Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 47


__ADS_3

Percakapan mereka terhenti ketika ruangan itu terbuka lebar dan keluarlah dua suster membawa pasien wanita cantik yang terbaring lemah di ranjang beroda. Ziddan langsung menghampirinya kemudian memeluk dan menciumi istrinya itu.


“Sayang, aku minta maaf,” ucapnya lirih dengan menitikkan air mata.


Namun, wanita itu masih begitu lemas. Belum sanggup berkata. Bibirnya terlihat pucat.


“Permisi, pasien akan segera kami bawa ke ruang rawat,” ucap suster yang menginginkan Ziddan tak menghalangi langkahnya. Pria itu menyingkir kemudian mereka bertiga mengikuti.


 


“Nak Ziddan, sebaiknya kamu temui ibu kamu dulu. Ayahmu juga sedang kritis bukan? Tamara masih terlihat lemas jadi biarkan dia istirahat dulu, kami akan menjaganya,” pinta Sari kepada menantunya yang terlihat merasa sangat bersalah.


 


“Baiklah, Bu. Kalau begitu aku pamit ke ruangan Ayah.”


Permana dan Sari mengangguk.


Ziddan melangkah menuju ibunya dengan perasaan kesal. Amarah bergemuruh menyelimuti tubuhnya. Namun, sekali lagi ia harus menakar emosinya sesuai porsi. Mengingat beliau adalah ibu kandung.


“Bu... Ziddan sudah tahu semuanya. Kenapa ibu berkata seperti itu kepada istri Ziddan? Kenapa ibu masih saja berdebat dengannya. Dia sedang mengandung anak Ziddan, Bu. Cucu ibu.”


“Maafkan ibu. Ibu terbawa emosi karena melihat kondisi Ayahmu.”


“Ziddan harap, ibu tidak berkata kasar lagi, dan bisa mempercayai kehamilan istri Ziddan. Jangan menyakitinya dengan kalimat tuduhan itu, Bu. Ibu tahu tidak, ibu hampir kehilangan calon cucu Ayah dan Ibu. Tamara mengalami pendarahan di kehamilan mudanya. Ziddan tidak tahu bagaimana rasa sakitnya. Mungkin ibu yang lebih mengerti soal itu.”


“Jadi, istrimu pendarahan?”


“Iya Bu, Ibu bisa lihat sendiri keadaannya bagaimana. Dia ada di ruang VIP B. Atau, Ibu bisa bertanya langsung pada dokter yang menanganinya tadi.”


Ibu Ziddan menjadi terdiam ketika mendengar penjelasan anaknya. Tentu wanita itu tahu bagaimana rasanya mengalami pendarahan. Dulu dirinya pernah mengalami hal itu ketika hamil kakaknya Ziddan. Namun, janinnya tidak dapat di selamatkan. Sempat Ibu Ziddan depresi karenanya. Ia sekarang menjadi merasa bersalah kepada Tamara.


“Bisa kamu jagakan Ayahmu dulu, Ibu ingin bertemu dengan istrimu.”


“Lebih baik Ziddan ikut dampingi ibu bertemu Tamara. Ziddan khawatir ada perkataan ibu yang membuatnya terluka lagi.”


“Lalu siapa yang akan menjaga Ayahmu?”


“Di dalam ruang ICU tentu ada suster yang berjaga bukan? Nanti Ziddan akan bilang titip sebentar.”


 


Mereka kemudian telah sampai ke ruang Tamara di rawat. Ruangan yang sangat luas dan nyaman bak kamar hotel telah di pilih Permana untuk putri tercantiknya. Permana meminta segalanya yang terbaik di rumah sakit ini diberikan untuk putrinya.


 


“Tamara, maafkan Ibu. Ibu di penuhi rasa cemas terhadap keadaan Ayahmu yang masih belum sadar. Ibu mengaku salah dengan perkataan ibu. Harusnya ibu bisa lebih menahan lidah ini agar tak seenaknya berkata. Maafkan ibu, Tamara.”


“Tak apa, Bu. Saya sudah memaafkan Ibu. Saya senang, Ibu sudah terbuka hatinya. Saya juga meminta maaf atas keberanian saya membela diri, Bu,” ucap Tamara lembut.


 


                       ********


 


 


Setelah beberapa hari kemudian. Tamara sudah pulih, ia sudah kembali ke ibu kota di rumah Ziddan. Sedangkan Ayahnya masih berada di rumah sakit. Namun, keadaannya sudah membaik, dan tidak lagi di ruang icu.


 

__ADS_1


Ibu Ziddan sempat meminta maaf pada Tamara soal perkataannya yang kasar, itu pun setelah di tegur Ziddan. Ayahnya juga terlihat lebih bisa menerima takdirnya memiliki penyakit jantung. Ziddan juga yang telah menasihatinya.


 


Semua telah dirasa lebih baik daripada kemarin. Sebab itulah Ziddan membawa istrinya pulang ke rumah. Ia juga tak bisa bolak balik terlalu lama dengan jarak yang cukup jauh demi mengurus pekerjaannya di kota.


 


Sampai di rumahnya, Ziddan membawa tubuh Tamara ke ranjang kamarnya. Tamara sangat bahagia, ia bersyukur bahwa kandungannya masih bisa di selamatkan. Selain itu juga karena mertuanya telah sadar akan kesalahan ucapannya yang menyakitkan.


 


Pria itu menciumi perut dan pipi istrinya terus menerus hingga Tamara merasa geli dengan tingkah suaminya.


“Kamu mau minta makanan apa, Sayang? Ada ngidam aneh gak?”


“Nggak, Mas. Aku pengen kamu aja yang makan.”


“Aku?”


“Iya, sepertinya seru. Besok aku pengen bikinkan kamu sambal strawberry. Dan kamu harus memakannya dengan ayam goreng.”


“Apa?”


“Gimana? Duh ngiler banget bayanginnya.”


“Kalau begitu, kamu saja yang makan ya, Sayang.”


“Enggak. Aku cuman pengen bikinin aja, yang makan kamu.”


“Gimana kalau kita kasih orang lain aja? Tetangga mungkin?”


“Ehe. Oke deh. Asal kamu bahagia.”


Tamara terkekeh melihat ekspresi suaminya. Ziddan terlihat manis dan tambah menggemaskan Tamara.


 


Esok harinya Tamara memulai membuat makanan itu untuk suaminya. Ziddan telah membelikan bahan subuh tadi di tukang sayur keliling kompleks. Sempat dirinya di godai ibu-ibu kompleks, karena memang Ziddan pria yang manis, kaya, ramah dan punya suara merdu, tentu menjadi idaman ibu-ibu.


 


“Mas, bahannya kok banyak banget. Kamu pengen di buatkan banyak?”


“Enggak. Tadi dikasih sama geng emak-emak kompleks. Aku gak enak kalau beli sayur bareng mereka. Habisnya kamu maksa sih, yaudah deh, akhirnya aku kena goda. Pipiku juga kena cubitan mereka.”


Tamara tertawa terpingkal pingkal. Ia melihat pipi suaminya yang memang sedikit merah. Ia melanjutkan kembali kegiatannya memasak sambal strawbery tanpa cabai yang akan di makan dengan ayam goreng. Setelah selesai ia hidangkan di hadapan Ziddan, lalu menyuapinya.


 


“Gimana, Mas? Enak banget kan?” tanya Tamara happy.


“Gak. Eh, enak kok,” jawabnya dengan muka masam. Menahan rasa ingin memuntahkan makanan aneh yang dikatakan enak tadi demi mempertahankan senyum istrinya.


“Aaduuhh, ini enak banget tau! Kapan-kapan aku bikinin lagi ya.”


“Jangan, jangan.”


“Aku gak repot kok, jadi tenang aja, aku pasti bikinin lagi.”


“Hehe. Iya deh terserah.”

__ADS_1


 


 


 


***


 


Meli dan Reza selama ini ternyata semakin dekat, saat Reza sudah sembuh, pria itu berusaha mendekati Meli terus. Sepertinya Reza termakan omongannya sendiri waktu ketika Tamara menjodoh-jodohkannya dengan sahabat Tamara.


 


Saat Meli masih sibuk dengan lombanya di kampus, Reza diam-diam datang. Tentu Reza sudah tahu tempat Meli menimba ilmu, sebab dulu ia pernah menemani Tamara saat wisuda.


 


Reza tetap menjadi pria idaman wanita kampus Meli. Ketika ia melewati perkumpulan-perkumpulan gadis itu banyak sekali orang yang sedang menggosipkan kegagalan pernikahannya dulu dengan Tamara. Telinga Reza hampir panas. Namun, ia melaluinya begitu saja. Reza tetap fokus pandangannya mencari gadis lincah itu.


 


Ternyata gadis itu sedang terduduk di sebuah taman dekat kolam ikan. Reza melangkah mendekati Meli. Semua mata para gadis kampus masih memburu Reza berhenti pada siapa.


 


“Oey!” gertaknya mengagetkan Meli yang sedang membaca komik.


“Ngapain Lo disini? Ini kampus punya nenek Lo? Orang asing main masuk aja!” celetuknya membuat Reza terkikik.


“Bukan. Kampus ini bukan punyaku, tapi penghuninya ini akan jadi milikku.” Reza menunjuk Meli.


“Kok gue sih yang di tunjuk?”


“Gak usah sok polos. Gimana mau gak?”


“Mau apaan? Gak jelas!” Meli pura-pura tidak tahu apa maksud Reza. Jika dia menerima Reza, dia merasa seperti menelan air liur yang sudah ia keluarkan sendiri. Tapi memang cinta bisa tumbuh darimana saja. Bahkan dari mantan pacar sahabatnya pun tak masalah. Toh sahabatnya juga sudah menikah dan sama-sama menghapus perasaannya.


Meli memalingkan muka. Pipinya berubah menjadi merah. Rambutnya yang panjang di kucir tinggi menjadi ciri khas gadis lincah dan energik itu.


Reza menyukai pribadi Meli. Karena memang hatinya baik. Penuh perhatian meski terlihat seperti preman. Reza tiba-tiba memutar badan kecil itu sehingga menghadap dirinya. Meli yang terkejut langsung menutup mukanya dengan buku komik bacaannya.


“Apaan sih. Gausah sok romantis!”


 


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷


Promo Novel Teman ❤


Perjalanan Eisha si gadis berkacamata dalam merubah penampilan dan menggapai impiannya dibantu Adnan seorang pria misterius dan bersikap dingin serta bermasalah di lingkungan nya. Namun benih cinta yang tumbuh diantara mereka belum sempat mekar karena kesalahpahaman dan kejadian tak terduga. Hingga Pertemuan tak disangka kembali memulai kisah yang belum usai, namun bagaimana dengan takdir yang memberikan kejutan bagi mereka, akankah kisah mereka berakhir bahagia??


__ADS_1


__ADS_2