Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 82 - "Keinginan Xia Mei"


__ADS_3

“Yang Mulia” pelayan yang tidak


lagi muda menyapa Xia Mei yang baru saja datang dari luar.


“Dimana kakak?” tanya Xia Mei


terburu-buru. Pandangannya menelisik ke seisi Istana mencari keberadaan


kakaknya berada.


“Putra Mahkota sedang berada di


halaman tengah bersama dengan Tuan Muda Wen dari Donghua. Yang mulia bisa


langsung menuju kesana” pelayan itu berkata dengan lembut kemudian bergeser ke


samping untuk memberikan Xia Mei ruang berjalan sembari mempersilahkannya


dengan santun.


Melihat ruang yang telah di


berikan, Xia Mei pun segera menuju dimana saudaranya berada. Pelayannya pun


dengan setia mengikutinya. Pelayan yang menyapa Xia Mei pun turut mengikutinya


setelah pelayan pribadi Xia Mei.


Setelah beberapa saat berjalan,


akhirnya tempat yang dimaksud mulai terlihat. Di sana Xia Mei melihat


saudaranya tengah berbincang bersama Wen Yihuai seperti yang dikatakan oleh


pelayan Istana itu. Xia Mei pun mempercepat langkahnya.


Wen Yihuai melihat Xia Mei tengah


menuju ke tempat mereka sehingga dia berkata “Tuan Putri datang” untuk


memberitahu Xia Lan yang tengah duduk membelakangi arah kedatangan Xia Mei.


“Benarkah?” Xia Lan tidak


terlihat terkejut dengan kedatangan saudaranya itu. Dia meneguk minumannya


dengan tenang.


Wen Yihuai melihat ketenangan di


wajah Xia Lan. Dia pun kemudian beralih kembali kepada Xia Mei. Dia berdiri


kemudian memberikan hormat pada Xia Mei yang telah sampai di hadapannya.


Xia Mei membalas hormat Wen


Yihuai dan dengan segera beralih kepada Xia Lan. Dia bergegas menuju Xia Lan


sembari berkata “Kakak, jelaskan padaku”


“Duduklah. Tenanglah”


Xia Mei pun menuruti kata-kata


saudaranya dan langsung duduk di sebelah Xia Lan dengan tatapannya yang tidak


goyah.


“Kenapa kamu melihatku seperti


itu?” Xia Lan merasa tidak nyaman dengan tatapan penuh selidik yang di berikan


saudaranya padanya.


“Jelaskan padaku” ulang Xia Mei


dengan singkat.


“Penjelasan apa yang kamu


inginkan?” Xia Lan berbicara seolah tidak mengerti apa maksud dan tujuan Xia


Mei datang buru-buru menemuinya.


“Kakak sudah mengetahuinya” Xia


Mei enggan bicara. Dia tahu kalau kakaknya mengetahui sesuatu.

__ADS_1


“Jika kamu tidak bicara, apa yang


bisa kakak ketahui?”Xia Lan kekeh dengan dramanya.


“Tentang Nona Gu Xie.” Xia Mei


sedikit ragu ketika menyebut nama Gu Xie karena disana ada Wen Yihuai yang


menjadi tersangka dalam rumor yang beredar.


“Oh~ bukankah kamu sudah


mendengar rumornya” Xia Lan berkata dengan ringannya.


“Seperti yang telah Yang Mulia


dengar dari rumor Istana” Wen Yihuai menyerobot pembicaraan diantara kedua


saudara itu “Maafkan saya yang lancang memotong pembicaraan kalian” Wen Yihuai


masih berdiri di posisinya.


Xia Mei terkejut mendengar


perkataan Wen Yihuai yang cenderung mengakuinya dan bukan mengelaknya. “Jangan


bercanda dengan ku” Xia Mei beralih kepada Wen Yihuai. Tatapannya terlihat


sebuah kemarahan di dalamnya.


“Saya tidak berani Yang Mulia”


Wen Yihuai merendah sebagai sebuah tata krama.


Xia Lan cukup terkejut mendengar


adik perempuannya yang diketahui cukup penurut bisa berteriak seperti itu. “Xia


Mei apa yang kamu inginkan? Haruskah kakak menjawab sesuai dengan apa yang kamu


inginkan sehingga kamu tidak harus berteriak seperti itu?”


Mendengar kata-kata Xia Lan yang


terdengar seperti bermain-main dengannya, Xia Mei merasa kecewa kemudian


terlihat sebuah luka yang dalam. Xia Lan bisa melihat itu dengan sangat jelas.


“Seharusnya kamu tetap duduk


manis di kamarmu, bermain dengan riang di Istanamu, dan tetap menjadi kecil


juga manis” sesal Xia Lan dalam benaknya. Namun kata-kata Xia Mei benar, dia


bukan lagi anak kecil yang tidak mengetahui apapun dan bisa dibohongi dengan


begitu mudahnya.


Xia Mei masih menunggu sebuah


penjelasan. Ketika itu Wen Yihuai tidak hendak mengutarakan apapun. Beberapa


saat hening dengan Xia Mei yang kekeh. Hingga akhirnya Menteri membawa perintah


Kaisar untuk memanggil Xia Land an juga Wen Yihuai pun tiba di Istana Xia Lan.


“Kebetulan sekali semuanya berada


di sini” kata sang Menteri yang tiba-tiba mengejutkan Xia Lan dan yang lainnya.


“Menteri?” gumam Xia Mei. Dia


bertanya-tanya kenapa bisa Menteri datang kesana, apakah Kaisar sudah


mengetahui tentang rumor yang beredar? Tentu saja, Kaisar pasti mengetahui


rumor sebesar dan sepelik itu.


Sementara itu Xia Lan dan juga


Wen Yihuai tidak tampak terkejut sama sekali. Mereka sudah mempersiapkan diri


mereka, karena ini adalah bagian dari rencana mereka.


“Sepertinya kalian tidak terkejut


dengan kedatanganku ke tempat ini” sang Menteri berkata dengan senyum sesal.

__ADS_1


Padahal di sepanjang perjalanannya ke Istana ini, dia berharap besar kalau


bukan mereka lah yang merencanakannya. Bukan berarti Menteri itu berpihak pada


mereka, hanya saja Menteri itu memperkirakan hasil yang amat buruk dari rencana


yang mereka buat.


Dari generasi ke generasi selalu


ada sebuah skandal. Yang dia cemaskan adalah imbas dari skandal itu mengarah


kemana. Tentu saja semua hasilnya akan berimbas kepada rakyat tidak bersalah


tanpa melihat hasil dari pembuat skandal menang atau kalah.


“Apa yang Menteri katakan? Maafkan


ketidak sopanan saya dalam menyambut tamu di Istana saya ini” Xia Lan berdiri


untuk memberikan tata kramanya sebagai tuan rumah. Dia memberikan hormatnya


sebagai seorang yang menghormati seniornya.


Sang Menteri membalas hormat karena


sebuah tata krama yang harus dilakukan kepada anggota keluarga kerajaan.


“Saya kesini membawa perintah


Kaisar untuk memanggil Yang Mulia Xia Lan dan juga Tuan Muda Wen Yihuai untuk


datang ke ruang kerja Kaisar” Menteri itu menjelaskan tujuannya datang ke


tempat itu dengan nada biasa.


“Tunggu? Kenapa Ayahanda ingin


menemui kakak?” tanya Xia Mei kepada sang Menteri. Dia hendak mencegah sang


Menteri membawa pergi saudaranya sebelum dia mendapatkan jawaban atas


pertanyaannya.


“Yang Mulia kembalilah ke Istana


Qingshan. Disana lebih tenang dan sejuk” sang Menteri enggan membuka mulut.


“Baiklah,” Wen Yihuai menerima


perintah dengan segera. Menteri itu melihat datar ke arah Wen Yihuai dengan


sedikit senyum tanpa arti. Meskipun demikian, Wen Yihuai membalas senyuman itu.


“Tunggu, katakan sesuatu


kepadaku! Jangan menyembunyikan sesuatu dariku” Xia Mei kesal dengan pandangan


setiap orang yang menganggapnya hanya seorang gadis lemah yang harus terus


dilindungi.


“Jika Yang Mulia merasa sudah


dewasa dan enggan untuk terus dilindungi? Maka datanglah bersama kami menemui


Kaisar. Dengan begitu Yang Mulia akan mengetahuinya tanpa harus merengek


seperti gadis lemah yang membutuhkan belas kasihan” Wen Yihuai mengangkat


suara. Dia bicara dengan begitu pedas kepada Xia Mei di hadapan Xia Lan. Meskipun


demikian, Xia Lan tidak menghentikan ataupun menegur Wen Yihuai ketika dia


mengatakannya. Karena memang itu yang diinginkan oleh adiknya.


Menteri itu tampak terkejut,


namun dia hanya diam tanpa respon.


Sementara Xia Mei, dia mencerna


dengan baik kata-kata tajam yang diarahkan padanya. Kata-kata itu benar. Ketika


dia menginginkan seseorang memandangnya sebagai seorang yang sudah dewasa, maka


dia harus bisa berfikir terbuka tentang orang yang berkata tajam padanya.

__ADS_1


__ADS_2