
“Sayang, maafkan kedua orang tuaku.”
“Tidak apa-apa, Mas. Memang aku yang salah.
Ziddan membawa istrinya ke dalam pelukan hangat. Kemeja berwarna perpaduan hitam dan putih itu basah karena tumpahan air mata wanita yang sangat ia cintai sejak dulu. Mungkin sejak Reza belum menyatakan perasaannya kepada Tamara. Ziddan pernah mendekati ketika ia baru saja di nyatakan lulus. Tetapi langkahnya kaku, terhenti, dan tidak jadi ia lanjutkan. Guru ngaji yang kini beralih profesi menjadi seorang direktur itu tidak punya keberanian seperti Reza untuk menyatakan perasaan.
“Sudah ya, jangan menangis. Aku sayang kamu, hatiku sakit melihat air matamu tumpah. Aku ingin menjadi sumber kebahagiaanmu.” Ziddan mencium kening Tamara dengan lembut. Membenarkan jilbab abu-abu yang dengan indah menghiasi wajah cantiknya.
“Kamu sangat cantik, sayang. Kamu pantas bahagia.” Pria berwajah manis itu menyeka air mata istrinya. Terlihat matanya sembab, dan kantung matanya membesar akibat tangisan yang tak henti sejak seharian ini. Seharusnya di hari libur Ziddan ini, ia berniat membahagiakan istrinya. Namun keadaan ternyata berbalik arah.
Keadaan yang tak pernah ia sangka malah terjadi. Kesedihan bertubi-tubi jatuh pada hari yang sama.
“Sayang, ini sudah malam. Sekarang kamu istirahat ya. Aku antar kamu ke kamar.”
“Bukankah terbalik. Kaki kamu sedang sakit. Badanmu penuh luka. Tentu aku yang akan mengantarmu ke kamar kita.”
“Kamar kita?” Ziddan membuka matanya lebar-lebar tanpa berkedip. Seperti mendengar sesuatu yang membuatnya sangat bahagia.
Tamara mengangguk dan tersenyum dengan seluruh kecantikannya.
“Aku akan segera membereskan kamar kita. Barang-barangku akan aku pindah sekarang juga,” ucapnya tegar.
“Aku bantu.”
“Bagaimana caranya kamu membantuku?”
__ADS_1
“Aku bantu pijitin kaki kamu.”
Tamara melirik suaminya dengan terkekeh.
“Boleh boleh...”
“Jangan semua langsung dipindah malam ini, sayang. Nanti kamu kelelahan. Seharian ini kamu sudah dipenuhi cobaan. Jadi kamu ambil barang yang ringan-ringan dulu. Besok kalau aku sudah lebih baik, aku akan pindahkan semuanya.”
“Yasudah aku nurut saja apa katamu.”
“Sembari menungguku beberes kamar, kamu mau rehat dimana biar aku antar?”
“Di kamar sekalian saja. Kasihan kamu nanti bolak balik memapahku.”
“Oke. Mari ku antar. Pegangan kuat pundakku.”
Ziddan melakukan perintah istrinya, sesekali matanya mencuri pandang. Pemandangan indah yang selalu ia mimpikan sekarang sudah ada di depan mata. Ingin rasanya ia mengecup pipi cantik Tamara. Tapi ia masih sungkan. Takut Tamara akan marah dan malah menjauh. Dia selalu bersabar menunggu cinta Tamara datang secara murni bukan pemaksaan.
“Capek ya, maaf.”
“Makanya semangat buat sembuh biar gak ngerepotin aku terus,” ledeknya.
“Astagfirullah. Kamu belum minum obat ya mas? Aku lupa.” Tamara menepuk dahinya keras. Ziddan tak sempat menjawab. Istrinya itu sudah bangkit dari duduknya lalu berlari ke dapur mengambil sepiring makan malam, tak lupa air putih untuk meminum obat.
“Sebelum minum obat kamu makan dulu. Aku suapi atau mau makan sendiri?”
“Aku makan sendiri saja. Kamu masih ada pekerjaan selanjutnya kan?”
“Iya.”
__ADS_1
“Ya sudah aku ke kamar tamu dulu, mengambil beberapa barangku untuk aku angkut kesini.”
Ziddan tersenyum kecil menandakan setuju dengan ucapan istrinya.
Tamara menunjuk satu persatu obat itu sambil memberi penjelasan
“Habis itu minum obatnya. Yang ini satu kali hanya malam saja. Yang ini tiga kali, yang ini satu kali hanya pagi, yang ini dua kali, dan...”
“Iya sayang..... baiklah aku bisa minum sendiri. Terima kasih.”
“Sama-sama. Aku tinggal dulu.”
“Heem.”
Tamara berlalu menuju kamar tamu. Saat ia membereskan beberapa bajunya dari benda tinggi tempat penyimpanan pakaian itu, ia menemukan setangkai mawar putih yang benar-benar sudah mengering tersimpan rapi dalam plastik pipih.
“Bunga dari Reza, hampir empat tahun aku menyimpannya,” gumam Tamara.
Maaf Za, kini seakan aku yang mengkhianatimu. Aku harus segera menghapus perasaan untukmu yang telah lama melekat di hati.
Melupakan cinta pertama bukanlah hal yang mudah. Cinta yang selama ini kita arungi bersama ternyata berbuah luka. Aku dan kamu sama-sama terluka. Kita berlabuh di tempat yang berbeda....
Setetes air mata turun menyusuri pipi. Tapi kemudian ia tepis dan mencoba untuk menikmati nafas perihnya tanpa aliran air mata.
Tamara mengayunkan langkah berat tertuju pada benda berwarna oren, membuang bunga yang merapuh seperti hatinya itu bersama tumpukan kertas tak terpakai.
Bersambung....
__ADS_1
Terimakasih sudah setia membaca novel ini..
Jangan lupa terus dukung dengan cara like, komentar, dan tekan favorit yaa.... 🥰🥰🥰🥰🥰😘😘😘