
Ting, suara bel terdengar dari luar, yuan nian mengerutkan keningnya, ia tak mengundang siapa pun, lalu? Siapa yang datang
"Biar aku saja adik Yuan" Ucap Shen Yi berdiri dari duduknya dan membuka pintu,
Seorang berdiri di depan pintu ya itu adalah kurir pengantar makanan yang di pesan Shen Yi, karena Jiang Fei belum sempat makan maka ia akan membelikan makanan untuk Jiang gwi
"Kau memesan makanan kakak ipar?, Ah baik lah kakak ipar kau bahkan membelikan semua makanan kesukaan Jiang Fei, kau sangat mencintai Jiang Fei ternyata, aku merasa lega jika seperti itu, setidaknya aku tau jika Fei Fei ku memiliki kekasih yang sangat mencintainya"
"Kau terlalu memuji adik Yuan, bukankah cinta Zhan Li juga sama?"
"Zhan tak dapat di bandingkan dengan mu, Zhan ini begitu sedikit berbicara, aku selalu mengejarnya terkadang aku sedikit lelah jika harus terus mencari perhatian, jika tidak maka ia akan sulit untuk peka"
"Zhan mencintai adik Yuan, dan seperti itulah dia menunjukannya"
"Andai saja semua pria peka dan pengertian sepertimu tak akan ada gadis yang bersusah payah mencari perhatian dari mereka"
"Yuan, aku mencintai mu, apakah bukti yang ku tunjukan belum cukup?"
"Kau selalu mengajak ku untuk menikah, namun bahkan dalam keadaan yang tak terduga, membuat ku tidak siap dan bingung saja"
"Maka nanti akan menikah"
"Kau ini, sangat pelit dengan suara, baiklah lupakan, sepertinya kau memang di lahirkan untuk menjadi mahluk yang tak menyangkan, tak masalah, aku juga bukan orang yang bisa diam, aku akan memanggil fei fei ku dulu, tentunya kau membeli makanan untuknya kan?"
Shen Yi tersenyum kecil, setelah melihat perdebatan pasangan ini membuat Shen yi merasa geli, di masa lalu Jiang Fei juga seperti itu
Ia selalu bertindak semaunya, jika tidak berbicara dengan jelas maka ia tak perduli dan tak akan pernah tau tentang keinginannya
Melihat mereka benar benar mengingat dirinya di masa muda, di masa lalu Shen yi pun melakukan hal yang sama
Melakukan berbagai cara untuk menarik perhatian Jiang Fei yang memang sedikit acuh
__ADS_1
Namun setelah mengenal lebih dekat Shen yi tau jika sikap acuh itu adalah caranya untuk mengungkapkan cinta, setelah menjalin hubungan Jiang Fei menjadi pacar yang baik dan selalu mendahulukan kebahagiaanya
Kenangan memang indah di ingat, namun tak berniat untuk mengulang, karena, dalam beberapa persenan kebahagiaan sebagian besar hanyalah luka, dari itu biarkan kenagan menjadi hal lalu dan bangun masa depan lebih indah di masa sekarang dan masa depan
"Sukur jika adik yuan mengerti" Ucap Shen Yi lembut sembari melangkah menuju meja dapur untuk menyiapkan makanan
Yuan nian berjalan pelan menuju kamar jiang fei, Shen yi sudah menujukan niat baiknya, tentu saja mereka tak bisa menolak niat baik itu
"Fei Fei buka pintu, aku ingin menemui mu" Ucap yuan nian mengetuk pintu kamar Jiang Fei dengan brutal
"Yuan nian bodoh, bisakah kau bersikap lebih lembut pada pintu ini, kau membuat kepala ku pusing karena gedoran maut mu itu"
"Jika tidak seperti itu kau tak akan mau keluar, Fei Fei, aku tak menyangka jika kau dan kakak ipar?”
Yuan nian tersenyum penuh arti dan itu membuat Jiang Fei menjadi sangat jengkel
"Aku tidak"
"Aku tidak lapar" Jiang Fei berucap dengan singkat
"Kriuk kriuk" Itu suara perut jiang fei, Wajahnya seketika memerah menahan malu, bagai mana bisa ia ketahuan sedang lapar oleh mahluk menyebalkan ini,
"dasar perut sialan" batinnya dengan anda kesal, bagai mana bisa perut sialan ini berbunyi tampa pemberi tahuan seperti ini, membuat malu saja
"Wah Sepertinya perut mu lebih jujur fei fei" Yuan nian pelan menatap jiang cheng dengan tatapan jahil
"Sialan" Batin jiang fei mengutuk kebodohannya, Yuan nian hanya tersenyum dan menarik tangan saudaranya menuju meja tempat shen yi menunggu
"Duduk lah, dan isi perutmu yang kosong itu, aku akan ke kamar dulu, pastinya Zhan ku sudah menunggu ku di sana, kau juga memiliki orang lain untuk menemani mu" Yuan nian tersenyum jahil kearah jiang fei, Ia mendengus pelan dan duduk di hadapan Shen Yi yang tersenyum sejak tadi
"Bisakah kau berhenti menatap ku seperti itu" Jiang fei menyantap makanannya, dengan lahap, perutnya sudah begitu lapar dan bahkan langsung di hadapi dengan berbagai menu kesukaan
__ADS_1
Ia memang tak suka dengan keberadaan Shen Yi tapi perutnya sangat menyukai makanan yang di belikan Shen Yi dan ia sepertinya tak bisa menolak keinginan para cacing yang sejak tadi demo minta makan
"Tidak bisa" Ucap Shen Yi
"Dasar sialan" gerutu jiang fei namun Shen Yi bahkan tak merasa terusik,
Ia menyukai semua umpatan itu, ia menyukai segalahal yang berkaitan dengan sang pujaan hatinya, di sela tatap menatap tiba tiba ponsel Shen Yi berdering,
"Hallo" Ucap Shen Yi....
"Baik lah, aku akan kesana, tahan mereka untuk beberapa saat lagi" Ucap Shen Yi, memutuskan sambungan telpon
"Fei fei aku ada beberapa urusan sampai jumpa besok " Ucap Shen Yi tersenyum lembut ke arah jiang fei, yang di mendapatkan senyuman menggelikan dari Shen yi hanya memutar bola matanya malas, mahluk ini, mengapa bersikap begitu menjijikan, membuatnya takut saja
Cup
Tak menyia-nyiakan kesempatan Shen Yi mengecup sekilas bibir manis jiang cheng dan berlalu meninggalkan jiang fei yang masih diam di tempatnya,
"Sialan kau bajingan" jiang fei setelah tersadar dari keterkejutan ya, ia mendengus kesal sembari mengelus perut ratanya,
jiang fei menaikan bahunya tak perduli toh bukan urusannya bukan?, dari itu ia lebih memilih untuk melanjutkan acara makan tampa terganggu dengan tatapan dari Shen Yi yang menyebalkan itu
Setelah selesai dengan acara makannya jiang fei kembali ke kamar untuk segera beristirahat,
Ia akan menjalani banyak aktivitas besok tentunya ia memerlukan istirahat yang cukup agar tubuhnya tak mudah tumbang,
"Sialan dua mahluk tak tau malu itu" Ucap jiang fei kesal mendengar suara suara aneh yang berasal dari kamar sebelah,
Tentunya milik saudaranya yang sedang sibuk dengan pergulatan panasnya dengan sang kekasih
"Lagi lagi telinga suci ku ternodai, oh Tuhan jauhkan aku dari hal terkutuk ini" Batin Jiang fei mengacak rambutnya kesal,
__ADS_1
Bagai mana bisa Yuan Nian begitu bertenaga bersama kekasihnya, huh sungguh tak terbayangkan, dengan kesal Jiang fei memejamkan matanya dan berharap agar tak mendengarkan suara laknat itu lagi.