Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 84 - "Pembatalan Pertunangan"


__ADS_3

Hari itu secara tidak langsung


Xia Mei mendorong Kaisar untuk menyetujui keinginan Wen Yihuai.  Kaisar tidak bisa berkata apapun dan hanya


terdiam di dalam fikirannya sembari menimbang banyak hal.


Sementara itu sang Menteri hanya


terpaku, menyaksikan selangkah demi selangkah Wen Yihuai menuju keinginannya.


“Mei’er benar, Ayahanda” Xia Lan


menambahi.


“Ayahanda,?” Xia Mei mengulang


pertanyaannya dengan lugunya. Keluguannya mungkin akan menjadi batu loncatan


bagi Wen Yihuai mendapatkan keinginannya. Mungkin juga Wen Yihuai telah


mempertimbangkan hingga titik ini mengenai tindakan yang akan diambil oleh Xia


Mei. Menggunakan kepolosannya dan memanfaatkannya tanpa sadar.


“Yang Mulia Putri, mungkinkah


kita harus keluar dan memberikan ruang bagi Kaisar memikirkan keputusannya agar


tidak terkesan terburu-buru” sang Menteri tidak bisa menuduh Xia Mei menjadi


bagian dari mereka karena dia tahu Xia Mei sejak dia masih kecil hingga tumbuh


dewasa. Dia juga tahu, seberapa jauh Xia Lan melangkah, dia tidak akan


membiarkan saudara kecilnya mengikutinya.


“Menteri benar Mei’er. Keputusan


ini cukup besar dan butuh waktu untuk memikirkannya.” Bujuk Xia Lan. Dibalik


itu, dia juga tidak ingin kalau kebelakangnya aka nada suara yang menyebut nama


adiknya dalam pengambilan keputusan Kaisar kali ini.


Sebagai seorang saudara, Xia Lan


cukup bertanggung jawab dan penuh cinta kasih. Namun sebagai musuh, jangan


bertanya tentang surga atau neraka padanya.


Melihat saudara dan Menteri


memintanya untuk keluar, Xia Mei yang awalnya enggan kini menurut “Baiklah”


kemudian meninggalkan ruangan itu setelah memberikan hormat kepada Kaisar dan


keluar bersama dengan sang Menteri. Kini di ruangan itu hanya tinggal Kaisar


bersama dengan kedua tamu undangannya.


Kaisar tampak menekan peningnya.


Dia tampak terbebani dengan pilihan yang ada. Namun bagaimanapun juga dia harus


memilih.


“Baiklah, akan aku cabut


pertunangan Xia Yue dengan Gu Xie. Lamarlah Nona Gu dengan sepantasnya sekali


lagi”


Kaisar hanya bisa mencabut


pengumumannya tapi dia tidak bisa untuk meralat pengumuman dengan mengumumkan


satu hal baru yang berbeda dengan sebelumnya. Mendengar keputusan Kaisar ini,


Xia Lan dan juga Wen Yihuai nampak sedikit kecewa namun semua ini masih dalam


batas rencananya.


“Kenapa Ayahanda tidak


menganugerahkan pernikahan kepada mereka berdua. Bukankah mereka merupakan anak

__ADS_1


tunggal dari sekte besar di Xia?” Xia Lan mencoba menuntun Ayahnya ke jalan


yang seharusnya.


 “Kamu mengetahuinya dengan jelas” Kaisar


tersinggung dengan perkataan Xia Lan.


“Kaisar, mungkinkah Nona Gu akan


menerima lamaranku ketika aku adalah orang yang hampir membunuhnya? Tentu saja


itu tidak mungkin. Maka dari itu jika aku bisa memilih, aku lebih memilih mati


bersama dengannya” Wen Yihuai memberikan penekanan lebih. Wen Yihuai bersama


dengan Xia Lan berusaha menggiring Kaisar agar menuruti keinginan mereka, yaitu


menikahkan Wen Yihuai dengan Gu Xie secara langsung dan bukan sekedar


membatalkan pertunangan Gu Xie dengan Xia Yue saja.


Kaisar juga tahu kalau dia tidak


bisa untuk memilih menyetujui keinginan Wen Yihuai secara langsung, meskipun


dia tidak mengerti secara pasti alasan itu tapi ada satu hal yang mengganjalnya


dan menahannya untuk tidak menyetujuinya.


Kaisar tampak berfikir keras.


Perkataan Wen Yihuai benar dan alasan-alasan yang diutarakan sebelumnya juga


benar. Tentu saja, karena semuanya berada dalam rencana.


“Apa yang Ayahanda cemaskan?


Ayahanda khawatir tentang opini masyarakat terkait keputusan Ayahanda yang


berubah begitu cepat?” Xia Lan menekan lebih dalam.


“Salah satunya adalah hal itu”


kata Kaisar dengan nada suaranya yang merendah. Dari sana menunjukan kalau


“Ayahanda sudah lelah” Xia Lan


menunjukan rasa khawatirnya kepada Ayah kandungnya. “Ayahanda istrihatlah.


Jangan persulit masalah kali ini karena kali ini sebenarnya tidaklah terlalu


rumit” tambah Xia Lan.


“Cukup. Cukup sampai disini


keputusanku. Apapun yang kalian katakan tidak akan merubah keputusanku.


Silahkan kalian keluar” kata Kaisar teguh dengan pemikirannya. Sebagai


seseorang yang telah menjalani kehidupan Istana dengan segala tipu muslihatnya


selama sepanjang hidupnya, Kaisar tidak bisa menganggap mudah segala hal. Bisa


jadi hal itu akan mendorong Xia jatuh ke dalam masalah. “Menteri” panggil


Kaisar dengan lemah namun masih sanggup untuk terdengar hingga keluar ruangan.


“Saya Kaisar” sahut sang Menteri


dengan sigap.


“Masuklah”


“Baik Kaisar” Menteri itupun


kemudian memasuki ruang kerja Kaisar tanpa Xia Mei. Perlahan dia membuka pintu


ruangan itu dan kemudian menutupnya kembali sebelum menghadap di hadapan Kaisar


untuk menerima titahnya. “Saya hadir Kaisar” kata sang Menteri ketika telah


siap di hadapan Kaisar.


Xia Lan dan Wen Yihuai

__ADS_1


memperhatikan tiap gerak dari sang Menteri.


“Sampaikan keputusanku” kata


Kaisar pasti “aku memutuskan untuk membatalkan pertunangan Pangeran Xia Yue


dengan Nona Gu Xie, memberikan mereka berdua kebebasan untuk memilih pasangan


yang mereka cintai” lanjut Kaisar.


Xia Lan beserta Wen Yihuai merasa


geram atas keputusan Kaisar. Meskipun mereka telah memasukkan keputusan itu


dalam daftar kemungkinan yang akan terjadi, namun tetap saja, untuk meneruskan


ke rencana lainnya itu cukup merepotkan.


Mereka berdua berdecik kecewa


dengan tanpa menunjukannya.


Sang Menteri tersenyum lega


mendengar keputusan Kaisar. Dengan begini, Xia Lan akan sedikit repot dengan


rencananya. Setidaknya dia tidak akan mudah untuk mencapai rencananya.


“Tuan Muda Wen, segera berikan


penawarnya kepada Nona Gu, karena aku sudah membatalkan pertunangannya dengan


putraku. Jadi kalian bisa membicarakan ulang terkait pernikahan kalian secara


pribadi tanpa harus terjadi pertikaian” Kaisar berkata selayaknya orang tua


berpesan kepada anak-anaknya.


“Baik Kaisar” jawab Wen Yihuai


sembari memberikan hormatnya sebagai tata krama menerima keputusan Kaisar.


“Silahkan Tuan Muda Wen” sang


Menteri mempersilahkan Wen Yihuai untuk keluar sembari menunjukan jalannya


dengan tangannya. Wen Yihuai merasa geram dengan semburat bahagia yang


terpasang di wajah sang Menteri sehingga dia pun menatap kesal ke arah sang


Menteri seraya berjalan menuju pintu keluar.


Setelah Wen Yihuai cukup jauh


dari posisinya semula, sang Menteri kemudian beralih kepada Xia Lan yang masih


terpaku di tempatnya “Yang Mulia, silahkan” kata sang Menteri kepada Xia Lan.


Tanpa menanggapi sang Menteri,


Xia Lan pergi begitu saja.


Melihat sikap Xia Lan yang seperti


itu justru membuat sang Menteri merasa lucu dan bahagia.


“Kaisar, perlukah saya memanggil


tabib kerajaan untuk anda sekarang? Saya mengkhawatirkan keadaan anda” sang


Menteri tampak begitu khawatir dengan wajah pucat Kaisar.


“Kakak, bagaimana?” Xia Mei


dengan naïf dan polosnya bertanya dengan senyum dan wajahnya yang menggambarkan


semburat kebahagiaan. Xia Lan hampir meledak, namun dia tidak bisa


memuntahkannya kepada Xia Mei karena memang dia sendiri yang menginginkan untuk


Xia Mei tidak memahami apapun dengan hal yang berbau licik ataupun jahat.


Wen Yihuai yang enggan memberikan


tanggapan, dia mempercepat langkahnya untuk segera menuju suatu tempat dimana

__ADS_1


dia bisa meluabkan kekesalannya.


__ADS_2