
Setelah berfikir dengan matang,
Xia Mei memutuskan dengan pasti kalau dia akan ikut bersama dengan kakaknya
untuk menemui Kaisar dan mengetahui semua yang ingin dia ketahui. “Aku ikut”
tatapan matanya begitu yakin.
Xia Lan tertawa kecil, dia
terkesan kalau adik kecilnya akan menunjukan tatapan mata seperti itu di
depannya. Meskipun dia tahu kalau apa yang ada di fikiran saudara kecilnya itu
masih begitu naïf. Jikapun dia mengetahui semuanya, saudara kecilnya itu tidak
akan secara langsung bisa memahami apa yang dia lakukan dan cenderung akan
menentangnya. Begitulah, karena saudara kecilnya memang tumbuh sebagai gadis
baik dan naïf. Meskipun demikian, Xia Lan tetap memilih agar adiknya itu tetap
menjadi adik kecilnya yang lugu dan naïf. Sebagai kakaknya, dia akan
melindunginya dan memberikan padanya yang terbaik tanpa harus mengotorinya.
“Baiklah, mari” Menteri itu pun
mempersilahkan ketiga tamu undangan Kaisar.
Lan Sifan pun mengikuti Xia Lan,
meskipun nanti ketika sampai di ruang kerja Kaisar dia akan berada di luar
ruangan.
Mereka bersama-sama menuju ruang
kerja Kaisar memenuhi panggilan Kaisar.
Setelah beberapa saat akhirnya
mereka sampai di depan ruang kerja Kaisar dengan Kaisar tampak begitu serius
dengan beberapa dokumen kerajaan yang harus di periksanya. Kaisar tampak begitu
lelah dengan urusan kerajaannya yang sedemikian pelik.
“Kaisar, Putra Mahkota bersama
dengan Tuan Muda Wen telah tiba” kata sang Menteri dari luar ruang kerja Kaisar
untuk memberi tahu Kaisar yang berada di dalam apakah Kaisar akan
mempersilahkan mereka untuk segera masuk ataukah harus menunggu beberapa saat
hingga Kaisar senggang dari pekerjaannya.
Kaisar berhenti membaca dokumen
ketika mendengar suara Menterinya kemudian meletakkan dokumen itu ke mejanya
“Masukklah” kata Kaisar sembari merebahkan punggungnya ke kursinya yang nyaman.
“Baik,” sahut sang Menteri
kemudian beralih kepada Xia Land an yang lainnya “Kaisar mempersilahkan. Silahkan”
sembari mengulurkan tangannya sebagai tata krama mempersilahkan.
Xia Lan masuk terlebih dahulu
ketika para pelayan yang berjaga di depan ruang kerja Kaisar membukakan pintu
ruangan kemudian disusul oleh Wen Yihuai baru kemudian Xia Mei dan sang Menteri
di urutan terakhir.
Setelah mereka berempat masuk ke
dalam ruangan, para pelayan menutup kembali pintu ruangan itu.
Kaisar nampak terkejut ketika
melihat satu tamu yang tidak diundangnya, yaitu Putri kecilnya yang tercinta.
__ADS_1
“Kenapa kamu disini?” tanya Kaisar kepada Xia Mei.
“Ayahanda, saya juga ingin
mengetahui sesuatu yang ingin Ayahanda ketahui” jelas Xia Mei langsung pada
intinya. Dia tidak berani berbelit di depan Ayahandanya apalagi dengan kasus
dan situasi ini.
“Bukankah lebih baik kalau kamu
berada di Qingshan?” tanya Kaisar dengan maksud untuk menyuruhnya keluar dari
tempat itu.
“Saya akan kembali ke Qingshan
setelah semuanya jelas” kata Xia Mei dengan tatapan matanya yang bersinar penuh
keyakinan. Kaisar merasa terheran dengan keberanian yang di miliki putri
kecilnya saat itu. Saat itu putri kecilnya tidak terlihat seperti putri
kecilnya lagi. Kaisar pun tersenyum kecil dan mengingat kalau putri kecilnya
sudah tidak lagi putri kecilnya. Putri kecilnya telah menjadi Tuan Putri yang
sudah dewasa.
“Baiklah, seperti yang kamu mau”
Kaisar menyetujui keberadaan Xia Mei di ruangan itu bersama dengan yang
lainnya.
“Terima kasih, Yang Mulia” kata
Xia Mei sebagai sebuah penghormatannya.
Mengabaikan Xia Mei, kini Kaisar
beralih kepada Xia Lan dan Wen Yihuai. Tatapan matanya berubah serius dari yang
awalnya biasa. “Mengenai rumor tentang Nona Gu Xie dari Xihua, aku butuh sebuah
“Seperti yang Kaisar sudah
ketahui kalau Nona Gu Xie terkena racun dari barat dan lebih tepatnya dari
Donghua” Wen Yihuai berkata dengan pasti tanpa keraguan di nada bicaranya
maupun ekpresinya. Kaisar memperhatikan dengan seksama “Lantas?”
“Saya tidak mengelaknya” sahut
Wen Yihuai dengan pasti.
Mendengar pengakuan dari Wen
Yihuai, semua yang berada di ruangan itu tercengang kecuali Xia Lan yang hanya
diam dan menyimak hingga akhir.
Xia Mei ingin segera membuka
mulutnya, namun dia menahan dirinya dengan keras. Dia harus bisa berfikir
dengan tenang dan membaca keadaan bukannya bersikap impulsif.
“Jadi maksudmu kamu mengakui
kalau kamu yang melukai Nona Gu?” tanya Kaisar mencoba untuk mengkonfirmasi
ulang pengakuan Wen Yihuai.
“Benar” jawab Wen Yihuai tanpa
ragu.
“Lalu kenapa kamu melakukannya?”
Kaisar mencoba bertanya dengan dalam dan memahami keadaan. jika kebanyakan
hakim akan memberikan hukuman kepada terdakwa ketika kejahatan telah
__ADS_1
terkonfimasi, tapi kali ini Kaisar Xia bersikap lebih lamban.
“Karena Kaisar telah mengumumkan
pertunangannya dengan Pangeran Xia Yue” kata Wen Yihua. Kali ini dia menatap
langsung mata Kaisar meskipun bukan tatapan permusuhan.
Kaisar kembali dikejutkan dengan
pengakuan Wen Yihuai.
“Maksudmu?” tanya Kaisar yang
tidak yakin dengan penafsirannya terhadap pengakuan Wen Yihuai tersebut.
“Malam itu aku datang kepadanya
untuk menolak pertunangan itu. Tapi dia tidak bisa menolak lantaran Kaisar
telah mengumumkannya. Jadi aku melukainya dengan racun itu agar tidak ada yang
memilikinya kecuali aku yang memiliki penawarnya dan itupun hanya jika dia
menjadi milikku atau aku akan mati bersama dengannya karena kasus pembunuhan
Putri Xihua di dalam Istana”
Kaisar berusaha mencerna
penjelasan Wen Yihuai. Kaisar menyadari satu hal di dalam ceritanya yaitu
ancaman. Kaisar menyadari kalau Wen Yihuai mengancamnya dengan nyawa Gu Xie.
Jika dia membiarkan Gu Xie terbunuh begitu saja setelah pengakuan Wen Yihuai,
maka Xihua dan Donghua akan menyalahkannya
Terlepas dari apakah mereka
memiliki hubungan istimewa atau tidak, jika pengakuan Wen Yihuai saat ini
terdengar keluar, maka penilaian public adalah Wen Yihuai membunuh gadis yang
di cintainya karena tidak merelakannya menikah dengan pria lain meskipun
disetiap perkataannya Wen Yihuai tidak menyebutkan kalau mereka saling
mencintai.
“Ayahanda, kenapa Ayahanda
memisahkan mereka hingga mendorong Tuan Muda Wen melakukan tindakan kriminal?
Bukankah jika seperti ini, Ayahandalah yang bersalah atas keduanya?” Xia Lan
angkat bicara untuk menyudutkan Kaisar.
Sekarang apapun yang menjadi
keputusan Kaisar akan membuatnya terlihat seperti Kaisar yang bersalah dalam
kasus ini.
Sang Menteri terdiam seribu
bahasa. Dia menyadari situasi kali ini sangat sulit. Rencana mereka menyerang
dari berbagai titik. Sang Menteri pun menghela nafas panjang. Dia tidak bisa
melakukan apapun untuk menolong Kaisar dari situasi kali ini.
Keputusan yang dianggap terbaik
mungkin saja justru adalah yang terburuk.
Xia Mei berfikir sebaliknya. Dia
kini merasa menyesal karena sempat berfikir buruk terhadap saudaranya sendiri.
Ternyata masalah kali ini hanya sebuah kesalahpahaman. “Ayahanda, kenapa
Ayahanda tidak menikahkan Tuan Muda Wen dengan Nona Gu Xie jika mereka saling
mencintai? Bukankah tidak mungkin membiarkan Nona Gu dan Tuan Muda Wen terbunuh
__ADS_1
sia-sia ataupun membiarkan Tuan Muda Wen dipersalahkan atas kematian Nona Gu oleh
Xihua?”