Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 72 - "Permainan Seruling Jin Xia"


__ADS_3

“Kamu


di tepi saja. Aku saja yang turun ke sungai” Xiao Bai mengingatkan Jin Xia,


“Tenang saja”


Mereka


berdua menuju sungai yang berada di sebelah pondok. Airnya sangat jernih hingga


memungkinkan ikan tampak dari permukaan. Meskipun demikian, bukan hal mudah


untuk menangkap mereka.


“Apa


kamu akan ke sungai dengan tangan kosong?” Jin Xia mengingatkan. Dia melihat alat


pancing sederhana yang tersandar di sebelah pagar luar pondok itu. Alat pancing


itu terdiri dari bamboo runcing dengan wadah yang terbuat dari anyaman bamboo. “Itu”


Jin Xia menunjukan tempat alat pancing itu kepada Jin Xia dengan isyarat gerakan


wajahnya.


“Ah


benar” Xiao Bai meringis malu karenanya. Dia kemudian mengambilnya dan


membawanya menuju sungai.


Biasanya


ketika Jin Xia bersama Xia Yue ataupun Yue Qi, mereka memancing dengan


menggunakan pedangnya bukan menggunakan bamboo runcing seperti yang dilakukan


tabib dan Xiao Bai. Hal itu mungkin karena perbedaan kebiasaan dan latar


belakang.


“Ah


ya, tentang Xiao An yang kamu ceritakan sebelumnya” Jin Xia teringat dengan


janjinya yang sebelumnya ketika masih di hutan. Meskipun dia belum mengatakan


untuk berjanji namun keadaan tellah membawanya berada di desa itu. Terlebih,


Xiao Bai juga telah menolong dan merawatnya. Bukan hal yang pantas jika


mengabaikan permintaannya saat itu begitu saja.


“Untuk


sementara, kamu fokus sembuh dahulu. Baru bahas hal itu lagi” Xiao Bai menolak.


“Tidak


masalah. Luka ini bukan masalah.” Jin Xia mengerti.


“Kalau


begitu, tunggu lukanya sembuh. Baru aku akan meminta tolong padamu lagi” Xiao


Bai mempercepat langkahnya menuju sungai. Menghindari pertanyaan Jin Xia.


“Dasar”


Ketika


Xiao Bai menuruni sungai, Jin Xia mengambil langkah lain. Dia menuju bamboo yang


tumbuh di pinggiran sungai tidak jauh dari tempat Xiao Bai turun. Ketika menuju


kesana dia teringat kalau wadah yang sebelumnya di bawa Xiao Bai terdapat


sebuah pisau kecil. Jin Xia mempercepat langkahnya menuju pohon bamboo itu. Dia


melihat dan memperhatikan dengan cermat. Dia kemudian meraih salah satu bamboo muda


dan mematahkannya. Mengambil sepanjang 30 cm kemudian membawanya menuju Xiao


Bai menaruh wadahnya.


Jin

__ADS_1


Xia memainkannya dengan jemarinya, memutar-mutarnya di kelima jarinya berulang


selama menuju Xiao Bai yang tengah sibuk mencari ikan dengan bamboo runcing di


tangannya. meskipun pakaiannya hampir basah sepenuhnya, Xiao Bai begitu


bersemangat dan tidak memperdulikannya.


“Apa


yang kamu bawa” tanya Xiao Bai dari dalam sungai.


“Ah


ini, aku akan membuat sesuatu dengannya” kata Jin Xia sembari mencari sebilah


pisau yang sebelumnya ada di dalam wadah. “Ini” katanya ketika menemukan pisau


itu. Dia kemudian membawanya beserta bamboo yang diambilnya menuju sebongkah


batu besar yang ada di dekatnya dan duduk disana dengan nyaman. Di sana, dia


merapikan bamboo itu untuk dijadikannya sebuah seruling.


Xiao


Bai memperhatikan Jin Xia sembari terus mencari ikan. Dia melihatnya tengah


sibuk di atas batu besar.


Setelah


beberapa saat, seruling pun jadi. Jin Xia mencoba nada yang dikeluarkan. Meskipun


nadanya tidak sehalus seruling buatan perajin, seruling buatannya masih bisa


disebut layak. Jin Xia tampak senang dengan hasil buatan tangannya itu kemudian


memainkannya. Meskipun kemampuannya bermain musik berada di bawah Xia Yue dan


Yue Qi, dia masih tetap ingin memainkannya dan tidak mau menerima kritikan.


Bagi


Xiao Bai yang awam dan tidak mengerti nada, permainan Jin Xia termasuk lumayan.


Sementara


bagi Xiao An dan tabib, permainan seruling Jin Xia hanya berlalu begitu saja


tanpa mampu memasuki telinganya.


Sementara


itu di perjalanan, Xia Yue mendengar sebuah permainan seruling yang tidak asing


di telinganya. Dia tersenyum geli.


“Seruling?”


kata anak pemilik kios.


“Benar”


kata pemilik kios.


“Sudah


hampir sampai” kata Xia Yue mengalihkan perhatian mereka yang sempat tertuju


pada permainan seruling yang terasa kasar baginya.


“Tabib


itu” pemilik kios mengenal tempat yang tengah ditujukan Xia Yue padanya namun


dia tidak mengatakannya.  Tabib itu


memang cukup terkenal di desa itu dengan kemampuan dan kebaikannya. Namun karena


usianya yang sudah hampir memasuki usia senja, tabib itu memutuskan mengakhiri


karirnya sebagai tabib namun tidak serta merta melupakan dirinya seorang tabib.


Dia akan tetap merawat pasien yang datang namun dia tidak akan mencari pasien


untuk mengais uang.

__ADS_1


Sementara


itu Xiao An hanya duduk dan melamun seorang diri di dalam pondok. Sementara tabib


tengah memberi makan ternaknya sembari duduk di tangga pondoknya yang terbuat


dari kayu.


Dari


tempatnya, tabib itu melihat sosok pemuda yang tidak asing dari kejauhan


kemudian berkata “Sepertinya Tuan Muda membawa tamu” . Xiao An yang mendengar


kata-kata tabib itu di tengah rasa bosannya bergegas keluar untuk memastikan


kalau tabib itu tidak bercanda “Dimana” matanya menelusuri ke segala arah


hingga akhirnya matanya tertuju ke arah dimana Xia Yue berada.


Xiao


An begitu antusias hingga melompat dari tempatnya kemudian berlari menuju Xia


Yue “Mengejar seseorang terasa begitu menarik” kata Xiao An disepanjang


langkahnya dengan mata penuh kepercayaan diri. Percaya kalau dia akan mampu


menarik perhatian Xia Yue. Percaya kalau Xia Yue akan melihatnya bahkan


terpikat olehnya.


“Nona


Xiao” sapa Xia Yue ketika melihat Xiao An yang tengah berada di hadapannya.


“Tuan”


sapa Xiao An ketika sampai di hadapan Xia Yue beserta pemilik kios dan anaknya.


“Nona


ini cantik sekali” komentar anak pemilik kios pada ibunya. Ibunya lalu


menyenggolnya sebagai isyarat padanya agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak


seharusnya. Anak itu mengerti dan patuh. Dia pun menundukan pandangannya untuk


merenungi perbuatannya dan untuk tidak mengulanginya.


“Apakah


tabib di pondok?” tanya Xia Yue pada Xiao An agar suasana tidak kaku apalagi


canggung. Jika biasanya dia akan diam, namun kali ini dia tidak mungkin


melakukannya.


“Tabib


ada. Dia tengah memberi makan ternaknya di halaman pondok” kata Xiao An.


“Baiklah”


kata Xia Yue kemudian beralih ke anak pemilik kios dengan menundukan


pandangannya “Ayo” Xia Yue menunjukan kelembutannya di depan seorang anak


perempuan yang baru saja di temuinya. Hal itu secara tidak langsung membuat


Xiao An melihat sisi lembutnya, hal yang jarang ditunjukan Xia Yue pada


kebiasaannya. Xia Yue mengulurkan tangannya pada anak perempuan itu. Dengan


patuhnya, anak itu meraih tangan Xia Yue kemudian menggenggam jarinya dengan tangan


mungilnya. “Emm” sahut anak itu sembari menganggukan kepalanya.


”Ternyata


Tuan Muda begitu lembut” Xiao An semakin terkagum dan terpesona.


Xia


Yue berjalan melalui Xiao An yang ada di depannya bersama dengan anak perempuan


pemilik kios dan melihat Jin Xia tengah duduk di atas batu sembari memainkan

__ADS_1


serulingnya dari kejauhan.


__ADS_2