
Permana dan Ziddan hari ini akan menemui Hans di rumahnya. Karena mencoba di hubungi berulang kali tidak ada respon. Permana geram dengan lekaki itu.
Ziddan menepikan mobilnya ke sebuah rumah cukup besar di suatu kompleks perumahan di tengah kota A. “Apakah benar ini rumahnya, Yah?”
“Benar, Ayah sudah pernah ke sini. Mari kita turun.”
“Baik, Yah.”
Langkah Permana ia besarkan agar segera sampai di pintu. Ia kemudian mengetuk pintu itu dengan keras. Namun, tak ada jawaban juga. Lima belas menit kemudian saat mereka duduk di teras ada sebuah mobil yang datang. Ya, benar saja mobil itu adalah mobil istri Ayu.
Permana langsung menghampiri dan mengetuk kaca mobil bagian depan.
Tok! Tok! Tok!
“Hans, buka! Keluar kamu!”
Ziddan memegangi bahu mertuanya, ia ingin menahan amarah pria yang sedang emosi itu.
Setelah kaca mobil dibuka, terlihatlah Hans dengan raut wajah menunduk sedikit cemas. Di samping tempat duduknya ada seorang wanita berpakaian seksi dan terbuka. Wanita itu tersenyum kepada Permana. Permana yang geram akhirnya meluncurkan kepalan tangannya di muka Hans beberapa kali.
Bruk! Bruk! Bruk!
“Keluar kamu!” Permana menyeret Hans dari dalam mobilnya hingga keluar dengan kasar. Kemudian Permana kembali meluncurkan kepalan tangannya di perut Hans berulang kali. Namun, Hans tanpa membalas.
Ziddan sudah mencoba menahan mertuanya itu, tetapi kekuatan seseorang ketika emosi sepuluh kali lipat lebih kuat dari biasanya. Ziddan tahu bagaimana perasaan seorang ayah jika anaknya tersakiti. Apalagi dia sampai berani memukuli putrinya. Semua luka yang Hans berikan kepada putrinya ingin Permana balaskan sendiri menggunakan tangannya.
“Rasakan ini. Kau mau lagi? Baik akan aku tambahkan hingga kau tak berdaya. Tak peduli aku sekalipun kau mau memenjarakan aku. Kau harus merasakan kesakitan anakku dulu, Hans!”
“Kurang ajar kau ...!” teriaknya dengan menendang suami Ayu.
“Ayah, ayah, sudah. Sudah cukup, Yah. Jangan membuat keributan di sini. Kita harus selesaikan masalah ini segera. Dan bukan dengan cara seperti ini. Tidak akan selesai jika dengan memukulinya.”
“Ayah sudah tidak tahan lagi menahannya, Ziddan. Biarkan Ayah menghabisi laki-laki macam sampah ini!”
Wanita yang berada di dalam mobilnya kemudian turun. Ternyata ia sedang hamil, namun, perutnya belum begitu besar. Wanita itu menghampiri Hans, lalu membantunya berdiri.
“Hei kamu, wanita tak punya hati. Kalian berdua sama-sama manusia sampah tidak ada gunanya!”
__ADS_1
“Maaf, ada urusan apa Anda memukuli suami saya?”
“Ohh, jadi ini suamimu sekarang? Sejak kapan?”
“Itu bukan urusan Anda,” gertak wanita itu.
“Beraninya kau berkata seperti itu! Kau ini perebut dan penggoda suami orang, tak malukah kau?”
“Ohh, jadi ini mantan mertua kamu, Mas?”
“Mantan?”
“Apa-apaan ini Hans!” Permana menarik baju Hans lalu memojokkan dia.
“Sebaiknya kita mendengar penjelasannya dengan duduk, Yah. Kita bicarakan baik-baik.”
Permana menerima saran Ziddan. Dia melepaskan tarikan bajunya. Hans mempersilakan duduk. Sedangkan wanita itu terlihat kesal.
“Cepat jelaskan! Jangan membuatku emosi lebih parah lagi!” bentak Permana.
Ziddan membuka pertanyaan demi pertanyaan.
“Mas Hans, maaf sebelumnya. Di sini saya mendengar cerita dari Kak Ayu, dia mengatakan bahwa pertama Anda berselingkuh, yang kedua Anda melakukan kekerasan kepadanya. Apakah itu benar adanya?”
Permana langsung memukul wajah pria itu. Hati seorang ayah mendengar pengakuan itu tentu sangat menyakitkan baginya. Ayah adalah cinta pertama bagi putrinya. Dia yang selama ini menjaga putri-putrinya dengan baik, penuh kasih sayang, dan cintanya tulus. Terbesit di pikiran Permana ketika ia merawat Ayu semasa kecil hingga dewasa dan di pinang Hans. Sungguh mengingat apa yang dilakukan Hans terhadap Ayu sangat membuatnya terluka.
“Ayah, tenang, Ayah,” ujar Ziddan menahan amarah mertuanya.
“Benar-benar Ayah tidak bisa menerima semua ini, Ziddan. Busuk sekali pria ini. Dia beraninya kepada wanita. Apa salah anakku? Katakan! Jika kamu sudah tidak mencintainya kembalikan saja padaku, jangan kamu sakiti seperti apa pun! Cukup kembalikan saja dengan baik. Kamu sudah menggores luka di hatinya masih saja kamu tambahkan luka lainnya. Kenapa kamu begitu tega menganiaya istrimu sendiri? Jawab!”
“Jangan hakimi suami saya seperti ini. Lebih baik kalian pergi jika masih saja Anda memukulnya. Saya tidak mau dia kenapa-kenapa karena saya sedang mengandung anaknya. Jadi tolong biarkan dia tetap hidup agar anak ini memiliki seorang ayah!”
“Diam kau!”
“Sebaiknya Anda diam dulu, kami tidak membutuhkan keberadaan Anda di sini. Jadi jangan ikut campur. Kami tidak peduli anak itu akan tetap memiliki ayah atau tidak. Karena kami tetap akan memenjarakan suami Anda!” ucap Ziddan geram kepada wanita itu.
“Apa? Penjara? Hei! Kalian tidak bisa melakukan itu kepada suamiku!” bentaknya.
“Anda adalah seorang wanita. Dan Anda sebentar lagi akan memiliki anak. Bagaimana jika anak Anda nanti seorang perempuan dan diperlakukan suaminya dengan setega ini? Apa yang akan Anda lakukan?” gertak Ziddan mengepalkan tangannya di meja.
__ADS_1
“Itu karena kelakuan Ayu saja yang membuatnya melakukan itu. Jangan salahkan suami saya sendiri ya!” belanya. Hans masih terdiam, ia membersihkan darah di ujung bibirnya.
Permana sangat marah mendengar ucapan wanita itu. “Bisa-bisanya kau menyalahkan Ayu! Dia korban! Dasar wanita bodoh!”
“Hei, Anda tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi. Jadi jangan mengatakan saya bodoh!”
“Apa maksud Anda?” tanya Ziddan.
“Bukankah Ayu sudah tidak bisa lagi membuat Mas Hans bahagia. Sehingga Mas Hans beralih padaku. Betul seperti itu kan, Mas?”
Hans menunduk malu. Dia tidak punya keberanian menatap Permana, mengingat apa yang telah ia lakukan kepada Ayu.
“Ayah, saya minta maaf. Tolong jangan bawa masalah ini lebih jauh,” ucap Hans kemudian.
“Dengan mudahnya kamu mengatakan seperti itu? Selama dia pergi dari rumahmu pernahkah kamu mengejarnya, mencarinya, menghubunginya? Kamu bahkan tidak tahu kan kalau Ayu saat ini terbaring di rumah sakit. Dan Sanya, anak kamu selalu menangisi Mamanya. Di mana hati nurani kamu! Hanya demi wanita seperti ini kamu tega menelantarkan anak dan cucuku?”
BRUK! Permana memukul Hans lagi.
“Sudah, Ayah. Lebih baik kita bawa dia ke kantor polisi sekarang juga.” Ziddan langsung memegang kedua tangan Hans ke belakang badan Hans.
“Jangan bawa suamiku!” Wanita itu menangis melihat kepergian ketiganya. Ziddan dan Permana membawa masuk Hans ke dalam mobil.
Bersambung.....
Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰
Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..
Tekan love dan favoritkan yaa 😍😍😍
Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘
🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃🍃
Hai selamat siang kesayangan, jangan lupa mampir di novel temanku ya.. judul ada di cover, di bawah sinopsis ini.
__ADS_1
Genta Arakahn. Pria yang akrab dipanggil Genta itu baru saja menginjak usia ke 29 tahun. Ia bekerja sebagai pelayan dan tukang kebun di sebuah rumah mewah milik orang terkaya di New York. Ia merupakan pria baik, polos, jujur, dan lugu untuk ukuran pria. Suatu hari ia tak sengaja melakukan kesalahan besar terhadap nona mudanya yakni Alice Nekhade Arakhe wanita yang baru saja berulang tahun ke 17 tahun dan mengalami kelumpuhan dan bisu akibat kecelakaan. Alice merupakan wanita periang dan tingkahnya kekanakan, cukup polos, namun ia tak secengeng cewek polos lainnya. "Senyuman yang indah bak bunga mekar itu harus layu karena diri ku. Maafkan aku nona telah lancang menodai mu, dan maafkan juga aku telah jatuh hati padamu." ___Genta___