
Mobil polisi memborgol tiga tersangka lalu akan segera memproses sesuai hukum.
“Btw kenapa bisa ada kalian di sini?”
“Ah kamu, kami ini semalaman jaga rumah kamu. Aku sudah mencoba beberapa kali menghubungimu, tapi kamu tidak bangun juga, Mel.”
“Ya Allah maaf, sayang. Gue lupa pasang alarm. Kasihan kamu dan dedek bayik pasti kedinginan. Gue buatin teh panas dulu ya, kalian tiduran saja di sini.”
“Mel, sekalian kalau ada makanan. Aku laper banget,” ucap Tamara dengan memegang perutnya yang terasa lapar dan keroncongan. Wanita hamil tentu tidak kuat menahan lapar lebih lama dan bahkan akan terus merasakan rasa lapar meski sudah makan.
“Siap, sayang. Gue akan buatkan nasi goreng terlezattt .. tunggu ya.” Meli kembali membawa teh kemudian menaruhnya di meja.
“Memangnya kamu bisa masak, Mel?”
“Ya bisa dong. Gue itu sekarang udah jadi calon istri, dan calon ibu, kan? Meskipun gue belum hamil. Tapi semua gadis di dunia ini adalah calon ibu. Betul kan?”
“Tumben soal beginian kamu bisa bener.”
“Enak aja, gue nggak bodo amat kali kalo soal rumah tangga.”
“Yaudah gihhh buruan buatin nasi goreng spesial pake telur dua butir. Sayur kol, tomat dan timun ya, Mel. Lengkap dan pedas. Oh ya kalau ada boleh juga tambah bakso atau sosis atau ayam atau pete boleh juga deh,” pinta Tamara sedikit memaksa.
“Nggak, kagak ada pete, petean,” sahut Meli dari dapur yang tampak sedang meracik bumbu.
“Nggak papa. Aku tunggu sambil tidur.”
“Ngomong-ngomong Reza kapan kemari, Mel?”
“Besok dia kesini.”
“Kenapa enggak sekarang aja?”
__ADS_1
“Jangan, banyak godaan. Makanya gue minta kalian datang kesini lebih awal buat nemenin gue. Karena bokap nyokap gue masih sibuk urus ini itu di luar. Bentar lagi paling baru datang.”
“Maaf ya, Mel. Kami datang telat,” sahut Ziddan.
“Kalian datang tepat waktu banget. Makasih ya ustad Ziddan. Dan maaf udah bikin kalian semua terluka.”
“Kamu itu udah kaya sodaraku sendiri, Mel. Jadi jangan sungkan.”
Meli tersenyum sambil melanjutkan memasaknya. Setelah sepuluh menit kemudian nasi goreng buatan Meli sudah jadi. Ia langsung menghidangkan makanan itu di ruang tengah.
“Silakan di nikmati, Sayangku. Spesial untukmu dan ustad Ziddan,” ucap Meli dengan menyodorkan sepiring nasi berkepul asap. Aroma yang begitu sedap membuat perut wanita hamil itu semakin lapar.
“Aaahh perutku menjadi sangat lapar, Mel.”
“Ya sudah kalau begitu cepat makanlah. Silakan juga ustad.”
“Jangan panggil ustad dong. Terlalu kaku buat kita. Panggil saja namaku.”
Mereka tertawa lalu segera menyantap masakan yang dibuatkan oleh calon pengantin itu.
Waktu subuh berlalu, ketiganya baru akan mulai tidur karena semalam mereka jadinya begadang. Perbincangan asyik membawa mereka lupa waktu hingga pagi. Pernikahan Meli besok akan di adakan di hotel berbintang dengan sangat mewah di kotanya.
“Mel, persiapan udah semua kan?” tanya Tamara tiba-tiba ketika hendak memejamkan matanya, ia tidur dengan Meli di kamarnya. Sedangkan Ziddan tidur di ruang tengah. Pria itu sendiri yang memilihnya.
“Insya Allah udah, Ra. Papah tadi barusan chating gue kalo semuanya beres sih. Sebentar lagi pasti dateng, tapi gue ngantuk banget. Gue juga udah bilang kalo ada kalian dan kejadian semalam. Makanya sekarang Papa sama Mama cepet-cepet meluncur kesini.”
“Gue kok jadi deg-degan ya, Ra.”
“Iya pasti lah. Karena kamu belum pernah menikah.”
“Memangnya kalo udah nikah nggak deg-degan? Kan momen sakralnya yang bikin em.”
__ADS_1
“Momen yang mana nih yang bikin em?” goda Tamara. Meli menatap Tamara lekat lalu mereka membayangkan hal yang sama, yaitu momen malam pertama. Setelah beberapa detik kemudian keduanya tertawa terpingkal-pingkal. Karena Meli terlihat sangat geli.
Meli dan Tamara tertidur pulas setelah di antara keduanya tergelak canda tawa.
Ziddan terbangun ketika Papa dan Mama Meli datang. Sebenarnya mereka tidak berniat untuk membangunkan tetapi Ziddan mudah terbangun jika ada orang di sekitarnya. Papa dan Mama Meli menyuruh pria itu untuk tidur lagi di kamar tamu. Tetapi Ziddan memilih di ruang tengah.
*
*
*
Hari pernikahan Meli akhirnya tiba. Semua sudah berias masing-masing. Hanya menunggu pengantin wanita yang tampak masih di rias. Meli terlihat sangat cantik sekali dengan gaun warna putih yang ia kenakan. Membuat Tamara berkali-kali memuji sahabatnya, karena sebelumnya Meli tak pernah berias. Jadi tentu Meli terlihat begitu cantik. Mobil Meli juga sudah di dekorasi sedemikian cantiknya.
Sebentar lagi Reza tiba di rumah Meli bersama rombongannya. Jika Meli telah selesai maka mereka akan segera menuju hotel.
Bersambung
Tekan love dan favoritkan yukk.. dan jangan lupa berikan vote atau setangkai bunga untuk author 🥰🥰
Love you terimakasih semuanya 😘😘😘
Bagi yang sudah Follow Ig _mukamalah dan DM menunjukkan bukti kalau kalian adalah pembaca setia, maka akan ada give away THR untuk kalian 🥰
__ADS_1