Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 69 - "Dibalik Keangkuhan"


__ADS_3

“Tuan


tidak apa-apa?” pemilik kios mengkhawatirkan pelanggan tunggalnya.


“Tidak


apa-apa” kata Xia Yue singkat.


“Baguslah.


Tolong tunggu sebentar” kata pemilik kios sembari membungkus pesanan Xia Yue


kemudian menyerahkannya “Ini”


Xia


Yue menerimanya. Setelah membayar, dia pun meninggalkan kios itu tanpa melihat


kebelakang.


Melalui


pintu kios, Xia Yue masih bisa menemukan para pemalak yang tengah beraksi di


kios lainnya. Xia Yue membuang muka, dia enggan untuk menyaksikannya. Meskipun demikian,


nuraninya tergugah ketika para pemalak itu memalak kios dari seorang ibu parah


baya yang menjual mie. Nuraninya melebihi batas rasa angkuh dan acuhnya selama


ini.


“Tuan,


hanya segini yang saya punya. Kami membutuhkan uang untuk membeli obat anak


saya” ibu pemilik kios itu memeluk seorang anak perempuan dengan kisaran usia


10 tahun. Anak itu tampak pucat.


“Jangan


bercanda dengan kami” ancam para pemalak itu dengan suara mereka yang


menggelegar. Meskipun saat itu kios ada beberapa pelanggan yang tengah makan,


namun tidak ada satupun dari mereka yang menolong. Mereka memilih untuk diam


demi keamanan diri mereka sendiri.


Xia


Yue semakin geram ketika melihat pemalak itu mendorong ibu pemilik kios


kemudian menyentuh anak perempuannya. Meskipun mereka tidak akan melakukan


kekerasan pada anak itu, namun dengan penampilan mereka yang sedemikian garang,


tetap saja membuatnya ketakutan hingga menangis. Pemalak itu berkata “Hei nak,


dimana ibumu menyimpan uangnya”


Ibu


pemilik kios tidak bisa berkata dalam isak tangisnya. Dia tidak mampu melawan. Dia


meraung-raung memohon kepada para pemalak untuk melepaskan anak perempuannya


yang tengah sakit “Tuan lepaskan putriku”


Namun


mereka tidak menghiraukan raungan ibu pemilik kios itu. “Hei nak, katakana kalau


kamu tidak mau ibumu kami lukai”


Anak


itu semakin takut hingga pipis. Hal itu membuat seorang pemalak yang memegangi


anak perempuan itu marah kemudian mendorongnya hingga terbentur ke kursi di


dekatnya. “Anakku!!!” Ibu pemilik kios meraung sejadinya. Dia melompat ke arah putrinya


yang terjatuh kemudian mengambilnya ke dalam pelukannya.


“Aku


tanya sekali lagi. Jangan buat kesabaranku habis!” para pemalak itu semakin


tidak sabar. Mereka sudah terlalu lama membuang waktunya di kios itu tanpa


mendapat yang mereka ingin.


Ketika

__ADS_1


salah satu dari mereka hendak mengangkat kursi dan melemparkannya ke arah


pemilik kios dan anaknya, Xia Yue tiba untuk menahannya kemudian memutar


tangannya kebelakang untuk menguncinya kemudian berkata kepada pemalak yang


lain “Pergilah sebelum aku murka”


Para


pemalak yang lain geram dengan apa yang dilakukan Xia Yue di hadapan mereka. Seorang


diri menantang mereka. “Hhha, jangan membuat ku tertawa” kata salah seorang


pemalak kemudian datang ke arah Xia Yue untuk menghabisinya. Dengan tenang, Xia


Yue mendorong laki-laki di tangannya ke arah temannya yang akan datang hingga


membuat mereka bertubrukan. Amarah mereka semakin mencuat. “Beraninya kau!!!”


Tanpa


membutuhkan waktu lama, Xia Yue membuat mereka bertekuk lutut meskipun dengan


tangan kosong. “Ampuni kami” pinta mereka secara bersama.


Para


pelanggan dan orang-orang yang melihat para pemalak dipermalukan pun bersorak


bahagia. Mereka berbondong-bondong mendekat, termasuk pemilik kios pakaian yang


sebelumnya. “Rasakan itu”


“Minta


maaflah” perintah Xia Yue.


Dengan


patuhnya, para pemalak itu langsung menuju kepada ibu pemilik kios dan anak


perempuannya untuk meminta maaf pada mereka “maafkan kami” kemudian berlari


secepatnya tanpa menunggu jawaban dari mereka, apakah mereka mau memaafkan atau


tidak.


“Huu!!!”


Xia


Yue datang mendekati anak perempuan pemilik kedai. Dengan sebuah senyum


lembutnya dia berkata “Kamu terluka?” anak itu menggelengkan kepalanya untuk


menjawab bertanyaan kakak tampan di depannya. Meskipun ragu, anak itu


memberanikan dirinya untuk berkata “terima kasih”


Xia


Yue kembali tersenyum. Dia kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi anak


itu karena anak itu terlihat pucat. Dia merasakan suhu anak itu cukup tinggi


kemudian menawarkan mereka untuk berobat bersamanya “anak ibu demam. Kalau mau,


anak ibu biar diperiksa oleh tabib. Biayanya tidak perlu difikirkan”


Pemilik


kios merasa sungkan. Sudah cukup baginya karena telah ditolong dari amukan para


perampok. Dia tidak ingin untuk menyusahkan orang asing terlalu banyak “Tuan


Muda sudah membatu kami lebih dari cukup”


“Sayangnya


saya tidak menerima penolakan” Xia Yue mengatakannya dengan sebuah senyuman. Karenanya,


pemilik kios itu terharu kemudian menitikan air mata bahagianya. Bahagia karena


hari itu mereka mendapat banyak keberuntungan. Beruntung karena lolos dari


amukan pemalak. Beruntung karena masih memiliki uang simpanan. Beruntung karena


ada seseorang yang menawarkan pengobatan gratis. “Terima kasih banyak”


“Jika


ingin berterima kasih, maka kamu harus sembuh” kata Xia Yue kepada anak


perempuan pemilik kios sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan. Anak itu

__ADS_1


malu dibuat oleh Xia Yue.


“Tuan


Muda, anda harus berhati-hati setelah ini. mereka tidak mungkin akan


melepaskanmu dengan begitu mudahnya” kata pemilik kios pakaian yang


mengkhawatirkan bekas pelanggannya,


“Benar.


Mereka memiliki Donghua di belakang mereka” sahut yang lainnya. Xia Yue tidak


menjawab maupun menimpali kata-kata mereka. Dia hanya diam dan mendengarkan.


“Benar!


Belakangan ini ketika aku di pelabuhan, aku sering melihat orang asing keluar


masuk dengan mudah.” Sahut yang lainnya.


“Meskipun


Donghua salah satu 5 sekte besar, namun dia berbeda dengan sekte yang lainnya. Sekte


lain ku dengar, mereka melindungi warga yang dekat dengan mereka. Tapi disini


malah justru sebaliknya. Bahkan terkadang, aku ingin sekali meninggalkan tempat


ini” kata yang lainnya.


Berbagai


bentuk kata keluar dari mulut para warga memberikan informasi nyata ke telinga


Xia Yue secara langsung.


“Nyonya


mari kita berobat. Anda tutup dulu kiosnya sementara. Saya akan ganti rugi


kerugian anda”


Pemilik


kios begitu bahagia. “Baiklah kami ikut. Tapi izinkan saya mentraktir Tuan Muda


makan mie sederhana” tawar pemilik kios dengan senyum tulusnya.


“Tuan


Muda, mie buatan ibu ku enak kok” kata anak perempuan itu dengan menahan


wajahnya yang memerah karena malu.


Xia


Yue tidak memiliki pilihan selain menerima traktiran pemilik kios “Baiklah,”


Dengan


senyum ramahnya, pemilik kios kemudian meraih tangan Xia Yue untuk menuntuknya


duduk di salah satu kursi pelanggannya yang masih kosong “Tuan Muda duduklah”


Sekilas,


Xia Yue merindukan sentuhan tangan dari Ibundanya.


“Tuan


Muda, tunggulah sebentar” pemilik kios meninggalkan Xia Yue untuk membuatkannya


sebuah mie istimewa.


Para


warga yang sebelumnya berkumpul pun kini satu persatu mulai meninggalkan tempat


itu kecuali pemilik kios pakaian yang justru duduk di sebelah Xia Yue kemudian


memesan sebuah mie di sana “Nyonya, aku pesan satu”


“Tuan


juga? Baiklah tunggu sebentar” pemilik kios mie segera membuatkan pesanan. Sementara


anak perempuannya mengikuti ibunya di belakangnya meskipun hanya sekedar


berdiri dan melihat. Karena kondisi tubuhnya yang masih sakit, pemilik kios


melarang anaknya untuk membantunya meskipun hanya sekedar mengelap meja, dia


tidak mengizinkannya.

__ADS_1


__ADS_2