
“Tuan
Muda, tidak ku sangka bela dirimu lumayan hebat” pemilik kios pakaian terkagum.
Dia memandangi Xia Yue sembari memangku dagunya dengan kepalan tangannya yang
ditaruhnya di atas meja. Hal itu membuat Xia Yue merasa terganggu. “darimana
asalmu Tuan? Tuan tidak berasal dari Donghua ataupun desa disekitar Donghua
kan..?” tebaknya dengan tepat.
Xia
Yue tetap diam tanpa kata. Dia enggan menjawab pertanyaan yang diajukan
padanya, apalagi dengan tatapan mengganggu itu. kalau saja dia melupakan rasa
hormatnya, dia mungkin sudah langsung meninggalkan tempat itu.
“Kenapa
diam saja? Apakah Tuan harus merahasiakan identitas atau semacamnya?” pemilik
kios pakaian itu semakin meracau tanpa dasar.
“Saya
hanya kebetulan lewat” jawab Xia Yue singkat.
“Lalu
darimana asalmu?” pemilik kios pakaian itu mengulangi pertanyaannya. Dia haus
akan rasa penasaran.
“Pesanan
datang” pemilik kios mie itu akhirnya datang dengan membawakan pesanan. Setelah
menaruh dua mangkuk mie di atas meja, dia berkata “Jangan ganggu Tuan Muda ini
dengan ocehanmu” tegurnya pada pemilik kios pakaian. Sebagai tetangga dalam
mengais rejeki, mereka saling mengenal satu sama lain. “Tuan Muda, abaikan saja
pak tua ini” katanya kepada Xia Yue dengan senyum ramah. Xia Yue membalas
dengan senyum ramahnya kemudian berkata “Terima kasih”
“Jangan
sungkan” balas pemilik kios mie. “Ingat jangan ganggu Tuan Muda ini” ulangnya
kepada pemilik kios pakaian sebelum kembali ke tempatnya.
Xia
Yue pun memakan mienya perlahan. Begitu pula pemilik kios pakaian, dia pun turut
memakan pesanannya. Dia tidak berani untuk mengganggu Xia Yue karena sepasang
mata mengawasinya dari sudut tempat.
Pemilik
kios mie membersihkan kiosnya sembari menunggu Xia Yue menghabiskan mienya. Bahkan
pemilik kios tidak menerima pelanggan baru yang hendak memesan mie lantaran
janjinya pada Xia Yue untuk mengikutinya pergi ketabib.
Xia
Yue pun selesai lebih dahulu. Dia kemudian membawa mangkuknya ke tempat pemilik
kios bersama dengan mangkuk pemilik kios pakaian. “Biar ku bawa” ijinnya.
“Terima
kasih” kata pemilik kios pakaian dengan senang hati “Aku pergi dulu ya, Nyonya”
katanya dengan sedikit berteriak sembari melambaikan tangannya pada pemilik
kios mie kemudian kembali ke kiosnya sendiri dengan meninggalkan sejumlah uang
di atas meja.
“Tuan
Muda tidak perlu repot” pemilik kios merasa sungkan kemudian mengambil mangkuk
__ADS_1
yang dibawa Xia Yue dan menaruhnya di meja yang dekat dengannya “Aku akan
menyelesaikannya nanti. Mari Tuan Muda” katanya kemudian merapikan dirinya dan menaruh
celemeknya ke atas meja yang sama dengan mangkuk sebelumnya.
Pemilik
kios tidak ingin membuat Xia Yue tertahan lebih lama di desa itu apalagi
setelah dia mengetahui kalau Xia Yue bukan lah berasal dari desa tersebut
maupun desa di sekitar Donghua ataupun Donghua sendiri.
“Ayo
sayang” panggilnya kepada anak perempuannya. Anak itu datang dengan patuh.
“Mari”
Xia Yue menunjukan jalan kepada ibu dan anak yang baru saja di temuinya. Menelusuri
jalan desa itu, mereka bertiga berjalan berdampingan. Di sepanjang jalan, anak
perempuan itu memegangi tangan ibunya. Xia Yue memperhatikannya dari ekor
matanya. Sekilas, dia teringat ketika dia berjalan sembari menggenggam tangan
Ibundanya dengan erat. Perasaan rindu tiba-tiba datang menyesakkan dadanya.
Tiba-tiba
segerombolan orang datang menghadang jalan mereka. Mereka membawa pedang di
tangannya. namun jika diperhatikan lebih jelas, sebagian dari mereka bukan
penduduk desa itu bahkan mereka bukan berasal dari ras yang sama dengan
penduduk Xia.
Xia
Yue dikejutkan dengan telak. Dia tersenyum bodoh pada dirinya sendiri.
“Dialah
orang yang menghajar kami tadi” kata seorang yang tidak asing. Laki-laki itu
depan umum. Kini dia datang kembali dengan membawa bantuan.
“Omae?
Omae ni koroshi” kata salah satu dari mereka yang berwajah berbeda dengan
sebuah isyarat yang mengatakan kalau dia akan membunuhnya. Dilihat dari
tempatnya berdiri dan berlagak, sepertinya dia adalah yang terkuat diantara
yang lain.
Mereka
merupakan perompak asal jepang yang datang ke Xia untuk mendapatkan keuntungan
pribadi melalui kerja sama dengan pemerintah Xia yang korup. Tentu saja
tindakan mereka dilakukan secara illegal tanpa sepengetahuan Kaisar. Namun,
karena mereka bisa berbuat sejauh ini, hal itu berarti ada seseorang yang
memiliki kekuasaan kuat dibelakangnya yang mampu membendung kenyataan dari mata
Kaisar.
Meskipun
orang itu berbicara dengan menggunakan bahasa asing, namun Xia Yue masih bisa
memahaminya. Meskipun dengan jumlah yang berbeda jauh, Xia Yue masih tetap
tenang kemudian beralih kepada seseorang yang berada di sampingnya. Dia berjongkok
untuk memposisikan dirinya sejajar dengan anak pemilik kedai kemudian berkata
dengan lembut “jangan takut. Bersembunyilah sebentar di tempat aman” anak itu
mengangguk.
“Omae!!!
Nani shitte n’da!!!” karena merasa diabaikan, mereka marah.
__ADS_1
“Tuan
Muda,” pemilik kios mie merasa khawatari terlebih dia merasa bersalah. Karena membelanya,
masalah besar datang.
“Nyonya,
tunggulah sebentar”
Pemilik
kios merasa berat, meskipun demikian dia harus tetap pergi sesuai dengan
keinginan Xia Yue. Karena jika dia masih berada di tempat itu, hal itu hanya
akan mempersulit keadaan. Dia pun segera pergi ke sebuah kios bunga. Pemilik kios
menerimanya dengan hangat.
Setelah
memastikan kalau pemilik kios sudah berada jauh dari tempat itu, Xia Yue
berbalik untuk menatap para pemalak dengan bala bantuannya. “Hajimemashou”
Orang
jepang itu tersenyum karena Xia Yue bisa menggunakan bahasanya. Sementara pemalak
sebelumnya cukup terkejut. Dia tidak menyangka kalau ada warga yang bisa
menggunakan bahasa jepang selain mereka yang bekerja sama dengan perompak
Jepang.
Kelompok
pemalak bergabung dengan perompak. Meskipun kekuatan mereka bertambah, namun
hal itu tidak merubah kenyataan.
Mereka
yang berjumlah dua puluh orang mengeluarkan pedang mereka secara bersama dan
secara serentak datang menyerbu Xia Yue yang seorang diri tanpa senjata di
tangannya.
Xia
Yue menuju seorang dari mereka, menyerangnya dengan kecepatannya, memberikan
serangan telak padanya kemudian mencuri pedang miliknya. Kini Xia Yue telah
siap dengan sebuah senjata.
Pemilik
kios mie berdoa untuk keselamatan Xia Yue dari kejauhan. Kerumanan warga juga
tidak terhindarkan karena mereka ingin melihat pertarungan langka.
Pemalak
yang sebelumnya berdedesis kesal. “dasar” kemudian berlari menuju Xia Yue untuk
membunuhnya dengan tangannya. Dia sangat yakin kalau mereka akan berhasil
membunuh Xia Yue mengingat jumlah mereka jauh lebih banyak.
Pertarungan
sengit terjadi. Xia Yue memainkan pedangnya dengan kekuatan dan kecepatannya. Meskipun
demikian, wajah tampannya masih tidak terhapuskan.
Noda-noda
darah yang terciprat ke wajahnya justru membuatnya semakin terlihat mempesona.
Para
gadis yang turut melihat peratarungan sengit itu terkagum sekaligus terpesona
dengan kemampuan dan ketampanan Xia Yue. “Luar biasa”
Bukan
hanya para gadis, para orang tua entah itu laki-laki ataupun perempuan, mereka
__ADS_1
merasa terpikat. Mereka ingin menjadikannya suami ataupun menantu.