
“Yang Mulia” pelayan yang tidak
lagi muda menyapa Xia Mei yang baru saja datang dari luar.
“Dimana kakak?” tanya Xia Mei
terburu-buru. Pandangannya menelisik ke seisi Istana mencari keberadaan
kakaknya berada.
“Putra Mahkota sedang berada di
halaman tengah bersama dengan Tuan Muda Wen dari Donghua. Yang mulia bisa
langsung menuju kesana” pelayan itu berkata dengan lembut kemudian bergeser ke
samping untuk memberikan Xia Mei ruang berjalan sembari mempersilahkannya
dengan santun.
Melihat ruang yang telah di
berikan, Xia Mei pun segera menuju dimana saudaranya berada. Pelayannya pun
dengan setia mengikutinya. Pelayan yang menyapa Xia Mei pun turut mengikutinya
setelah pelayan pribadi Xia Mei.
Setelah beberapa saat berjalan,
akhirnya tempat yang dimaksud mulai terlihat. Di sana Xia Mei melihat
saudaranya tengah berbincang bersama Wen Yihuai seperti yang dikatakan oleh
pelayan Istana itu. Xia Mei pun mempercepat langkahnya.
Wen Yihuai melihat Xia Mei tengah
menuju ke tempat mereka sehingga dia berkata “Tuan Putri datang” untuk
memberitahu Xia Lan yang tengah duduk membelakangi arah kedatangan Xia Mei.
“Benarkah?” Xia Lan tidak
terlihat terkejut dengan kedatangan saudaranya itu. Dia meneguk minumannya
dengan tenang.
Wen Yihuai melihat ketenangan di
wajah Xia Lan. Dia pun kemudian beralih kembali kepada Xia Mei. Dia berdiri
kemudian memberikan hormat pada Xia Mei yang telah sampai di hadapannya.
Xia Mei membalas hormat Wen
Yihuai dan dengan segera beralih kepada Xia Lan. Dia bergegas menuju Xia Lan
sembari berkata “Kakak, jelaskan padaku”
“Duduklah. Tenanglah”
Xia Mei pun menuruti kata-kata
saudaranya dan langsung duduk di sebelah Xia Lan dengan tatapannya yang tidak
goyah.
“Kenapa kamu melihatku seperti
itu?” Xia Lan merasa tidak nyaman dengan tatapan penuh selidik yang di berikan
saudaranya padanya.
“Jelaskan padaku” ulang Xia Mei
dengan singkat.
“Penjelasan apa yang kamu
inginkan?” Xia Lan berbicara seolah tidak mengerti apa maksud dan tujuan Xia
Mei datang buru-buru menemuinya.
“Kakak sudah mengetahuinya” Xia
Mei enggan bicara. Dia tahu kalau kakaknya mengetahui sesuatu.
__ADS_1
“Jika kamu tidak bicara, apa yang
bisa kakak ketahui?”Xia Lan kekeh dengan dramanya.
“Tentang Nona Gu Xie.” Xia Mei
sedikit ragu ketika menyebut nama Gu Xie karena disana ada Wen Yihuai yang
menjadi tersangka dalam rumor yang beredar.
“Oh~ bukankah kamu sudah
mendengar rumornya” Xia Lan berkata dengan ringannya.
“Seperti yang telah Yang Mulia
dengar dari rumor Istana” Wen Yihuai menyerobot pembicaraan diantara kedua
saudara itu “Maafkan saya yang lancang memotong pembicaraan kalian” Wen Yihuai
masih berdiri di posisinya.
Xia Mei terkejut mendengar
perkataan Wen Yihuai yang cenderung mengakuinya dan bukan mengelaknya. “Jangan
bercanda dengan ku” Xia Mei beralih kepada Wen Yihuai. Tatapannya terlihat
sebuah kemarahan di dalamnya.
“Saya tidak berani Yang Mulia”
Wen Yihuai merendah sebagai sebuah tata krama.
Xia Lan cukup terkejut mendengar
adik perempuannya yang diketahui cukup penurut bisa berteriak seperti itu. “Xia
Mei apa yang kamu inginkan? Haruskah kakak menjawab sesuai dengan apa yang kamu
inginkan sehingga kamu tidak harus berteriak seperti itu?”
Mendengar kata-kata Xia Lan yang
terdengar seperti bermain-main dengannya, Xia Mei merasa kecewa kemudian
terlihat sebuah luka yang dalam. Xia Lan bisa melihat itu dengan sangat jelas.
“Seharusnya kamu tetap duduk
manis di kamarmu, bermain dengan riang di Istanamu, dan tetap menjadi kecil
juga manis” sesal Xia Lan dalam benaknya. Namun kata-kata Xia Mei benar, dia
bukan lagi anak kecil yang tidak mengetahui apapun dan bisa dibohongi dengan
begitu mudahnya.
Xia Mei masih menunggu sebuah
penjelasan. Ketika itu Wen Yihuai tidak hendak mengutarakan apapun. Beberapa
saat hening dengan Xia Mei yang kekeh. Hingga akhirnya Menteri membawa perintah
Kaisar untuk memanggil Xia Land an juga Wen Yihuai pun tiba di Istana Xia Lan.
“Kebetulan sekali semuanya berada
di sini” kata sang Menteri yang tiba-tiba mengejutkan Xia Lan dan yang lainnya.
“Menteri?” gumam Xia Mei. Dia
bertanya-tanya kenapa bisa Menteri datang kesana, apakah Kaisar sudah
mengetahui tentang rumor yang beredar? Tentu saja, Kaisar pasti mengetahui
rumor sebesar dan sepelik itu.
Sementara itu Xia Lan dan juga
Wen Yihuai tidak tampak terkejut sama sekali. Mereka sudah mempersiapkan diri
mereka, karena ini adalah bagian dari rencana mereka.
“Sepertinya kalian tidak terkejut
dengan kedatanganku ke tempat ini” sang Menteri berkata dengan senyum sesal.
__ADS_1
Padahal di sepanjang perjalanannya ke Istana ini, dia berharap besar kalau
bukan mereka lah yang merencanakannya. Bukan berarti Menteri itu berpihak pada
mereka, hanya saja Menteri itu memperkirakan hasil yang amat buruk dari rencana
yang mereka buat.
Dari generasi ke generasi selalu
ada sebuah skandal. Yang dia cemaskan adalah imbas dari skandal itu mengarah
kemana. Tentu saja semua hasilnya akan berimbas kepada rakyat tidak bersalah
tanpa melihat hasil dari pembuat skandal menang atau kalah.
“Apa yang Menteri katakan? Maafkan
ketidak sopanan saya dalam menyambut tamu di Istana saya ini” Xia Lan berdiri
untuk memberikan tata kramanya sebagai tuan rumah. Dia memberikan hormatnya
sebagai seorang yang menghormati seniornya.
Sang Menteri membalas hormat karena
sebuah tata krama yang harus dilakukan kepada anggota keluarga kerajaan.
“Saya kesini membawa perintah
Kaisar untuk memanggil Yang Mulia Xia Lan dan juga Tuan Muda Wen Yihuai untuk
datang ke ruang kerja Kaisar” Menteri itu menjelaskan tujuannya datang ke
tempat itu dengan nada biasa.
“Tunggu? Kenapa Ayahanda ingin
menemui kakak?” tanya Xia Mei kepada sang Menteri. Dia hendak mencegah sang
Menteri membawa pergi saudaranya sebelum dia mendapatkan jawaban atas
pertanyaannya.
“Yang Mulia kembalilah ke Istana
Qingshan. Disana lebih tenang dan sejuk” sang Menteri enggan membuka mulut.
“Baiklah,” Wen Yihuai menerima
perintah dengan segera. Menteri itu melihat datar ke arah Wen Yihuai dengan
sedikit senyum tanpa arti. Meskipun demikian, Wen Yihuai membalas senyuman itu.
“Tunggu, katakan sesuatu
kepadaku! Jangan menyembunyikan sesuatu dariku” Xia Mei kesal dengan pandangan
setiap orang yang menganggapnya hanya seorang gadis lemah yang harus terus
dilindungi.
“Jika Yang Mulia merasa sudah
dewasa dan enggan untuk terus dilindungi? Maka datanglah bersama kami menemui
Kaisar. Dengan begitu Yang Mulia akan mengetahuinya tanpa harus merengek
seperti gadis lemah yang membutuhkan belas kasihan” Wen Yihuai mengangkat
suara. Dia bicara dengan begitu pedas kepada Xia Mei di hadapan Xia Lan. Meskipun
demikian, Xia Lan tidak menghentikan ataupun menegur Wen Yihuai ketika dia
mengatakannya. Karena memang itu yang diinginkan oleh adiknya.
Menteri itu tampak terkejut,
namun dia hanya diam tanpa respon.
Sementara Xia Mei, dia mencerna
dengan baik kata-kata tajam yang diarahkan padanya. Kata-kata itu benar. Ketika
dia menginginkan seseorang memandangnya sebagai seorang yang sudah dewasa, maka
dia harus bisa berfikir terbuka tentang orang yang berkata tajam padanya.
__ADS_1