
Usai sarapan dan membereskan barang-barang yang akan dibawa ke rumah Ziddan, Tamara berpamitan dengan ibunya di kamar. Ziddan sedang berbincang dengan Ayah Tamara di ruang tamu.
Tamara masuk membuka pintu kamar paling besar di rumah megah itu.
“Bu, Tamara takut.”
“Takut kenapa, sayang?”
“Tamara takut tidak bisa mencintai ustad Ziddan seperti Reza. Tamara tidak bisa menghapus perasaan cinta Tamara untuk Reza, Bu. Aku tak bisa melakukan ini, tidak bisa, Bu.” Tamara bersimpuh di kaki ibunya dengan tangis tersedu hingga suaranya sesak.
“Sayang, cinta itu datang karena terbiasa. Terbiasa bersama. Ibu yakin suatu saat nanti kamu bisa mencintai suamimu.” Sari menghapus bulir bening di pipi Tamara yang telah membasahi pakaiannya.
“Ibu juga yakin, nak Ziddan akan membuatmu jatuh cinta setelah ini.”
“Bagaimana ibu bisa seyakin itu?”
“Rekan kerja ibu, ternyata mengenal nak Ziddan sayang.”
“Mengenal? Bagaimana bisa kenal? Dia kan tinggal di desa yang sangat jauh dari sini Bu, bahkan melebihi jauhnya desa nenek bukan?”
“Ziddan pria berhati lembut sayang, teman ibu sendiri yang bilang. Ziddan sekarang bukan Ziddan yang dulu mengajar di pesantren Abi, sebagaimana dia menjadi gurumu. Dia bekerja di salah satu perusahaan terbesar di Jakarta milik teman Ibu, kota yang sangat jauh dari sini. Mungkin kamu akan dibawanya kesana.”
__ADS_1
“Banyak orang kantor menyukai sifatnya. Bahkan karena kepintarannya mengaji ia sering diminta untuk mengisi acara religi setiap minggunya di kantor. Suaranya juga sangat merdu membuat para bosnya meminta ia untuk mengajari mengaji secara privat. Ziddan memang tak memiliki banyak harta seperti Reza sayang, tetapi hatinya sangat kaya.”
Sari berhenti bercerita ketika pintu kamarnya di ketuk. Ziddan mengucap salam lalu masuk setelah di persilakan mertuanya.
“Bu, kami pamit. Tamara kamu sudah siap kan?” Menoleh ke gadis yang masih terduduk dibawah ibunya.
“Tentu istrimu sudah siap, bawalah dia kemana kamu pergi.” Sari mengangkat tubuh anaknya agar segera bersiap diri. Ia menghapus bekas air mata yang mengering di pipi meronanya.
“Terimakasih, Bu. Sepertinya saya akan membawa Tamara langsung ke rumah saya sendiri.”
“Alhamdulillah sudah, Bu. Baru satu bulan ini saya membeli rumah kecil di dekat kantor.”
“Saya senang mendengarnya. Itu akan membuat hubungan kalian semakin harmonis jika sudah berumah sendiri.” Ziddan tersenyum menyalami mertuanya. Disusul Tamara mencium dan memeluk ibunya dengan kembali tersedu.
“Bu, Tamara pamit,” ucapnya terbata. Meskipun putri tercantiknya itu akan pergi meninggalkan rumah bersama suaminya tetapi tetap hati seorang Ibu akan merasa sedih berpisah dengan anak yang sudah ia besarkan penuh kasih sayang itu. Apalagi dengan keadaan yang saat ini masih terluka atas kegagalan cintanya.
“Iya sayang, jangan menangis lagi.” Sari justru menangis berkata demikian.
__ADS_1
“Nak Ziddan, ibu titip putri ibu yang cantik ini. Bawalah dia ke jalan yang benar. Sabarlah dalam mencintainya, seperti yang kamu ketahui keadaannya sekarang belum bisa mencintaimu. Ibu percayakan semuanya kepadamu.” Mengelus bahu tinggi menantunya. Tangis Tamara pecah mendengar ucapan ibu, ia sadar tak ada hati untuk laki-laki yang berstatus suaminya itu.
“Tamara pamit, Kak.” Tamara bergantian memeluk dan mencium ketiga kakaknya yang masih menginap di rumah Permana bersama anak dan suami mereka. Ia juga menyalami kakak-kakak iparnya lalu menggendong sebentar keponakan-keponakan.
“Dek, kakak pamit ya. Titip Ayah dan Ibu lagi.” Difa memeluk erat wanita yang baru saja menikah itu dengan tangis terisak. Ia tahu betul bagaimana perasaan kakaknya saat ini. Difa sudah semakin dewasa, ia sekarang sudah lulus sekolah menengah. Permana pasti akan segera mengirim anak bungsunya itu ke Bandung, sama dengan keempat putrinya dulu. Rumah megah itu sebentar lagi akan kosong tak berpenghuni, karena Permana dan Sari sibuk mengurus perusahaannya. Jadi mereka akan sering ke luar kota, hanya sesekali mereka mampir. Mang Dadang yang diperintahkan Permana untuk menjaga rumah itu.
“Kak, jaga diri baik-baik ya. Kakak harus bahagia. Difa sayang kakak,” ucap Difa yang masih sesenggukan menangisi kepergian wanita yang sangat jelas terlihat tidak bahagia dengan pernikahan itu.
Suasana ruangan itu kembali haru, kepergian Tamara diiringi tangis oleh Ibu dan saudaranya. Mungkin mereka tidak akan bersedih jika wanita itu menikah tanpa keterpaksaan. Bahkan ayahnya sendiri yang memaksa demi sebuah nama baik.
Setelah semua berpamitan. Ziddan menggandeng tangan Tamara dengan lembut. Permana, Sari, juga semua yang ada disana terlihat senang dengan sikap Ziddan yang begitu tampak menyayangi Tamara meski sikap istrinya itu masih dingin bahkan benci.
Setelah barang-barang mereka sudah di naikkan ke dalam mobil oleh mang Dadang kemudian Ziddan membukakan pintu depan sebelah kiri untuk Tamara. Ia mempersilakan istrinya masuk lebih dulu dengan sedikit menunduk seperti seorang sopir pribadinya. Tetapi Tamara mengacuhkannya lagi, ia tidak sedikit pun tertarik oleh perhatian-perhatian yang Ziddan berikan padanya.
“Sudah siap sayang?” Tamara tak menjawab bahkan tak menoleh sedikit pun ke arah Ziddan.
Tamara masih memandangi tempat ia dilahirkan dan di besarkan. Semua melambaikan tangan melihat Ziddan menjalankan kendaraan itu. Hingga di perjalanan pun Tamara masih terdiam tanpa berbicara sepatah kata pun. Perjalanannya kali ini sangat jauh, mungkin butuh empat jam untuk sampai tujuan.
**Tunggu kisah selanjutnya yaa 🥰🥰
__ADS_1
Terimakasih sudah setia membaca novel ini... Jangan lupa beri dukungan dengan cara like, komen, dan tekan love 😘😘😘🥰🥰🥰🥰 Lope lope sekebunn buat semua 😘😘😘😘**