Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 39


__ADS_3

Mobil kecil dan pendek berwarna merah milik Meli terlihat memasuki parkiran cafe ternama tengah kota. Letaknya tak terlalu jauh dari kompleks dan lumayan dekat dengan rumah sakit.


 


Wanita yang sedang itu memilih tempat duduk di luar ruangan yang terdapat taman kecil yang dipenuhi bunga kaktus mini berjejer rapi bak menyambut kedatangan pengunjung.


 


“Aku mau disini saja, Mel,” pintanya manja.


“Oke bumil. Gue akan jadi pelayan Lo selama Lo hamil. Jadi silakan Lo gunain kesempatan ini sebaik-baiknya,” seloroh Meli berlagak.


“Apaan sih, Mel. Aku gak suka manfaatin temen. Emang kamu mau aku jadiin sopir pribadiku selama aku hamil. Hah?” timpal Tamara sambil tertawa lepas bercanda dengan Meli.


 


“Gue mau. Asal... Lo gaji. Hahahaha,” tukasnya bercanda.


Setelah mereka duduk agak lama, kemudian Meli memanggil seorang waiter cafe yang tampak masih mengelap meja dekat kasir. Gadis cantik yang usianya masih sekitaran delapan belas tahun itu datang dengan membawa sebuah buku sedikit tebal menu andalan cafe itu lengkap dengan alat tulis pencatat lainnya.


“Permisi, ada yang bisa saya bantu?” tawarannya manis.


“Mbak, boleh lihat menu list-nya?” tanya Meli kembali berlagak.


“Oh tentu boleh, silakan,” ucapnya sambil menyerahkan buku menu di tangannya.


“Ra, Lo mau pesen apa?”


“Aku lagi pengen banget ngunyah yang dingin-dingin, Mel,” jawabnya manja.


“Apa? Es batu?” ledek Meli.


“Es batu yang diserut ada gak sih, Mbak? Terus di bentuk kaya bola-bola salju gitu dan dikasih sirup warna-warni. Aku tiba-tiba pengen itu,” jelasnya memelas.


“Sumpah Lo malu-maluin gue, Ra. Dasar ibu hamil, mana ada menu jajanan anak SD jaman gue sekolah itu ada disini,” omel Meli geli atas permintaan mengidam sahabatnya itu.


Sedangkan gadis pramusaji yang masih berdiri disana sekuat tenaga menahan tawa dan belum sempat menjawab karena tamu yang ia layani masih sibuk berdebat.


“Biarin. Orang beneran aku pengen!” celetuk Tamara manyun.

__ADS_1


“Iya deh bumil. Jangan ngambek dong.”


“Mbak, ada gak?” tanya Meli berusaha menahan tawa.


“Maaf untuk menu itu tidak tersedia di cafe kami, kakak,” ucap pramusaji hati-hati.


“Mbak, bisa request gak sih?” serobot Tamara dengan wajah mengharap permintaannya terkabul.


Tawa Meli akhirnya pecah.


“Ra, Ra.. bener-bener ya ibu hamil itu.”


“Coba nanti saya konfirmasi ke bartender ya, Kak,” jawab pramusaji hati-hati lagi.


“Beneran ya Mbak, aku lagi ngidam nih kayaknya. Nanti mbaknya aku kasih tips deh sama bartendernya.”


“Baik, kakak. Ada pesanan lain mungkin?”


“Aku mau coffe andalan di cafe ini aja, Mbak. Sama cemilan yang enak disini apa ya, Mbak?” tanya Meli membolak-balikkan buku bergambar itu.


“Banyak, Kak. Tetapi menu favorit disini ada Banana fritter sama Corndog, Kak.”


“Boleh deh keduanya,” pilih Meli mantap.


 


Sembari menunggu pesanan datang Meli dan Tamara mengobrol banyak tentang segala hal yang mereka anggap asyik dan sesekali mereka tertawa bersama.


Tidak lama pramusaji itu kembali datang menuju meja mereka dengan membawa berbagai hidangan yang di telah di pesan kedua wanita itu tadi. Tamara tampak begitu senang, wajah cantiknya mengembang ketika melihat mangkuk cocktail yang berisi serutan es berwarna-warni ada di hadapan.


“Perfect banget sesuai permintaan. Makasih ya, Mbak.” Manik matanya berbinar terang persis seperti anak kecil yang di turuti kemauannya membuat Meli menggelengkan kepalanya berkali-kali.


“Sama-sama, Kak. Selamat menikmati.” Pramusaji kembali mengundurkan diri.


 


Semua hidangan telah mereka habiskan bersama. Ternyata Tamara juga memakan pesanan sahabatnya hingga habis.


 

__ADS_1


“Untung Lo sahabat gue. Kalo bukan udah gue kata-katain.”


“Ya maklum.”


“Iyeelah ibu hamil. Apa pun diberikan untuk ibu hamil. Gue juga seneng banget. Rencana gue sukses. Akhirnya Lo hamil juga kan sama Ziddan,” ucapnya bangga.


“Iya-iya,” serobot Tamara cepat.


 


Setelah dirasa bosan berada di cafe, Meli mengajak Tamara keliling kota sekaligus mencarikan rujak untuknya yang mendadak meminta makanan itu. Tamara juga telah menepati janjinya memberikan uang tips kepada pramusaji itu juga bartender yang sudah mengabulkan permintaannya. Berkali-kali Tamara mengucapkan terima kasih.


 


Saat mereka melangkah menuju parkiran, mata Tamara terperangkap pada pria yang disebut sebagai pacar Meli.


“Itu Jojo bukan sih, Mel?”


“Jojo kan di Bandung, Ra. Ngawur kamu,” celetuk Meli tanpa menengok pria itu.


“Liat aja dulu cepetan. Masak aku salah liat,” ucapnya menunjuk pria yang sedang menaiki tangga cafe.


“Lo bukan salah liat tapi muka Jojo emang pasaran.” Meli masih sibuk dengan isi tasnya. Ia mencari kunci mobil yang dirasa ada dalam ransel mungil miliknya.


“Ketinggalan kali di meja. Sana cari ke dalam dulu.”


“Bentar yaa..” ucap Meli seraya berlari ke dalam cafe.


Namun, ketika dirinya mengambil benda yang benar tertinggal di atas kursi bekas dia duduk tadi, terdapat Jojo di seberang penglihatannya.


 


 


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰😘😘😘

__ADS_1


 


 


__ADS_2