Pernikahan Terpaksa Tamara

Pernikahan Terpaksa Tamara
Bab 46


__ADS_3

“Lalu bagaimana dengan keadaan ayah Ziddan sekarang yang sudah terlanjur kamu buat kecewa hingga membuatnya kritis seperti ini? Apa kamu bisa mengembalikannya? Tidak bisa kan?” ucap ibu Ziddan penuh amarah membuat perut Tamara tiba-tiba melilit kesakitan.


 


“Aakhh... sakit,” lirihnya dengan meringis kesakitan. Tamara melepaskan tangannya yang masih memeluk kaki besar ibu mertuanya itu. Ia kini memegang perutnya. Badannya melemah merasakan sesuatu di dalam rahimnya.


 


Semua terkejut dengan kesakitan Tamara. Ayahnya segera membawa putrinya yang tengah hamil muda itu ke ruang IGD rumah sakit yang sama.


 


Sari sangat panik, raut wajahnya yang cantik kini dipenuhi kecemasan. Tubuhnya ikut melemas menyaksikan keadaan putrinya.


 


Sementara di dalam mobil perasaan Ziddan tidak enak. Pikiran yang tadinya fokus mengemudikan mobilnya, tiba-tiba kendaraan itu berbelok arah dengan sendirinya hingga ia kebingungan mengendalikan mobilnya yang oleng. Ziddan membanting setir ke kiri yang terdapat lahan luas dan bisa ia digunakan untuk menepikan laju mobilnya dengan aman.


 


Pria itu mengucap istigfar berkali-kali. Pikiran buruknya berlari menuju istri tercintanya.


 


“Astagfirullah.. ada apa ini! Perasaanku tidak enak memikirkan Tamara.” Ziddan mengusap wajahnya kasar. Ia mencari ponselnya yang tadi jatuh ke bawah, semua sudut telah diraba gelagapan hingga kepalanya terbentur, tapi tak di temukan juga.


 


Kegugupan membuatnya tak konsentrasi saat mencari alat komunikasi itu. Sejenak dia mengatur nafas. Beberapa kali ia coba tapi semakin tak enak nafas yang ia dapatkan. Ziddan mengambil air mineral, ia meneguknya dengan tergesa dan lagi lagi perasaan tak enak itu membuat minumannya tumpah di dalam mobil.


 


Ziddan keluar dari mobil membersihkan baju dan celananya dengan tisu. Setelah beres, Ziddan terduduk di bumper mobil mewahnya yang mengkilap. Manik matanya menatap ke awan, kedua tangannya menengadah. Pria itu melafalkan doa-doa hingga belasan kali yang di khususkan untuk istri dan calon anaknya. Firasatnya memang sedang tertuju pada istrinya.


 


Ziddan kembali lagi ke dalam mobil, ia mencari telepon genggamnya lagi dari sisi yang berbeda. Setelah cukup lama usahanya mencari, akhirnya ia temukan juga ponselnya ketika ada telepon masuk. Benda itu berdering kencang. Terdapat nama istrinya sedang menghubunginya pada ponsel yang sedang ia pegang dengan gemetar.


 

__ADS_1


Gegas Ziddan mengangkat.


“Assalamu’alaikum, Ra. Kamu baik-baik saja kan?”


“Wa’alaikumsalam... Ziddan, saat ini istrimu sedang dalam tindakan di ruang IGD, kamu sudah sampai mana? Bisakah kamu datang lebih cepat?” suara di ujung telepon menggetarkan dada Ziddan.


 


“Tamara kenapa, Bu?” tanya pria itu dengan mata berkaca-kaca.


 


“Tiba-tiba perutnya sakit, kami sempat berdebat dengan ibu kamu sebelumnya. Cepatlah datang, Ziddan,” pinta ibu mertuanya dengan suara terisak.


 


“Baik, Bu. Ziddan ngebut.”


Sambungan terputus dari keduanya. Pria itu kembali fokus pada setirnya. Dalam hatinya yang bergemuruh ia selalu selipkan doa untuk istri dan janin yang baru berumur beberapa minggu itu. Usia kehamilan yang sangat rentan. Sungguh Ziddan sangat takut terjadi apa-apa dengan istri juga kehamilannya. Ia menginjak gas lebih keras agar laju mobilnya semakin kencang. Semakin lama dia di jalan semakin tak karuan perasaannya. Dia hanya ingin segera melihat keadaan Tamara.


Ternyata benar perasaanku tidak enak tadi karena telah terjadi sesuatu dengan orang yang aku cintai... Sayang, kamu harus bertahan. Aku tahu kamu wanita yang kuat. Aku tidak ingin kehilangan siapapun, aku tidak ingin kehilanganmu atau pun calon anak kita. Maafkan aku yang tidak ada disisimu di saat kamu membutuhkan perlindungan dariku, sayang. Maafkan aku, karena orang tuaku kamu menjadi tersakiti dengan kalimatnya yang tajam. Aku tahu hatimu sangat terluka. Aku juga tahu orang tuaku terlalu keras kepala. Ya Allah, berikanlah pertolonganmu, sebaik baik pertolongan hannyalah dari Engkau.


 


 


“Ayah, Ibu,” sapa Ziddan kemudian menyalami keduanya bergantian.


“Ziddan...” jawab ibunya panik.


“Gimana, Bu? Sudah ada pemberitahuan dari dokter mengenai Tamara?” tanyanya tergesa.


“Belum, Nak. Mereka masih terlihat sibuk ketika ibu mengintai dari celah ini.”


Tak lama kemudian, seseorang berjubah putih keluar dengan melepas kaos tangan karetnya yang terdapat sedikit noda darah. Ketiga orang yang sedang khawatir itu berebut menghampiri.


 


“Bagaimana keadaan istri saya, dok? Apa yang terjadi?”

__ADS_1


“Anda suaminya?”


“Iya, dok. Saya suaminya.”


“Saya harap kejadian seperti ini tidak terulang lagi. Istri bapak mengalami pendarahan. Hampir saja bapak kehilangan calon anak bapak. Namun, ternyata Allah masih memberi kekuatan pada janin dalam rahim istri bapak," jelas dokter membuat Ziddan ketakutan. Ia benar menyesali dirinya yang tak ada di samping istrinya ketika wanita itu meminta izin menemui ibunya. Ziddan mengira ibunya telah melupakan masalah itu disaat ayahnya sedang kritis.


Namun ternyata dugaannya salah besar. Ibunya masih saja terus menyalahkan Tamara.


"Baik dok, saya berjanji di kemudian hari setelah kejadian ini tidak akan memberikan tekanan pikiran yang berat. Ini semua memang kesalahan saya, dok. Lalu apa sekarang saya sudah bisa masuk menemui istri saya?"


"Tunggu sebentar, Pak. Ibu Tamara akan kami pindahkan dulu di ruang rawat. Keadaannya masih lemah, jadi harus mendapatkan perawatan lebih lanjut. Suster sedang menyiapkannya."


"Baik dok, kami akan ikuti saja saran dari dokter. Kami percayakan semuanya."


"Dok, lakukan yang terbaik untuk istri saya," imbuhnya.


Permana dan Sari juga merasa sedikit lega. Mendengar pernyataan dokter tersebut. Kandungan Tamara masih bisa di selamatkan.


Ziddan beralih ke mertuanya.


"Ayah, Ibu, sebenarnya apa yang terjadi tadi? Apakah Ibu saya berbuat diluar batas? Apa yang menyebabkan istri saya mengalami pendarahan ini? Tolong katakan yang sejujurnya."


Sari tidak sampai hati mengatakan yang sebenarnya. Sedangkan Permana menghela nafas panjang. Kemudian ia kembali menarik nafas kuat.


"Ya, kami sempat berdebat, bahkan Tamara sampai berlutut di kaki Ibumu. Tetapi ibumu tidak menerima alasan istrimu dengan berkata menyakitkan. Dan tiba-tiba dia kesakitan memegang perutnya," jelas Permana dengan tangan bersedekap berpaling muka dari menantunya itu.


 


 


Bersambung.....


Hai Reader setia, terima kasih atas dukungan kalian semua 🥰🥰🥰


Author berharap kalian bisa memberikan komentar demi kemajuan novel ini..


Lope lope sekebun buat kalian 😍😍❤❤❤😘😘😘


🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Ayreen Anatasya A'Morra harus kembali dari masa pelatihannya setelah dipanggil sang kakek. Ayree mendapati sang kakek telah terbujur kaku dengan memegang liontin ruby dengan ukiran rumit dan sebuah surat wasiat. Surat wasiat yang berisikan perintah bahwa Ayreen diminta untuk menerima perjodohan yang sudah dibuat sang kakek dengan sahabatnya. Orang tua Ayreen meninggal ketika dia berusia satu bulan. Bayi yang masih polos harus menerima kenyataan pahit itu. Tetapi ada misteri dibalik kematian orang tuanya. Ayreen tumbuh menjadi gadis luar biasa menjadi ratu yang sangat mendominasi. Keano Nataniel Wicaksana, tinggi 182cm.Memiliki temperamen luar biasa. Pria cacat yang harus duduk di korsi roda diakibatkan kecelakaan yang menimpanya.Tuan muda keluarga besar, salah satu dari 5 keluarga besar. Dia adalah pengusaha dunia bisnis dan tertampan namun misterius. Bagaimana bila sang ratu dominan disandingkan dengan Keano? Akankah Ayreen bisa menjalankan perannya dengan baik sesuai wasiat sang kakek?



__ADS_2