Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 75 - "Tugas Seorang Tabib"


__ADS_3

“Tabib!!!!”


pemuda yang sebelumnya membawa gerobak sayur akhirnya tiba di pondok tabib. Dia


berteriak sejadinya bahkan ketika jaraknya masih cukup jauh.


“Siapa


yang berteriak?” kata Jin Xia mendengar suara teriakan yang samar-samar dari


luar pondok. Saat itu, semuanya tengah duduk di ruang tamu pondok bersama


dengan tabib yang tengah bercengkrama dengan anak pemilik kios, sementara Xiao


bersaudara tengah memasak ikan di dapur untuk makan malam nantinya. “Akan ku


periksa” diapun berdiri kemudian keluar dari pondok untuk memastikan apakah dia


salah mendengar.


Ketika


matanya keluar dari pondok, matanya langsung menangkap seseorang yang tengah


menuju pondok dengan sebuah gerobak sayur. Jin Xia bertanya-tanya tentang orang


itu ‘siapakah dia dan apa maunya dengan gerobak yang dibawanya’


“Siapa?”


tanya tabib kepada Jin Xia tanpa meninggalkan tempat duduknya.


“Entahlah.


Pemuda dengan gerobak sayur” kata Jin Xia. Awalnya dia tampak mengabaikannya,


namun ketika jaraknya semakin dekat, matanya semakin jelas menangkap kalau di


dalam gerobak sayur yang dibawanya itu terdapat seseorang yang terluka. “Ne…”


dia tampak tercengang.


“Kenapa


Nona?” tanya tabib lagi.


“Di


dalam gerobak sayurnya ada seseorang yang terluka” jawab Jin Xia menjelaskan


apa yang dilihatnya dengan ekspresi yang biasa.


“Benarkah?”


tabib itu memastikan.


“Iya”


jawab Jin Xia singkat.


Setelah


mendengar jawaban pasti dari Jin Xia, tabib itu langsung berdiri untuk menyambut


kedatangan tamu tak diundangnya. Dengan langkah sedikit tertatih karena usianya


yang sudah tidak muda lagi, dia berjalan keluar dari pondok melalui pintu kayu


menuju pintu pagar di luar pondok.


Xia


Yue tetap diam di tempatnya dengan tenang dan elegan. Sementara Jin Xia


mengikuti tabib keluar dari pondok.


“Tabib,”


kata pemuda itu dengan tergesa.


“Katakan


dengan tenang” kata Jin Xia mencoba mengkondisikan suasana pemuda itu. ketika


dia tenang, dia akan bisa menceritakan secara jelas mengenai korban kepada tabib


untuk membantu tabib memutuskan pengobatan seperti apa yang akan diberikannya


kepada korban. “tarik nafas perlahan, kemudian ceritakan”

__ADS_1


Pemuda


itu mengikuti apa yang dikatakan Jin Xia dengan patuh. Dia menarik nafasnya


dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Baru setelah dia merasa sedikit


tenang, dia bercerita kalau laki-laki yang dibawanya di dalam gerobak adalah


korban dengan luka tusukan dan tebasan dari mata pedang. Dia juga menjelaskan kalau


korban adalah seorang pemalak sehingga seorang pemuda pahlawan bertarung


dengannya hingga membuatnya hampir tewas.


Tabib


itu mengangguk paham. Dia tidak bertanya perihal kenapa pemuda itu dengan susah


payah ingin menyelamatkannya padahal laki-laki yang akan diselamatkannya adalah


orang yang membuatnya menderita dan mungkin akan membuatnya menderita lagi.


Jin


Xia mencerna dengan hati-hati penjelasan pemuda itu. Dia menebak kalau pemuda


pahlawan yang dimaksudnya adalah Xia Yue mengingat ada bekas darah di wajah dan


pakaiannya yang menunjukan kalau dia habis bertarung.


“Bawa


dia masuk ke dalam” kata tabib dengan tenangnya. Jin Xia terheran, kenapa tabib


masih mau mengobatinya bahkan setelah mendengar cerita dari pemuda itu. Dia


juga heran dengan pemuda yang ingin menyelamatkan orang yang telah


menyakitinya.


“Kenapa


kalian menolongnya. Aku tidak bisa mengerti” kata Jin Xia dengan tatapan kosong


sembari berdiri mematung melihat pemuda itu dan tabib berusaha membawa korban


masuk ke dalam pondok.


hanya seorang tabib. Tugasku hanya mengobati seseorang yang meminta


pengobatanku. Aku bukan hakim yang pantas menentukan dia bersalah atau tidak.


Sama dengan halnya dirimu. Entah kamu baik atau buruk, mata pedang tidak


melihat keduanya.” Kata tabib kemudian melanjutkan langkahnya membantu pemuda


itu memapah korban. Sementara pemuda itu tidak menjawab karena dia tidak


memiliki alasan pasti kenapa dia menolongnya. Dia hanya ingin melakukannya


tanpa memiliki alasan jelas.


“Ada


apa dengan mereka” Jin Xia menggerutu sembari berjalan masuk menuju pondok.


Ketika


tabib dan pemuda itu memapah korban itu masuk ke dalam pondok, Xia Yue


terbelalak meskipun samar. Dia mengingat wajah laki-laki yang sebelumnya


bertarung dengannya di desa.


Korban


itu menatap Xia Yue letih karena dia tidak lagi memiliki tenaga untuk


memikirkan hal lain selain bertahan hidup dari semua luka yang di terimanya.


Sementara Xia Yue menatapnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya. Dia


tidak akan berkata ‘untuk apa kamu menyelamatkannya’ tidak! Keperluannya di


pondok itu hanya karena Jin Xia memerlukan pengobatan dari tabib. Terkait


dengan siapa yang di obati dan apa yang dilakukan tabib itu, hal itu bukan lagi


urusannya. Dia tidak akan ikut campur.

__ADS_1


Pemilik


kios memeluk erat putrinya. Dia khawatir dan takut karena laki-laki yang


berasal dari kelompok pemalak berada di tempat itu. meskipun saat itu


keadaannya berada di ambang kematian, namun dalam benak para warga sudah


tertanam rasa takut yang dalam kepada mereka. “Tidak apa-apa. Ada Tuan Muda dan


yang lainnya” katanya sembari mengelus dan mencium rambut putrinya untuk


menenangkan putrinya.


“Tuan


Muda, apakah kamu bertarung dengannya?” Jin Xia mendekati Xia Yue kemudian


bertanya sembari berjongkok di lantai dengan posisi Xia Yue yang duduk di


kursi.


“Hm..”


“Oh~”


meskipun hanya sebuah jawaban singkat, Jin Xia mengerti dan dia tidak akan


bertanya lebih selain pertanyaan itu apalagi bertanya ‘kenapa bertarung


dengannya’ tidak! Dia tidak akan melakukannya. Bukan karena tidak mau, tapi


karena percuma. “Apa perlu aku membunuhnya sekalian” tawar Jin Xia dengan berbisik


karena dia sungkan untuk berbicara soal bunuh membunuh di depan tabib dan juga


anak kecil.


“Tidak


perlu.” Tolak Xia Yue. Jin Xia pun mengangguk paham tanpa bertanya ‘kenapa’.


Karena apa yang dikatakan Xia Yue adalah perintah untuknya. “Bagaimana dengan


lukamu?”


“Ah


ini, sudah membaik.” Jin Xia berkata dengan ringannya. Karena baginya luka itu


bukanlah apa-apa mengingat selama ini dia sudah sering terluka karena senjata.


Memang benar, mata pedang tidak melihat. Dia hanya akan terus melaju lurus.


Entah yang di laluinya terbunuh atau terluka, baik atau buruk, laki-laki atau


perempuan, tua ataupun anak-anak.


“Kalau


begitu segera selesaikan urusanmu” Xia Yue mengarah kepada keperluan Jin Xia


dengan Xiao bersaudara. “Tentu Yang Mulia” Jin Xia mengatakannya sembari


memberikan hormat patuh kepada Xia Yue. Hal ini membuat Xia Yue enggan sehingga


dia membuang mukanya dari hadapan Jin Xia. Jin Xia pun memanyunkan bibirnya


sembari mengerutkan dahinya sebentar kemudian kembali berkata “aku kebelakang


dulu membantu di belakang” ijinnya kepada Xia Yue. Dia pun kemudian berdiri dan


berjalan menuju belakang meninggalkan tabib dan Xia Yue bersama pasien dan


walinya masing-masing.


“Tidurlah


dengan santai agar tubuhmu tidak tegang” kata tabib pada laki-laki yang terluka


setelah menidurkannya di atas ranjang dengan pantas “kamu, tolong ambilkan


seember air. Airnya kamu ambil saja dari sungai di belakang. Aku akan


membersihkan lukanya terlebih dahulu” jelas tabib.


Sesuai


dengan intruksi tabib, pemuda itu bergegas melakukannya. Dia meraih ember yang

__ADS_1


terlihat oleh matanya kemudian berlari keluar pondok untuk menuju sungai.


__ADS_2