Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 50


__ADS_3

 


Reza mengeluarkan kotak warna merah. Kemudian ia membukanya.


“Kemarikan jari manismu!” perintahnya.


“Lo jangan bikin gue meleleh, Za.”


“Buruan, Mel. Sekali kali jadi cewek tulen dong,” ledek Papanya. Meli memang tak pernah memakai perhiasan meskipun orang tuanya sanggup membelikan. Gadis itu tidak suka terlihat lebih feminim gara-gara memakai barang mahal itu. Namun, kali ini dia tidak enak menolak pemberian Reza. Meli tahu pria itu membelinya dengan susah payah. Ia mengumpulkan uang dengan kerja kerasnya. Bahkan Reza pasti memendam keinginan pribadinya demi membeli cincin itu.


“Makasih, Za.”


“Sama-sama. Jarimu kini jadi lebih cantik setelah memakai perhiasan.”


“Terpaksa gue pakainya, karena gue tahu pasti Lo susah payah dapetinnya kan?” canda Meli dengan menjulurkan lidahnya. Reza menangkap wajahnya.


“Mel, jangan gitu dong. Hargai pemberian nak Reza,” ucap Mamanya lembut.


“Iya, Bu. Meli kan cuman ngeledek aja. Gak serius.”


“Makasih ya, Za. Kamu laki-laki termanis yang aku miliki sekarang.” Meli mengambil jari manis Reza, ia bergantian memakaikan cincin untuk Reza.


Setelah semua acara selesai. Mereka berlanjut acara makan bersama. Di sela makan, Meli tiba-tiba bertanya.


“Tunggu ... tunggu. Kenapa aku baru sadar ya. Papa sama Mama berarti udah kerja sama dong sama Reza.”


“Iya, pekan lalu Reza datang kemari mengatakan ingin melamarmu. Tapi dia meminta merahasiakan dulu dari kamu,” jelas Mama Meli.


“Oh begitu.”


Sebelum Reza pulang, Meli mengajak Reza berfoto di depan dekorasi dengan pakaian yang digunakan seadanya. Memakai kaos oblong jaket jeans dan rambut panjangnya di kucir tinggi. Sedangkan Reza berpenampilan rapi dengan tetap menggunakan jasnya.


“Om, Tante, terima kasih banyak atas bantuan Om. Terima kasih banyak atas restu dari Om dan Tante. Saya izin pamit, Om.” Reza mencium tangan Papa dan Mama Meli.


“Sama-sama,” ucap keduanya.


“Hati-hati di jalan, Za,” sambung Ayah Meli.


“Baik Om.”


“Pah, Mah, aku antar Reza dulu ke depan ya.”


Meli mendorong tubuh pria itu hingga ke depan mobil butut Reza.

__ADS_1


“Za, makasih ya ....” Meli tersenyum-senyum malu.


“Iya Sayang. Sama-sama.”


“Sayang?”


“Ngapain aku ngelamar kamu kalau aku gak sayang? Jadi, gak ada salahnya dong, aku manggil sayang.”


“Ehe. Iya-iya, Za. Kuping gue masih asing Lo manggil gue dengan sebutan itu.”


“Kita kan udah tunangan, jadi kamu manggilnya jangan gue-elo dong, Mel. Panggil aku ‘Abang Reza ganteng’, hahaha ....” Reza berucap dengan menunjuk dada bidangnya.


“Genit amat Mr. Reza,” ucap Meli seraya mendorong tubuh Reza yang sedang duduk di bumper mobilnya.


“Gue jadi teringat. Dulu waktu Tamara sakit di kos ...”


“Gue lagi? Aku-kamu. Okey?”


“Iya iya, maaf lupa. Udah mendarah daging soalnya.”


“Lanjut.. mau cerita apa?”


“Jadi dulu, waktu Tamara sakit di kos kan aku yang bawa dia ke klinik dan aku juga yang ngerawat sampai dia sembuh. Nah, dia itu mikirin kamu terus, dia berjuang banget loh buat nikah sama kamu. Saat itu aku nasihati dia supaya dia berhati-hati sama kamu. Aku tau cowok modelan kaya kamu itu rawan sekali ke goda cewek. Gimana enggak? Kamu coba lihat dirimu sendiri di cermin!”


“Ada apa denganku?”


“Wajah kamu terlalu tampan. Badan kamu sempurna. Cewek mana yang gak pengen goda kamu coba? Jadi, dia itu takut sekali kamu diambil orang. Dia sampai rela berjuang sendirian. Aku marahin Tamara, karena dia mati-matian kaya gitu demi cowok doang. Kesel dong aku sama kamu. Benci banget malahan. Eh gak taunya sekarang aku jatuhnya sama kamu juga, Za.”


“Memang benar quotes tentang cinta yang aku baca di buku novel.”


“Quotes apa memangnya?” tanya Reza penasaran.


“Benci boleh tapi jangan berlebihan. Cinta boleh tapi jangan berlebihan. Sebab, bisa jadi keduanya akan terbalik. Aku dulu membencimu karena kamu melukai sahabatku, tetapi kebencian itu terkikis oleh cinta seiring berjalannya waktu.”


“Dulu aku mungkin terlalu mencintai Jojo. Aku bahkan memberikan segalanya yang dia minta berbentuk harta. Aku tidak pernah terpikirkan untuk membencinya. Tetapi kini suatu fakta mengejutkan dan membuatku membencinya. Sekarang ... aku berharap, semua ini adalah bentuk akhir dari semuanya. Apa yang aku cintai saat ini jangan lah menjadi kebencianku di masa mendatang. Aku ingin mencintaimu dengan sederhana saja, Za sampai kita benar-benar sudah menikah.”


“Baiklah, Mel. Kedewasaanmu membuat aku semakin yakin untuk memperistrimu,” ucap Reza mendekatkan bibirnya ke bibir Meli. Meli membelalakkan matanya. Baru saja dia berucap ingin mencintai dengan sederhana. Tapi Reza justru membuatnya terpancing ingin mencintai lebih dalam.


Meli mendorong tubuh Reza agar sedikit menjauh.


“Za, jangan!”


“Kamu kenapa? Aku cuman mau ambilkan sisa makanan yang menempel di wajahmu, bentuknya sangat kecil jadi aku mendekat.”

__ADS_1


“Ohh.” Meli merasa malu, ia mengusap wajahnya berusaha menghilangkan noda yang di maksud Reza tadi. Reza tertawa dibuatnya.


“Kamu menyebalkan!” Meli salah tingkah. Ia masuk ke dalam mobil Reza.


“Kok kamu masuk? Mau ikut aku pulang?” ucap Reza membuat Meli tambah malu. Ia sadar, bahwa dia hanya mengantar Reza sampai di mobil. Bukan ikut masuk. Gegas gadis itu turun. Reza kembali menertawai kekasihnya.


“Meli sayang, abang Reza ganteng pamit ya.”


“Hemm. Hati-hati di jalan, jangan jelalatan liat cewek.”


“Katanya gak mau cinta banget sama aku? Kok khawatir aku lirik cewek,” goda Reza dengan terkikik.


“Udah, udah, aku mau masuk. Bye.” Meli membalikkan badan menghadap rumahnya. Ia melangkah masuk, tetapi hanya bertahan beberapa langkah. Setelah itu dia berbalik badan lagi menghadap mobil tunangannya dengan senyum manis dan melambaikan tangan.


“Hati-hati Sayang. Daah ....” Meli langsung berlari masuk ke rumah setelah mengucapkan kalimat itu.


Reza bahagia mendengar kata sayang pertama kali dari Meli untuknya. Selama perjalanan, Reza masih tersenyum senyum sendiri mengingat tingkah gadis yang baru saja dia lamar itu.


 


Kebahagiaan kini sedang berpihak dan menyelimuti hati Reza dan Meli hingga dibawanya dalam tidur masing-masing.


Pagi hari Meli berangkat ke kampus diantar Papanya, karena mobilnya kemarin dititipkan di sana saat ia diajak pulang bareng Reza. Meli sengaja ingin mengambilnya hari ini saja, sekali kali diantar oleh Papanya. Namun, ketika ia mengecek kondisi mobilnya ternyata kaca bagian depan mobil mewahnya pecah berkeping. Ban kendaraan itu juga kempes semua.


 


 


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚💚


Ningtiyas Paramitha adalah gadis 18 tahun baru lulus SMK jurusan tata busana. Dia harus menerima takdir dinikahkan siri dengan paksa oleh ayahnya dengan lelaki dewasa berumur 30 tahun dan telah memiliki istri bernama Alfarizi Zulkarnain. Kontrak nikah selama lima bulan tetapi Neng selalu mengalami kekerasan baik lahir maupun batin. perlakuan suami sirinya yang selalu melampiaskan kekesalannya akibat kesalahan istri sahnya. Setelah empat bulan berlalu Al meninggalkan Neng begitu saja, tanpa disadari Al meninggalakan benih janin di kandungan Neng. Akhirnya Neng meninggalkan desanya yang selama ini menjadi kebanggaannya. Pergi ke Jakarta untuk merubah nasib dan menyongsong masa depan yang lebih baik bersama janin yang dalam kandungan. Sayangnya takdir pertemukan mereka kembali setelah delapan tahun berlalu. Dengan situasi yang berbeda, apakah mereka akan bersatu kembali setelah Al mengetahui memiliki keturunan. Apakah Neng menerima cinta Al?


__ADS_1


__ADS_2