Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 40


__ADS_3

 


Dengan muka santai Meli mendekati Jojo, sang pacar. Pria yang tak mengetahui derap langkah gadis energik itu kini sangat terkejut. Meli sudah berada tepat di belakang tempat ia duduk. Jantungnya hampir melompat ketika menengok ke belakang setelah mendengar ada suara wanita yang memanggil namanya.


“Ehem... permisi tuan Jojo,” dehem Meli menyinggung. Matanya mengarah orang lain dengan tangan sedekap. Jojo menatapnya dengan rasa bersalah dan takut.


“Me-li,” ucap pria itu terbata.


“Kok gak manggil sayang? Udah putus ya?” celetuk Meli sadis.


Jojo atau dengan nama asli Joshua itu tampak berusaha menutupi kegugupannya. Namun, Meli semakin senang menciptakan ekspresi natural ketakutan Jojo.


“Be-lum,” ucapnya masih gugup.


“Yaudah yuk putus sekarang!” pekiknya terdengar mematahkan tulang-tulang Jojo. Meli mengepalkan tangannya hingga berbunyi dan ingin melayangkan kepalan itu ke wajah menunduk Jojo.


“Jangan, yank. Aku masih ingin denganmu,” pinta Jojo memelas.


“Kenapa kamu bohong!”


“Aku belum sempat memberimu kabar, bukan bermaksud membohingi.” Kini kegugupan pria itu menimbulkan keringat dingin yang mengucur dari dahi lebarnya kemudian turun mengaliri wajah hingga menetes dari sudut rahang yang lancip. Sesekali ia menepis menggunakan lengan. Dirasa tak bisa membantu mengeringkan, di raihlah selembar tisu yang berada di depan wanita lain. Wanita yang bersamanya sejak turun dari mobil sebelum bertemu Meli. Badan wanita itu terlihat sangat seksi dengan pakaian yang terbuka. Dia menatap Meli dengan pandangan acuh, tidak peduli.


“Kamu siapanya dia?” Tanpa basa basi Meli melabrak wanita seksi itu.


“Gue? Yang pasti gue cuma diminta menjadi penemannya tidur. Dan gue minta bayaran,” jawabnya santai seraya mengibaskan rambut keritingnya. Sangat tidak peduli dengan kemarahan Meli. Muka mungil Meli seluruhnya kini telah di penuhi amarah. Sudut netranya memanas, memancarkan kekecewaan mendalam. Meli beralih lagi pada Jojo.


“Gue udah paham sekarang tanpa perlu penjelasan Lo!”


Meli pergi meninggalkan keduanya. Jojo berusaha mengejar namun di dorong Meli hingga jatuh. Semua pengunjung cafe seketika memperhatikan pasangan itu dengan menggerundel, cibiran juga banyak terdengar. Ada yang mengolok Meli ada pula yang mengatai kasar Jojo. Seolah mereka sedang menonton drama sinetron.


 “Mel, Meli!” panggil Jojo berkali-kali. Sedangkan Meli tidak menggubris suara pria itu. Ia tetap melangkah dengan pasti menuju Tamara yang masih menunggunya di parkiran.


“Ra, Lo bener,” lirih Meli menjatuhkan badannya di mobil mungil itu.


“Bener apanya? Gimana kunci mobil ketemu kan?”

__ADS_1


Meli tak menjawab. Dia hanya memperlihatkan kunci mobil itu kemudian membuka pintu dan menyuruh sahabatnya segera masuk sebelum Jojo mengejar. Gadis energik dengan rambut lurus yang dibiarkan terurai itu dengan cepat meloloskan mobil ke jalanan ibu kota. Setelah beberapa kali Tamara bertanya tanpa dijawab akhirnya kali ini Meli membuka suara menjawab pertanyaan itu.


“Yang tadi itu bener Jojo. Gue langsung putusin dia, Ra.”


“Alasannya?”


“Jojo bohongi gue kalau dia masih di Bandung. Padahal dia disini. Udah gitu dia tadi nyewa cewek panggilan buat menuhin nafsunya,” jelas Meli sambil menepikan mobil yang tadi melaju kencang.


“Astagfirullah... Bisa-bisanya si Jojo berbuat kaya gitu, Mel.”


“Iya, Ra. Heran gue. Bisa banget gue di bohongi. Padahal gue ini sifatnya udah kaya preman, kenapa dia gak ada takutnya sama gue ya, Ra?”


“Ya namanya hidup, Mel. Pasti ada lika-liku. Kamu yang sabar ya sayangku. Masih banyak cowok di luar sana yang lebih pantes dapetin kamu,” nasihat Tamara. Ia lalu memeluk Meli.


“Maaf ya, Ra. Harusnya gue gak cerita sama Lo. Nanti ngebuat mood Lo ilang.”


“Enggak kok, Mel. Kamu kan sahabat terbaikku. Jangan berkata seperti itu. Mending sekarang kita lanjutin cari rujaknya. Kamu masih mau anter kan?”


“Jelas mau dong sayang... Lets go baby,” teriak Meli menjalankan lagi mobilnya.


 


 


Setelah puas memakan dua porsi rujak. Meli mengajak Tamara ke rumah sakit sekarang, karena hari sudah menjelang siang.


 


Dua wanita cantik itu kini sudah berada di rumah sakit tempat Reza di rawat. Meli mengajak Tamara masuk. Terlihat Reza sedang di ruang rawatnya sendiri. Entah kedua orang tuanya kemana.


“Za,” panggil Tamara setelah membuka pintu lalu duduk di kursi dekat meja.


Reza yang sedang memejamkan matanya langsung terbangun.


“Tamara?”

__ADS_1


“Iya ini aku. Apa kabar?”


“Alhamdulillah sudah mendingan, Ra. Mana suamimu?”


“Suamiku sedang bekerja di kantor.”


“Apa kamu sudah izin datang kemari menjengukku?”


“Tentu sudah. Aku tidak akan pergi tanpa izin darinya.”


“Kamu memang wanita istimewa, Ra. Ustad Ziddan adalah pria paling beruntung. Andai akulah yang menjadi suamimu, aku pasti sangat bahagia.”


Meli menepikan dirinya ke arah jendela sudut kamar itu. Ia membiarkan keduanya berbicara empat mata. Tetapi tetap ada dia disana untuk menghindari fitnah.


“Sebaiknya kita lupakan masa lalu kita, Za. Sekarang kita jalani masa depan kita masing-masing. Kamu sekarang sudah sadar dari pengaruh Rista. Aku mau minta maaf kepadamu.” Tamara menarik nafasnya kuat. Kemudian ia melanjutkan kalimatnya.


“Aku minta maaf karena aku menerima Ziddan sebagai suamiku disaat kita akan menikah. Maafkan aku yang tak sabar menantimu dan mencari tahu dulu fakta yang sebenarnya terjadi padamu. Maafkan aku yang hanya ingin berbakti kepada orang tuaku dengan menerima suamiku saat ini.”


“Aku mengerti, Ra. Meli sudah bercerita semua tentang kamu. Dia juga menasihatiku untuk bisa lebih ikhlas menerima nasib yang tak berjodoh denganmu. Aku juga minta maaf. Aku tidak tahu apa yang terjadi padaku selama ini hingga penusukan ini menimpaku.”


“Apa kamu sudah tahu mengenai Rista?”


“Belum, itu yang ingin aku tanyakan padamu, Ra.”


“Baiklah aku akan bercerita semuanya.” Tamara memulai penjelasannya sedikit demi sedikit.


 


Awalnya Reza tidak mempercayai perkataan yang Tamara lontarkan dengan hati-hati. Bibir manis Tamara menguraikan kata demi kata yang membuat Reza meneteskan air mata. Terlihat ekspresi pria itu kian berubah menjadi geram dan penuh amarah kepada sosok wanita yang disebut Tamara berulang-ulang dalam ceritanya. Reza sangat menyesal mengenal Rista dan menyesali tindakannya menerima tawaran bantuan dari ayah Rista.


 


Bersambung....


Terimakasih sudah setia membaca novel ini..

__ADS_1


Jangan lupa dukung terus dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa....


__ADS_2