
“Mungkin lebih baik aku mengatakan yang sebenarnya, Mas.”
Ziddan berpindah mendekati istrinya dengan langkah tertatih. Ia menggenggam tangan putih nan halus itu.
“Jika itu mau mu, aku akan disini memberimu kekuatan.”
Tamara merasa terharu dengan perhatian suaminya. Padahal selama ini Tamara hanya selalu menyakiti Ziddan tanpa henti. Baru-baru ini ia memiliki perasaan untuknya.
“Ayah, Ibu... Sebenarnya saya sudah bertunangan dengan seseorang dan akan segera menikah sebelum Mas Ziddan datang melamar. Tapi pernikahan itu gagal karena tunangan saya menghilang dan meninggalkan saya. Pada waktu yang bersamaan, Mas Ziddan datang melamar. Ayah memaksaku menerima lamaran itu. Hatiku sakit dan sangat terluka. Oleh sebab itu saya tidak mau di sentuh sampai saat ini, saya meminta kamar sendiri.”
“Kamu tahu perbuatanmu itu berdosa besar, Nak?”
Tamara mengangguk.
“Lalu kenapa kamu lakukan?”
Tamara hanya bisa diam dan tak dapat lagi menahan air matanya. Bulir bening itu menetes di tangan suaminya yang masih terus menggenggam tangannya. Kemudian ia beranikan menjawab.
“Hati mana yang tidak sakit, hati mana yang tidak terluka. Saya berjuang penuh demi pernikahan impian saya dengan orang yang saya cintai. Tetapi ketika waktunya tiba saya menikah dengan pria lain. Yang sama sekali tidak saya cintai.”
“Disaat hati ini terluka begitu parah, saat itu pula aku di paksa untuk menikah dengan orang lain. Siapa yang tidak benci dengan keadaan itu, Bu,” suara isak tangisnya kini pecah memenuhi ruangan.
“Kenapa kamu tidak berkata jujur pada kami? Kalau kamu menolak pasti kami terima keputusanmu.” Ibu melipat kedua tangannya di dadanya.
“Persiapan sudah siap semua. Begitu juga dengan undangan telah kami sebar. Ayah sangat kecewa dan malu jika pernikahanku gagal.”
“Jadi Ziddan kalian jadikan pelampiasan dan penolong rasa malu keluargamu? Lalu setelah itu kamu sakiti dengan tidak mau di sentuhnya, bahkan membencinya?” Berjalan kesana kemari dengan tangan masih sedakap.
Kemudian ibu Ziddan menceritakan sesuatu.
“Sungguh ungkapanmu menyakiti hati kami, Nak. Kamu sudah melukai hati Ziddan, ibu sangat paham bagaimana perasaan anak ibu pada saat kamu tak mau di sentuhnya. Dia sudah sejak lama mencintaimu. Sejak awal kamu datang ke pesantren ia sudah jatuh hati kepadamu. Namun ia pendam. Ia tahan keinginannya untuk segera meminangmu karena ia ingin sukses dulu. Bahkan setiap Ziddan menerima gaji dari hasil jerih payahnya, ia tabungkan untuk meminangmu. Wanita yang ada di hatinya sejak pertama dan sampai saat ini hanyalah kamu.”
“Ziddan sangat bahagia ketika lamarannya di terima dan ayahmu meminta kalian segera menikah. Namun rupanya Ziddan mendapat perlakuan seperti ini oleh wanita yang ia cintai.”
Wanita yang sedang di sidang itu tercengang mendengar penjelasan ibu mertuanya. Tamara sangat tidak menyangka jika Ziddan ternyata begitu mencintainya bahkan sejak lama. Sama sekali tak Ziddan tunjukkan perasaan itu. Rasa bersalah kini dua kali Tamara rasakan kepada dua laki-laki yang berbeda.
“Maafkan aku, Mas.” Tamara menangis tersedu. Tangannya membalas genggaman Ziddan.
“Tidak apa, sayang.”
“Mungkin Ziddan bisa memaafkanmu. Tetapi Ibu masih terasa sakit.”
“Bu, Ziddan mohon. Maafkanlah istriku. Biarlah semua berlalu, kita akan mulai dari lembaran baru.”
__ADS_1
“Baiklah. Lalu apakah istrimu sekarang sudah benar-benar menerimamu?”
“Ya, Bu.” Ziddan mengangguk mantap.
“Bagaimana jika ternyata dia masih menyimpan hati untuk laki-laki itu?”
Ziddan dan Tamara membisu tanpa bersuara. Tuduhan ibunya memang sedang terjadi dalam rumah tangga mereka.
“Saya memang masih mencintai tunangan saya dulu, Bu,” ucapnya terbata.
“Kamu dengar sendiri Ziddan? Ibu yakin perasaan yang Tamara miliki untuk laki-laki itu akan terus melekat di hatinya. Meski kini ia sudah bisa menerima pernikahan terpaksanya denganmu. Dia akan sulit menghapus rasa masa lalunya karena Tamara ditinggalkan tunangannya ketika ia berada pada titik tertinggi mencintai.”
Ziddan sedikit tertusuk dengan ungkapan ibunya. Ada kebenaran fakta pahit yang akan ia terima.
‘Memiliki istri yang masih mencintai pria lain.’
“Dan kamu Ziddan, sampai kapan hatimu kuat?”
“Ada saatnya hati itu akan rapuh. Hancur berkeping, Nak.”
Ayah kini mendekati keduanya. Beliau angkat bicara.
“Ayah akan hubungi orang tua Tamara. Untuk menyelesaikan masalah ini.”
Kedua pasangan baru itu hanya bisa pasrah menerima keputusan Ayahnya.
“Assalamu’alaikum...”
“Wa’alaikumsalam... Bagaimana, Pak Tama?” Terdengar suara manis Permana menjawab salam dari besannya.
“Bisakah Pak Permana datang ke rumah Ziddan hari ini juga?”
“Loh, ada apa pak? Apakah terjadi sesuatu dengan anak-anak kita?”
“Ya, Pak. Ada sedikit masalah yang harus segera di selesaikan bersama.”
“Baiklah. Hari ini saya akan terbang bersama istri saya.”
“Baik. Kami tunggu kedatangannya. Assalamu’alaikum.”
“Wa’alaikumsalam.”
Panggilan terputus.
__ADS_1
“Tamara, kedua orang tuamu akan segera datang. Mereka akan kesini menggunakan jalur udara.”
Tamara mengangguk. Ia paham sebentar lagi persidangan akan berlanjut lebih besar.
“Sekarang Ayah mau tanya lagi. Kenapa kamu bisa babak belur seperti ini?” ucapnya melirik Ziddan.
“Hanya membantu orang yang kerampokan tadi, Yah.” Ziddan tak berani mengatakan yang sebenarnya. Ia tidak mau membuat Tamara bertambah kena marah dan masalah ini menjadi besar. Namun Ziddan tetap ingat pada janjinya, ia akan membantu menyadarkan Reza. Meski dia sudah tahu apa yang akan terjadi jika Reza sudah sadar dan menjauhi Rista. Tentu Reza akan kembali mengejar istri tercintanya.
“Benar begitu Tamara?”
Ziddan menggenggam tangan istrinya kuat untuk memberi kode agar sepakat dengannya.
“I-ya, Yah.”
“Ayah harap kalian tidak berbohong.”
Keduanya kembali terdiam.
Persidangan sementara di ruangan itu terjeda menunggu orang tua Tamara datang.
Di dalam pesawat.
“Ada masalah apa sebenarnya, Yah?” tanya Sari kepada suaminya.
“Ayah juga belum tahu. Tapi sepertinya Pak Pratama sedang marah.”
“Apa mungkin Tamara membuat ulah fatal?”
“Kita berdoa saja, Bu. Semoga apa pun itu masalahnya dapat terselesaikan dengan baik.”
“Iya, Yah. Ibu selalu berdoa yang terbaik untuk anak-anak kita.”
Permana memeluk istrinya lalu mencium keningnya dengan lembut. Perjalanan mereka masih akan di tempuh satu jam lagi.
Bersambung...
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
__ADS_1
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰