
“Kenapa
di depan terdengar suara perkelahian” kata Xiao An yang mencoba fokus dengan
kegiatan memasaknya.
“Biarkan
saja. Kamu tidak perlu menunjukan dirimu pada Lin Yuan. Melihat kemapuan Tuan
Xia, dia pasti bisa memukul mundur Lin Yuan beserta pasukannya” Xiao Bai yakin.
“Kamu
seyakin itu. bukankah Jin Xia masih terluka. Apakah dia mampu mendukung Tuannya
ataukah hanya menjadi beban untuk Tuannya”Xiao An meremehkan.
“Aku
yakin, sebagai seseorang yang dekat dengan kematian, dia akan mampu menggunakan
seluruh kemampuannya untuk tetap bertahan.”
Sementara
itu, pertarungan yang sebelumnya cukup sengit hingga jatuh beberapa korban dari
pihak kepolisian, kini mereda. Disana hanya tampak percakapan ringan dari kedua
belah pihak tanpa ada satupun yang memegang pedang di tangan mereka.
Di
tengah kebingungan dari pihak Lin Yuan, Xia Yue meninggalkan mereka untuk
mengantar Jin Xia ke dalam pondok melihat keadaannya yang memucat bahkan lebih
pucat dari sebelumnya. Sekali lagi, Xia Yue menggendong Jin Xia bagaiakan Tuan
Putri.
Melalui
ceceran darah dari pertarungan mereka, Xia Yue terus melangkah dengan pasti
meninggalkan Lin Yuan dan bawahannya dalam kebingungan. Meskipun kini mereka
mengetahui identitas yang tidak ingin di ungkapkannya, semua itu tidak akan
mengubah apapun.
“Kamu
sungguh Xia Yue dari Xihua?” tanya Lin Yuan ketika Xia Yue melangkah semakin
jauh darinya.
“Kamu
akan menanggung semuanya seperti yang ku katakan sebelumnya” Xia Yue terus
melangkah menuju pondok.
Sementara
itu Jin Xia memandangi wajah tenang Xia Yue dari bawah. Sekali lagi dia
merasakan tangan besar itu memegang bahu dan kaki nya, menggendongnya dengan
jantan serta memberika rasa aman dan nyaman sembari memikirkan kembali
perkataan Xia Yue sebelumnya yang mengatakan tentang pembatalan pertunangannya.
“Kamu
datang kesini karena Donghua atau Benteng?” tanya Lin Yuan mencoba untuk
menahan Xia Yue tetap tinggal.
“Tidak
keduanya” Xia Yue tidak memperdulikan diantara keduanya. Kedatangannya ke desa
itu hanya karena Jin Xia tengah terluka dan membutuhkan perawatan medis
sekaligus memenuhi keinginannya untuk membantu seorang gadis yang ditemuinya di
perjalanan menuju Xihua.
Xia
Yue terus melangkah menuju pondok sembari menggendong Jin Xia mengantarkannya
kepada tabib untuk mendapatkan perawatan karena lukanya yang sempat terbuka
oleh pertarungan yang sia-sia.
“Lalu
__ADS_1
kenapa kamu ada di sini.? Jika kamu ingin, aku akan mengantarmu” Lin Yuan masih
mencoba.
“Lupakan
saja. Cari orang lain yang bisa kamu gunakan sebagai pion mu”
“Bagaimana
kamu bisa bicara seperti itu sementara kamu mempunyai kemampuan untuk
menghentikan semuanya” Lin Yuan tidak mengerti.
Xia
Yue tidak menjawab, dia terus melangkah hingga sepenuhnya masuk ke dalam
pondok. “Ada apa dengannya?” tanya tabib yang melihat darah di pakaian Jin Xia
terutama tempat lukanya. Karena Jin Xia masih mengenakan pakaian sebelumnya
ketika dia terkena panah, pakaian yang sebelumnya dibeli oleh Xia Yue entah
dimana keberadaannya.
“Yang
Mulia!!” teriak Lin Yuan putus asa dari luar pondok.
“Yang
Mulia?” ulang semua orang yang ada di dalam pondok termasuk tabib. Xiao An
beserta Xiao Bai juga mendengar suara Lin Yuan dari belakang pondok. Mata
mereka saling bertemu untuk beberapa saat seolah saling bertanya ‘siapa yang di
panggil Lin Yuan Yang Mulia’
“Tolong”
kata Xia Yue lirih sembari mendudukkan Jin Xia di kursi karena ranjang
satu-satunya di pondok itu tengah digunakan oleh laki-laki pemalak yang
terluka.
“Ba-baik”
jawab sang tabib sembari melihat dengan seksama keadaan Jin Xia. Dimulai dari
memeriksa denyut nadinya. “kenapa kamu seperti ini, Nona? Apakah nyawamu tidak
“Apakah
ada sesuatu?” tanya Xia Yue.
“Baiklah,
anda bisa mencariku di kantor polisi desa ini kapan pun jika anda ingin. Yang
Mulia, aku menunggu kedatanganmu” teriak Lin Yuan dengan suara yang di
keraskannya.
“Tidak
ada, Yang Mulia” kata sang tabib yang menyadari status Xia Yue. Xia Yue tampak
biasa saja. Dia tidak tampak terkejut dengan statusnya yang di ketahui.
Bagi
ibu pemilik kios dan putrinya, mereka justru merasa telah melakukan sebuah
kesalahan besar karena tidak mengenali Xia Yue yang seorang anggota keluarga
kerajaan. Ibu pemilik kios pun langsung berlutut di hadapan Xia Yue sembari
berkata “Yang Mulia~ maafkan ketidakhormatan saya”
“Apa
yang Nyonya katakan, berdirilah” Xia Yue mencoba membuat pemilik kios tidak
berlutut di hadapannya. Dia merasa enggan karenanya.
“Nyonya,
berdirilah. Jangan berlutut. Tuan Muda tidak suka jika ada orang yang berlutut
di depannya” jelas Jin Xia. Ketika mendengar penjelasan itu, Ibu pemilik kios
pun seketika berdiri sembari berkata “Terima kasih banyak Yang Mulia” dengan
tatapan tulus sehingga membuat Xia Yue tidak bisa untuk mengelaknya. Dia pun
tersenyum dan menerima ucapan terima kasih Ibu pemilik kios itu.
__ADS_1
“Yang
Mulia, terimakasih” kata anak pemilik kios di belakang ibundanya dengan sedikit
malu-malu.
Sementara
itu, Lin Yuan berbalik untuk meninggalkan pondok itu dengan tanpa membawa jasad
para bawahannya yang menjadi korban dari tangan Jin Xia.
“Tuan”
panggil salah satu bawahannya yang tersisa.
“Kenapa?”
“Apa
yang kamu rencanakan dengan memberitahu orang itu, maksudku Pangeran Xia Yue”
“Setelah
semuanya berjalan, kamu akan mengetahuinya. Berharaplah kalau dia akan masuk ke
dalam permainan. Jika tidak, maka kita harus membawanya masuk dengan paksa”
kata Lin Yuan.
“Baik”
para bawahannya mematuhi kata-katanya tanpa bertanya lebih jauh.
Ketika
Lin Yuan dan bawahannya berjalan meninggalkan pondok, Xiao An melihatnya dari
belakang pondok kemudian berkata kepada saudaranya yang masih sibuk memasak
“Xiao Bai, Lin Yuan sudah pergi”
“Biarkan
saja dia pergi. Kalau bisa jangan pernah terlihat di hadapanku” kata Xiao Bai
dengan bencinya.
“Kamu
begitu membencinya?” Xiao An melanjutkan memasak.
“Aku
tidak membencinya, hanya saja aku tidak bisa untuk melihatnya.” Jawab Xiao Bai
setelah sedikit berfikir mengenai jawaban atas pertanyaan saudaranya. benar,
kenapa dia membenci Lin Yuan padahal dia tidak memiliki urusan dengannya.
Sebaliknya, Lin Yuan justru mencintai saudaranya.
“Kalau
dia tidak menikah dengan Putri orang itu, apakah kamu akan tetap membencinya?”
Xiao An tampak merenung di dalam pertanyaannya.
Untuk
sejenak, Xiao Bai menghentikan aktivitasnya. Dia memandang dalam kea rah
saudaranya yang tampak tidak bersemangat. “Kenapa kamu bertanya seperti itu?”
“Kalau
saja dia bukan seorang Putri, dia tidak akan bisa menyuruh orang untuk memburu
kita”
“Bukan
seperti itu”
“Kalau
saja orang itu bukan seorang Putri, dia tidak akan menikahinya dan tidak harus
menikahinya. Maka dia dan aku akan bisa menjadi satu tanpa aku harus menjadi
seorang pendosa seperti ini”
Xiao
Bai bagai tersambar petir mendengar kata-kata Xiao An yang begitu pilu. Dia
tidak menyangka kalau perasaannya yang sesungguhnya adalah seperti itu. Dia
merasa seperti saudara yang bodoh karena telah tidak mempercayai saudaranya
__ADS_1
sendiri selama ini dan cenderung menyalahkannya atas sikapnya yang telah
lancang sebagai perempuan.