
“Katakan
saja” kata Xia Yue datar.
Mendengar
sepatah dua patah kata dari mulu Xia Yue membuat Lin Yuan tersenyum kesal. Dia
merasa di permainkan dan tidak di hargai.”Apa kamu tahu siapa aku”
“Tentu
saja kamu tidak mengenal ku” Xia Yue membalikan pertanyaan Lin Yuan padanya.
Jin
Xia berlari dari belakang pondok langsung menuju Xia Yue berada. Dia sana dia
langsung berkata “Apa yang kalian inginkan?” . sementara Xiao An bersama dengan Xiao Bai melihat mereka dari samping
pondok. Xiao Bai melarang Xiao An menunjukan dirinya di depan Lin Yuan. Jika
dia tahu tentang keberadaannya dan apa yang dialaminya, keadaan kemungkinan
akan menjadi lebih buruk antara Xiao An dengan istri Lin Yuan. “Jangan tunjukan
dirimu, apalagi apa yang terjadi. Jangan!”
“Jika
Lin Yuan bisa menyelamatkan kita, kenapa harus bersembunyi” Xiao An tidak ingin
tahu. Xiao Bai menggelengkan kepalanya dan menarik nafas panjang yang kemudian
dilepaskannya perlahan. “Aku bilang jangan. Turuti saja jika kamu masih
mengganggapku saudaramu” Xiao Bai tidak memiliki pilihan lain selain mengancamnya
dengan persaudaraannya. Karena berkali-kali dia sudah mengingatkan saudaranya
kalau tindakannya sudah kelewatan dan tidak pantas. Sebagai seorang perempuan,
Xiao Bai memang menyalahkan Xiao An.
Xiao
An merasa kecewa dengan Xiao Bai yang menggunakan persaudaraannya sebagai
ancaman. Dia kecewa. Tanpa berkata, Xiao An meninggalkan Xiao Bai untuk kembali
ke dapur dan melanjutkan masakannya.
Xiao
Bai merasakan sakit yang sama. Dia memandangi saudaranya tanpa berkata dan
mengikutinya untuk menyelesaikan masakannya.
Sementara
itu di dalam pondok masih tetap tenang tanpa pergerakan yang berarti. Tabib
kini mulai membersihkan luka dan darah yang ada pada laki-laki pemalak itu.
sementara pemuda baik hati kini duduk dan berbincang ringan dengan pemilik kios
dan anak perempuannya dengan tenang. Mereka menyerahkan urusan diluar kepada
yang bersangkutan.
“Kami
hanya mencari seseorang yang tengah berbuat kerusuhan di desa” kata bawahan Lin
Yuan mewakilinya untuk menjawab pertanyaan dari seorang gadis kecil melihat
postur tubuhnya yang cukup mungil dan bagi mereka tidak penting.
“Menurutmu
dia ada disini” sahut Jin Xia sembari melangkah di depan Xia Yue seolah dia
tengah melindunginya dari seseorang yang datang untuk mengomelinya.
__ADS_1
“Menurutmu?”
kata Lin Yuan sembari melangkahkan kakinya dan mendekat ke Jin Xia untuk
membuatnya mundur. Hal ini bukannya membuat Jin Xia gentar dan melakukan apa
yang di inginkan Lin Yuan. Hal ini justru membuat Jin Xia semakin kesal. Diapun
membusungkan dadanya, mengangkat wajahnya untuk menatap langsung wajah Lin Yuan
sembari berkata “Tidak ada “ dengan tatapan mata yang menyala.
“Hey
Nona kecil, jangan mengganggu pekerjaan kami. Kamu masuklah dan sembuhkan dulu
lukamu” kata bawahan Lin Yuan yang menyadari kalau bahu Jin Xia tengah terluka.
“Siapa
yang kamu panggil kecil” Jin Xia murka dan hendak memberikan pukulan pada orang
yang mengatainya. Dengan segera, Xia Yue meraihnya dan membawanya ke
belakangnya sembari menahannya dan berkata “Apa yang kalian inginkan?”
“Membawa
pelakunya dan mengadilinya” kata Lin Yuan dengan tatapan tajam yang mengarah
langsung ke Xia Yue.
“Kalau
menolak” kata Xia Yue ringan. Dia tidak memperdulikan Lin Yuan yang tampak
begitu tajam padanya.
“Sayangnya
tidak ada pilihan” kata Lin Yuan dengan penuh intimidasi. Sesekali dia melirik
ke arah Jin Xia yang ada di belakang Xia Yue. Xia Yue pun mengetahuinya dengan
luka, aku memastikan kalau kemampuanmu cukup tinggi” tebak Lin Yuan dengan benar
setelah memperhatikan dan mempertimbangkan beberapa hal. Xia Yue hanya diam.
Dia enggan untuk membalas kata-kata dari Lin Yuan.
Karena
tidak ada respon dari kata-katanya, Lin Yuan tertawa kecil kemudian melanjutkan
“Tapi sayangnya tidak cukup tinggi melihat kekasihmu masih terluka begitu
dalam”
“Kekasih?”
ulang Jin Xia dalam benaknya. Sesaat dia merasa sedikit senang dengan sebutan
itu. karena itu adalah harapannya. Namun dengan cepat dia menepisnya untuk
kembali fokus dengan keadaan.
“Langsung
saja” Xia Yue tidak tertarik dengan cara Lin Yuan memprovokasinya. Meskipun dia
merasa sedikit tersinggung karenanya. Karena benar, dia tidak cukup mampu untuk
melindungi Jin Xia hingga membuatnya terluka dan terus terluka.
Lin
Yuan tidak menangkap perubahan ekspresi yang berarti dari wajah Xia Yue. Kini
dia berfikir ulang dan berkata “Ah, ataukah dia hanya pelayan kecilmu”
Mendengar
kata-kata Lin Yuan, mata Xia Yue seketika menyala. Lin Yuan menangkap tatapan
__ADS_1
itu dengan tawa senang. Ketika dia hendak berbicara, dia terhenti oleh
kata-kata Jin Xia “Apa yang kamu inginkan dengan memprovokasi Tuan Muda”
“Tuan
Muda?” Lin Yuan mengulangi. Dengan cepat dia memperkirakan hubungan diantara
mereka dan berkata “Ah~ hubungan antara Tuan dan Pelayan, sungguh mengharukan”
ejeknya.
“Sayangnya
Tuan Muda sudah bertunangan. Kamu bisa menelan kembali ocehanmu” ketika
mengatakannya, Jin Xia bisa mengatakannya dengan begitu lancar dan mudah. Namun
setelah semua kata-kata itu keluar, dia memikirkan kembali tiap kata yang di
ucapkannya dan justru merasa terluka olehnya.
Sementara
Xia Yue, dia juga merasa terluka dengan kenyataan itu.
“Ah
begitu ya” Lin Yuan merasa tidak tertarik lagi setelah mendengar pernyataan
itu. “Tuan Muda mu sudah mengakui kalau dia adalah pelakunya. Mari kita permudah
semua ini” Lin Yuan langsung berkata pada intinya. Dia tidak lagi ingin
memprovokasi untuk mendapatkan amarah dari Xia Yue. Karena yang dia inginkan
hanya bermain-main sebentar.
Untuk
beberapa saat Xia Yue terdiam. Dia tampak tenggelam dalam fikirannya.
“Kenapa?”
tanya Lin Yuan yang melihat Xia Yue diam tanpa berkata ataupun bergerak.
Setelah
beberapa saat, akhirnya Xia Yue berkata “Menurutmu jika aku membunuh kalian
semua apakah pertuanangan itu bisa dibatalkan?”
Jin
Xia tercengang. Dia terdiam dan memikirkan kata-kata Xia Yue dengan dalam.
Lin
Yuan tampak berfikir dengan pertanyaan Xia Yue. Namun dia bisa menangkap ada
luka di balik kata-kata itu, sama seperti halnya yang dia rasakan. “Kamu
berharap terlalu tinggi” bukannya memberikan kata-kata yang diinginkan, Lin
Yuan justru memprovokasi. Justru karena dia mengerti, karena itulah dia
melakukannya. Dengan begini, dia mendapatkan amarah Xia Yue.
Jin
Xia menangkap tatapan diantara Xia Yua dan Lin Yuan saling bertautan. Dia
merasa kalau sebentar lagi Xia Yue akan mengambil langkah untuk memulai
kata-katanya, yaitu ‘membunuh mereka semua’ . ketika Xia Yue hendak melangkah,
Jin Xia yang ada di belakangnya sedari tadi melangkah jauh kedepan untuk
memulai langkahnya mewakili Xia Yue. Dia memberikan serangan kejutan kepada
salah satu bawahan Lin Yuan kemudian mengambil paksa pedang yang dibawanya.
Mengambilnya kemudian mengacungkannya ke Lin Yuan dengan tatapan tajam.
__ADS_1