Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 55


__ADS_3

 


Malam larut Ziddan baru pulang dari kantor. Tamara sudah menunggunya sejak tadi di ruang utama. Sesekali ia mengecek keadaan kakaknya yang sedang demam. Ia menempelkan punggung tangannya ke dahi Ayu.


“Kak, badan kakak semakin panas. Apa yang harus aku lakukan. Mas Ziddan bahkan belum sampai rumah.” Tamara melirik jam dinding dengan pasrah untuk ke sekian kalinya.


Sanya terbangun, sebagai seorang anak dia pasti merasakan apa yang di alami oleh ibunya. Bocah yang belum genap satu tahun itu menangis terus. Ia minta di gendong ibunya. Akan tetapi Ayu, sang ibu tidak kuat untuk berdiri karena demamnya yang semakin tinggi. Tamara mencoba menggendong Sanya, ia berusaha keras menidurkan balita itu. Namun, tetap tidak mau tidur dengannya. Tamara sangat kelelahan menghadapinya di saat dia hamil. Setelah ia bacakan buku dongeng sambil di gendongnya ternyata Sanya tertidur. Tamara duduk di sofa ruang utama sembari menunggu suaminya pulang.


“Kenapa lama banget sih Mas pulangnya. Aku khawatir dengan keadaan mereka berdua,” gumamnya.


Tamara meletakkan anak yang ia gendong tadi ke kamar tamu bersama dengan ibunya. Kemudian ia kembali berjalan melangkah pelan. Rasanya dia tidak ingin melihat jam lagi. Karena jika dilihat di saat suaminya belum pulang menjadi begitu mengecewakan.


Dia berpindah duduk di teras rumah. Hendak ia ingin menghubungi suaminya kembali, tetapi magrib tadi ia memberi tahu jangan menghubungi dulu karena sedang ada pekerjaan yang menumpuk. Akan menambah durasi yang lebih lama jika tak kunjung selesai. Akhirnya Tamara mengurungkan niatnya untuk menelepon suaminya. Saat ia berdiri, dia melihat ada mobil yang sedang menepi di depan rumahnya. Tapi itu bukan mobil Ziddan.


“Siapa dia?” tanyanya penasaran, menggigit jari telunjuk. Tamara melangkah keluar gerbang, ia mencoba mencari tahu siapa yang ada di dalamnya.


“Ternyata Mas Ziddan ... tapi dengan siapa dia? Kenapa tak membawa pulang mobilnya.”


Tamara semakin mendekati mobil itu. Lampu mobil dimatikan saat ia mendekat, meski gelap namun dirinya masih bisa melihat apa yang terjadi di dalam mobil. Seorang wanita cantik dengan rambut panjang terurai dan tubuh yang seksi menggenggam tangan suaminya.


“Apa yang terjadi dengan suamiku? Apa maksudnya?” Pertanyaan demi pertanyaan memenuhi pikiran wanita yang sedang hamil itu. Ia menutup mulutnya agar tangisnya tak terdengar. Kemudian ia membalikkan badan dan berlari ke dalam rumah. Tamara berpindah memegang dadanya yang sesak setelah memasuki rumah. Air matanya masih terus mengaliri pipi. Ia bersembunyi di balik pintu dengan tubuhnya bersandar lemas.


 


Pintu yang di ketuk mengejutkan dirinya. Ia segera membuka lalu menyeka air matanya. Tamara hanya menunduk saat Ziddan mendapati dirinya menangis.


“Sayang, kamu kenapa menangis?” tanya Ziddan memegang kedua tangan istrinya dengan perasaan cemas.


Namun, Tamara tak menjawab apa pun. Dia terus saja menunduk dan air matanya jatuh ke tangan Ziddan. Ziddan memeluk istrinya dengan erat. Ia mengusap kepalanya yang terbalut hijab.


“Mas,” lirihnya terisak.


“Kenapa, Sayang? Siapa yang membuatmu menangis.”


“Kamu yang membuat air mata ini jatuh.”


“Aku?”

__ADS_1


“Tidak usah berpura pura tidak tahu. Aku melihatmu di dalam mobil tadi. Ke mana mobilmu? Siapa wanita itu?”


“Sayang, jangan salah paham dulu. Biar aku jelaskan.”


“Aku tidak sanggup mendengar penjelasanmu, Mas. Apa kamu sudah tak mencintaiku lagi?”


“Apa yang kamu katakan, Sayang?”


“Mas, apa kamu juga selingkuh, sama seperti suami Kak Ayu itu? Kenapa Mas lakukan itu terhadapku?”


“Tunggu ... izinkan Mas menjelaskan.”


Tamara mendorong suaminya. Dia memilih duduk di sofa tempat biasanya dia menunggu Ziddan pulang.


“Coba jelaskan dengan jujur.”


“Terima kasih sudah memberikan waktu untuk Mas jelaskan.”


“Jangan bertele-tele, Mas. Langsung saja.”


“Sayang, Mas tidak selingkuh. Cintaku cukup hanya kamu.”


“Mobil Mas mogok, lalu mas titipkan di kantor. Dan mengenai wanita tadi, dia adalah anak dari bos pemilik perusahaan. Bos memintanya untuk mengantar Mas karena mereka kebetulan juga masih berada di kantor. Tapi Mas tidak tahu sedang membahas apa mereka.”


“Apakah wanita itu yang pernah kamu ajari mengaji juga atas permintaan Bosmu?”


“Iya, Sayang. Dia muridku mengaji.”


“Tapi kenapa dia menggenggam tanganmu seperti itu, Mas.”


“Mas sudah berusaha menolak, Sayang. Mas sudah beberapa kali melepaskan tangannya. Tetapi dia juga berusaha terus meraih tangan Mas. Mau berkata kasar tak enak dengan Bos. Mas sudah berusaha menepis dan menghindar. Tidak ada maksud dan niat untuk berselingkuh, Sayang.”


“Tetap saja, Mas. Kamu lama kelamaan akan kecanduan dengan tangan itu.”


“Mas akan menutup hati dan menundukkan pandangan dari wanita mana pun, selain kamu, Sayang. Maafkan Mas.” Ziddan mendekap istrinya.


Tamara masih terisak, dadanya masih terasa penuh dengan air mata yang tak bisa lagi ia keluarkan.

__ADS_1


“Kamu mau kan memaafkan Mas?”


“Untuk kali ini saja, Mas. Jika terulang aku tak bisa memaafkan lagi.”


Ziddan mengangguk. Ia menghapus jejak air mata Tamara.


“Kak Ayu dan Sanya bagaimana?”


“Kak Ayu demam, Mas. Sanya baru saja tidur. Dia ikut rewel, mungkin dia merasakan apa yang menimpa ibunya.”


“Besok Mas akan mengantar Kak Ayu ke dokter. Kamu di rumah dengan Sanya atau mau ikut?”


“Aku ikut  mengantar dengan Sanya, Mas. Aku sendiri tidak bisa menggendong Sanya terlalu lama. Perutku akan kram. Jadi lebih baik aku mendekatkan dengan ibunya.”


 


 


 


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Promo Novel temanku, mampir ya 💚


Cantika gadis manis kuat, tegar tetapi rapuh dalam hidupnya sejak ia terlahir sudah bersahabat dengan airnata. Tetapi ia punya keyakinan kelak ia akan menemukan cinta dan kebahagiaannya, walau penuh lika liku kehidupan. Gavin cinta pertamanya, yang membuat hidupnya terasa indah, karena sesuatu hal harus berpisah dengan dirinya Pada akhirnya ia menemukan kebahagiaan lain melalui Cinta Online. Tetapi benarkah cinta online itu tulus, dan abadi atau semakin membuat hidup Cantika semakin kacau?? Atau akankah cinta pertamanya adalah cinta sejatinya? dan akan kembali dalam hidupnya?


Ini judulnya :

__ADS_1



__ADS_2