Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 41


__ADS_3

“Jadi apa yang harus aku lakukan sekarang, Ra? Aku tidak punya kemampuan untuk mengalahkan pengaruh jahat Rista yang dibantu kakeknya itu.”


“Kata Mas Ziddan ia akan meminta bantuan abi. Ilmu abi cukup tinggi. Besok kalau kamu sudah pulang mungkin abi akan membantumu.”


“Aku nurut saja. Terima kasih banyak atas semua bantuanmu, juga ustad Ziddan.”


“Lo gak berterima kasih sama gue, Za? Gue ini juga udah berjasa loh jagain Lo disini walaupun gak setiap hari sih. Terus gue juga udah berjasa loh ngasih tau keberadaan Lo dan Rista ketika kalian di hotel,” serobot Meli panjang sambil mendekat.


“Iya-iya. Makasih, Mel. Aku sangat berterima kasih. Selama ini kamu udah perhatian meskipun kamu sikap kamu kaya preman,” timpal Reza terkekeh.


“Kayaknya, kalau dilihat-lihat kalian cocok nih!” celetuk Tamara membuat kedua pasang mata yang sama sipit itu menoleh ke dirinya bersamaan.


“Sama dia?” tunjuk keduanya berbarengan lagi.


“Yes. Kenapa enggak?”


“Kamu kan udah putus juga sama Jojo kan?” sambungnya mantap.


“Meli kayak preman begitu. Tega kamu, Ra?”


“Daripada Lo cowok gak gentle? Mending gue.”


“Udah, udah. Kayaknya kalian emang cocok deh. Saling melengkapi banget. Meli yang ke premanan, dan Reza cowok yang lembut, kalian itu klop banget deh sumpah.”


Semua tertawa dalam ruang rawat itu membayangkan apa yang dikatakan Tamara. Terlebih Meli yang sangat geli membayangkan dirinya menikah dengan Reza. Ia tertawa terpingkal-pingkal. Suara gaduh di ruangan itu akhirnya terdengar sampai luar. Suster yang sedang lewat otomatis berhenti tepat di depan pintu bertuliskan VIP Dahlia itu lalu masuk tanpa mengetuk dan menegur dua wanita yang menjenguk Reza. Sedangkan Reza berpura-pura lemas agar lolos dari teguran.


“Mohon maaf, tolong untuk tidak membuat gaduh karena akan sangat mengganggu kenyamanan pasien kami dan pengunjung lain. Terima kasih, saya permisi,” tegurnya diiringi anggukan dua wanita cantik itu.


“Iya sus, kami minta maaf,” ujar Tamara juga Meli.


 


Setelah suster itu keluar. Tamara dan Meli langsung saja berpamitan kepada Reza.


“Za, gue sekalian pamit mau otw ke Bandung sore ini. Lo cepet sembuh deh. Cepetan move on juga.”


“Ah kamu gak asyik Mel, masak udah mau cabut aja ke Bandung.”

__ADS_1


“Tugas gue udah selesai. Terus mau ngapain disini?”


“Yaudah deh. Semoga menang lombanya.”


“Nah gitu dong akur, kan seneng aku lihatnya,” cibir Tamara.


 


Kedua wanita itu pergi meninggalkan gedung bertingkat tinggi nan mewah namun, setiap orang tidak menginginkan dirinya berada di tempat itu. Usai dari menjenguk Reza, Meli sudah berjanji akan mengembalikan sahabatnya dalam keadaan baik-baik saja. Oleh sebab itu Meli gegas menuju kompleks dimana Tamara tinggal. Lalu berpamitan dengannya. Dua wanita cantik itu berpeluk hangat di depan pintu gerbang yang bercat kan hitam elegan.


 


“Makasih ya, Mel. Hari ini udah punya waktu spesial buatku. Hati-hati di jalan sayang, kalau sudah sampai kabari aku secepatnya. Salam buat om dan tante.”


“Iya, Ra. Sama-sama. Gue juga seneng kok. Pesanannya banyak amat, lupa gue nanti.”


“Awas aja kalo sampe lupa.”


“Hehe, canda bumil. Kamu dan kandunganmu di jaga baik-baik ya. Nanti kalo udah lahiran gue kesini. InsyaAllah.”


“Siap.”


 


 


Malam ini Ziddan ternyata lembur. Ada beberapa berkas yang harus segera ia garap malam ini juga. Tamara yang tak bisa tidur kemudian menelepon manja suaminya. Tiba-tiba ia ingin tidur dengan di elus perutnya yang masih datar itu. Usia kehamilannya masih sangat muda, tentu belum membuncit.


 


Ziddan menjanjikan setengah jam lagi pulang, dan sekarang menunjukkan pukul sembilan malam. Tamara menunggu dengan senang hati di ruang tamu. Ia merebahkan tubuhnya di sofa berbulu sambil menatap langit-langit. Namun, setengah jam terlewat Ziddan belum nampak juga. Wanita hamil itu mulai jenuh dan wajahnya murung dengan langkah mondar-mandir akibat janji Ziddan yang tak di tepati. Pria itu belum juga muncul hingga Tamara tertidur di tempatnya awal menunggu Ziddan, sofa berbulu.


 


Beberapa menit setelah Tamara tertidur, Ziddan pulang. Ia masuk melewati pintu utama dengan nada langkah hati-hati. Takut jika Tamara marah ketika melihatnya. Ternyata Ziddan mendapati istrinya tertidur pulas di ruang tamu. Pria itu menjadi merasa tak enak.


 

__ADS_1


Ziddan dengan badannya yang sispek kemudian menggendong Tamara menuju kamar perlahan agar tak membuatnya terbangun. Sesampainya di kamar, Ziddan sedikit tersandung karpet. Tamara yang kaget tubuhnya terguncang akhirnya membuka matanya. Menatap sosok pria manis itu dengan manyun. Tetapi bibir Tamara langsung di tutup oleh bibir merah Ziddan. Ia melanjutkan langkahnya hingga ke ranjang.


Wanita itu tidak sanggup berkata lagi karena bibirnya masih dalam gigitan. Ziddan membuka kancing baju Tamara di bagian perut lalu mengusapnya dengan lembut kemudian beberapa kali menciumi perut datar itu. Tamara tampak bahagia, ia tak jadi marah kepada suaminya.


 


 


“Mas, kamu kenapa lama sekali pulangnya.”


“Iya sayang, maaf. Tadi kelamaan cari kunci mobil. Aku lupa naruhnya.”


 “Lain kali jangan naruh sembarangan.”


“Iya sayang. Oh iya, gimana tadi jalan-jalannya sama Meli? Dedek rewel gak?”


“Dedek?”


“Dedek dalem perut ini.” Ziddan mengelus perut datar itu lagi.


“Enggak rewel dong. Dia rewelnya cuma kalau ada kamu,” ucap Tamara seraya mencubit kedua pipi suaminya yang manis itu dengan gemas.


Ziddan membalas cubitan Tamara. Keduanya terbawa suasana romantis diatas ranjang. Setelah itu Ziddan yang ingin mandi, tiba-tiba menggendong istrinya dan membawanya ke dalam bak mandi yang sudah berisi air hangat. Malam itu mereka mandi bersama. Ziddan menciumi semua bagian tubuh Tamara sampai ke tempat sensitifnya. Setelah dirasa sama-sama puas mencapai puncak mereka kembali ke tempat tidur.


Pria itu mendekap istrinya erat, sesekali menciumi tengkuk yang putih berseri itu hingga tertidur. Sedangkan Tamara melingkarkan tangannya ke lengan berotot itu dan dibawanya ke alam mimpi.


Sinar matahari menyelusup masuk melalui celah tirai transparan di kamar tempatnya memadu kasih sayang semalam. Ziddan kaget saat melihat layar ponselnya yang dipenuhi notifikasi panggilan tak terjawab puluhan kali dari ibunya. Telepon genggam Ziddan memang ia non aktifkan semalam agar tak ada yang mengganggunya, begitu juga ponsel Tamara.


 


Pria yang sedang memakai kemeja maron itu segera menelepon balik.


 


Bersambung....


Hai Readers kesayangan,

__ADS_1


Terimakasih sudah sertia membaca novel ini


Jangan lupa tinggalkan jejak hadir kalian ya.. dengan cara like, komen, juga tekan favorite 😍😍🥰🥰😘😘😘😘😘


__ADS_2