Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 12


__ADS_3

 


Ketiga kakaknya datang setelah di hubungi ibunya. Ibu meminta mereka untuk mencoba memberikan pengertian untuk adiknya. Berharap mereka bisa menenangkan batinnya.


 


Mulailah Kak Safira mengetuk pintu kamar Tamara.


 


“Dek, kakak boleh masuk?”


 


“Masuk saja kak, tidak di kunci.”


Kak Safira membuka pintu berwarna cokelat itu. Dia berjalan mendekati adiknya disusul oleh Karina dan Ayu.


 


Mereka memeluk Tamara dan membiarkan air matanya menetes di pipi merah adiknya.


 


“Kak, kenapa aku harus menikahi laki-laki yang tidak aku cintai. Tidak seperti kalian yang bisa menikah dengan pilihan kalian.”


 


Kak Safira mencium pipi adiknya dengan lembut.


 


“Dek, terkadang jodoh itu datang dengan cara yang mengerikan. Tetapi kemudian Allah akan memberi keindahan setelahnya.”


 


Kak Karina mengusap punggung adiknya.


“Sayang, kamu wanita yang kuat, sebab itu Allah memberimu cobaan yang istimewa.”


 


Begitu juga Kak Ayu sedikit memberikan nasihat.


“Dek, niatkan pernikahanmu untuk mengabdi kepada orang tua. Itu akan menjadi lebih indah.”


Tamara menelusuri kedewasaan dalam dirinya hingga ia menemukan pemikiran yang berbeda. Sekarang ia mencoba mengerti perasaan Ayahnya. Dia seorang pengusaha besar, akan menjadi berita besar jika ia gagal menikah. Semua orang akan menggunjing dengan renyah kegagalan pernikahannya itu. Bukankah itu bahan yang empuk untuk di jadikan sebuah gosip.


 


Tamara tidak mau keluarganya harus menanggung malu atas dirinya. Dengan menghela nafas panjang ia kemudian berkata di depan kakak-kakaknya.


 


“Baik kak, Tamara akan mencoba menerima laki-laki itu, meski hati ini sangat sakit. Tamara hanya ingin menjadi anak yang berbakti dan tak ingin mempermalukan keluarga ini,” ucapnya dengan tangis terisak.


 


Ketiga kakaknya kembali memeluk, sesekali Kak Safira menyeka air mata yang telah tumpah membasahi pipi adiknya.


 


Permana senang akhirnya pernikahan anaknya tidak jadi gagal meskipun pernikahan itu terpaksa bagi anak gadis tercantiknya.


 

__ADS_1


Sejak saat itu Tamara lebih suka mengurung diri di kamar. Ia hanya keluar untuk makan saja. Hanya Difa yang sering menghibur dirinya. Ayah dan Ibunya masih sibuk dengan persiapan pernikahannya besok lusa.


 


 


***


 


Malam ini adalah malam terakhir statusnya lajang. Besok pagi ia sudah menjadi istri orang yang tak lain ialah gurunya sendiri.


 


Tamara duduk di balkon kamarnya. Ia menjadi terbayang kembali masa indah bersama Reza. Balkon toko Reza di lantai tiga, menjadi buruan ingatannya. Di saat Reza berlutut mengungkapkan cinta dan berjanji untuk menikahi Tamara. Kenangan itu kini menjadi kenangan terpahit namun tak dapat ia pungkiri kalau hatinya masih sangat mencintai Reza.


 


“Za, esok aku akan menikah dengan orang yang tak pernah aku cintai. Pria satu-satunya yang aku cintai adalah kamu. Aku juga yakin kamu masih memiliki perasaan cinta untukku. Aku berharap akan ada keajaiban di hari esok. Datanglah, Za. Dan tepatilah janjimu.” Air matanya kembali menetes tersapu angin malam.


 


“Za, bukankah kita memiliki tujuan yang sama. Bukankah kita punya mimpi yang sama... Tapi bukankah kamu sendiri yang menghapus semua mimpi itu, Za. Kenapa, Za? Kenapa?” Jiwanya semakin tak bisa ia tenangkan ketika mengingat Reza. Reza telah membuat hati Tamara terluka begitu dalam.


 


“Kenapa kamu hancurkan mimpi kita.” Tamara menyeka bulir bening yang jatuh di pipinya.


 


Telepon genggamnya berdering, tertulis panggilan dari Ibu Reza. Ia segera mengangkat berharap ada kabar baik dari Reza.


 


“Hallo,” ucapnya yang masih terisak.


 


 


“Bu, Tamara akan menikah dengan pria lain besok. Tamara meminta doa restu ibu. Sampaikan salamku pada Reza,” jawab Tamara sekaligus mengakhiri panggilan itu.


 


Malam ini ia tidak bisa tidur hingga menjelang pagi. Hanya menangis dan pasrah yang bisa ia lakukan untuk pernikahannya besok dengan ustad Ziddan.


 


 


 


***


 


Hari pernikahan tiba.


 


“Tamara masih di rias, Mel. Masuk saja di kamarnya,” jawab ibu kepada Meli yang baru saja datang.


 


Meli langsung menuju kamar Tamara.

__ADS_1


 


Saat ia masuk ternyata Tamara sudah selesai di rias, tetapi terlihat sahabatnya itu masih saja menangis di depan cermin. Meli yang sudah mengetahui masalah Tamara langsung memeluknya. Tangis Tamara kembali pecah. Dia tidak kuat lagi menahan sesak di dadanya.


“Mel, aku tak tahu apakah kebahagiaan masih berpihak kepadaku atau tidak. Aku tak tahu apakah aku bisa menjalani kehidupanku setelah ini atau tidak,” ucapnya lirih.


“Mel, seharusnya hari ini adalah hari bahagiaku yang sudah aku nantikan bertahun-tahun. Seharusnya hari ini aku menikah dengan laki-laki yang aku perjuangkan. Laki-laki yang aku cintai hanya Reza, Mel. Tapi aku akan menikah dengan pria lain, bahkan aku tidak mencintainya.” Meli mendekap erat sahabatnya tanpa berkata. Ia hanya ingin mendengar semua keluhnya dulu. Setelah agak tenang, baru dia memulai menasihatinya.


 


“Ra, sedekat apa pun Reza dengan Lo kalau Tuhan tidak menakdirkan kalian untuk bersama, Lo bisa apa, Ra? Ayah ibumu bisa berbuat apa? Apalagi guee? Semua terjadi atas kehendak-Nya. Tuhan memberikan jodoh terbaik buat Lo dengan cara-Nya bukan dengan caramu.”


 


Gadis itu sesenggukan mendengar nasihat sahabatnya. Merasakan kegetiran dalam cintanya.


 


“Kita harus merasakan pahit agar kita tahu bagaimana rasanya manis. Merasalah istimewa, Ra, ketika Tuhan mematahkan hatimu demi menyelamatkanmu dari orang yang salah. Apa jadinya nanti jika Lo mengetahui keburukan Reza setelah Lo menikah dengannya. Itu akan lebih menyakitkan, Ra,” ucap Meli dengan gemetar.


 


 


“Keluarlah sayang, temui calon suami pilihan Allah untukmu. Bukalah hatimu untuknya. Dia yang terbaik. Dan lupakan Reza.” Meli menatap lekat sahabatnya, menyeka air mata yang telah merusak make up itu. Kemudian Meli meminta perias untuk membenarkannya lagi.


 


Tamara terdiam mendengar semua perkataan Meli yang memang benar dia ucapkan. Ia mencoba lebih menahan sesak di dadanya, memperkuat diri, batin, dan jiwanya.


 


Setelah semuanya siap. Meli membawa Tamara menuju tempat akadnya berlangsung. Disana sudah ada ketiga kakaknya bersama  keluarganya masing-masing, Difa ada di belakang bergabung dengan Meli membawa Tamara.


 


Tanpa menunggu lebih lama lagi penghulu langsung memulai membacakan suatu surat dan menjabat tangan ustad Ziddan dengan kuat, menandakan keseriusan. Setelah itu Ziddan mengucapkan suatu ijab kabulnya.


Sari mengusap punggung anaknya itu, agar membuatnya lebih kuat.


“Saya terima nikah dan kawinnya Tamara Adelia Permana binti Permana Saputra dengan mas kawin tersebut dibayar tunai.” Ziddan mengucapkannya dengan lancar hanya satu kali tanpa pengulangan.


 


“Sah.” Semua orang mengucapkan kata itu. Doa di lantunkan oleh Abi, pemimpin pesantren itu.


 


Tangis Tamara pecah seketika, gundukan air mata itu tidak dapat lagi ia tahan. Butiran bening telah berhasil membasahi permukaan wajah cantik itu. Meski telah banyak ia keluarkan namun tidak kering juga. Dada Tamara seperti sudah tidak ada ruang lagi untuk menghela nafas sekalipun.


 


Harusnya kamu, Za yang mengucap kalimat itu, bukan dia.


Harusnya kamu yang berada disisiku saat ini.


Harusnya kamu yang menciumku pertama kali.


Harusnya hari ini aku bahagia bersamamu.


 


Tamara berlari meninggalkan tempat sakral itu. Ia pergi ke taman belakang rumah tempat Reza memeluknya dulu, tempat Reza mengucapkan janjinya setelah bertunangan Tiba-tiba tubuhnya tersungkur ke tanah, pandangannya berubah menjadi gelap.


***Bagaimana kisah Tamara setelah menikah dengan Ziddan? Apakah dia akan menemukan kebahagiaan lain?

__ADS_1


Terimakasih sudah setia membaca 😘😘 😘😘


Tekan love, tinggalkan komentar , like, dan berikan dukungan yaa 🥰🥰🥰🥰😘😘😘 Loppe lopee sekebun***....


__ADS_2