
“Tuan
Muda” Jin Xia menyadari kehadiran Xia Yue, dia pun kemudian melompat dari atas
batu untuk kemudian menyambut kedatangannya.
“Tuan”
panggil Jin Xia ketika berhadapan dengan Xia Yue. Mereka bertemu di depan pintu
pagar pondok. Sementara sang tabib masih dengan posisi sebelumnya yaitu memberi
makan peliharaannya. “Gadis ini?” tanya nya ketika melihat anak perempuan
datang bersama dengan Xia Yue.
“Perkenalkan,
saya putri dari pemilik kios mie. Tuan Muda ini menyelamatkan kami dari pemalak
kemudian membawa saya kesini untuk berobat pada tabib” jelas anak pemilik kios
dengan sopan dan santun.
“Menyelamatkan?”
gumam Jin Xia kemudian segera mengalihkan perhatiannya pada anak pemilik kios.
Dia berjongkok untuk menyamakan posisinya kemudian berbicara kepada anak itu
dengan emosi seorang anak “Ah~ tabib disana sangat hebat. Kamu pasti akan
segera sembuh. Kakak juga diobati olehnya”
“Kakak
juga terluka?”
“Sudah
sembuh. Ayo masuk biar tabib bisa mengobatimu” Jin Xia merapikan rambut anak
itu perlahan.
Ketika
mereka tengah berbincang, tabib mengejutkan mereka karena tiba-tiba saja berada
di dekat mereka. “Ada apa dengan anak itu”
“Tabib,
kenapa begitu tiba-tiba” gerutu Jin Xia yang tidak menyadari kehadiran tabib.
“Anak
ini sakit. Rawatlah dia.” Kata Xia Yue tanpa panjang lebar. Tabib itu melihat
ke dalam mata Xia Yue dia kemudian tersenyum sesaat dan berkata “Baiklah”
“Tabib,
tolonglah putriku” kata pemilik kios mie ketika sampai di tempat tabib berada
bersama dengan Xiao An di belakangnya. Dengan sekilas tabib itu menebak kalau
yang baru saja berbicara adalah Ibu dari anak perempuan di hadapannya.
“Tenanglah” tabib itu mencoba menenangkan Ibu dari anak itu karena raut
wajahnya yang tampak khawatir. Dia pun kemudian meraih tangan anak perempuan
itu. memeriksa pergelangan tanganna untuk memperkirakan keadaannya dari denyut
nadinya. Tabib itu manggut-manggut
dengan tangan yang satunya memegangi dagunya yang tumbuh sedikit rambut.”anak
ini tidak apa-apa. Akan segera sembuh ketika menghabiskan obat yang aku
resepkan”
“Terima
kasih banyak tabib” kata pemilik kios mie.
Jin
Xia tersenyum senang. Dia kemudian berdiri. Ketika dia melihat ke arah Xia Yue,
dia melihat noda darah di wajahnya. Sebelumnya, karena tidak berani mengatakan
apapun, pemilik kios tidak mengatakan apapun perihal darah yang ada di wajah
__ADS_1
Xia Yue ketika dalam perjalanan menuju pondok tabib.
Jin
Xia tanpa sadar meraih noda itu untuk menghapusnya. Sementara Xia Yue, dia
bahkan tidak menyadari ketika tangan Jin Xia menuju ke arahnya. Mode siaganya
runtuh di hadapan Jin Xia. Kini dia hanya terdiam ketika tangan Jin Xia
menyentuh wajahnya. Matanya bertemu dengan mata Jin Xia.
Pada
akhirnya, Jin Xia lah yang gugup karena pertemuan pandangan mereka “Da-darah.
Ada darah di sana” dengan kecepatan kilat, dia menyimpan tangannya di belakang
badannya sembari menyembunyikan rasa malunya”Ma-maaf”
Xiao
An merasa kesal melihat pemandangan itu dan merasa terheran tentang kepekaan
Xia Yue yang begitu rendah. Sebagai seorang ahli bela diri seharusnya dia lebih
peka terhadap gerakan yang mengarah padanya.
Xia
Yue tidak menjawab. Dia hanya diam di balik wajah tenangnya sembari
membersihkan wajahnya yang sekiranya mungkin terkena cipratan darah.
“Dia
cantik” komentar pemilik kios dengan senyum di wajahnya. Sementara sang tabib
menutup mata anak pemilik kios dengan tangannya. menghindarkannya dari
pemandangan yang belum waktunya untuk dilihat olehnya.
Xiao
Bai yang sedari tadi masih mengumpulkan ikan akhirnya keluar dari sungai ketika
menangkap ikan yang terakhir. Setelah menaruhnya di tempatnya, dia membawanya
depan pintu pagar. Meskipun dia melihat pemandangan antara Xia Yue dan Jin Xia
sebelumnya ketika dalam perjalanan, namun dia tidak memperdulikannya dan hanya
tersenyum kecil. Dia menyadari sesuatu diantara mereka yang bahkan mereka tidak
menyadarinya. “Xiao An, ayo bantu aku masak semua ini”
“Tidak
mau” Xiao An enggan untuk memasak ikan, apalagi untuk saat itu ketika suasana
hatinya tidak begitu baik.
“Sudahllah”
Xiao Bai memaksa.
Ketika
melihat Jin Xia, Xia Yue teringat tentang pakaian yang dibelinya di desa. Namun
dia tidak ingat dimana dia menaruhnya. Ketika dia mengingat-ingat, dari setelah
dia bertarung dia memang tidak membawa belanjaannya. Dia pun menyesalinya
karena melupakannya. Bukan soal harganya, melainkan barangnya.
“Mari
masuk” tabib itu mempersilahkan semuanya untuk masuk ke dalam pondoknya. Akan
lebih baik untuk berbincang di dalam pondok daripada berdiri di luar pondok di
bawah terik matahari siang itu.
“Mari
masuk” ajak Jin Xia pada pemilik kios. “Terima kasih” jawabnya sungkan.
Mereka
pun kemudian masuk ke dalam pondok setelah tabib berjalan masuk terlebih dahulu
dengan menggandeng tangan anak pemilik kios bersamanya.
__ADS_1
“Berapa
umurmu sekarang?” tanya sang tabib kepada anak itu.
“Sepuluh
tahun” jawab anak itu dengan malu-malu.
“Oh,
sudah besar ya” tabib itu mengakrabkan dirinya dengan anak itu. Bukan untuk
apa-apa, hanya untuk berbincang saja.
Ketika
mereka berjalan ke dalam pondok, Xiao Bai diam di posisinya menunggu Xiao An
berjalan melaluinya. Ketika dia berada di depannya, diapun kemudian meraih
tangan Xiao An dan berkata “Ayolah. Kamu tahu, masakanmu lebih enak dariku.
Jangan permalukan saudara mu ini” pinta Xiao Bai dengan memasang wajah memelas.
“Kalau
tidak bisa memasak jangan berlagak” geruti Xiao An.
“Aku
melakukan ini untukmu. Bagaimanapun juga, Jin Xia, dia sudah menyelamatkan kita
sehingga dia terluka seperti itu.” Xiao Bai mengomeli balik saudaranya itu. dia
tidak ingin menjadi seseorang yang tidak tahu terima kasih apalagi melupakan
budi baik seseorang.
Dengan
kecepatan penuh, Xiao An membungkam mulut saudaranya dengan tangannya. Tidak
membiarkan mulut besarnya mengeluarkan kata-kata yang mungkin akan
mempermalukannya di depan banyak orang, terlebih di hadapan Xia Yue.
“Baiklah-baiklah”
Mendengar
kalau saudaranya sudah menyerah, Xiao Bai tersenyum penuh kemenangan kemudian
memberikan keranjang yang sedari tadi di bawanya.”Bawa ya..” katanya dengan
ringan kemudian berjalan santai menuju pondok.
“Apa-apaan
ini” gerutu Xiao An. Dia tidak menerima perlakuan saudaranya padanya.”Bagaimana
mungkin dia bisa melakukan semua ini pada ku” dengan terpaksa dan kesal, dia
membawa keranjang berisi ikan itu masuk ke dalam pondok melalui pintu belakang
sesuai dengan arahan Xiao Bai yang telah menunggunya di samping pondok.
“Buruan”
kata Xiao Bai. Xiao An memandang saudaranya dengan sinis penuh kebencian. Dia
serasa ingin menguliti saudaranya itu dengan jemarinya yang indah.
“Bagaimana
mungkin aku memiliki saudara yang begitu kejam padaku”
“Kalau
aku kejam, aku sudah membiarkanmu diburu oleh mereka” balas Xiao Bai tidak
menerima tuduhan saudaranya.
Meskipun
mereka sering kali bertengkar tentang suatu hal kecil, namun mereka bahkan
tidak pernah menjadikannya besar apalagi mempertengkarkan hal besar. Karena
bagi mereka, pertengkaran-pertengkaran kecil mereka hanyalah cara mereka saling
mencintai satu sama lain. Karena di dunia ini, mereka hanya memiliki satu sama
lain.
__ADS_1