
“Wa’alaikumsalam,” jawab kedua orang tua Ziddan bersamaan.
Namun, keduanya bermuka muram. Tidak menyambut dengan bahagia atas kedatangan mereka. Mungkin terlebih menantunya.
Meski begitu, Ziddan dan Tamara tetap menyalami serta mencium tangan mereka. Setelah terdiam beberapa saat. Ziddan bertanya kepada ayahnya yang masih terlihat pucat.
“Yah, apa yang dirasakan ayah saat ini? Bagian mana yang masih sakit, Yah? Katakan pada Ziddan,” tanyanya penuh khawatir.
Tetapi sang ayah melengos. Dia menatap kosong benda yang ada di depannya. Begitu juga ibunya yang berpaling pandangan dari Tamara.
“Ada apa ini sebenarnya, Bu?”
“Ibu sudah memberitahu ayahmu kalau istri kamu hamil.”
“Alhamdulillah kalau ayah dan ibu sudah tahu. Tapi kenapa ayah dan ibu bersikap seperti ini pada kami. Bukankah kehamilan adalah suatu anugerah dari Allah yang harusnya di sambut dengan kegembiraan setelah mendapatkannya, Yah?” Ziddan melempar pertanyaan yang membuat kedua orang tua itu semakin mematung. Tanpa jawaban sepatah kata pun.
Kemudian ayahnya membuka suara.
“Kamu benar. Kehamilan adalah suatu anugerah terindah. Tetapi jikalau itu kehamilan yang halal, yang di ridhoi Allah.”
“Tentu kami sudah halal melakukannya, dan insyaAllah hubungan yang sudah halal akan mendapatkan ridho. Jadi apa maksud ayah berbicara seperti itu?” tanyanya dengan nada tetap merendah namun, wajahnya tak bisa di bohongi dengan amarah.
Sementara Tamara hanya membisu. Ia tak ingin salah bicara. Ia tahu betul suaminya pasti akan menjawab dengan baik. Tangannya pun selalu di genggam Ziddan.
“Ayah, ibu. Bukankah berburuk sangka itu perbuatan yang di benci Allah?” tanya Ziddan lembut.
“Kami tidak berburuk sangka, Dan. Kami hanya menilai dari kejadian yang mengecewakan itu. Dia yang tidak mencintaimu bagaimana bisa tiba-tiba hamil anak kamu. Kamar saja terpisah. Tidak mau bersama. Bagaimana akan hamil? Kalaupun dia hamil apakah dia sudah sepenuhnya ikhlas memberikannya untukmu? Ibu rasa tetap masih ada hati untuk pria lain,” timpal ibu kasar.
Tamara menangis mendengar percakapan yang memojokkan dirinya itu. Dia seperti berada dalam keadaan maju salah mundur salah.
Ziddan berusaha menenangkan istrinya. Ia mendekapnya dalam dada yang bersuhu memanas itu. Ingin Ziddan membantah lebih jauh. Tapi kembali teringat jika yang sedang di hadapinya ini bukan orang sembarangan yang bisa ia bantai dengan kata-kata kasar. Tubuhnya yang dibasahi air mata Tamara mencoba menetralisir amarahnya yang memuncak.
“Ayah, Ibu. Lalu dengan apa kami bisa membuat ayah dan ibu percaya kalau janin ini adalah anak kandung Ziddan dan Tamara,” ucap Ziddan sedikit geram.
__ADS_1
“Kembalikan dulu dia kepada orang tuanya. Setelah lahir anaknya. Baru kita lakukan tes DNA,” tegas ayah.
Bagaimana bisa Ziddan melakukan hal itu. Tentu Ziddan saat ini kecewa kepada ayahnya.
Tamara juga terlihat kaget mendengarnya. Ia mendongakkan wajahnya ke arah pria yang sedari tadi memeluknya itu.
Untuk kali ini Tamara angkat bicara.
“Tidak perlu kalian semua berdebat karena saya seorang. Jika itu yang akan membuat ayah dan ibu percaya , Tamara akan turuti.” Tamara terlihat sangat marah. Mukanya memerah
“Tidak sayang, ayah dan ibu saat ini hanya butuh penjelasan yang detail dari kita. Jangan gegabah mengambil keputusan. Kita selesaikan dengan baik setelah ayah sembuh nanti,” serobotnya.
“Mas, izinkan aku kembali kepada orang tuaku dulu.”
“Aku tidak izinkan. Apa kata orang tua kamu nanti kepadaku. Mereka pasti akan marah besar.”
“Aku akan menutupinya.”
“Tidak. Aku tidak akan pernah mencampakkan kamu. Kita butuh saling menguatkan, kalau kita terpisah aku yakin akan ada masalah baru.”
Ziddan menatap lagi kedua orang tuanya.
“Baiklah kalau itu mau kamu, tetapi jika terjadi apa-apa dengan ayahmu karena kamu menentang permintaan kami, maka ibu tidak akan pernah memaafkan kalian,” jelas ibu dengan nada emosinya.
Ziddan dan Tamara tampak bingung. Jika Tamara pulang ke rumah orang tuanya, pasti akan menjadi masalah besar. Permana, ayah Tamara pasti akan marah kepadanya. Bahkan mungkin dia akan dijatuhi hukuman.
Pria yang kini menepi dan bersandar di tembok ruangan itu tampak sudah pasrah. Kedua orang tuanya memang keras kepala. Dulu ketika Ziddan menjadi seorang ustad pun awalnya tidak diperbolehkan. Namun, pria itu bersikeras memaksakan keinginannya. Disaat awal mula Ziddan menjadi ustad, dia sebenarnya akan dijodohkan dengan wanita pilihan mereka. Sebab itulah orang tuanya seperti tidak begitu suka dengan Tamara. Apalagi setelah ada masalah ini.
“Begini saja, kami akan membawa saksi dan sejumlah bukti yang bisa membuat ayah dan ibu yakin. Maaf ayah, ibu, kami pamit ingin istirahat sebentar di hotel. Kami belum sempat cari hotel.”
“Oke. Kalau begitu ibu setuju. Kami akan menunggu saksi dan bukti kalau Tamara benar sudah mencintaimu. Dan janin yang di kandungnya adalah benar hanya hasil dari hubungan denganmu saja, bukan dari pria lain,” tegas ibu Ziddan.
Tiba-tiba Pratama kejang diatas ranjangnya. Semuanya panik. Ibu memencet tombol yang di sediakan untuk memanggil dokter jika pasien dalam keadaan darurat.
“Ayah.. ayah kenapa, yah. Ayah kenapa, Bu.”
“Sudah, lebih baik kalian pergi dari sini dulu. Kalian penyebab ayah memiliki penyakit ini.”
Tidak lama, kemudian dokter dan perawat datang setelah Ziddan dan Tamara keluar dari ruang VIP itu. Disusul ibunya yang juga disuruh keluar. Semua menunggu di luar. Ibu terus menangis tanpa henti mengkhawatirkan keadaan suaminya yang selama ini setia kepadanya.
__ADS_1
Tamara mencoba mendekati ibu, ia memeluk dari samping.
“Maafkan saya, Bu. Tamara sudah membuat ayah seperti ini.” Tamara meneteskan bulir-bulir beningnya yang menggenang di pelupuk matanya. Ia memeluk erat ibu mertuanya, berharap pintu hati wanita yang telah melahirkan suaminya itu terbuka untuknya.
Namun, pelukannya di tepis tubuh besar berbadan pendek yang sedang menangis tersedu menatap lamat-lamat pintu kaca dimana suaminya sedang diberikan tindakan oleh dokter.
“Tolong pergilah sekarang juga, ibu tidak sanggup melihatmu.”
Sontak Tamara kaget. Ia memundurkan langkahnya dengan menutup mulut agar tangisannya yang mendalam itu tak bersuara.
Tamara menggelengkan kepalanya. Sungguh hatinya sangat sakit. Ziddan segera membawa istrinya keluar dari gedung rumah sakit yang terkenal bagus pelayanannya itu dengan langkah cepat. Ia memanggil taksi yang sedang berada di depan rumah sakit. Pria itu merogoh ponselnya lalu mencari hotel terdekat, kemudian menyuruh sopir taksi untuk mengantarkannya ke tempat tersebut. Di dalam mobil kecil warna biru itu Ziddan masih berusaha menenangkan istrinya. Tamara terisak dalam pelukan Ziddan.
“Sayang, maafkan kedua orang tuaku.”
“Memang semua ini salahku, Mas. Benar apa yang dikatakan ayah dan ibu. Akulah penyebab ayah memiliki penyakit jantung, semua karenaku. Aku hanya pembawa sial bagi semua orang. Bagi ayahku, bagi Reza, bagimu, bahkan mertuaku. Lebih baik nanti kamu kembalikan aku ke rumah orang tuaku.”
YA Allah.. kenapa disaat aku sudah menerima suamiku tidak ada yang percaya.
Kenapa disaat aku benar-benar mencintai suamiku, aku malah di campakkan mertuaku.
Kenapa disaat aku hamil, mertuaku mengusirku dan menuduh janin ini bukan anak suamiku.
Hati ini begitu sakit melebihi pecahan kaca yang menancap..
Bersambung....
Hai Readers kesayangan,
Terimakasih sudah sertia membaca novel ini
__ADS_1
Jangan lupa tinggalkan jejak hadir kalian ya.. dengan cara like,