
Ziddan menyuruh Tamara mengganti baju, ia menyodorkan kemeja cadangan yang tersimpan di lemari kecil ruangannya. Tamara segera masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
“Siang ini aku ada meeting dengan atasan, Ra. Kamu bisa tunggu di sini dulu, atau mau ke kantin. Jangan keluar kantor tanpa aku.”
“Aku di sini saja. Kalau aku ke kantin pasti banyak rekan kerjamu yang membicarakan aku. Apalagi kamu orang terpandang berilmu agama disini.”
“Mereka sudah tau kalau aku sudah menikah.”
“Kenapa tak ada satu pun yang memberimu ucapan tadi? Pasti mereka berpikir istri seorang ustad sekaligus direktur masak berpakain kotor dan lusuh, penampilan kayak preman, iya kan? Bagaimana nanti jika aku ke kantin? Pasti semua orang menyantap habis aku seperti makanan mereka.” Tamara mempraktikkan dengan menggerak-gerakkan dahinya serta berkata dengan sedikit memiringkan bibir. Persis seperti ibu-ibu kompleks yang sedang bergosip. Ziddan tertawa keras melihat ekspresi itu dilukiskan di wajah Tamara.
“Buruk sangka banget sama temenku,” jawab pria itu menahan tawanya.
“Mereka tadi bukannya tidak mau memberi ucapan, sayang. Justru mereka sudah menanti kedatanganku untuk memberi ucapan, tetapi karena aku memang memberi kode untuk jangan mendekat dulu, ada istriku yang cantik lagi jelek.” Ziddan meledek istrinya yang sedang ngambek.
Bibir wanita itu semakin di majukan. Ziddan mendekatkan wajahnya dengan cepat di wajah Tamara. Tamara melototi suaminya, dilihatnya dengan benar-benar bahwa Ziddan memang manis, bibir suaminya merah sekali menambah manis pria itu.
Tamara kali ini sedang merasakan jantungnya berdebar-debar, nafas Ziddan semakin menyatu dengan nafasnya. Sekarang dia terlihat salah tingkah. Memejamkan matanya lalu mendorong Ziddan.
“Jangan mendekat sudah ku bilang! Aku berikan peringatan untuk ustad!”
__ADS_1
“Ustad? Aku ini suamimu, panggil aku Mas,” ucap Ziddan lembut.
“Hmmm...” Tamara memalingkan pandangan.
“Nanti aku akan menyuruh OB untuk mengirim makan siang buatmu.” Ziddan mengambil laptop dan berkas-berkas yang akan ia gunakan untuk presentasi.
“Terimakasih,” ucapnya tanpa melihat Ziddan.
“Assalamu’alaikum, istriku.” Ziddan mencubit gemas pipi istrinya.
“Wa’alaikumsalam.” Menepis tangan Ziddan.
Satu jam kemudian OB datang membawa makan siang untuknya.
“Permisi, saya disuruh Pak Ziddan untuk mengantarkan makan siang, Bu.” OB masuk setelah dipersilakan Tamara.
“Iya Pak, terimakasih banyak.”
“Nama saya Tamara, Pak.” Dengan senyum elegannya.
“Baik, Ibu Tamara. Kalau begitu saya permisi. Selamat menikmati.” Tamara mengangguk. Kemudian membuka box yang berisi makanan penuh sayuran toge. Sayuran yang dipercaya banyak kaum emak-emak dapat menyuburkan kandungan itu. Tamara merasa ada suatu kode dengan kiriman makanannya dari Ziddan.
“Gado-gado. Oke. Tapi kenapa sayurnya penuh sekali dengan toge begini? Apa maksudnya?” dengus Tamara kesal.
Wanita itu menyingkirkan tumpukkan toping putih yang membuatnya kesal. Dia takut kalau malam ini suaminya akan menagih haknya. Terbayang di pikirannya yang tidak-tidak hanya karena satu jenis sayuran kecil itu.
“Argh, apaan sih. Makan tinggal makan aja, ngapain mikir kesitu.” Mengambil lagi sesuatu yang ia singkirkan tadi. Karena sebenarnya ia menyukai semua jenis sayuran.
“Tapi kalau nanti aku subur gimana?” gumamnya sendiri.
__ADS_1
Klek..
Tiba-tiba pintu terbuka.
“Tak apa kalau kamu subur. Itu artinya kita akan segera memiliki anak.” Ziddan menyaut. Tamara tersedak mendengar suaminya tiba-tiba masuk dan berkata seperti itu. Ia batuk tak henti, Ziddan mengambilkan minum dan menyuapkan gelas itu di bibir Tamara.
“Kamu itu bikin aku tersedak!” Ziddan menahan tawa meski ada rasa bersalah.
“Maaf, aku tidak bermaksud mengagetkanmu.”
“Memang kamu tidak mengagetkanku, tapi ucapanmu barusan yang membuat aku tersedak.” Akhirnya tawa pria itu pecah.
“Kenapa tertawa? Kamu sengaja mengerjaiku ya? Terus kenapa kamu sudah balik ke ruangan?”
“Rapatnya hanya sebentar, tinggal Coffee break saja disana, tapi aku tidak ikut. Aku mau menemani istriku yang cantik.”
“Lalu apa maksud kiriman makananmu yang penuh dengan makhluk kecil putih ini?” Ia menjumput menggunakan dua jari dan memperlihatkan ke Ziddan.
“Aku hanya memesan seadanya. Mungkin ibu kantin hanya memiliki itu.”
“Hhmm... Fix kalian sepakat.”
“Terserah, tapi kamu memakannya kan?”
“Terpaksa. Seperti menikah denganmu,” timpal Tamara dengan masih mengunyah. Ziddan hanya terkekeh merasa bisa membuat pipi istrinya itu kembali merah dan bibirnya manyun.
***Bersambung...
Nantikan episode berikutnya 🥰🥰🥰
Terimakasih sudah setia membaca novel ini 😘😘😘
Jangan lupa berikan komentar untuk kemajuan author dalam menulis novel ini ya.. 😍😍😍 Love uu 🥰🥰***
__ADS_1