
“Tuan
tidak apa-apa?” pemilik kios mengkhawatirkan pelanggan tunggalnya.
“Tidak
apa-apa” kata Xia Yue singkat.
“Baguslah.
Tolong tunggu sebentar” kata pemilik kios sembari membungkus pesanan Xia Yue
kemudian menyerahkannya “Ini”
Xia
Yue menerimanya. Setelah membayar, dia pun meninggalkan kios itu tanpa melihat
kebelakang.
Melalui
pintu kios, Xia Yue masih bisa menemukan para pemalak yang tengah beraksi di
kios lainnya. Xia Yue membuang muka, dia enggan untuk menyaksikannya. Meskipun demikian,
nuraninya tergugah ketika para pemalak itu memalak kios dari seorang ibu parah
baya yang menjual mie. Nuraninya melebihi batas rasa angkuh dan acuhnya selama
ini.
“Tuan,
hanya segini yang saya punya. Kami membutuhkan uang untuk membeli obat anak
saya” ibu pemilik kios itu memeluk seorang anak perempuan dengan kisaran usia
10 tahun. Anak itu tampak pucat.
“Jangan
bercanda dengan kami” ancam para pemalak itu dengan suara mereka yang
menggelegar. Meskipun saat itu kios ada beberapa pelanggan yang tengah makan,
namun tidak ada satupun dari mereka yang menolong. Mereka memilih untuk diam
demi keamanan diri mereka sendiri.
Xia
Yue semakin geram ketika melihat pemalak itu mendorong ibu pemilik kios
kemudian menyentuh anak perempuannya. Meskipun mereka tidak akan melakukan
kekerasan pada anak itu, namun dengan penampilan mereka yang sedemikian garang,
tetap saja membuatnya ketakutan hingga menangis. Pemalak itu berkata “Hei nak,
dimana ibumu menyimpan uangnya”
Ibu
pemilik kios tidak bisa berkata dalam isak tangisnya. Dia tidak mampu melawan. Dia
meraung-raung memohon kepada para pemalak untuk melepaskan anak perempuannya
yang tengah sakit “Tuan lepaskan putriku”
Namun
mereka tidak menghiraukan raungan ibu pemilik kios itu. “Hei nak, katakana kalau
kamu tidak mau ibumu kami lukai”
Anak
itu semakin takut hingga pipis. Hal itu membuat seorang pemalak yang memegangi
anak perempuan itu marah kemudian mendorongnya hingga terbentur ke kursi di
dekatnya. “Anakku!!!” Ibu pemilik kios meraung sejadinya. Dia melompat ke arah putrinya
yang terjatuh kemudian mengambilnya ke dalam pelukannya.
“Aku
tanya sekali lagi. Jangan buat kesabaranku habis!” para pemalak itu semakin
tidak sabar. Mereka sudah terlalu lama membuang waktunya di kios itu tanpa
mendapat yang mereka ingin.
Ketika
__ADS_1
salah satu dari mereka hendak mengangkat kursi dan melemparkannya ke arah
pemilik kios dan anaknya, Xia Yue tiba untuk menahannya kemudian memutar
tangannya kebelakang untuk menguncinya kemudian berkata kepada pemalak yang
lain “Pergilah sebelum aku murka”
Para
pemalak yang lain geram dengan apa yang dilakukan Xia Yue di hadapan mereka. Seorang
diri menantang mereka. “Hhha, jangan membuat ku tertawa” kata salah seorang
pemalak kemudian datang ke arah Xia Yue untuk menghabisinya. Dengan tenang, Xia
Yue mendorong laki-laki di tangannya ke arah temannya yang akan datang hingga
membuat mereka bertubrukan. Amarah mereka semakin mencuat. “Beraninya kau!!!”
Tanpa
membutuhkan waktu lama, Xia Yue membuat mereka bertekuk lutut meskipun dengan
tangan kosong. “Ampuni kami” pinta mereka secara bersama.
Para
pelanggan dan orang-orang yang melihat para pemalak dipermalukan pun bersorak
bahagia. Mereka berbondong-bondong mendekat, termasuk pemilik kios pakaian yang
sebelumnya. “Rasakan itu”
“Minta
maaflah” perintah Xia Yue.
Dengan
patuhnya, para pemalak itu langsung menuju kepada ibu pemilik kios dan anak
perempuannya untuk meminta maaf pada mereka “maafkan kami” kemudian berlari
secepatnya tanpa menunggu jawaban dari mereka, apakah mereka mau memaafkan atau
tidak.
“Huu!!!”
Xia
Yue datang mendekati anak perempuan pemilik kedai. Dengan sebuah senyum
lembutnya dia berkata “Kamu terluka?” anak itu menggelengkan kepalanya untuk
menjawab bertanyaan kakak tampan di depannya. Meskipun ragu, anak itu
memberanikan dirinya untuk berkata “terima kasih”
Xia
Yue kembali tersenyum. Dia kemudian meletakkan punggung tangannya di dahi anak
itu karena anak itu terlihat pucat. Dia merasakan suhu anak itu cukup tinggi
kemudian menawarkan mereka untuk berobat bersamanya “anak ibu demam. Kalau mau,
anak ibu biar diperiksa oleh tabib. Biayanya tidak perlu difikirkan”
Pemilik
kios merasa sungkan. Sudah cukup baginya karena telah ditolong dari amukan para
perampok. Dia tidak ingin untuk menyusahkan orang asing terlalu banyak “Tuan
Muda sudah membatu kami lebih dari cukup”
“Sayangnya
saya tidak menerima penolakan” Xia Yue mengatakannya dengan sebuah senyuman. Karenanya,
pemilik kios itu terharu kemudian menitikan air mata bahagianya. Bahagia karena
hari itu mereka mendapat banyak keberuntungan. Beruntung karena lolos dari
amukan pemalak. Beruntung karena masih memiliki uang simpanan. Beruntung karena
ada seseorang yang menawarkan pengobatan gratis. “Terima kasih banyak”
“Jika
ingin berterima kasih, maka kamu harus sembuh” kata Xia Yue kepada anak
perempuan pemilik kios sembari merapikan rambutnya yang acak-acakan. Anak itu
__ADS_1
malu dibuat oleh Xia Yue.
“Tuan
Muda, anda harus berhati-hati setelah ini. mereka tidak mungkin akan
melepaskanmu dengan begitu mudahnya” kata pemilik kios pakaian yang
mengkhawatirkan bekas pelanggannya,
“Benar.
Mereka memiliki Donghua di belakang mereka” sahut yang lainnya. Xia Yue tidak
menjawab maupun menimpali kata-kata mereka. Dia hanya diam dan mendengarkan.
“Benar!
Belakangan ini ketika aku di pelabuhan, aku sering melihat orang asing keluar
masuk dengan mudah.” Sahut yang lainnya.
“Meskipun
Donghua salah satu 5 sekte besar, namun dia berbeda dengan sekte yang lainnya. Sekte
lain ku dengar, mereka melindungi warga yang dekat dengan mereka. Tapi disini
malah justru sebaliknya. Bahkan terkadang, aku ingin sekali meninggalkan tempat
ini” kata yang lainnya.
Berbagai
bentuk kata keluar dari mulut para warga memberikan informasi nyata ke telinga
Xia Yue secara langsung.
“Nyonya
mari kita berobat. Anda tutup dulu kiosnya sementara. Saya akan ganti rugi
kerugian anda”
Pemilik
kios begitu bahagia. “Baiklah kami ikut. Tapi izinkan saya mentraktir Tuan Muda
makan mie sederhana” tawar pemilik kios dengan senyum tulusnya.
“Tuan
Muda, mie buatan ibu ku enak kok” kata anak perempuan itu dengan menahan
wajahnya yang memerah karena malu.
Xia
Yue tidak memiliki pilihan selain menerima traktiran pemilik kios “Baiklah,”
Dengan
senyum ramahnya, pemilik kios kemudian meraih tangan Xia Yue untuk menuntuknya
duduk di salah satu kursi pelanggannya yang masih kosong “Tuan Muda duduklah”
Sekilas,
Xia Yue merindukan sentuhan tangan dari Ibundanya.
“Tuan
Muda, tunggulah sebentar” pemilik kios meninggalkan Xia Yue untuk membuatkannya
sebuah mie istimewa.
Para
warga yang sebelumnya berkumpul pun kini satu persatu mulai meninggalkan tempat
itu kecuali pemilik kios pakaian yang justru duduk di sebelah Xia Yue kemudian
memesan sebuah mie di sana “Nyonya, aku pesan satu”
“Tuan
juga? Baiklah tunggu sebentar” pemilik kios mie segera membuatkan pesanan. Sementara
anak perempuannya mengikuti ibunya di belakangnya meskipun hanya sekedar
berdiri dan melihat. Karena kondisi tubuhnya yang masih sakit, pemilik kios
melarang anaknya untuk membantunya meskipun hanya sekedar mengelap meja, dia
tidak mengizinkannya.
__ADS_1