
Dua tahun kemudian.
“Sayang, persiapkan dirimu untuk acara kalian besok ya,” ucap Ibu sembari menyiapkan makan malam.
“Iya Bu, aku sudah siap.” Tamara memberikan senyuman termanisnya.
Beberapa hari yang lalu Reza menghubungi keluarga Tamara bahwa dirinya akan mengikat hubungannya dengan Tamara secara resmi atau biasa disebut dengan tukar cincin.
Oleh sebab itu keluarga Permana saat ini sedang sibuk mempersiapkan acara besok. Tamara juga otomatis mengajukan izin libur kuliah kepada dosennya. Baru tadi siang ia tiba di kota kelahiran.
Tepat jam sembilan pagi Reza bersama keluarga besarnya datang. Keluarga Tamara dengan bahagia menyambut kedatangan mereka. Terlihat juga ketiga kakaknya yang sudah berdandan cantik di dampingi suaminya masing-masing. Anak-anak mereka sedang di jagakan Difa di ruang bermain.
Ibu mempersilahkan duduk para tamu, Reza yang sudah tak sabar ingin melihat tunangannya itu mendekati ibu.
“Tamara dimana, Bu?” tanya Reza celingukan mencari sosok bidadarinya.
“Itu..” Ibu menunjuk sebuah ruangan.
“Sedang di sulap tukang rias, Nak. Biar kamu semakin cinta,” goda ibu.
Kerinduan pasangan itu sudah tak terbendung lagi. Mereka selama ini belum pernah bertemu, hanya saling berkabar melalui telepon genggam.
Setelah lima belas menit menunggu, Tamara keluar dari ruang ajaib yang bisa mengubah dirinya menjadi seperti permaisuri kerajaan. Reza tertegun menghadap kekasihnya, ia hampir tak mengenali wanita itu.
MC menjalankan acara tersebut hingga akhirnya sampai pada acara inti, acara yang di tunggu-tunggu semua orang, yaitu acara tukar cincin.
__ADS_1
Dengan sedikit gugup Reza memasukkan benda bulat itu ke jari manis yang lentik milik Tamara. Semua tamu memberikan tepukan tangan.
“Dipersilakan Permaisuri Tamara Adelia Permana untuk bergantian memasangkan cincin ke jari manis Pangeran Reza Kesatria dengan penuh kasih sayang,” ucap MC menuntun acara tersebut.
Fotografer beberapa kali mengambil gambar pasangan itu dengan hasil yang indah. Foto tersebut tentu akan menjadi sebuah kenangan paling indah bagi mereka berdua.
Setelah acara selesai Reza sempat mengajak tunangannya itu berbicara empat mata di taman belakang rumah Tamara.
“Sayang, aku sangat bahagia hari ini.”
“Aku juga, Za. Aku sangat merindukanmu. Aku takut kamu nakal disana.” Tamara mencubit pinggang pria bertubuh kekar itu. Kemudian Reza mendekapnya dengan erat sehingga wajah gadis itu tenggelam di dadanya.
“Jangan bicara seperti itu, kamu adalah wanita terbaikku setelah ibuku. Aku tidak akan meninggalkanmu demi wanita lain,” ucapnya sambil mengusap pipi merona gadis itu. Rasanya Reza ingin mengecupnya.
Walaupun mereka bertunangan pada tahun kedua Tamara menjalani kuliahnya tetapi pernikahan mereka tetap akan dilaksanakan dua tahun mendatang saat Tamara sudah wisuda. Hal itu yang membuat Tamara khawatir kesetiaan Reza akan goyah.
Siapa yang tidak tergoda dengan pria sempurna seperti Reza itu. Tubuhnya kekar, badannya tinggi, berkulit putih. Ia juga sudah memiliki usaha sendiri yang berkembang pesat, tidak kalah dengan usaha Ayahnya.
“Za, ayo kita pulang sayang.” Ibu Reza memanggil
“Nak Tamara, ibu dan ayah pamit bersama Reza ya,” kata ibu Reza sambil memeluk tubuh ramping Tamara.
__ADS_1
“Iya Bu, hati-hati di jalan,” jawabnya dengan membalas pelukan Ibu.
Keluarga Permana mengantar mereka hingga di depan gerbang yang berdiri megah. Meski rumah Permana terlihat begitu megahnya tapi rumah Reza saat ini jauh lebih besar dari rumah itu.
Mereka kembali masuk ke dalam rumah. Keempat saudaranya kemudian mengucapkan selamat kepada Tamara secara bergantian dan yang terakhir ibunya. Tamara menggandeng tangan wanita yang telah melahirkannya itu menuju sebuah kamar.
“Sayang selamat ya, anak ibu yang cantik ini pasti sedang bahagia sekali,” kata Sari memegang tangan anaknya.
“Makasih Bu, aku sangat bahagia. Namun aku juga takut jika hati Reza goyah nantinya. Karena pernikahan kami masih sangat lama. Aku tidak tahu sekuat apa cinta Reza, Bu.”
“Nak, kamu jangan meragukan cinta orang yang telah kamu pilih menjadi pendamping hidupmu. Jika kamu sudah yakin maka berpikirlah positif.”
“Bu, Reza laki-laki sempurna di mata para gadis di luar sana. Ia juga memiliki toko yang setiap harinya akan banyak wanita keluar masuk toko. Tentu tidak ada mustahilnya ia bisa tergoda.”
“Bu, aku akan belajar dengan giat, akan aku selesaikan lebih cepat kuliahku ini. Siapa tahu Ayah mengizinkan pernikahanku di majukan satu tahun lagi jika aku tahun depan dapat lulus, Bu. Besok aku akan segera berangkat ke Bandung.”
Ibu yang mendengar keputusan anak gadisnya itu hanya terdiam. Ia tahu betul bagaimana perasaan wanita. Kekhawatiran tetap ada dalam suatu hubungan. Memang benar yang di katakan anaknya, tidak ada kemustahilan bagi seorang pria untuk tergoda wanita lain.
Apakah usaha Tamara akan berhasil?
Nantikan bab selanjutnya yang lebih menegangkan yaa
Terimakasih sudah setia membaca 😘😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰
__ADS_1
Jangan lupa dukung novel ini dengan like komen masukkan ke favorit biar tidak ketinggalan episode berikutnya 🥰🥰🥰🥰🥰 Lope u pulll