
Beberapa hari berikutnya..
“Sayang, hari ini aku mau ajak kamu belanja di mal. Apa lukamu sudah benar-benar sembuh?”
“Sudah. Seperti yang kamu lihat. Aku sudah bisa berjalan dengan normal.”
“Kalau begitu di hari liburku ini aku akan ajak kamu ke mal. Agar kamu tidak stres di rumah terus.”
“Akhirnya.. menghirup udara Shopping.”
Tamara terlihat senang dengan ajakan Ziddan. Ia menghempaskan tubuhnya di sofa ketika sedang menyapu. Sudah lama wanita itu tidak tongkrong, main, atau pun shopping. Sejak kegagalan pernikahannya dengan Reza ia lupa menghibur diri sendiri.
“Ya sudah sana mandi.”
“Baiklah. Tunggu sebentar.” Tamara gegas menuju kamar tamu. Ia belum juga pindah ke kamar suaminya.
“Setelah nanti pulang dari Mal. Aku punya satu permintaan.”
Langkah Tamara terhenti.
“Apa itu? “
“Malam ini kamu pindah kamarku ya,” ucapnya sedikit malu.
“Emmm, jadi ada maunya? Nanti deh aku pikir lagi.” Tamara terkekeh meneruskan langkahnya.
***
Setelah sampai di mal, Ziddan memarkirkan mobilnya. Mereka kemudian turun dari mobil lalu memilih menaiki anak tangga menuju lantai satu.
“Kamu mau belanja apa sayang?”
“Aku mau beli baju deh kayaknya. Mumpung ada diskon.”
“Ga usah cari diskonan juga gak apa-apa, sayang. Uangku cukup kok untuk membeli baju satu lemari buat kamu.”
__ADS_1
“Hmm mulai sombong nih. Aku suka aja cari diskonan. Seru. Itu yang bikin lama milih.”
“Terserah kamu aja deh, asal kamu bahagia dengan pemberianku.” Ziddan menggenggam tangan istrinya.
Tamara memegang tiga baju dengan harga yang masih mahal walaupun sudah diskon.
“Kamu sudah selesai milihnya?”
“Belum, mas. Ada apa?”
“Aku mau ke toilet sebentar. Jangan ngilang lagi!”
“Iya.”
Tamara hendak melilih baju dinas malam untuk suaminya nanti, mumpung Ziddan sedang ke toilet.
Tetapi langkahnya terhenti saat ia melihat seseorang yang sangat dia kenal itu sedang bergandengan mesra. Laki-laki itu adalah Reza.
Tamara cepat mendekati pasangan itu. Lalu mendorong Reza dengan keras.
“Apa maksud kamu? Laki-laki Pengec*t! Kenapa kamu tinggalkan aku begitu saja. Apa kurangnya aku? Semua telah ku berikan, semua sudah ku pejuangkan demi kamu.” Tamara kembali mendorong dada pria itu dengan keras hingga terpisah jauh dari Rista. Setelah itu dia berganti meneliti siapa wanita yang sedang di gandeng Reza. Reza sangat terkejut atas kehadiran Tamara yang tiba-tiba ada di hadapannya. Reza seakan baru sadar dari lamunannya.
“Rista? Kamu benar Rista kan?” Tamara mundur dengan kaki lemasnya. Badannya seketika mati rasa melihat wanita itu adalah Rista. Teman dekatnya dulu sewaktu di pondok. Bahkan teman sekamar.
“Jadi ini wanita yang kamu tiduri itu?” Melirik Reza. Kemudian kembali mendekati Rista dengan mata yang berkaca-kaca.
“Sungguh kotor sekali Anda.” Mendorong wanita itu dengan penuh amarahnya.
Reza yang sedari tadi hanya diam. Kini angkat bicara. Dia menepikan Tamara ke sudut tempat itu. Karena semua orang sedang terpaku melihat mereka.
“Ra, kenapa kamu menikah dengan pria lain? Kenapa kamu tak menungguku? Padahal aku sangat mencintaimu.”
“Omong kosong. Makan tu cinta!” Tamara menampar dengan sangat keras laki-laki itu. Tangisnya pecah. Reza menahan tangan Tamara yang akan melangkah pergi.
“Ra...” panggilnya lirih. Reza mendekatkan Tamara ke tubuhnya. Membisikkan sesuatu.
“Aku di jebak, Ra. Aku di jebak! Usahaku bangkrut karena di tipu, begitu pula usaha ayahku, semua toko terbakar. Aku pergi dengan seorang wanita tanpa kesadaranku, aku dibuat lupa segalanya. Aku pun tidak sadar ketika aku di usir dari rumah karena membawa wanita lain. Aku mengikuti saja perintah wanita itu tanpa menolak. Entah apa yang telah terjadi kepadaku hingga aku bisa di kendalikannya seperti robot.”
“Ketika kamu menelepon saat itu pula aku dalam pengaruh obat. Lima hari aku di sekap, mereka memberiku obat terus menerus hingga hari pernikahan kita tiba. Malam di tanggal pernikahan kita, aku berhasil kembali ke rumah, tetapi ibuku bilang kamu telah menikah dengan pria lain. Aku hancur mendengar penjelasan Ibu. Kamu kira aku tidak terluka karena harus kehilanganmu. Aku juga terluka, aku sangat depresi wanita yang aku cintai memilih menikah dengan pria lain daripada menunggu kedatanganku. Setelah aku mendapat kabar itu aku pergi dari rumah tanpa tujuan. Aku mencoba mendatangi rumahmu sehari setelah pernikahanmu, namun ayahmu mengusirku. Dia bilang kamu telah pergi bersama suamimu. Aku semakin hancur, tidak tau lagi bagaimana cara melanjutkan hidupku tanpa kamu.” Reza meneteskan air mata yang telah lama menggenang.
"Asal kamu tau, Za. Aku tidak pernah menginginkan pernikahanku ini. Aku terpaksa harus menerima demi kehormatan keluargaku yang sudah kamu permalukan. Bahkan aku belum pernah memberikan hak suamiku atas diriku sampai saat ini. Karena aku tak mencintainya. Aku hanya mencintai dirimu. Tapi ternyata aku salah mencintai laki-laki. Dan sekarang aku sedang berusaha menghapus perasaan itu. Aku akan mencintai suamiku." Tamara menghela nafas kuat-kuat sebelum bertanya lagi kepada Reza.
“Lalu bagaimana dengan wanita itu!” Tamara menunjuk Rista
“Siapa wanita yang dulu kamu tiduri saat meneleponku? Siapa, Za? Apa alasan kamu! Kamu bilang kamu sadar dalam telepon itu!”
__ADS_1
“Tidak, Ra. Aku tak sadar. Aku berani bersumpah, apa yang aku ucapkan pun aku tidak ingat. Yang ku ingat mereka selalu memberiku minuman setelah itu aku hanya patuh dengan perintah mereka.” Tangis Reza juga pecah.
“Rista yang menolongku. Ayahnya yang menyelamatkan usahaku kembali.”
“Kamu yakin dia penyelamatmu? Bagaimana jika dia dalang dibalik semua ini?” ucapnya geram tidak percaya. Reza yang tidak pernah berpikir tentang hal itu kemudian diam.
Reza mengamati Rista dari jauh. Tamara kembali menampar pria itu.
“Sadar, Za. Sadar! Apa dia yang membuatmu melupakanku? Apa kamu mencintainya?”
“Aku tidak mencintainya. Aku hanya mencintaimu.”
“Kenapa kamu bisa bermesraan dengan dia?”
“Aku tak tau, Ra. Jika aku di dekatnya seolah aku tunduk saja dengan ucapannya.”
Rista kini mendekati mereka berdua dengan langkah tidak bersalahnya.
“Kenapa, Ra? Kamu heran dengan kehadiranku? Kamu kecewa dengan Reza?” Rista menatap Tamara penuh kemenangan.
“Reza dalam pengaruhku jika dia bersamaku. Seperti saat ini.”
Dilihatnya dengan jelas Rista menyuruh Reza memeluknya. Reza yang tadi mengaku mencintai Tamara, tiba-tiba memeluk Rista dengan mesra di depan Tamara meski dengan wajahnya yang masih basah karena air mata.
“Rista, Lo bener-bener gila!” Tamara mendorong kening Rista menggunakan jari telunjuknya.
“Ya. Benar. Gue tergila-gila sama tunangan Lo. Mau apa Lo? Dia sekarang telah menjadi milik gue.” Rista tertawa dan mendorong Tamara yang terlihat pucat dan lemas.
Namun tubuh Tamara di tangkap Ziddan. Tamara menangis sejadi-jadinya di depan mereka. Derai air mata itu terus mengaliri pipi Tamara. Reza yang tadi mati-matian memberi penjelasan dan membela dirinya di hadapan Tamara kini hanya terdiam dengan masih melingkarkan tangannya di pinggang Rista. Seolah Reza tidak tau apa-apa. Tamara benar-benar heran apa yang telah di perbuat Rista sehingga bisa membuat Reza terpengaruh dan hilang kesadaran jika di dekatnya.
Hai Readers kesayanganku... Sebenarnya ini kisah nyata seseorang yang aku kenal dekat. Tetapi ada beberapa kehaluan selanjutnya.
__ADS_1
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.....lope lope sekebun 🥰🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘😘😘