
Setelah Ziddan menurunkan Tamara untuk ganti baju, ia diminta keluar. Tamara bilang ia bisa mengganti bajunya sendiri meski agak lama karena masih berjalan dengan satu kaki.
Kemudian pria itu keluar meninggalkan Tamara, dan pindah ke kamarnya. Ia meraih telepon genggam yang tergeletak di meja dekat ranjangnya tidur. Lima menit sudah ia menggulirkan layar handphone naik turun, akhirnya menemukan satu pilihan makanan yang akan ia pesan secara online untuk makan berdua dengan istrinya nanti.
Ziddan mengambil handuk dan pergi mandi sembari menunggu pesanannya datang karena dia rasa akan cukup lama. Namun ternyata lebih lama dirinya berkurung diri di ruangan privat itu. Bukan kegiatannya yang membuat ia lama mandi, tetapi ingatannya yang memburu kembali kejadian tadi bersama istrinya. Tentang bentuk tubuh Tamara, tentang kulit putihnya, tentang kecantikannya. Semua bayangan itu tersimpan rapi di benak Ziddan. Pria itu tersenyum-senyum sendiri jika teringat.
Sepuluh menit kemudian bel rumahnya berbunyi berkali kali.
“Permisi, pesanan datang. Permisi,” teriak kurir makanan online. Namun tak kunjung ada yang membukakan pintu.
Tamara yang mendengar suara itu dari dalam kamar mengerutkan keningnya dengan heran.
“Siapa yang memesan makanan? Apa Ziddan? Tapi kurir itu sudah lama membunyikan bel. Kenapa dia tidak segera keluar menemui.” Karena rasa penasarannya akhirnya dia mencoba keluar dengan berjalan pincang. Ia membuka pintu utama, terlihat wajah kurir yang hampir putus asa.
“Iya Pak, ada apa ya?”
“Akhirnya..... Bu, ini pesanan makanannya,” ujar kurir itu dengan wajah semringah.
“Siapa yang pesan?”
“Atas nama Pak Ziddan, Bu.”
“Sudah dibayar?”
“Sudah, Bu. Kalau begitu saya permisi dulu. Terimakasih.”
“Iya Pak, sama-sama.” Tamara menutup pintu, dan berniat akan menyerahkan bungkusan itu ke suaminya. Sekalian mengecek sedang apa pria itu sehingga bisa lupa.
Tamara telah sampai di depan kamar Ziddan, ia menggerutu tak habis-habis dengan sedikit menahan sakit di kakinya.
“Bisa-bisanya dia lupa, sedang apa sebenarnya,” gerutunya sendiri di depan kamar Ziddan. Karena sedikit lelah dengan cara berjalannya tadi, ia menghela nafas teratur, lalu menyandarkan tangan di pintu dan meneriaki suaminya.
“Mas Ziddan, kamu......eeeeh.” Belum usai berucap tangannya yang akan bersandar tiba-tiba meleset dari perkiraan. Pintu itu terbuka tiba-tiba. Otomatis Tamara lepas kendali. Apalagi dia berdiri dengan satu kaki. Pasti dia gelagapan mencari pegangan.
Dari dalam kamar Ziddan.
Ziddan juga berlari kecil dari dalam kamar mandi hanya menggunakan celana pendek di atas lutut, dan handuk kecil di leher. Ia baru ingat kalau tadi telah memesan makanan. Saat pria itu membuka pintu kamar ternyata ada Tamara yang sudah setengah jatuh dengan posisi satu tangan maju. Ziddan refleks menangkap tubuh Tamara dengan cepat. Keduanya berpelukan tak sengaja.
Wanita itu kali ini yang merasakan sentuhan kulit Ziddan begitu lembut tanpa ada kain yang menghalangi dada bidangnya dan berpadu bebas dengan wajahnya.
Tubuh pria itu juga beraroma wangi, membuat Tamara begitu nyaman tinggal disana. Ziddan justru nampaknya sedikit lebih putih dari Tamara. Detak jantung pria itu juga sangat terasa di pipi Tamara. Degubnya kencang tak beraturan. Hawa di pertengahan pintu itu seketika berubah menjadi panas. Tamara memeluk pinggang Ziddan dengan melingkar sempurna. Menikmati kehangatan tubuh suaminya meski baru saja selesai mandi. Tetapi lama kelamaan Ziddan tak bisa menahan sesuatu miliknya, Tamara yang merasakan itu kemudian segera memisahkan tubuhnya.
“Ma-af, aku tak tau kamu ada di depan pintu,” kata Ziddan gugup.
“Pakailah bajumu dulu,” ucap Tamara sok memalingkan pandangan.
__ADS_1
“Oke, oke sebentar.” Mengambil kaos oblongnya dari dalam lemari juga memakai sarung. Ziddan tetap terlihat cakep meski berpakaian sesederhana itu. Ia menghampiri istrinya yang masih berdiri di depan pintu dengan bungkusan di tangannya.
“Ini pesananmu.” Mengulurkan kantong plastik.
“Ayo kita makan.” Menerimanya lalu menggandeng Tamara.
“Tunggu sebentar. Kenapa kamu bisa lupa? Atau sengaja membiarkan aku yang mengambil, lalu kamu menjebakku.......” Tamara berhenti berkata sebab Ziddan menutup mulutnya dengan jari telunjuknya.
“Ssssstttttt.......” Ziddan semakin mendekat. Tamara mendorong pelan.
“Ayo kita makan,” ucap Ziddan tersenyum manis.
“Hhmmm.. aku memang sudah lapar.”
“Aku gendong kamu sebagai gantinya tadi.”
“Ee-eh."
Pria itu membawa istrinya ke ruang tengah tanpa penolakan. Ziddan menyalakan televisi dan mengambil air minum. Setelah semua siap ia menyuapi lagi istrinya seperti tadi pagi.
“Buka mulutmu,”
“Untuk apa.”
“Untuk ku cium.” Ziddan tertawa melihat bibir Tamara melongo kecil.
“Apa kamu tak melihat, tanganku sudah mendarat membawa suapan untukmu.” Ia kembali terkekeh.
“Tapi aku bisa makan sendiri,” sambungnya lagi.
“Aku suka menyuapi istriku yang cantik ini.”
“Hmm. Jangan gombal,” ucapnya sambil memakan suapan Ziddan.
“Aku serius. Buktinya aku bersedia menunggumu jatuh cinta.”
“Sepertinya sudah.”
Ziddan malah berhenti menyuapkan makanan yang sebentar lagi masuk ke mulut Tamara.
“Sudah apa?” tanya Ziddan sangat penasaran sambil menarik tangannya kembali.
“Bisa kamu lanjutkan dulu gak suapanmu itu? Aku sudah mau memakannya tadi. Tapi kamu tarik lagi.”
__ADS_1
“Eh, iya. Soalnya aku penasaran mendengar jawabanmu. Maksudmu sudah apa?”
“Seperti yang kamu bilang tadi.”
“Membuatmu jatuh cinta?”
“Iya.”
“Serius? Beneran? Kamu....” Ziddan mencubit pipinya sendiri.
“Iya,” ucapnya kedua kali.
“Berarti aku udah boleh dong minta itu.”
“Minta apa?”
“Masak gak tau?”
“Enggak.”
“Sekamar, satu selimut, tidur bareng.” Pria itu nyengir.
“Belum bisa, Mas. Maaf.”
“Kenapa? Kamu belum merelakannya untukku?”
“Bukan begitu.”
“Lalu apa? Aku memang tak setampan Reza, dan tak sekaya dia. Maafkan suamimu ini.”
Tamara terkikik melihat Ziddan salah paham.
“Mas Ziddan, apa Anda lupa kakiku sedang cidera?” Menunjuk ujung kakinya.
“YaAllah.. kenapa bisa aku tak ingat.” Menghapus jejak muka yang malas mikir.
“Karena kamu dibutakan olehku.” Tersenyum kemenangan.
Mereka berdua saling melempar senyum. Ziddan memeluk erat istrinya. Tampak dengan jelas kebahagiaan dari wajah Ziddan. Tamara masih setengah bahagia. Maklum dia butuh proses untuk semua itu. Tidak ada yang mudah dengan penyesuaian sebuah pernikahan terpaksa.
***Terimakasih sudah hadir dan setia membaca, janlup beri komentar, like, dan tekan hati 🥰🥰🥰🥰🥰
Lopyuuuu semuaaaa 😘😘😘😘😘***
__ADS_1