudah berlatih agar tidak sepanik mungkin. Tetapi tetap saja perasaan Ziddan tak enak melihat keadaan itu. Meski dia tahu kalau sebenarnya itulah tanda yang mereka tunggu-tunggu dari sang calon baby.
“Mas ... perutku sakit. Aku tak tahan...!” jeritnya.
“Sayang, istigfar. Baca doa nabi Yusuf. Jangan menjerit kesakitan ya,” nasihat Ziddan.
“Astagfirullahaladzim ....” Tamara menarik nafasnya kuat lalu menghembuskannya dengan perlahan.
“Atur terus nafasmu seperti yang di perintahkan dokter ya, Sayang,” tenang Ziddan sambil menggenggam tangan istrinya.
Mereka telah sampai di rumah sakit bersalin. Suster yang berjaga langsung menangani Tamara dan memanggil dokter kandungan. Kebetulan dokter yang berjaga hari ini adalah kenalan Ziddan.
“Ziddan? Ini istri kamu?”
“Iya benar, Dona. Tolong istri saya.”
“Tentu. Kamu juga bisa menemaninya.”
“Aku boleh masuk?”
__ADS_1
“Masuklah, aku yang menjamin.”
“Terima kasih.”
Selama dokter Dona memberikan penanganan persalinan Tamara, raut wajah Ziddan tampak memucat. Bibirnya tak merah lagi. Dari mulutnya tak pernah berhenti melafalkan doa selama bayinya belum lahir. Tangan Ziddan sesekali mengusap kening istrinya dan beberapa kali mencium. Kasih sayang yang begitu dalam kini Ziddan tampakkan lagi kepada Tamara.
Hingga beberapa detik kemudian suara tangisan bayi akhirnya memecahkan tangis mereka. Ziddan langsung bersujud syukur, kemudian menciumi Tamara lagi. Setelah itu ia di persilakan keluar selama proses penjahitan Tamara. Bayinya juga sedang di bersihkan suster.
Ziddan yang menunggu di luar ruangan tak sabar untuk diberikan pertemuan pertamanya dengan bayinya. Pintu kaca dibuka Dona, ia membopong seorang bayi mungil yang sudah di hangatkan.
“Silakan untuk di adzani, Ziddan. Selamat, bayi kamu perempuan, cantik sekali seperti Mamanya.”
“Alhamdulillah ... terima kasih, Dona.”
Ziddan mengambil alih bayi mungil dari dekapan hangat temannya. Ziddan membawa bayinya ke sudut ruangan lalu ia kumandangkan dengan indah adzan di telinga bayi perempuan yang sangat cantik itu.
Air mata membasahi pipi pria tampan yang sholeh, suami Tamara. Ziddan sangat terharu ketika melihat bayinya. Saat dirinya mengumandangkan adzan bahkan bayinya dengan tenang berpindah pandang kepada Ziddan. Ia mencari sumber suara indah yang tak lain adalah suara Papanya.
“Ziddan, bawalah bayimu ke istrimu lagi. Ia butuh ASI-nya,” perintah dokter Dona yang masih berdiri di belakangnya.
Ziddan membalikkan badannya lalu memenuhi perintah Dona. Ia membawa bayinya kepada Tamara yang tampak sudah lebih tenang.
“Mas ....” Tatapan Tamara membulat ke arah netra suaminya.
“Sayang, ini bayi kita.”
“Cantik.”
Ziddan dan Tamara sangat bahagia memandangi bayinya. Mereka akan segera menghubungi orang-orang terdekatnya tentang kabar bahagia ini.
“Kita beri nama siapa bayi kita ini?” tanya Ziddan.
__ADS_1
“Zishara Farraquen.”
“Panggilannya?”
“Baby Zee. Zishara yang artinya gabungan dari nama kita. Ziddan dan Tamara,” jelas Tamara.
“Mas setuju saja, Sayang. Nama yang cantik seperti bayi kita. Seperti Mamanya juga,” kata Ziddan segera memperbaiki kalimatnya.
Ziddan dan Tamara beberapa hari kemudian mengadakan acara aqiqah yang disertai hadirnya seluruh keluarga besar dari keduanya. Acara berlangsung dengan lancar. Tamara memeluk Ziddan erat. Dalam hatinya yang dipenuhi rasa syukur tak henti mengucapkan terima kasih dengan menangis tersedu.
Terima kasih ya Allah, perjalanan cintaku kini telah berlabuh pada orang yang tepat. Yang kemudian Engkau lengkapi kebahagiaan kami dengan hadirnya seorang malaikat kecil yang sangat cantik. Tak selamanya keterpaksaan pernikahan itu berujung tidak bahagia. Bahkan Engkau memberikan bukti kepadaku bahwa cinta terpaksaku jauh lebih baik.
Terima kasih, Mas Ziddan suamiku tercinta yang selalu dan tetap mencintaiku dalam keadaan bagaimana pun. Meski aku pernah menyia-nyiakannya. Tetapi kamu tetap mencintaiku dan memperjuangkanku.
TAMAT
Terima kasih reader setiaku, aku sangat berterima kasih kepada kalian yang sudah setia hingga novel ini tamat. Nantikan karya terbaruku. Follow ig @_mukamalah agar kalian tidak ketinggalan update novel terbaruku 🥰😍😍😍 bagi yang sudah follow dan DM akan kuberi hadiah😍😍
Love you sekebunnn 😘😘😘😘😘😘
__ADS_1