
“Kamu benar mas, aku memang salah. Aku minta maaf,” ucapnya terbata.
“Tak apa sayang. Aku sudah memaafkanmu.” Ziddan mencium kening Tamara. Kemudian menyeka air matanya.
“Sudah jangan nangis lagi. Kamu sudah tebus obat belum?”
“Belum. Aku sampai lupa. Kamu tunggu disini dulu ya mas, aku mau tebus setelah itu kita pulang.”
“Iya sayang. Hati-hati.”
Beberapa menit kemudian, Tamara kembali ke ruangan suaminya dengan membawa obat cukup banyak. Ziddan terluka di bagian wajah, kepala, dan kakinya. Sedangkan bagian tubuh lainnya lebam.
“Dokter sudah mengizinkan kita pulang, Mas. Aku juga sudah mengurus administrasi.”
Tamara membantu Ziddan berdiri dan memapahnya menuju mobil.
“Aku yang akan menyetir lagi, mas. Jadi kamu saat ini nurut aja duduk di samping sopirmu ini.”
“Siap sopir cantik,” goda Ziddan.
Wanita tinggi nan putih melengkapi kecantikannya itu menjalankan mobil suaminya dengan laju pelan. Belum lama ia berlatih menyetir mobil. Jadi ia masih agak ‘kagok’ melajukannya.
“Pelan-pelan ya, aku justru takut.”
“Tenang lah. Aku tidak akan membuatmu terjebur sawah,” candanya.
“Betul. Karena memang tak ada sawah disini.” Ziddan terkekeh.
“Oh iya. Apakah lukaku ini ada keseriusan kata dokter tadi?”
“Alhamdulillah tidak ada. Aku sangat bersyukur kamu selamat. Padahal anak buah Rista tadi ada yang membawa senjata tajam. Aku benar-benar takut mereka akan berbuat lebih kepadamu.”
“Sasaran utama dia bukan aku, sayang. Jadi dia tidak akan berbuat nekat kepadaku.”
Tamara menginjak rem seketika, membuat Ziddan kaget dan kendaraan di belakangnya protes. Ia lalu melajukan mobilnya lagi.
__ADS_1
“Siapa sasaran utama?” kening Tamara menggulung mempertemukan kedua alisnya di pertengahan wajah. Tanya nya penuh khawatir dan juga ada rasa takut akan mendengar jawaban dari Ziddan.
“Ka-mu,” cetus Ziddan terbata.
“Aku?”
“Tentu.”
“Apa dia masih ingin membuatku menderita? Bukankah dia sudah mendapatkan apa yang ia inginkan. Reza kan keinginannya?”
“Ya benar, keinginan terbesarnya adalah Reza. Tetapi suatu saat nanti jika Reza telah sadar, ke iri hatian Rista terhadapmu akan memuncak.”
“Memang, iri itu penyakit hati yang tak bisa di obati. Yang bisa mengobati hanya orang tersebut dan itu susah. Jangan sampai hati kita terkena penyakit ini, sangat berbahaya jika dibiarkan tumbuh,” lanjut Ziddan.
“Iya mas, kamu benar.”
Tak terasa obrolan mereka sepanjang jalan tadi telah menemani perjalanannya hingga sampai rumah.
Setelah sampai di rumah Ziddan, mereka berdua terkejut dengan adanya sebuah mobil yang terparkir di depan rumah tersebut.
“Siapa yang datang?” tanya Ziddan melirik istrinya.
“Aku juga gak tau, Mas.”
“Tapi sepertinya itu mobil Ayahku, Ra.”
“Kita hadapi saja dulu. Jangan takut, aku akan menutupimu.”
“Mas..” panggilnya lirih saat melihat Ziddan melangkah turun dari mobil.
“Tak apa sayang, aku bersamamu.”
Tamara mengikuti suaminya dan kembali memapah.
“Assalamu’alaikum,” ucap keduanya namun tidak ada jawaban. Mereka semakin penasaran siapa yang masuk ke rumahnya.
Tamara menyuruh suaminya untuk duduk di ruang tamu. Ia akan mencari tahu sendiri ke dalam rumah.
Saat Tamara masuk ke kamarnya ia kembali terkejut. Bahkan sangat terkejut. Ada sepasang suami istri yang sedang duduk di tepi kasurnya. Ketika pintu di bukanya, dua pasang mata itu melototi Tamara.
“Assalamu’alaikum, Ayah, Ibu.”
“Wa’alaikumsalam,” jawab sepasang suami istri itu dengan nada datar. Nampaknya pasangan yang tak lain adalah mertua Tamara itu akan menginterogasi dirinya. Tamara langsung saja menyalami kedua orang tua Ziddan dengan pandangan menunduk.
__ADS_1
“Kebetulan kamu sudah pulang. Ziddan mana?”
“Ada di ruang tamu, Bu.”
“Ayah dan ibu mau bicara. Kita ke tempat Ziddan berada sekarang juga.”
Perasaan Tamara sudah semakin tak enak. Dia sangat cemas dan juga takut.
Mereka berjalan menuju ruang tamu. Ketika telah sampai di ruangan besar itu kedua orang tua Ziddan kembali terkejut dengan penampilan anaknya yang babak belur. Ibu langsung menghampiri Ziddan dan meraba wajahnya. Tamara duduk di ujung sofa berjauhan dari Ziddan. Sedangkan Ayahnya mendekati Ziddan perlahan.
“Ada apa ini? Kenapa wajahmu penuh luka lebam gini, nak?” Ibu meneliti setiap luka itu.
“Ziddan, Tamara, coba jelaskan semuanya pada kami, mulai dari kamar tamu yang isinya hanya barang-barang Tamara, dan jelaskan dengan kejujuran kalian kenapa kamu bisa babak belur seperti ini.” Ayah menunjuk wajah Ziddan dengan sedikit amarah.
“Maaf, kami lancang masuk ke rumah ini tanpa izin pemiliknya,” jelas Ayah.
“Kami berniat memberi kejutan dengan kedatangan kami kesini tanpa memberi kabar kalian, Nak. Tetapi kami lihat pintu tidak terkunci dan mobil kalian tidak ada di depan. Lalu kami pikir rumah ini di bobol maling. Makanya Ayah dan Ibu langsung saja masuk tanpa pikir panjang. Ayah periksa satu persatu ruangan. Dan ibu mencoba menghubungi Ziddan namun tak di angkat. Ibu juga menelepon Tamara namun tidak bisa di hubungi,” lanjut ayah tanpa menatap keduanya.
“Setelah Ayah cek semua dan tidak ada apa-apa, kami membuka kamar tamu yang juga tidak terkunci. Awalnya kami hanya ingin istirahat saja di kamar ini. Namun kami menjadi bertanya-tanya setelah berada di kamar itu. Kenapa barang-barang Tamara semua ada di kamar tamu. Dan anehnya kami tak menemukan barang Ziddan.”
“Siapa yang akan menjelaskan lebih dulu, Ayah persilakan.”
Ziddan mengambil nafas agak berat, ia bingung dari mana ia akan menjelaskan.
“Kamar utama kami sedang kami bersihkan, Yah. Jadi Tamara membawa barang-barangnya ke kamar tamu.”
“Tidak. Itu tidak masuk akal. Ayah tahu kamu berbohong. Apa yang kalian tutupi dari kami?” bentak ayah.
Tamara menyahut dengan nada bergetar. “Ayah.. maafkan aku. Selama ini aku memang belum mau di sentuh suamiku.”
Ayah dan ibu tercengang mendengar penjelasan menantunya itu. Raut wajah kecewa nampak terlihat dari keduanya.
“Apa? Tapi apa alasan kamu, Nak? Bukankah kamu telah menerima lamaran anak kami?”
“Maaf Bu, sebenarnya saya terpaksa menerima mas Ziddan.”
“Maksud kamu terpaksa apa? Siapa yang memaksamu? Kami tidak pernah memaksa.”
“Sudah Bu, jangan memojokkan Tamara. Ia hanya ingin berbakti kepada orang tuanya sehingga ia menerima lamaran Ziddan.”
Suasana di ruangan itu kian memanas. Ayah dan ibu Ziddan mencoba menahan amarahnya. Mereka ingin segera mendengar penjelasan dari Tamara yang sejujurnya.
"Sebenarnya saya...."
"Katakanlah dengan jujur, nak."
"Ra..." Ziddan memberikan kode agar Tamara tidak mengatakan yang sebenarnya. Tapi Tamara bingung mau beralasan apa. Pasti nanti akan di sangkal ayah Ziddan jika ia tidak berkata jujur.
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘😘