Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 45


__ADS_3

“Waaah.. makanannya enak sekali ini Bu,” heboh Difa.


“Tentu.. lihat saja kakakmu, makannya sampai lahap begitu. Sejak kapan kamu makan banyak gitu sayang?” tanya ibu heran.


Tamara menghentikan kegiatan mengunyahnya. Dia hanya terkekeh tanpa menjawab.


 


Suasana hangat di sebuah ruang makan itu kini berubah menjadi tegang setelah Tamara memulai pembicaraan.


“Ayah, ibu, Tamara punya kabar bahagia untuk kalian,” ucapnya membuat penasaran.


“Kabar bahagia?” Keduanya saling menatap.


“Sebentar lagi cucu ayah dan ibu akan bertambah.”


“Kamu hamil, sayang?” Mereka menatap kompak putri tercantiknya itu. Kemudian saling melempar senyum.


Tamara mengangguk.


“Iya betul, usia kandungan Tamara baru menginjak sekitar empat minggu. Sekarang ada calon bayi di dalam perutku ini. Jadi itulah sebabnya aku makan banyak tadi, hehehe,” ucap manja wanita itu.


“Alhamdulillah, selamat ya sayang, sebentar lagi kamu dan Ziddan juga akan menjadi orang tua.” Ibu menghampiri putri tercantiknya dan mengusap perut datar itu dengan lembut.


“Ayah bahagia sekali, Nak. Akhirnya kamu bisa menerima suamimu.”


“Lalu dimana Ziddan? Apa dia juga ada disini? Kenapa ibu lupa tak ajak sarapan sekalian ya.”


“Mas Ziddan gak ikut kesini Bu, kemarin Tamara menyuruhnya balik lagi ke rumah sakit.”


“Siapa yang sakit?” tanya pria gagah juga tampan itu.


“Ayahnya mas Ziddan punya penyakit jantung, dan sudah empat hari ini dia di rawat secara insentif, Yah.”


“Kenapa kamu tidak memberitahu kami, Nak? Kami malu jika tidak menjenguknya. Atau setidaknya kami bisa mendoakan,” protes Sari.


Istri dari ustad tampan itu bingung mau menjawab apa, dan akhirnya dia menemukan sebuah jawaban.


“Maaf, Tamara pikir ayah dan ibu sibuk.”


“Sibuk atau tidak, kami tetap akan usahakan berbuat sesuatu, sayang.”


“Memang sejak kapan ayahmu mengidap penyakit itu?” tanya ibu membuatnya tersedak.


Tamara tidak ingin mengatakan yang sejujurnya soal itu.


“Sepertinya sudah lama, Yah.”


“Tidak mungkin. Ayah Ziddan pernah mengatakan pada ayah kalau dia tidak memiliki riwayat penyakit jantung. Ya, kami sempat mengobrol seputar masa muda hingga hobi yang menantang adrenalin, mertuamu menyukai hobi itu dan masih sering menjalankannya. Tentu dia tidak punya penyakit jantung di waktu lama. Pasti baru-baru ini karena sesuatu menyerangnya.”


 


“Yah, lebih baik kita besok menjenguknya. Ibu tidak enak hati.”

__ADS_1


“Sama, Bu. Ayah juga.”


 


Tamara hanya terdiam mendengar rencana orang tuanya itu.


“Ra, kamu ikut kan? Kuat gak kandungan kamu?”


“I-ya Yah, aku kuat kok.”


“Difa berjaga saja di rumah ya.”


“Siap Tuan.”


 


***


 


Keesokan harinya.


 


“Kamu sudah menghubungi Ziddan kan, kalau kita mau kesana.”


“Sudah Yah, mas Ziddan hari ini juga baru berangkat dari ibu kota, kemarin ia mendapat panggilan mendesak dari bosnya, sekalian ia bawa mobil dari sana. Kemarin kami naik pesawat waktu pertama kali menjenguk ayahnya biar menghemat waktu.”


“Oh, baiklah kalau begitu, nanti kita bisa bertemu disana.”


 


Dalam hati kecilnya, ia ingin sekali ketika nanti tiba mertuanya melupakan masalah itu.


 


Walaupun sebenarnya pikiran Tamara masih dibayangi dengan perkataan seorang wanita yang umurnya lebih tua dari ibunya itu. Pecahan kaca itu terasa masih menancap meski sudah di cabut.


 


Dia tidak bisa membayangkan bagaimana nanti jika ibu Ziddan mengamuk dirinya. Ia semakin takut bermain dengan pikirannya sendiri.


 


“Ah, tidak, tidak. Tidak akan seperti itu,” gumamnya dalam mobil yang di kemudikan mang Dadang.


“Kenapa, Ra?” tanya ibunya.


“Eh, tak apa, Bu,” ucapnya menggigit ujung bibir merahnya.


 


Satu jam berlalu. Rombongan besan Pratama yang akan menjenguknya itu telah sampai pada tujuan utama, tempat dimana Pratama di rawat. Namun, Ziddan tentu belum sampai, karena perjalanannya lebih jauh di tempuh.

__ADS_1


 


Jantung Tamara berdegup kencang seperti ingin memisahkan dirinya. Tetapi wanita itu kembali menata hati serta pikirannya dengan baik. Ia pasang muka yang paling enak dilihat bahkan membuat orang yang memandangnya candu.


 


Langkah yang disertai gemuruh segala emosi dan kekecewaan akhirnya telah sampai pada ruangan khusus pasien, ICU. Ziddan memberitahu kalau ayahnya dipindah ruang itu. Keadaan yang semakin memburuk membuat Pratama masuk dipindahkan. Terlihat dari jauh ibu Ziddan sedang menangis di ruang tunggu. Matanya terlihat sembab. Ketika rombongan Tamara mendekati, wanita itu menoleh ke arahnya dengan amarah. Perasaan Tamara sudah mulai tak enak, dan benar saja apa yang ia takutkan terjadi.


 


Ibu mertuanya itu mendorong menantunya yang baru saja datang. Permana yang berada di belakang menangkap tubuh putrinya yang sedang hamil itu.


“Semua gara-gara kamu!” teriaknya keras.


“Salahku apa, Bu?” Air matanya mulai berjatuhan.


“Lihat!! Lihat orang yang sedang berjuang di dalam itu! Lihat Tamara! Apa yang kamu lakukan hingga membuat suami ibu menjadi dalam keadaan seperti itu! Lupa kamu? Lupa?” teriaknya semakin keras menunjuk wajah teduh Tamara.


“Ada apa ini? Stop jangan hakimi anak saya seperti ini!” Permana angkat bicara.


“Tunggu sebentar, ibu jangan terbawa emosi. Kita bicara baik-baik.”


“Sejak suami saya menyidang perbuatan Tamara waktu itu, ia menjadi mengidap penyakit jantung. Tensinya naik drastis sesaat setelah tiba di rumah. Dan kemarin dia memberi kabar kalau dia hamil. Bagaimana bisa dia hamil jika disentuh saja tidak mau. Kamar saja terpisah, apa mungkin anak dalam kandungannya itu adalah anak Ziddan? Kami yakin itu bukan benih dari Ziddan.”


“Anda tidak bisa menuduh seperti itu! Mana buktinya!” ketus ibu.


“Coba ibu logika. Disentuh saja tak mau. Apalagi hamil? Hah. Anak siapa itu?”


“Cukup!” sergah Permana.


“Anda tidak ada bukti menuduh anak kami seperti itu. Walaupun Tamara tidak mencintai suaminya pada awalnya, tapi ada Allah yang maha membolak-balikkan hati manusia. Anda lupa? Atau anda tidak percaya?” ucap ibu Tamara.


“Anak kami sudah benar-benar mencintai suaminya, dan kami yakin dia hamil anak dari suaminya. Dia bukan wanita murahan yang mau memberikan mahkotanya kepada pria yang bukan mahramnya. Jangan anda anggap anak kami wanita seperti itu,” bela Permana.


Tamara terduduk di lantai, dia berlutut di kaki ibu mertuanya. Tangisnya benar-benar pecah. Sesak di dada semakin membuatnya sulit mengeluarkan suara.


“Bu, apa yang dikatakan orang tua saya benar adanya. Walaupun saya tidak mencintai suami saya sekalipun, tetapi saya bukan wanita murahan yang mau memberikan kesucian saya dengan mudah kepada pria lain.”


 


 


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Promo Novel teman.

__ADS_1


Adelia Fasha adalah seorang gadis matang berusia 25 tahun, sehari hari ia mencari nafkah dengan berjualan gorengan yang ia jajakan dengan cara berjalan keliling kampung. Suatu hari ia menemukan seorang laki laki dalam keadaan tak sadarkan diri dengan tubuh penuh luka. Adelia pun menolongnya dan membawanya ke rumahnya, tanpa ia sadari, bahwa laki laki yang ia tolong adalah seorang mafia.



__ADS_2