Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 8


__ADS_3

Keesokan paginya Tamara diantar Ayah ke Bandung sebelum berangkat ke kota tempatnya bertugas.


 


 


Di sepanjang jalan Tamara mengobrol dengan Ayah tentang rencananya yang ingin mempercepat kelulusan. Permana menyetujui tekad anak gadisnya itu.


 


Sesampainya di kampus, Tamara langsung membicarakan hal itu dengan para dosennya. Setelah dibacakan beberapa syarat yang harus ditempuh, ia menyanggupi. Mereka mendukung tekad Tamara itu sebab para dosen tahu betul jika Tamara mampu melakukannya. Dia anak yang rajin dan juga cerdas.


 


Tamara sengaja tak memberitahu Reza tentang hal ini. Ia akan memberi kejutan ketika dirinya berhasil nanti.


 


***


 


Satu persatu perjuangan Tamara mulai memberikan hasil. Senyum mengembang di wajah cantiknya. Hanya tinggal beberapa langkah lagi kelulusan akan diraih di tahun ke tiga kuliahnya. Ia sempat jatuh sakit karena kelelahan. Pikiran dan badannya harus bekerja lebih keras, tentu saja membuat tubuh Tamara melemah. Kendati demikian, ia berusaha menyembuhkan dirinya sendiri tanpa memberi tahu orang tuanya tentang keadaannya saat itu.


 


Gadis itu takut jika Permana, sang Ayah akan berubah pikiran dan melarang tekadnya yang sudah dia perjuangkan selama ini demi pernikahannya dengan Reza.


 


Saat tubuhnya demam di malam hari ia menghubungi sahabatnya yang tinggal satu kos. Kamar Meli, sahabat Tamara satu-satunya ada di ujung kos. Tamara mencoba menghubungi ponsel sahabatnya tapi tak ada jawaban. Akhirnya ia berjalan dengan sedikit sempoyongan menuju kamar itu. Tamara langsung dibawa Meli ke klinik terdekat malam itu hingga ia mendapatkan perawatan khusus karena demamnya terlalu tinggi.


 


Setelah siuman, sahabatnya memberikan nasihat.


 


“Ra, Lo ga harus berjuang sedemikian. Ini berat.”


 


“Aku gak papa, Mel. Badanku aja mungkin yang terlalu manja jadinya kaget.”

__ADS_1


 


“Dengerin gue. Cowok yang Lo perjuangin itu belum tentu benar-benar menerima perjuangan Lo, Ra. Kalau dia memang setia, dan dia sudah berkomitmen, empat tahun itu waktu yang mudah baginya kok,” ucap Meli menasihati


 


“Aku lihat Lo bener-bener memperjuangkan semua itu karena takut Reza diambil orang. Ra, jodoh itu gak akan kemana.”


 


“Aku sangat mencintai Reza, Mel. Aku gak mau kehilangan dia. Aku takut Reza tergoda wanita lain disana.”


 


“Gue ngerti perasaan Lo, tapi Lo harus kuat jika yang Lo perjuangkan selama ini tidak seindah harapan Lo nantinya.”


 


“Kenapa kamu berpikiran seperti itu, Mel.”


 


“Gue tahu banget sifat cowok. Tapi semoga Reza bukan tipe cowok seperti yang gue khawatirkan. Lo terlalu istimewa, Ra.” Meli memeluk sahabatnya yang terbaring lemah di kasur ruang perawatan.


 


 


 


Hari ini dia di perbolehkan pulang oleh dokter, Meli langsung membereskan semuanya. Ia juga membayarkan biaya perawatan sahabatnya itu. Beberapa kali Tamara menolak tapi percuma. Pagi hari setelah badannya dirasa sudah fit ia kembali ke kampus. Tamara sudah tidak sabar ingin segera menyelesaikan tugas akhirnya.


 


 


Beberapa bulan kemudian.


 


“Sayang, aku punya kejutan buat hubungan kita,” suara bahagia itu terdengar dari ujung telepon Reza.


Sudah cukup lama mereka tak saling menyapa melalui gawai. Reza sekarang bukan hanya sibuk lagi tapi super sibuk. Banyak event yang harus Reza ikuti demi memajukan usaha toko distronya itu.

__ADS_1


 


Begitu juga Tamara, sudah pasti dia juga sungguh sibuk dengan sejuta tugasnya. Mereka hanya sesekali memberi kabar melalui pesan singkat.


 


“Kejutan apa, sayang?” Reza menjawab penasaran


 


“Aku udah lulus, Za. Aku berhasil lulus lebih cepat. Semua itu aku lakukan agar kita bisa segera melangsungkan pernikahan kita.”


 


 


“Apa?” Reza justru gugup mendengar kabar bahagia itu.


 


“Ada apa sayang?” sontak Tamara kaget, sambungan telepon yang masih di dengarnya itu terdengar jelas ada suara wanita asing yang memanggil tunangannya itu dengan sebutan ‘sayang’.


 


“Tuttt...” panggilan terputus tiba-tiba.


 


Tamara hanya mencoba berpikir positif mungkin itu saudara Reza yang sedang bercanda. Atau mungkin sepupunya. Gadis itu kemudian memberi tahu Ayah dan ibunya tentang kabar bahagia kelulusan Tamara. Mereka masih berada di luar kota. Tamara juga meminta mereka untuk hadir pada wisudanya nanti.


 


Layar telepon genggam Tamara kembali menyala setelah menutup telepon orang tuanya tadi, terdapat panggilan dari Reza. Ia segera mengangkat dan menanyakan suara wanita tadi. Reza menjawab bahwa suara tadi adalah suara modelnya yang juga sedang menelepon pacarnya di ruangan dia. Ia mempercayai perkataan Reza.


 


Reza kemudian mengatakan akan datang ke acara wisuda tunangannya itu. Sekaligus membahas persiapan pernikahan mereka berdua. Tamara sangat bahagia atas jawaban Reza.


 


Apa yang akan terajdi selanjutnya pada Tamara ya...


Terimakasih sudah setia membaca novel ini... jangan lupa komen like dan beri dukungan yaa..... Lope yuuuu pullll 😘😘😘😘😘🥰🥰🥰🥰

__ADS_1


__ADS_2