Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 33


__ADS_3

Malam hari.


 


Ziddan dan Tamara selesai melaksanakan sholat isya’ berjamaah. Setelah itu Tamara mengajak suaminya makan malam bersama. Malam ini ia sudah memasak ayam yang di bumbui pedas.


 


“Semoga kamu suka masakanku ya, Mas.”


“Aku selalu menyukai masakanmu.”


“Terimakasih.”


Ziddan merasa lidahnya terbakar karena kepedasan padahal ia baru makan tiga suapan, seketika pria itu refleks mencari minuman dingin di dalam kulkas untuk segera meredakan rasa terbakarnya. Hanya ada dua botol disana, air mineral dan satu botol minuman bermerek warna kuning yang dikiranya jus jeruk. Tanpa pikir panjang Ziddan langsung meneguk minuman  jebakan Meli. Awalnya aneh dia rasa. Tetapi karena ia sangat kepedasan jadi ia mengabaikan rasa minuman itu.


 


“Mas, kamu kepedasan ya?”


“Iya.”


“Maaf aku gak tau kalau kamu tidak begitu suka pedas.”


“Tidak apa-apa. Aku ke toilet sebentar ya.”


“Kenapa mas?”

__ADS_1


“Perutku mulas,” ucap Ziddan dengan berlari tertuju pada toilet dekat dapur.


 


Tamara agak khawatir dengan keadaan suaminya itu. Gara-gara masakannya Ziddan jadi sakit perut dan bolak balik ke toilet. Namun, ternyata dirinya juga merasakan kepedasan setelah melahap semua makanan. Wanita itu juga mencari air minum di kulkas, dia meminum air dari botol yang sama diminum Ziddan dengan tergesa-gesa hingga menumpahkan minuman itu di bajunya.


“Aduh basah semua pakaianku,” gerutu wanita cantik itu sedikit kesal.


“Mas, aku tinggal ke kamar dulu ya. Bajuku basah.”


“Iya, aku tak apa,” jawab Ziddan dari dalam.


Setelah Ziddan keluar dari toilet tiba-tiba sekujur tubuhnya terasa sangat panas. Dari ujung kaki hingga kepala terlebih pada hasratnya yang entah tak bisa ia kendalikan. Ziddan berlari menuju kamar mandi, ia hendak merendam tubuhnya dengan air dingin di bak mandi.


Namun ketika ia masuk ke kamar matanya terbelalak terpaku pada wanita yang sedang berganti baju itu. Baju lingerie yang dibelikannya tadi pagi ternyata sedang dipakai Tamara. Tubuh wanita itu kini terekspos dengan jelas. Bentuk tubuh yang begitu seksi ditambah baju menerawang membuat setiap pasang mata laki-laki manapun akan tergoda. Apalagi Ziddan kini sedang dalam pengaruh ramuan obat kuat Meli. Sedangkan Tamara hanya meminumnya sedikit tadi.


 


“Mas ada apa denganmu?”


Ziddan tak menjawab. Justru ia malah membaringkan istrinya ke ranjang. Mata Ziddan benar-benar seperti orang di mabuk cinta penuh nafsu. Tenaganya yang kuat membuat Tamara tak bisa melawan, ia pasrah dan sudah mengikhlaskan dirinya untuk suami yang kini sudah ia cintai itu.


 


Kedua tubuh itu sekarang benar-benar polos tanpa sehelai benang pun. Dan terjadilah malam pertama mereka. (Terusin sendiri ya, aku gak bisa nulisnya wkwkwk)


 

__ADS_1


Ziddan berhasil mendapatkan haknya yang dulu selalu ia tahan dengan sabar. Benih cinta telah berhasil tertanam. Hanya doa dan harapan yang terselip pada kedua insan itu agar benih yang mereka tanam akan menjadi malaikat kecil yang senantiasa menjadi sumber kebahagiaan mereka.


 


“Ra.. aku sangat bahagia malam ini. Terima kasih sayang.” Pria itu mengecup kening istrinya dengan penuh cinta.


“Aku juga bahagia mas,” jawab Tamara seraya meletakkan kepalanya di dada bidang nan putih bersih milik Ziddan.


 


Mereka mandi bergantian setelah dirasa hilang lelah. Kemudian tidur tanpa pembatas lagi. Ziddan masih terbayang kenikmatan yang dimiliki istrinya, ia bertanya-tanya dalam benak.


‘Apakah seperti ini rasanya melakukan hubungan dengan wanita yang masih perawan?’


‘Apakah dia tidak merasakan sakit?’


‘Aku tadi terlalu keras atau tidak ya bersikap seperti itu?’


 


#harap bijak dalam membaca 🌹


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa....

__ADS_1


 


__ADS_2