
“Tabib!!!!”
pemuda yang sebelumnya membawa gerobak sayur akhirnya tiba di pondok tabib. Dia
berteriak sejadinya bahkan ketika jaraknya masih cukup jauh.
“Siapa
yang berteriak?” kata Jin Xia mendengar suara teriakan yang samar-samar dari
luar pondok. Saat itu, semuanya tengah duduk di ruang tamu pondok bersama
dengan tabib yang tengah bercengkrama dengan anak pemilik kios, sementara Xiao
bersaudara tengah memasak ikan di dapur untuk makan malam nantinya. “Akan ku
periksa” diapun berdiri kemudian keluar dari pondok untuk memastikan apakah dia
salah mendengar.
Ketika
matanya keluar dari pondok, matanya langsung menangkap seseorang yang tengah
menuju pondok dengan sebuah gerobak sayur. Jin Xia bertanya-tanya tentang orang
itu ‘siapakah dia dan apa maunya dengan gerobak yang dibawanya’
“Siapa?”
tanya tabib kepada Jin Xia tanpa meninggalkan tempat duduknya.
“Entahlah.
Pemuda dengan gerobak sayur” kata Jin Xia. Awalnya dia tampak mengabaikannya,
namun ketika jaraknya semakin dekat, matanya semakin jelas menangkap kalau di
dalam gerobak sayur yang dibawanya itu terdapat seseorang yang terluka. “Ne…”
dia tampak tercengang.
“Kenapa
Nona?” tanya tabib lagi.
“Di
dalam gerobak sayurnya ada seseorang yang terluka” jawab Jin Xia menjelaskan
apa yang dilihatnya dengan ekspresi yang biasa.
“Benarkah?”
tabib itu memastikan.
“Iya”
jawab Jin Xia singkat.
Setelah
mendengar jawaban pasti dari Jin Xia, tabib itu langsung berdiri untuk menyambut
kedatangan tamu tak diundangnya. Dengan langkah sedikit tertatih karena usianya
yang sudah tidak muda lagi, dia berjalan keluar dari pondok melalui pintu kayu
menuju pintu pagar di luar pondok.
Xia
Yue tetap diam di tempatnya dengan tenang dan elegan. Sementara Jin Xia
mengikuti tabib keluar dari pondok.
“Tabib,”
kata pemuda itu dengan tergesa.
“Katakan
dengan tenang” kata Jin Xia mencoba mengkondisikan suasana pemuda itu. ketika
dia tenang, dia akan bisa menceritakan secara jelas mengenai korban kepada tabib
untuk membantu tabib memutuskan pengobatan seperti apa yang akan diberikannya
kepada korban. “tarik nafas perlahan, kemudian ceritakan”
__ADS_1
Pemuda
itu mengikuti apa yang dikatakan Jin Xia dengan patuh. Dia menarik nafasnya
dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan. Baru setelah dia merasa sedikit
tenang, dia bercerita kalau laki-laki yang dibawanya di dalam gerobak adalah
korban dengan luka tusukan dan tebasan dari mata pedang. Dia juga menjelaskan kalau
korban adalah seorang pemalak sehingga seorang pemuda pahlawan bertarung
dengannya hingga membuatnya hampir tewas.
Tabib
itu mengangguk paham. Dia tidak bertanya perihal kenapa pemuda itu dengan susah
payah ingin menyelamatkannya padahal laki-laki yang akan diselamatkannya adalah
orang yang membuatnya menderita dan mungkin akan membuatnya menderita lagi.
Jin
Xia mencerna dengan hati-hati penjelasan pemuda itu. Dia menebak kalau pemuda
pahlawan yang dimaksudnya adalah Xia Yue mengingat ada bekas darah di wajah dan
pakaiannya yang menunjukan kalau dia habis bertarung.
“Bawa
dia masuk ke dalam” kata tabib dengan tenangnya. Jin Xia terheran, kenapa tabib
masih mau mengobatinya bahkan setelah mendengar cerita dari pemuda itu. Dia
juga heran dengan pemuda yang ingin menyelamatkan orang yang telah
menyakitinya.
“Kenapa
kalian menolongnya. Aku tidak bisa mengerti” kata Jin Xia dengan tatapan kosong
sembari berdiri mematung melihat pemuda itu dan tabib berusaha membawa korban
masuk ke dalam pondok.
hanya seorang tabib. Tugasku hanya mengobati seseorang yang meminta
pengobatanku. Aku bukan hakim yang pantas menentukan dia bersalah atau tidak.
Sama dengan halnya dirimu. Entah kamu baik atau buruk, mata pedang tidak
melihat keduanya.” Kata tabib kemudian melanjutkan langkahnya membantu pemuda
itu memapah korban. Sementara pemuda itu tidak menjawab karena dia tidak
memiliki alasan pasti kenapa dia menolongnya. Dia hanya ingin melakukannya
tanpa memiliki alasan jelas.
“Ada
apa dengan mereka” Jin Xia menggerutu sembari berjalan masuk menuju pondok.
Ketika
tabib dan pemuda itu memapah korban itu masuk ke dalam pondok, Xia Yue
terbelalak meskipun samar. Dia mengingat wajah laki-laki yang sebelumnya
bertarung dengannya di desa.
Korban
itu menatap Xia Yue letih karena dia tidak lagi memiliki tenaga untuk
memikirkan hal lain selain bertahan hidup dari semua luka yang di terimanya.
Sementara Xia Yue menatapnya sebentar kemudian mengalihkan pandangannya. Dia
tidak akan berkata ‘untuk apa kamu menyelamatkannya’ tidak! Keperluannya di
pondok itu hanya karena Jin Xia memerlukan pengobatan dari tabib. Terkait
dengan siapa yang di obati dan apa yang dilakukan tabib itu, hal itu bukan lagi
urusannya. Dia tidak akan ikut campur.
__ADS_1
Pemilik
kios memeluk erat putrinya. Dia khawatir dan takut karena laki-laki yang
berasal dari kelompok pemalak berada di tempat itu. meskipun saat itu
keadaannya berada di ambang kematian, namun dalam benak para warga sudah
tertanam rasa takut yang dalam kepada mereka. “Tidak apa-apa. Ada Tuan Muda dan
yang lainnya” katanya sembari mengelus dan mencium rambut putrinya untuk
menenangkan putrinya.
“Tuan
Muda, apakah kamu bertarung dengannya?” Jin Xia mendekati Xia Yue kemudian
bertanya sembari berjongkok di lantai dengan posisi Xia Yue yang duduk di
kursi.
“Hm..”
“Oh~”
meskipun hanya sebuah jawaban singkat, Jin Xia mengerti dan dia tidak akan
bertanya lebih selain pertanyaan itu apalagi bertanya ‘kenapa bertarung
dengannya’ tidak! Dia tidak akan melakukannya. Bukan karena tidak mau, tapi
karena percuma. “Apa perlu aku membunuhnya sekalian” tawar Jin Xia dengan berbisik
karena dia sungkan untuk berbicara soal bunuh membunuh di depan tabib dan juga
anak kecil.
“Tidak
perlu.” Tolak Xia Yue. Jin Xia pun mengangguk paham tanpa bertanya ‘kenapa’.
Karena apa yang dikatakan Xia Yue adalah perintah untuknya. “Bagaimana dengan
lukamu?”
“Ah
ini, sudah membaik.” Jin Xia berkata dengan ringannya. Karena baginya luka itu
bukanlah apa-apa mengingat selama ini dia sudah sering terluka karena senjata.
Memang benar, mata pedang tidak melihat. Dia hanya akan terus melaju lurus.
Entah yang di laluinya terbunuh atau terluka, baik atau buruk, laki-laki atau
perempuan, tua ataupun anak-anak.
“Kalau
begitu segera selesaikan urusanmu” Xia Yue mengarah kepada keperluan Jin Xia
dengan Xiao bersaudara. “Tentu Yang Mulia” Jin Xia mengatakannya sembari
memberikan hormat patuh kepada Xia Yue. Hal ini membuat Xia Yue enggan sehingga
dia membuang mukanya dari hadapan Jin Xia. Jin Xia pun memanyunkan bibirnya
sembari mengerutkan dahinya sebentar kemudian kembali berkata “aku kebelakang
dulu membantu di belakang” ijinnya kepada Xia Yue. Dia pun kemudian berdiri dan
berjalan menuju belakang meninggalkan tabib dan Xia Yue bersama pasien dan
walinya masing-masing.
“Tidurlah
dengan santai agar tubuhmu tidak tegang” kata tabib pada laki-laki yang terluka
setelah menidurkannya di atas ranjang dengan pantas “kamu, tolong ambilkan
seember air. Airnya kamu ambil saja dari sungai di belakang. Aku akan
membersihkan lukanya terlebih dahulu” jelas tabib.
Sesuai
dengan intruksi tabib, pemuda itu bergegas melakukannya. Dia meraih ember yang
__ADS_1
terlihat oleh matanya kemudian berlari keluar pondok untuk menuju sungai.