Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 70 - "Menantu Idaman"


__ADS_3

“Tuan


Muda, tidak ku sangka bela dirimu lumayan hebat” pemilik kios pakaian terkagum.


Dia memandangi Xia Yue sembari memangku dagunya dengan kepalan tangannya yang


ditaruhnya di atas meja. Hal itu membuat Xia Yue merasa terganggu. “darimana


asalmu Tuan? Tuan tidak berasal dari Donghua ataupun desa disekitar Donghua


kan..?” tebaknya dengan tepat.


Xia


Yue tetap diam tanpa kata. Dia enggan menjawab pertanyaan yang diajukan


padanya, apalagi dengan tatapan mengganggu itu. kalau saja dia melupakan rasa


hormatnya, dia mungkin sudah langsung meninggalkan tempat itu.


“Kenapa


diam saja? Apakah Tuan harus merahasiakan identitas atau semacamnya?” pemilik


kios pakaian itu semakin meracau tanpa dasar.


“Saya


hanya kebetulan lewat” jawab Xia Yue singkat.


“Lalu


darimana asalmu?” pemilik kios pakaian itu mengulangi pertanyaannya. Dia haus


akan rasa penasaran.


“Pesanan


datang” pemilik kios mie itu akhirnya datang dengan membawakan pesanan. Setelah


menaruh dua mangkuk mie di atas meja, dia berkata “Jangan ganggu Tuan Muda ini


dengan ocehanmu” tegurnya pada pemilik kios pakaian. Sebagai tetangga dalam


mengais rejeki, mereka saling mengenal satu sama lain. “Tuan Muda, abaikan saja


pak tua ini” katanya kepada Xia Yue dengan senyum ramah. Xia Yue membalas


dengan senyum ramahnya kemudian berkata “Terima kasih”


“Jangan


sungkan” balas pemilik kios mie. “Ingat jangan ganggu Tuan Muda ini” ulangnya


kepada pemilik kios pakaian sebelum kembali ke tempatnya.


Xia


Yue pun memakan mienya perlahan. Begitu pula pemilik kios pakaian, dia pun turut


memakan pesanannya. Dia tidak berani untuk mengganggu Xia Yue karena sepasang


mata mengawasinya dari sudut tempat.


Pemilik


kios mie membersihkan kiosnya sembari menunggu Xia Yue menghabiskan mienya. Bahkan


pemilik kios tidak menerima pelanggan baru yang hendak memesan mie lantaran


janjinya pada Xia Yue untuk mengikutinya pergi ketabib.


Xia


Yue pun selesai lebih dahulu. Dia kemudian membawa mangkuknya ke tempat pemilik


kios bersama dengan mangkuk pemilik kios pakaian. “Biar ku bawa” ijinnya.


“Terima


kasih” kata pemilik kios pakaian dengan senang hati “Aku pergi dulu ya, Nyonya”


katanya dengan sedikit berteriak sembari melambaikan tangannya pada pemilik


kios mie kemudian kembali ke kiosnya sendiri dengan meninggalkan sejumlah uang


di atas meja.


“Tuan


Muda tidak perlu repot” pemilik kios merasa sungkan kemudian mengambil mangkuk

__ADS_1


yang dibawa Xia Yue dan menaruhnya di meja yang dekat dengannya “Aku akan


menyelesaikannya nanti. Mari Tuan Muda” katanya kemudian merapikan dirinya dan menaruh


celemeknya ke atas meja yang sama dengan mangkuk sebelumnya.


Pemilik


kios tidak ingin membuat Xia Yue tertahan lebih lama di desa itu apalagi


setelah dia mengetahui kalau Xia Yue bukan lah berasal dari desa tersebut


maupun desa di sekitar Donghua ataupun Donghua sendiri.


“Ayo


sayang” panggilnya kepada anak perempuannya. Anak itu datang dengan patuh.


“Mari”


Xia Yue menunjukan jalan kepada ibu dan anak yang baru saja di temuinya. Menelusuri


jalan desa itu, mereka bertiga berjalan berdampingan. Di sepanjang jalan, anak


perempuan itu memegangi tangan ibunya. Xia Yue memperhatikannya dari ekor


matanya. Sekilas, dia teringat ketika dia berjalan sembari menggenggam tangan


Ibundanya dengan erat. Perasaan rindu tiba-tiba datang menyesakkan dadanya.


Tiba-tiba


segerombolan orang datang menghadang jalan mereka. Mereka membawa pedang di


tangannya. namun jika diperhatikan lebih jelas, sebagian dari mereka bukan


penduduk desa itu bahkan mereka bukan berasal dari ras yang sama dengan


penduduk Xia.


Xia


Yue dikejutkan dengan telak. Dia tersenyum bodoh pada dirinya sendiri.


“Dialah


orang yang menghajar kami tadi” kata seorang yang tidak asing. Laki-laki itu


depan umum. Kini dia datang kembali dengan membawa bantuan.


“Omae?


Omae ni koroshi” kata salah satu dari mereka yang berwajah berbeda dengan


sebuah isyarat yang mengatakan kalau dia akan membunuhnya. Dilihat dari


tempatnya berdiri dan berlagak, sepertinya dia adalah yang terkuat diantara


yang lain.


Mereka


merupakan perompak asal jepang yang datang ke Xia untuk mendapatkan keuntungan


pribadi melalui kerja sama dengan pemerintah Xia yang korup. Tentu saja


tindakan mereka dilakukan secara illegal tanpa sepengetahuan Kaisar. Namun,


karena mereka bisa berbuat sejauh ini, hal itu berarti ada seseorang yang


memiliki kekuasaan kuat dibelakangnya yang mampu membendung kenyataan dari mata


Kaisar.


Meskipun


orang itu berbicara dengan menggunakan bahasa asing, namun Xia Yue masih bisa


memahaminya. Meskipun dengan jumlah yang berbeda jauh, Xia Yue masih tetap


tenang kemudian beralih kepada seseorang yang berada di sampingnya. Dia berjongkok


untuk memposisikan dirinya sejajar dengan anak pemilik kedai kemudian berkata


dengan lembut “jangan takut. Bersembunyilah sebentar di tempat aman” anak itu


mengangguk.


“Omae!!!


Nani shitte n’da!!!” karena merasa diabaikan, mereka marah.

__ADS_1


“Tuan


Muda,” pemilik kios mie merasa khawatari terlebih dia merasa bersalah. Karena membelanya,


masalah besar datang.


“Nyonya,


tunggulah sebentar”


Pemilik


kios merasa berat, meskipun demikian dia harus tetap pergi sesuai dengan


keinginan Xia Yue. Karena jika dia masih berada di tempat itu, hal itu hanya


akan mempersulit keadaan. Dia pun segera pergi ke sebuah kios bunga. Pemilik kios


menerimanya dengan hangat.


Setelah


memastikan kalau pemilik kios sudah berada jauh dari tempat itu, Xia Yue


berbalik untuk menatap para pemalak dengan bala bantuannya. “Hajimemashou”


Orang


jepang itu tersenyum karena Xia Yue bisa menggunakan bahasanya. Sementara pemalak


sebelumnya cukup terkejut. Dia tidak menyangka kalau ada warga yang bisa


menggunakan bahasa jepang selain mereka yang bekerja sama dengan perompak


Jepang.


Kelompok


pemalak bergabung dengan perompak. Meskipun kekuatan mereka bertambah, namun


hal itu tidak merubah kenyataan.


Mereka


yang berjumlah dua puluh orang mengeluarkan pedang mereka secara bersama dan


secara serentak datang menyerbu Xia Yue yang seorang diri tanpa senjata di


tangannya.


Xia


Yue menuju seorang dari mereka, menyerangnya dengan kecepatannya, memberikan


serangan telak padanya kemudian mencuri pedang miliknya. Kini Xia Yue telah


siap dengan sebuah senjata.


Pemilik


kios mie berdoa untuk keselamatan Xia Yue dari kejauhan. Kerumanan warga juga


tidak terhindarkan karena mereka ingin melihat pertarungan langka.


Pemalak


yang sebelumnya berdedesis kesal. “dasar” kemudian berlari menuju Xia Yue untuk


membunuhnya dengan tangannya. Dia sangat yakin kalau mereka akan berhasil


membunuh Xia Yue mengingat jumlah mereka jauh lebih banyak.


Pertarungan


sengit terjadi. Xia Yue memainkan pedangnya dengan kekuatan dan kecepatannya. Meskipun


demikian, wajah tampannya masih tidak terhapuskan.


Noda-noda


darah yang terciprat ke wajahnya justru membuatnya semakin terlihat mempesona.


Para


gadis yang turut melihat peratarungan sengit itu terkagum sekaligus terpesona


dengan kemampuan dan ketampanan Xia Yue. “Luar biasa”


Bukan


hanya para gadis, para orang tua entah itu laki-laki ataupun perempuan, mereka

__ADS_1


merasa terpikat. Mereka ingin menjadikannya suami ataupun menantu.


__ADS_2