Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 79 - "Cinta Terlarang"


__ADS_3

“Kenapa


di depan terdengar suara perkelahian” kata Xiao An yang mencoba fokus dengan


kegiatan memasaknya.


“Biarkan


saja. Kamu tidak perlu menunjukan dirimu pada Lin Yuan. Melihat kemapuan Tuan


Xia, dia pasti bisa memukul mundur Lin Yuan beserta pasukannya” Xiao Bai yakin.


“Kamu


seyakin itu. bukankah Jin Xia masih terluka. Apakah dia mampu mendukung Tuannya


ataukah hanya menjadi beban untuk Tuannya”Xiao An meremehkan.


“Aku


yakin, sebagai seseorang yang dekat dengan kematian, dia akan mampu menggunakan


seluruh kemampuannya untuk tetap bertahan.”


Sementara


itu, pertarungan yang sebelumnya cukup sengit hingga jatuh beberapa korban dari


pihak kepolisian, kini mereda. Disana hanya tampak percakapan ringan dari kedua


belah pihak tanpa ada satupun yang memegang pedang di tangan mereka.


Di


tengah kebingungan dari pihak Lin Yuan, Xia Yue meninggalkan mereka untuk


mengantar Jin Xia ke dalam pondok melihat keadaannya yang memucat bahkan lebih


pucat dari sebelumnya. Sekali lagi, Xia Yue menggendong Jin Xia bagaiakan Tuan


Putri.


Melalui


ceceran darah dari pertarungan mereka, Xia Yue terus melangkah dengan pasti


meninggalkan Lin Yuan dan bawahannya dalam kebingungan. Meskipun kini mereka


mengetahui identitas yang tidak ingin di ungkapkannya, semua itu tidak akan


mengubah apapun.


“Kamu


sungguh Xia Yue dari Xihua?” tanya Lin Yuan ketika Xia Yue melangkah semakin


jauh darinya.


“Kamu


akan menanggung semuanya seperti yang ku katakan sebelumnya” Xia Yue terus


melangkah menuju pondok.


Sementara


itu Jin Xia memandangi wajah tenang Xia Yue dari bawah. Sekali lagi dia


merasakan tangan besar itu memegang bahu dan kaki nya, menggendongnya dengan


jantan serta memberika rasa aman dan nyaman sembari memikirkan kembali


perkataan Xia Yue sebelumnya yang mengatakan tentang pembatalan pertunangannya.


“Kamu


datang kesini karena Donghua atau Benteng?” tanya Lin Yuan mencoba untuk


menahan Xia Yue tetap tinggal.


“Tidak


keduanya” Xia Yue tidak memperdulikan diantara keduanya. Kedatangannya ke desa


itu hanya karena Jin Xia tengah terluka dan membutuhkan perawatan medis


sekaligus memenuhi keinginannya untuk membantu seorang gadis yang ditemuinya di


perjalanan menuju Xihua.


Xia


Yue terus melangkah menuju pondok sembari menggendong Jin Xia mengantarkannya


kepada tabib untuk mendapatkan perawatan karena lukanya yang sempat terbuka


oleh pertarungan yang sia-sia.


“Lalu

__ADS_1


kenapa kamu ada di sini.? Jika kamu ingin, aku akan mengantarmu” Lin Yuan masih


mencoba.


“Lupakan


saja. Cari orang lain yang bisa kamu gunakan sebagai pion mu”


“Bagaimana


kamu bisa bicara seperti itu sementara kamu mempunyai kemampuan untuk


menghentikan semuanya” Lin Yuan tidak mengerti.


Xia


Yue tidak menjawab, dia terus melangkah hingga sepenuhnya masuk ke dalam


pondok. “Ada apa dengannya?” tanya tabib yang melihat darah di pakaian Jin Xia


terutama tempat lukanya. Karena Jin Xia masih mengenakan pakaian sebelumnya


ketika dia terkena panah, pakaian yang sebelumnya dibeli oleh Xia Yue entah


dimana keberadaannya.


“Yang


Mulia!!” teriak Lin Yuan putus asa dari luar pondok.


“Yang


Mulia?” ulang semua orang yang ada di dalam pondok termasuk tabib. Xiao An


beserta Xiao Bai juga mendengar suara Lin Yuan dari belakang pondok. Mata


mereka saling bertemu untuk beberapa saat seolah saling bertanya ‘siapa yang di


panggil Lin Yuan Yang Mulia’


“Tolong”


kata Xia Yue lirih sembari mendudukkan Jin Xia di kursi karena ranjang


satu-satunya di pondok itu tengah digunakan oleh laki-laki pemalak yang


terluka.


“Ba-baik”


jawab sang tabib sembari melihat dengan seksama keadaan Jin Xia. Dimulai dari


memeriksa denyut nadinya. “kenapa kamu seperti ini, Nona? Apakah nyawamu tidak


“Apakah


ada sesuatu?” tanya Xia Yue.


“Baiklah,


anda bisa mencariku di kantor polisi desa ini kapan pun jika anda ingin. Yang


Mulia, aku menunggu kedatanganmu” teriak Lin Yuan dengan suara yang di


keraskannya.


“Tidak


ada, Yang Mulia” kata sang tabib yang menyadari status Xia Yue. Xia Yue tampak


biasa saja. Dia tidak tampak terkejut dengan statusnya yang di ketahui.


Bagi


ibu pemilik kios dan putrinya, mereka justru merasa telah melakukan sebuah


kesalahan besar karena tidak mengenali Xia Yue yang seorang anggota keluarga


kerajaan. Ibu pemilik kios pun langsung berlutut di hadapan Xia Yue sembari


berkata “Yang Mulia~ maafkan ketidakhormatan saya”


“Apa


yang Nyonya katakan, berdirilah” Xia Yue mencoba membuat pemilik kios tidak


berlutut di hadapannya. Dia merasa enggan karenanya.


“Nyonya,


berdirilah. Jangan berlutut. Tuan Muda tidak suka jika ada orang yang berlutut


di depannya” jelas Jin Xia. Ketika mendengar penjelasan itu, Ibu pemilik kios


pun seketika berdiri sembari berkata “Terima kasih banyak Yang Mulia” dengan


tatapan tulus sehingga membuat Xia Yue tidak bisa untuk mengelaknya. Dia pun


tersenyum dan menerima ucapan terima kasih Ibu pemilik kios itu.

__ADS_1


“Yang


Mulia, terimakasih” kata anak pemilik kios di belakang ibundanya dengan sedikit


malu-malu.


Sementara


itu, Lin Yuan berbalik untuk meninggalkan pondok itu dengan tanpa membawa jasad


para bawahannya yang menjadi korban dari tangan Jin Xia.


“Tuan”


panggil salah satu bawahannya yang tersisa.


“Kenapa?”


“Apa


yang kamu rencanakan dengan memberitahu orang itu, maksudku Pangeran Xia Yue”


“Setelah


semuanya berjalan, kamu akan mengetahuinya. Berharaplah kalau dia akan masuk ke


dalam permainan. Jika tidak, maka kita harus membawanya masuk dengan paksa”


kata Lin Yuan.


“Baik”


para bawahannya mematuhi kata-katanya tanpa bertanya lebih jauh.


Ketika


Lin Yuan dan bawahannya berjalan meninggalkan pondok, Xiao An melihatnya dari


belakang pondok kemudian berkata kepada saudaranya yang masih sibuk memasak


“Xiao Bai, Lin Yuan sudah pergi”


“Biarkan


saja dia pergi. Kalau bisa jangan pernah terlihat di hadapanku” kata Xiao Bai


dengan bencinya.


“Kamu


begitu membencinya?” Xiao An melanjutkan memasak.


“Aku


tidak membencinya, hanya saja aku tidak bisa untuk melihatnya.” Jawab Xiao Bai


setelah sedikit berfikir mengenai jawaban atas pertanyaan saudaranya. benar,


kenapa dia membenci Lin Yuan padahal dia tidak memiliki urusan dengannya.


Sebaliknya, Lin Yuan justru mencintai saudaranya.


“Kalau


dia tidak menikah dengan Putri orang itu, apakah kamu akan tetap membencinya?”


Xiao An tampak merenung di dalam pertanyaannya.


Untuk


sejenak, Xiao Bai menghentikan aktivitasnya. Dia memandang dalam kea rah


saudaranya yang tampak tidak bersemangat. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”


“Kalau


saja dia bukan seorang Putri, dia tidak akan bisa menyuruh orang untuk memburu


kita”


“Bukan


seperti itu”


“Kalau


saja orang itu bukan seorang Putri, dia tidak akan menikahinya dan tidak harus


menikahinya. Maka dia dan aku akan bisa menjadi satu tanpa aku harus menjadi


seorang pendosa seperti ini”


Xiao


Bai bagai tersambar petir mendengar kata-kata Xiao An yang begitu pilu. Dia


tidak menyangka kalau perasaannya yang sesungguhnya adalah seperti itu. Dia


merasa seperti saudara yang bodoh karena telah tidak mempercayai saudaranya

__ADS_1


sendiri selama ini dan cenderung menyalahkannya atas sikapnya yang telah


lancang sebagai perempuan.


__ADS_2