
Malam Pertama.
“Saya akan tidur di sofa.” Menunjuk benda panjang depan televisi kamar tanpa melihat suaminya.
Ziddan tidak kaget mendengar ucapan wanita yang tak lain adalah istrinya. Sekarang dia sudah tahu bagaimana isi hati wanita itu, akan butuh waktu yang sangat lama untuk bisa mengetuk hatinya.
“Saya yang akan tidur di sofa,” jawabnya melangkah mengambil satu bantal dari kasur lalu membaringkan tubuh tinggi itu.
“Apa kamu juga akan masih tetap menutup rambutmu sekalipun di depan suamimu?” Memandang kecewa pakaian wanita itu yang terlihat masih sempurna menutup auratnya.
“Iya, memangnya kenapa?”
Pria manis yang berkumis tipis itu bangkit mendekati istrinya di kasur. Kaos polos ketat yang ia kenakan membuat bentuk tubuhnya terlihat sispek. Tubuh yang banyak di idamkan oleh para wanita di luar sana sebenarnya di miliki Ziddan. Pria itu juga terlihat begitu tampan tanpa alat bantu penglihatan matanya yang minus.
“Mau apa anda?” Tamara sedikit ketakutan mencoba tetap tenang. Ziddan tidak menghentikan langkahnya, bahkan ia semakin mendekati tubuh Tamara. Tangannya menahan tangan wanita itu yang ingin menyingkirkan tubuhnya. Ia terus mendekat memadukan dua bola Tamara yang mulai berkaca-kaca. Ingin rasanya malam ini Ziddan meminta haknya itu. Tetapi ia tidak tega melihat istrinya yang semakin ketakutan.
“Jangan takut. Aku tidak akan melakukannya,” ucap Ziddan menahan sesuatu.
“Jangan sentuh aku!” Tamara mendorong dengan kuat tubuh pria itu lalu membalutkan selimut untuk melindungi tubuhnya sebisa mungkin.
__ADS_1
“Seseorang yang sudah resmi menjadi sepasang suami istri secara sah telah halal untuk disentuh.”
“Tapi aku belum siap,” ucapnya gemetar, sesekali mengusap air mata yang akhirnya menetes.
“Aku mengerti. Tepi ketahuilah, menolak saja kamu akan berdosa.” Ziddan menasihati istrinya dengan lembut. Ia mengusap kepala yang terbalut hijab itu dengan rapi. Tamara sendiri merasa ada sedikit ketenangan dalam hatinya ketika pria itu memberikan sentuhan lembut. Melihat wajah suaminya yang teduh Tamara menjadi yakin bahwa suaminya itu tidak akan tega memaksanya untuk melayani dia malam ini.
“Menjauhlah dariku, aku ingin tidur.” Tamara membenamkan tubuh ke dalam balutan selimut hingga wajahnya tak terlihat. Ziddan melangkah mundur menuruti permintaan wanita yang ia cintai itu.
“Tidurlah yang nyenyak, aku akan menjagamu mulai sekarang.” Tamara tak menggubris ucapan suaminya. Justru ia masih memikirkan keberadaan Reza.
***
Pagi hari.
Ziddan sudah bangun lebih dulu, ia juga sudah sholat subuh kemudian mengaji. Tamara terbangun mendengar suara merdunya melantunkan ayat-ayat itu. Ia segera bangun untuk mandi lalu sholat. Setelah selesai keduanya, Ziddan membalikkan badan menghadap istrinya yang sedang melipat mukena.
__ADS_1
“Hari ini kamu akan saya bawa ke rumahku.”
Tamara mengangguk kecil dengan wajah pasrah.
“Aku akan bersikap yang sama sewaktu disana.”
“Di depan orang tuaku?”
“Aku tidak ingin orang tuaku kecewa, Tamara. Oke, aku mengerti jika kamu tak mau di sentuh olehku. Tapi tolong untuk di depan mereka terlihat lah seolah kita berdua sama-sama bahagia.”
“Baiklah. Tetapi ketika di kamarmu aku minta kita tidur terpisah seperti tadi malam,” ucapnya tegas.
“Jika itu mau mu, aku bisa apa. Aku akan setia menunggu hatimu terbuka untukku mengganti posisi Reza.”
“Itu tidak akan pernah terjadi. Maaf.” Tamara berjalan keluar kamar mencari ibunya. Hendak ingin membantu membuatkan sarapan.
Hati Ziddan sedikit tertusuk dengan kata-kata wanita yang telah berlalu meninggalkannya. Namun pria itu akan terus mencoba membuatn jatuh cinta.
***Bersambung.....
Terimakasih yang sudah setia membaca novel pertamaku ini 🥰🥰🥰🥰 Dukung terus yaa dengan cara like, komen, dan tekan favorit 😘😘😘😘***
Visual Ziddan
__ADS_1
Visual Tamara