
“Cherly!” teriak Ziddan setelah melihat jelas bahwa gadis yang tertidur di ranjangnya itu adalah anak bosnya yang menghilang.
Cherly mengerjap, ia menggeliat kan tubuhnya. Lalu duduk menatap Ziddan lekat. “Pak ustad, boleh kan aku tidur di sini?”
“Bangunlah. Di luar banyak orang yang mencarimu. Orang tuamu sangat khawatir.” Nasihat Ziddan lembut. Menahan segala emosi. Cherly membangunkan tubuhnya. Lalu mendekati Ziddan, bukan malah menjauh. Padahal jelas sekali Ziddan mendekap istrinya di sampingnya.
“Bolehlah aku di dekapmu juga di sebelah kananmu?”
Ziddan tak menjawab, ia berbalik badan dan menggandeng tangan istrinya menuju pintu utama. “Kau mau ke mana ustad tampanku?” Cherly mengikuti jejak Ziddan hingga sampai di pintu. Saat Ziddan hendak membuka kunci tangannya di tahan oleh Cherly.
“Lepaskan Cherly!” geram Ziddan.
Tamara juga merasa emosi sekali dengan gadis itu. Akhirnya dia mendorong gadis itu dengan sekuat tenaga hingga terjatuh. “Apa yang kamu lakukan padaku!” bentak Cherly kepada Tamara.
“Kau pantas mendapatkannya, bahkan aku berhak melakukannya lebih!” ucap Tamara penuh amarah.
“Hahaha, kau ini siapa? Kau tidak ada apa-apanya dibanding kedudukanku? Aku kan anak bosnya jadi apa saja dapat aku lakukan untuk menggantikan posisimu. Itu hal yang mudah bukan?” ucap Cherly dengan tubuh yang mendekati Tamara. Namun, tercium aroma alkohol dari mulut pedas yang mengiris hatinya itu.
“Mas, dia mabuk. Lebih baik kita tinggalkan saja dia tanpa harus menjawab apa pun. Kita harus segera hubungi bos kamu,” bisik Tamara di telinga Ziddan.
Ziddan memberi anggukan. Cepat-cepat ia membuka kunci, lalu keluarlah mereka dari Villa. Cherly terlihat sempoyongan mengejar. Dia tidak akan bisa berlari dengan cepat karena pandangannya kabur.
__ADS_1
“Itu mereka, Sayang.”
“Iya Mas, ayo cepat kau katakan padanya.”
Ziddan bergabung dengan bosnya yang sedang berbincang dengan beberapa orang yang telah melakukan pencarian anak gadisnya. “Maaf, permisi.”
“Iya, Ziddan. Silakan bergabung. Ada apa? Apa kau menemukan anakku?” tanya Reyfan penuh harap.
“Iya Pak, kami menemukannya.” Ziddan memperlihatkan genggaman tangannya dengan Tamara.
“Di mana Cherly berada?” Reyfan tak sabar. Di susu Vera yang juga terbelalak matanya mendengar gadisnya ditemukan.
“Dia berada di Villa saya rupanya.”
“Sepertinya dia mabuk.”
“Ayo cepat kita ke sana.”
Mereka sampai di Villa Ziddan. Benar sekali mereka menemukan gadis itu tergeletak di depan pintu Villa. Vera langsung mengambil tubuh Cherly. “Cherly bangun!”
“Pak ustad Ziddan, aku mencintaimu.” Ucapan Cherly membuat semua yang ada disana terkejut seketika.
Ada yang menahan tawa karena merasa tak percaya gadis cantik seksi anak pemilik perusahaan besar itu mencintai seorang pria yang telah bersuami. Bahkan istrinya sedang hamil. Lagi pula usianya juga masih sangat muda, terpaut jauh dengan Ziddan. Kendati demikian cinta memang bisa datang dari mana saja dan kepada siapa saja. Terlebih Ziddan adalah seorang pria yang manis dan tampan, tubuhnya juga tinggi dan putih. Hal itu tentu menjadi syarat utama bagi sebagian wanita untuk mencintai lelaki. Bahkan statusnya apa menjadi ia kesampingkan. Karena sudah terlanjur ada benih cinta.
__ADS_1
“Cherly, ini Mama!” bentak Vera di telinga Cherly. Gadis itu berusaha keras membuka matanya yang merah dan lengket. Tapi justru yang ia lihat dengan jelas hanya sosok ustad tampan itu.
“Ziddan, aku mencintaimu. Kau begitu tampan.” Cherly menatap Ziddan dengan lekat. Ia bahkan menahan kedipnya karena tak ingin melewatkan pandangan itu.
Reyfan yang geram kemudian dengan kasar membangunkan. Tubuh gadisnya ia angkat dengan kasar juga. Benar-benar tampak marah pria itu. Reyfan membawa Cherly ke Villa nya dan menyuruh semua untuk bubar kembali ke Villa masing-masing.
Karena kemarahan Reyfan dan Vera yang memuncak, akhirnya mereka memutuskan untuk menghentikan pesta selanjutnya. Mereka tetap membayar ganti rugi pihak Villa yang sudah mempersiapkan semua acara itu dengan matang. Reyfan memberitahukan berita ini esok hari setelah kejadian semalam yang memalukan. Bahkan Reyfan sempat memanggil Ziddan ke sebuah ruangan privat. Reyfan, Vera, Ziddan dan Tamara berbicara serius di ruangan itu. “Ziddan, sebelumnya kami mohon maaf atas tindakan memalukan putri kami. Kami tidak mungkin akan menikahkan putri kami denganmu yang telah beristri. Untuk menghindari hal yang tidak-tidak berikutnya, dengan berat hati, kami terpaksa memberimu kebebasan untuk mengundurkan diri dari perusahaan kami. Dan kami berharap kamu mau mengajukan resign itu,” jelas Reyfan menatap pegawai sekaligus guru ngaji putrinya.
Ziddan dengan kerendahan hatinya menjawab. “Saya seharusnya yang lebih peka untuk mengundurkan diri setelah kejadian ini, Pak. Saya meminta maaf karena kehadiran saya ini berujung kekacauan. Segera akan saya kirimkan surat pengunduran diri.”
“Maaf untuk nyonya Ziddan yang dibuat tak nyaman dengan putri kami.”
“Saya mengerti, Pak. Tetapi saya berharap setelah ini tidak akan berlanjut lagi dia mengganggu rumah tangga kami.”
“Kami pastikan. Dia akan kami kirim ke luar negeri tinggal bersama Omanya di New York. Jadi jangan khawatir.”
Bersambung...
Hai readers kesayanganku. Terimakasih sudah setia membaca novelku ini. 🥰🥰🥰
Author punya novel lain juga lho, jangan lupa follow ig author ya. Bakal ada kejutan disana. Jika sudah follow, DM ig author bahwa kalian adalah pembaca setia novel ini. Salam sayang dari author 🥰🥰😍😍😘😘😘😘
Follow _mukamalah
__ADS_1