
“Kamu
di tepi saja. Aku saja yang turun ke sungai” Xiao Bai mengingatkan Jin Xia,
“Tenang saja”
Mereka
berdua menuju sungai yang berada di sebelah pondok. Airnya sangat jernih hingga
memungkinkan ikan tampak dari permukaan. Meskipun demikian, bukan hal mudah
untuk menangkap mereka.
“Apa
kamu akan ke sungai dengan tangan kosong?” Jin Xia mengingatkan. Dia melihat alat
pancing sederhana yang tersandar di sebelah pagar luar pondok itu. Alat pancing
itu terdiri dari bamboo runcing dengan wadah yang terbuat dari anyaman bamboo. “Itu”
Jin Xia menunjukan tempat alat pancing itu kepada Jin Xia dengan isyarat gerakan
wajahnya.
“Ah
benar” Xiao Bai meringis malu karenanya. Dia kemudian mengambilnya dan
membawanya menuju sungai.
Biasanya
ketika Jin Xia bersama Xia Yue ataupun Yue Qi, mereka memancing dengan
menggunakan pedangnya bukan menggunakan bamboo runcing seperti yang dilakukan
tabib dan Xiao Bai. Hal itu mungkin karena perbedaan kebiasaan dan latar
belakang.
“Ah
ya, tentang Xiao An yang kamu ceritakan sebelumnya” Jin Xia teringat dengan
janjinya yang sebelumnya ketika masih di hutan. Meskipun dia belum mengatakan
untuk berjanji namun keadaan tellah membawanya berada di desa itu. Terlebih,
Xiao Bai juga telah menolong dan merawatnya. Bukan hal yang pantas jika
mengabaikan permintaannya saat itu begitu saja.
“Untuk
sementara, kamu fokus sembuh dahulu. Baru bahas hal itu lagi” Xiao Bai menolak.
“Tidak
masalah. Luka ini bukan masalah.” Jin Xia mengerti.
“Kalau
begitu, tunggu lukanya sembuh. Baru aku akan meminta tolong padamu lagi” Xiao
Bai mempercepat langkahnya menuju sungai. Menghindari pertanyaan Jin Xia.
“Dasar”
Ketika
Xiao Bai menuruni sungai, Jin Xia mengambil langkah lain. Dia menuju bamboo yang
tumbuh di pinggiran sungai tidak jauh dari tempat Xiao Bai turun. Ketika menuju
kesana dia teringat kalau wadah yang sebelumnya di bawa Xiao Bai terdapat
sebuah pisau kecil. Jin Xia mempercepat langkahnya menuju pohon bamboo itu. Dia
melihat dan memperhatikan dengan cermat. Dia kemudian meraih salah satu bamboo muda
dan mematahkannya. Mengambil sepanjang 30 cm kemudian membawanya menuju Xiao
Bai menaruh wadahnya.
Jin
__ADS_1
Xia memainkannya dengan jemarinya, memutar-mutarnya di kelima jarinya berulang
selama menuju Xiao Bai yang tengah sibuk mencari ikan dengan bamboo runcing di
tangannya. meskipun pakaiannya hampir basah sepenuhnya, Xiao Bai begitu
bersemangat dan tidak memperdulikannya.
“Apa
yang kamu bawa” tanya Xiao Bai dari dalam sungai.
“Ah
ini, aku akan membuat sesuatu dengannya” kata Jin Xia sembari mencari sebilah
pisau yang sebelumnya ada di dalam wadah. “Ini” katanya ketika menemukan pisau
itu. Dia kemudian membawanya beserta bamboo yang diambilnya menuju sebongkah
batu besar yang ada di dekatnya dan duduk disana dengan nyaman. Di sana, dia
merapikan bamboo itu untuk dijadikannya sebuah seruling.
Xiao
Bai memperhatikan Jin Xia sembari terus mencari ikan. Dia melihatnya tengah
sibuk di atas batu besar.
Setelah
beberapa saat, seruling pun jadi. Jin Xia mencoba nada yang dikeluarkan. Meskipun
nadanya tidak sehalus seruling buatan perajin, seruling buatannya masih bisa
disebut layak. Jin Xia tampak senang dengan hasil buatan tangannya itu kemudian
memainkannya. Meskipun kemampuannya bermain musik berada di bawah Xia Yue dan
Yue Qi, dia masih tetap ingin memainkannya dan tidak mau menerima kritikan.
Bagi
Xiao Bai yang awam dan tidak mengerti nada, permainan Jin Xia termasuk lumayan.
Sementara
bagi Xiao An dan tabib, permainan seruling Jin Xia hanya berlalu begitu saja
tanpa mampu memasuki telinganya.
Sementara
itu di perjalanan, Xia Yue mendengar sebuah permainan seruling yang tidak asing
di telinganya. Dia tersenyum geli.
“Seruling?”
kata anak pemilik kios.
“Benar”
kata pemilik kios.
“Sudah
hampir sampai” kata Xia Yue mengalihkan perhatian mereka yang sempat tertuju
pada permainan seruling yang terasa kasar baginya.
“Tabib
itu” pemilik kios mengenal tempat yang tengah ditujukan Xia Yue padanya namun
dia tidak mengatakannya. Tabib itu
memang cukup terkenal di desa itu dengan kemampuan dan kebaikannya. Namun karena
usianya yang sudah hampir memasuki usia senja, tabib itu memutuskan mengakhiri
karirnya sebagai tabib namun tidak serta merta melupakan dirinya seorang tabib.
Dia akan tetap merawat pasien yang datang namun dia tidak akan mencari pasien
untuk mengais uang.
__ADS_1
Sementara
itu Xiao An hanya duduk dan melamun seorang diri di dalam pondok. Sementara tabib
tengah memberi makan ternaknya sembari duduk di tangga pondoknya yang terbuat
dari kayu.
Dari
tempatnya, tabib itu melihat sosok pemuda yang tidak asing dari kejauhan
kemudian berkata “Sepertinya Tuan Muda membawa tamu” . Xiao An yang mendengar
kata-kata tabib itu di tengah rasa bosannya bergegas keluar untuk memastikan
kalau tabib itu tidak bercanda “Dimana” matanya menelusuri ke segala arah
hingga akhirnya matanya tertuju ke arah dimana Xia Yue berada.
Xiao
An begitu antusias hingga melompat dari tempatnya kemudian berlari menuju Xia
Yue “Mengejar seseorang terasa begitu menarik” kata Xiao An disepanjang
langkahnya dengan mata penuh kepercayaan diri. Percaya kalau dia akan mampu
menarik perhatian Xia Yue. Percaya kalau Xia Yue akan melihatnya bahkan
terpikat olehnya.
“Nona
Xiao” sapa Xia Yue ketika melihat Xiao An yang tengah berada di hadapannya.
“Tuan”
sapa Xiao An ketika sampai di hadapan Xia Yue beserta pemilik kios dan anaknya.
“Nona
ini cantik sekali” komentar anak pemilik kios pada ibunya. Ibunya lalu
menyenggolnya sebagai isyarat padanya agar tidak mengatakan sesuatu yang tidak
seharusnya. Anak itu mengerti dan patuh. Dia pun menundukan pandangannya untuk
merenungi perbuatannya dan untuk tidak mengulanginya.
“Apakah
tabib di pondok?” tanya Xia Yue pada Xiao An agar suasana tidak kaku apalagi
canggung. Jika biasanya dia akan diam, namun kali ini dia tidak mungkin
melakukannya.
“Tabib
ada. Dia tengah memberi makan ternaknya di halaman pondok” kata Xiao An.
“Baiklah”
kata Xia Yue kemudian beralih ke anak pemilik kios dengan menundukan
pandangannya “Ayo” Xia Yue menunjukan kelembutannya di depan seorang anak
perempuan yang baru saja di temuinya. Hal itu secara tidak langsung membuat
Xiao An melihat sisi lembutnya, hal yang jarang ditunjukan Xia Yue pada
kebiasaannya. Xia Yue mengulurkan tangannya pada anak perempuan itu. Dengan
patuhnya, anak itu meraih tangan Xia Yue kemudian menggenggam jarinya dengan tangan
mungilnya. “Emm” sahut anak itu sembari menganggukan kepalanya.
”Ternyata
Tuan Muda begitu lembut” Xiao An semakin terkagum dan terpesona.
Xia
Yue berjalan melalui Xiao An yang ada di depannya bersama dengan anak perempuan
pemilik kios dan melihat Jin Xia tengah duduk di atas batu sembari memainkan
__ADS_1
serulingnya dari kejauhan.