
Taksi yang ditumpangi Tamara dan suaminya tiba di hotel tujuan mereka. Setelah mendapatkan kunci, Ziddan gegas membawa Tamara masuk.
Wanita cantik itu menghempaskan tubuhnya di kasur.
“Jangan menjatuhkan tubuhmu seperti itu sayang, ingat kamu sedang hamil.”
“Aku sampai lupa kalau aku sedang hamil. Rasanya tubuhku sangat lelah. Aku ingin segera istirahat, Mas.”
Ziddan yang sedang membereskan barang-barang mereka kemudian duduk di tepi ranjang. Ia memijit lembut kaki putih Tamara.
“Tidurlah sayang, aku akan menjagamu.”
“Mas, kamu pergilah ke rumah sakit lagi. Nanti malam aku ingin kamu antar aku ke rumah ayah.”
Ziddan membuka matanya lebar-lebar mendengar ucapan itu.
“Aku tidak mau, sayang.”
“Ini demi kebaikan kita, Mas. Lakukan saja apa yang orang tua mu mau.”
“Sayang, kita harus cari bukti bersama.”
“Bukti apa? Tidak akan ada bukti, Mas. Temani saja ibu kamu di rumah sakit. Sebenarnya dia butuh kamu kuatkan saat ini karena ayahmu sedang kritis.”
“Kamu tak apa aku tinggal sendiri di hotel ini?”
“Tak apa, mas. Pergilah temani ibu dan ayahmu.”
“Sayang, aku minta maaf,” ucapnya sebelum meninggalkan kamar itu. Tamara tersenyum mengiringi langkah suaminya pergi. Ia mencoba untuk tetap kuat mempertahankan rumah tangganya yang baru saja berbunga.
Mungkin dengan cara ini dia bisa menebus kesalahannya di masa lalu, dan setelah dia menuruti apa kemauan mertuanya ia berharap akan mendapat kepercayaan lagi.
Malam itu juga Tamara bersikeras meminta diantarkan pulang ke rumah orang tuanya. Dengan rasa berat hati, Ziddan akhirnya menuruti Tamara. Pria itu meminjam mobil rekan kerjanya dulu ketika Ziddan belum pindah ke Jakarta yang juga sedang berada di hotel itu. Ziddan tadi sempat berpapasan dan berbincang cukup lama.
Tamara merasa dirinya tak ada gunanya di hotel itu sehingga ia meminta pulang. Dia menginginkan agar suaminya fokus kepada kesehatan ayahnya.
Setelah sampai di rumah megah Permana, ternyata hanya ada Difa yang sedang libur kuliah. Jadi dia pulang ke rumah. Difa yang membuka pintu kaget melihat kedatangan kakaknya. Sekaligus senang karena kerinduannya kepada Tamara terobati.
“Dek, ayah dan ibu mana?”
“Mereka sedang di kota Surabaya, Kak.”
“Jauh sekali. Sejak kapan itu?”
“Emm.. sudah satu minggu sepertinya. Saat Difa tiba sudah tidak ada mereka disini.”
“Jadi, kamu sendirian aja disini?”
“Iya. Ohya, kakak dan mas Ziddan ada apa kemari malam-malam?”
“Mau temani kamu, boleh kan?”
“Wah... tentu boleh kak. Bersama kak Ziddan juga kan?”
Ziddan menggelengkan kepalanya.
“Tidak, Dek. Kakakmu ingin berada disini dulu katanya kangen kamu.”
__ADS_1
“Oh begitu.”
Tamara mengembangkan senyum termanisnya kepada Difa untuk meyakinkan dia.
“Yasudah kalau begitu mari Difa antar ke kamarku, Kak.”
“Kakak tidur di kamar kakak saja, sayang.”
“Oke baiklah kak. Aku bawakan barang-barang kakak, ya.”
Difa beranjak memunguti tas dan koper kakaknya. Dengan perasaan bahagia ia menuju kamar. Tanpa ada rasa curiga dirinya terhadap kedua pasangan itu.
Sementara Tamara dan Ziddan masih berbincang di ruang tamu. Mereka sedang menyusun kata-kata yang di sepakati untuk memberikan alasan jika orang tua Tamara nanti bertanya.
“Kalau begitu aku balik dulu ke hotel ya, sayang.”
“Hati-hati, mas.”
“Iya, kamu juga hati-hati ya. Jaga dedek baik-baik. Nanti aku akan hubungi kamu setiap waktu.”
Difa yang kembali bergabung dengan mereka sedikit berpikir keras.
“Apa maksudnya dedek?” gumamnya.
Ziddan dan Tamara terkekeh.
“Difa, kakak pamit ya. Titip jagakan dua nyawa yang aku cintai ini.”
“Dua nyawa?” Difa menunjuk dirinya dan Tamara.
Ziddan mengelus perut istrinya di depan Difa, memberikan isyarat kalau maksud perkataannya adalah si janin dalam kandungan itu.
“Kakak hamil????” Wajahnya ia buat semanis mungkin.
“Iya, sayang.. kakak hamil baru satu bulan nih.”
“Omaygat....” Difa jingkrak-jingkrak lalu memeluk kakaknya erat.
“Eits, jangan kenceng dong meluknya. Kasihan dedek di dalam tuh.”
Ziddan tertawa, ia mengacak-acak rambut adik iparnya itu yang terlihat masih polos meskipun sudah kuliah.
“Aku jadi tenang sekarang karena ada Difa yang jaga. Kalau begitu aku pamit, ya.”
“Iya mas, semoga ayahmu segera pulih. Berkabar terus ya.”
Kedua wanita itu mengantar Ziddan hingga mobilnya hilang dari pandangan mereka.
Karena malam sudah larut. Difa mengajak kakaknya segera tidur.
“Kak, kakak gak ada masalah kan sama kak Ziddan?”
“Gak ada kok.”
“Kalau sama keluarga mas Ziddan?”
Tamara terdiam sejenak. Akhirnya dia menceritakan semuanya kepada Difa. Difa yang mendengar cerita itu wajahnya berubah menjadi geram.
__ADS_1
“Mertua kakak jahat banget sih, kak.” Difa menyeka air matanya yang turut hadir.
“Mereka benar kok, Dek. Kakak yang salah. Mungkin dengan ini bisa menebus kesalahan kakak.”
“Kak, kakak yang kuat ya. Difa akan selalu bersama kakak.”
“Tapi bagaimana dengan ayah dan ibu jika mereka mengetahui,” sambungnya khawatir.
“Kakak tidak tahu apa yang akan mereka lakukan. Semoga semuanya baik-baik saja.”
***
Hari ini sudah hari ketiga Tamara tinggal di rumah ayahnya. Namun, Permana dan Sari belum pulang. Ia sengaja tidak mengabari mereka.
Ayah Ziddan juga belum ada kabar yang lebih baik lagi. Rasa cemas menggelayuti raut wajah wanita itu.
Pagi hari, Difa mengajak kakaknya jalan-jalan keliling kompleks agar dapat membuat pikiran wanita hamil yang sedang murung itu dapat sedikit fres.
Setelah cukup membuatnya lelah, mereka balik ke rumah.
Keduanya sontak kaget saat mendapati mobil milik ayahnya terparkir di garasi.
“Tamara? Sejak kapan kamu disini?” tanya ayah yang juga kaget melihat anaknya masuk rumah dengan pakaian olahraga milik adiknya.
“A-yah,” gumam Tamara gugup.
“Ayah sendiri kapan pulangnya? Tadi waktu kami keluar belum ada ayah dan ibu,” timpal Difa.
“Ayah dan ibu baru saja datang lima menit lalu,” jawab ibunya. Sebenarnya ibunya juga ingin bertanya kepada Tamara. Dia sudah merasa tak enak dengan adanya Tamara di rumah itu.
“Ayah kok gak nanyain aku datangnya kapan? Kenapa cuma kak Tamara aja yang ditanyakan?” alih Difa agar ayahnya tidak terfokus kepada kakaknya.
“Hmm. Kamu kan sudah biasa pulang pergi tanpa memberi kabar.”
“Ya sudah ayo kita masuk, ibu dan ayah tadi sempat membeli sarapan, lebih baik kita makan bersama dulu.”
“Siappp, Bu,” ucap kedua putrinya.
Hai reader tercinta 🥰🥰❤❤
Sembari menunggu novel ini update, aku bawa rekomendasi novel karya temanku nih. Terimakasih 🥰🥰🥰
🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷
Arumi Nadya Karima, seorang wanita yang terlahir dari keluarga berada.
Hidupnya semakin sempurna saat menikahi seorang pria tampan yang bernama Gibran Erlangga.
Dua tahun pernikahannya Gibran selalu perhatian dan memanjakan dirinya. Arumi mengira dirinya wanita paling beruntung, hingga suatu hari kenyataan pahit harus ia terima.
Gibran ternyata selama ini menduakan cintanya. Perhatian yang ia berikan hanya untuk menutupi perselingkuhan. Arumi sangat kecewa dan terluka. Cintanya selama ini ternyata diabaikan Gibran. Pria itu tega menduakan dirinya.
Apakah Arumi akan bertahan atau memilih berpisah?
__ADS_1