Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 74 - "Cinta Saudara"


__ADS_3

“Tuan


Muda” Jin Xia menyadari kehadiran Xia Yue, dia pun kemudian melompat dari atas


batu untuk kemudian menyambut kedatangannya.


“Tuan”


panggil Jin Xia ketika berhadapan dengan Xia Yue. Mereka bertemu di depan pintu


pagar pondok. Sementara sang tabib masih dengan posisi sebelumnya yaitu memberi


makan peliharaannya. “Gadis ini?” tanya nya ketika melihat anak perempuan


datang bersama dengan Xia Yue.


“Perkenalkan,


saya putri dari pemilik kios mie. Tuan Muda ini menyelamatkan kami dari pemalak


kemudian membawa saya kesini untuk berobat pada tabib” jelas anak pemilik kios


dengan sopan dan santun.


“Menyelamatkan?”


gumam Jin Xia kemudian segera mengalihkan perhatiannya pada anak pemilik kios.


Dia berjongkok untuk menyamakan posisinya kemudian berbicara kepada anak itu


dengan emosi seorang anak “Ah~ tabib disana sangat hebat. Kamu pasti akan


segera sembuh. Kakak juga diobati olehnya”


“Kakak


juga terluka?”


“Sudah


sembuh. Ayo masuk biar tabib bisa mengobatimu” Jin Xia merapikan rambut anak


itu perlahan.


Ketika


mereka tengah berbincang, tabib mengejutkan mereka karena tiba-tiba saja berada


di dekat mereka. “Ada apa dengan anak itu”


“Tabib,


kenapa begitu tiba-tiba” gerutu Jin Xia yang tidak menyadari kehadiran tabib.


“Anak


ini sakit. Rawatlah dia.” Kata Xia Yue tanpa panjang lebar. Tabib itu melihat


ke dalam mata Xia Yue dia kemudian tersenyum sesaat dan berkata “Baiklah”


“Tabib,


tolonglah putriku” kata pemilik kios mie ketika sampai di tempat tabib berada


bersama dengan Xiao An di belakangnya. Dengan sekilas tabib itu menebak kalau


yang baru saja berbicara adalah Ibu dari anak perempuan di hadapannya.


“Tenanglah” tabib itu mencoba menenangkan Ibu dari anak itu karena raut


wajahnya yang tampak khawatir. Dia pun kemudian meraih tangan anak perempuan


itu. memeriksa pergelangan tanganna untuk memperkirakan keadaannya dari denyut


nadinya.  Tabib itu manggut-manggut


dengan tangan yang satunya memegangi dagunya yang tumbuh sedikit rambut.”anak


ini tidak apa-apa. Akan segera sembuh ketika menghabiskan obat yang aku


resepkan”


“Terima


kasih banyak tabib” kata pemilik kios mie.


Jin


Xia tersenyum senang. Dia kemudian berdiri. Ketika dia melihat ke arah Xia Yue,


dia melihat noda darah di wajahnya. Sebelumnya, karena tidak berani mengatakan


apapun, pemilik kios tidak mengatakan apapun perihal darah yang ada di wajah

__ADS_1


Xia Yue ketika dalam perjalanan menuju pondok tabib.


Jin


Xia tanpa sadar meraih noda itu untuk menghapusnya. Sementara Xia Yue, dia


bahkan tidak menyadari ketika tangan Jin Xia menuju ke arahnya. Mode siaganya


runtuh di hadapan Jin Xia. Kini dia hanya terdiam ketika tangan Jin Xia


menyentuh wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Jin Xia.


Pada


akhirnya, Jin Xia lah yang gugup karena pertemuan pandangan mereka “Da-darah.


Ada darah di sana” dengan kecepatan kilat, dia menyimpan tangannya di belakang


badannya sembari menyembunyikan rasa malunya”Ma-maaf”


Xiao


An merasa kesal melihat pemandangan itu dan merasa terheran tentang kepekaan


Xia Yue yang begitu rendah. Sebagai seorang ahli bela diri seharusnya dia lebih


peka terhadap gerakan yang mengarah padanya.


Xia


Yue tidak menjawab. Dia hanya diam di balik wajah tenangnya sembari


membersihkan wajahnya yang sekiranya mungkin terkena cipratan darah.


“Dia


cantik” komentar pemilik kios dengan senyum di wajahnya. Sementara sang tabib


menutup mata anak pemilik kios dengan tangannya. menghindarkannya dari


pemandangan yang belum waktunya untuk dilihat olehnya.


Xiao


Bai yang sedari tadi masih mengumpulkan ikan akhirnya keluar dari sungai ketika


menangkap ikan yang terakhir. Setelah menaruhnya di tempatnya, dia membawanya


depan pintu pagar. Meskipun dia melihat pemandangan antara Xia Yue dan Jin Xia


sebelumnya ketika dalam perjalanan, namun dia tidak memperdulikannya dan hanya


tersenyum kecil. Dia menyadari sesuatu diantara mereka yang bahkan mereka tidak


menyadarinya. “Xiao An, ayo bantu aku masak semua ini”


“Tidak


mau” Xiao An enggan untuk memasak ikan, apalagi untuk saat itu ketika suasana


hatinya tidak begitu baik.


“Sudahllah”


Xiao Bai memaksa.


Ketika


melihat Jin Xia, Xia Yue teringat tentang pakaian yang dibelinya di desa. Namun


dia tidak ingat dimana dia menaruhnya. Ketika dia mengingat-ingat, dari setelah


dia bertarung dia memang tidak membawa belanjaannya. Dia pun menyesalinya


karena melupakannya. Bukan soal harganya, melainkan barangnya.


“Mari


masuk” tabib itu mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam pondoknya. Akan


lebih baik untuk berbincang di dalam pondok daripada berdiri di luar pondok di


bawah terik matahari siang itu.


“Mari


masuk” ajak Jin Xia pada pemilik kios. “Terima kasih” jawabnya sungkan.


Mereka


pun kemudian masuk ke dalam pondok setelah tabib berjalan masuk terlebih dahulu


dengan menggandeng tangan anak pemilik kios bersamanya.

__ADS_1


“Berapa


umurmu sekarang?” tanya sang tabib kepada anak itu.


“Sepuluh


tahun” jawab anak itu dengan malu-malu.


“Oh,


sudah besar ya” tabib itu mengakrabkan dirinya dengan anak itu. Bukan untuk


apa-apa, hanya untuk berbincang saja.


Ketika


mereka berjalan ke dalam pondok, Xiao Bai diam di posisinya menunggu Xiao An


berjalan melaluinya. Ketika dia berada di depannya, diapun kemudian meraih


tangan Xiao An dan berkata “Ayolah. Kamu tahu, masakanmu lebih enak dariku.


Jangan permalukan saudara mu ini” pinta Xiao Bai dengan memasang wajah memelas.


“Kalau


tidak bisa memasak jangan berlagak” geruti Xiao An.


“Aku


melakukan ini untukmu. Bagaimanapun juga, Jin Xia, dia sudah menyelamatkan kita


sehingga dia terluka seperti itu.” Xiao Bai mengomeli balik saudaranya itu. dia


tidak ingin menjadi seseorang yang tidak tahu terima kasih apalagi melupakan


budi baik seseorang.


Dengan


kecepatan penuh, Xiao An membungkam mulut saudaranya dengan tangannya. Tidak


membiarkan mulut besarnya mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan


mempermalukannya di depan banyak orang, terlebih di hadapan Xia Yue.


“Baiklah-baiklah”


Mendengar


kalau saudaranya sudah menyerah, Xiao Bai tersenyum penuh kemenangan kemudian


memberikan keranjang yang sedari tadi di bawanya.”Bawa ya..” katanya dengan


ringan kemudian berjalan santai menuju pondok.


“Apa-apaan


ini” gerutu Xiao An. Dia tidak menerima perlakuan saudaranya padanya.”Bagaimana


mungkin dia bisa melakukan semua ini pada ku” dengan terpaksa dan kesal, dia


membawa keranjang berisi ikan itu masuk ke dalam pondok melalui pintu belakang


sesuai dengan arahan Xiao Bai yang telah menunggunya di samping pondok.


“Buruan”


kata Xiao Bai. Xiao An memandang saudaranya dengan sinis penuh kebencian. Dia


serasa ingin menguliti saudaranya itu dengan jemarinya yang indah.


“Bagaimana


mungkin aku memiliki saudara yang begitu kejam padaku”


“Kalau


aku kejam, aku sudah membiarkanmu diburu oleh mereka” balas Xiao Bai tidak


menerima tuduhan saudaranya.


Meskipun


mereka sering kali bertengkar tentang suatu hal kecil, namun mereka bahkan


tidak pernah menjadikannya besar apalagi mempertengkarkan hal besar. Karena


bagi mereka, pertengkaran-pertengkaran kecil mereka hanyalah cara mereka saling


mencintai satu sama lain. Karena di dunia ini, mereka hanya memiliki satu sama


lain.

__ADS_1


__ADS_2