
Hari itu secara tidak langsung
Xia Mei mendorong Kaisar untuk menyetujui keinginan Wen Yihuai. Kaisar tidak bisa berkata apapun dan hanya
terdiam di dalam fikirannya sembari menimbang banyak hal.
Sementara itu sang Menteri hanya
terpaku, menyaksikan selangkah demi selangkah Wen Yihuai menuju keinginannya.
“Mei’er benar, Ayahanda” Xia Lan
menambahi.
“Ayahanda,?” Xia Mei mengulang
pertanyaannya dengan lugunya. Keluguannya mungkin akan menjadi batu loncatan
bagi Wen Yihuai mendapatkan keinginannya. Mungkin juga Wen Yihuai telah
mempertimbangkan hingga titik ini mengenai tindakan yang akan diambil oleh Xia
Mei. Menggunakan kepolosannya dan memanfaatkannya tanpa sadar.
“Yang Mulia Putri, mungkinkah
kita harus keluar dan memberikan ruang bagi Kaisar memikirkan keputusannya agar
tidak terkesan terburu-buru” sang Menteri tidak bisa menuduh Xia Mei menjadi
bagian dari mereka karena dia tahu Xia Mei sejak dia masih kecil hingga tumbuh
dewasa. Dia juga tahu, seberapa jauh Xia Lan melangkah, dia tidak akan
membiarkan saudara kecilnya mengikutinya.
“Menteri benar Mei’er. Keputusan
ini cukup besar dan butuh waktu untuk memikirkannya.” Bujuk Xia Lan. Dibalik
itu, dia juga tidak ingin kalau kebelakangnya aka nada suara yang menyebut nama
adiknya dalam pengambilan keputusan Kaisar kali ini.
Sebagai seorang saudara, Xia Lan
cukup bertanggung jawab dan penuh cinta kasih. Namun sebagai musuh, jangan
bertanya tentang surga atau neraka padanya.
Melihat saudara dan Menteri
memintanya untuk keluar, Xia Mei yang awalnya enggan kini menurut “Baiklah”
kemudian meninggalkan ruangan itu setelah memberikan hormat kepada Kaisar dan
keluar bersama dengan sang Menteri. Kini di ruangan itu hanya tinggal Kaisar
bersama dengan kedua tamu undangannya.
Kaisar tampak menekan peningnya.
Dia tampak terbebani dengan pilihan yang ada. Namun bagaimanapun juga dia harus
memilih.
“Baiklah, akan aku cabut
pertunangan Xia Yue dengan Gu Xie. Lamarlah Nona Gu dengan sepantasnya sekali
lagi”
Kaisar hanya bisa mencabut
pengumumannya tapi dia tidak bisa untuk meralat pengumuman dengan mengumumkan
satu hal baru yang berbeda dengan sebelumnya. Mendengar keputusan Kaisar ini,
Xia Lan dan juga Wen Yihuai nampak sedikit kecewa namun semua ini masih dalam
batas rencananya.
“Kenapa Ayahanda tidak
menganugerahkan pernikahan kepada mereka berdua. Bukankah mereka merupakan anak
__ADS_1
tunggal dari sekte besar di Xia?” Xia Lan mencoba menuntun Ayahnya ke jalan
yang seharusnya.
“Kamu mengetahuinya dengan jelas” Kaisar
tersinggung dengan perkataan Xia Lan.
“Kaisar, mungkinkah Nona Gu akan
menerima lamaranku ketika aku adalah orang yang hampir membunuhnya? Tentu saja
itu tidak mungkin. Maka dari itu jika aku bisa memilih, aku lebih memilih mati
bersama dengannya” Wen Yihuai memberikan penekanan lebih. Wen Yihuai bersama
dengan Xia Lan berusaha menggiring Kaisar agar menuruti keinginan mereka, yaitu
menikahkan Wen Yihuai dengan Gu Xie secara langsung dan bukan sekedar
membatalkan pertunangan Gu Xie dengan Xia Yue saja.
Kaisar juga tahu kalau dia tidak
bisa untuk memilih menyetujui keinginan Wen Yihuai secara langsung, meskipun
dia tidak mengerti secara pasti alasan itu tapi ada satu hal yang mengganjalnya
dan menahannya untuk tidak menyetujuinya.
Kaisar tampak berfikir keras.
Perkataan Wen Yihuai benar dan alasan-alasan yang diutarakan sebelumnya juga
benar. Tentu saja, karena semuanya berada dalam rencana.
“Apa yang Ayahanda cemaskan?
Ayahanda khawatir tentang opini masyarakat terkait keputusan Ayahanda yang
berubah begitu cepat?” Xia Lan menekan lebih dalam.
“Salah satunya adalah hal itu”
kata Kaisar dengan nada suaranya yang merendah. Dari sana menunjukan kalau
“Ayahanda sudah lelah” Xia Lan
menunjukan rasa khawatirnya kepada Ayah kandungnya. “Ayahanda istrihatlah.
Jangan persulit masalah kali ini karena kali ini sebenarnya tidaklah terlalu
rumit” tambah Xia Lan.
“Cukup. Cukup sampai disini
keputusanku. Apapun yang kalian katakan tidak akan merubah keputusanku.
Silahkan kalian keluar” kata Kaisar teguh dengan pemikirannya. Sebagai
seseorang yang telah menjalani kehidupan Istana dengan segala tipu muslihatnya
selama sepanjang hidupnya, Kaisar tidak bisa menganggap mudah segala hal. Bisa
jadi hal itu akan mendorong Xia jatuh ke dalam masalah. “Menteri” panggil
Kaisar dengan lemah namun masih sanggup untuk terdengar hingga keluar ruangan.
“Saya Kaisar” sahut sang Menteri
dengan sigap.
“Masuklah”
“Baik Kaisar” Menteri itupun
kemudian memasuki ruang kerja Kaisar tanpa Xia Mei. Perlahan dia membuka pintu
ruangan itu dan kemudian menutupnya kembali sebelum menghadap di hadapan Kaisar
untuk menerima titahnya. “Saya hadir Kaisar” kata sang Menteri ketika telah
siap di hadapan Kaisar.
Xia Lan dan Wen Yihuai
__ADS_1
memperhatikan tiap gerak dari sang Menteri.
“Sampaikan keputusanku” kata
Kaisar pasti “aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan Pangeran Xia Yue
dengan Nona Gu Xie, memberikan mereka berdua kebebasan untuk memilih pasangan
yang mereka cintai” lanjut Kaisar.
Xia Lan beserta Wen Yihuai merasa
geram atas keputusan Kaisar. Meskipun mereka telah memasukkan keputusan itu
dalam daftar kemungkinan yang akan terjadi, namun tetap saja, untuk meneruskan
ke rencana lainnya itu cukup merepotkan.
Mereka berdua berdecik kecewa
dengan tanpa menunjukannya.
Sang Menteri tersenyum lega
mendengar keputusan Kaisar. Dengan begini, Xia Lan akan sedikit repot dengan
rencananya. Setidaknya dia tidak akan mudah untuk mencapai rencananya.
“Tuan Muda Wen, segera berikan
penawarnya kepada Nona Gu, karena aku sudah membatalkan pertunangannya dengan
putraku. Jadi kalian bisa membicarakan ulang terkait pernikahan kalian secara
pribadi tanpa harus terjadi pertikaian” Kaisar berkata selayaknya orang tua
berpesan kepada anak-anaknya.
“Baik Kaisar” jawab Wen Yihuai
sembari memberikan hormatnya sebagai tata krama menerima keputusan Kaisar.
“Silahkan Tuan Muda Wen” sang
Menteri mempersilahkan Wen Yihuai untuk keluar sembari menunjukan jalannya
dengan tangannya. Wen Yihuai merasa geram dengan semburat bahagia yang
terpasang di wajah sang Menteri sehingga dia pun menatap kesal ke arah sang
Menteri seraya berjalan menuju pintu keluar.
Setelah Wen Yihuai cukup jauh
dari posisinya semula, sang Menteri kemudian beralih kepada Xia Lan yang masih
terpaku di tempatnya “Yang Mulia, silahkan” kata sang Menteri kepada Xia Lan.
Tanpa menanggapi sang Menteri,
Xia Lan pergi begitu saja.
Melihat sikap Xia Lan yang seperti
itu justru membuat sang Menteri merasa lucu dan bahagia.
“Kaisar, perlukah saya memanggil
tabib kerajaan untuk anda sekarang? Saya mengkhawatirkan keadaan anda” sang
Menteri tampak begitu khawatir dengan wajah pucat Kaisar.
“Kakak, bagaimana?” Xia Mei
dengan naïf dan polosnya bertanya dengan senyum dan wajahnya yang menggambarkan
semburat kebahagiaan. Xia Lan hampir meledak, namun dia tidak bisa
memuntahkannya kepada Xia Mei karena memang dia sendiri yang menginginkan untuk
Xia Mei tidak memahami apapun dengan hal yang berbau licik ataupun jahat.
Wen Yihuai yang enggan memberikan
tanggapan, dia mempercepat langkahnya untuk segera menuju suatu tempat dimana
__ADS_1
dia bisa meluabkan kekesalannya.