Pertemuan Kedua

Pertemuan Kedua
Chapter 67 - "Pengobatan Xiao Bai"


__ADS_3

Hari


itu cuaca cukup cerah. Binatang piaran tabib itu berkeliaran di pekarangan


hingga jalanan. Suara bising yang dikeluarkan piaraan-piaraan itu mengusik Xiao


An yang merasa tidak nyaman dengan adanya mereka.


Xiao


Bai bergantian dengan Xia Yue untuk menggantikannya membersihkan luka Jin Xia


yang tengah menunggu di dalam pondok. Setelah melewati pintu kayu, Xiao Bai


menutupnya agar tidak terlihat oleh orang luar kalau-kalau ada tamu yang datang


ditengah prosesnya merawat Jin Xia.


Xiao


An memperhatikan. Namun harapan tinggalah harapan. Meskipun dia memasang wajah


tercantiknya namun hal itu tidak meruntuhkan ketidakpedulian Xia Yue padanya


apalagi untuk duduk bersamanya.


Xia


Yue berfikir mengenai posisi Yue Qi saat ini. Dia memikirkan jarak perjalanan


mereka kemudian memperkirakaan waktu perjalanannya untuk mengestimasi waktu


yang akan di tempuh oleh Yue Qi untuk bisa sampai di desa itu. Karena desa itu


merupakan yang terdekat dari posisinya sebelumnya sehingga tidak mungkin bagi Yue


Qi untuk lebih memilih melanjutkan perjalanannya menuju Xihua.


Diamnya


Xia Yue membuat Xiao An kesal dan memasang wajah cemberutnya. Sekali lagi


sayang, Xia Yue justru berlalu melaluinya tanpa meliriknya sama sekali. Dia


berjalan menuju sungai yang berada di sebelah pondok. Menikmati pemandangan


hutan yang ada di seberang sungai.


Meskipun


hutan merupakan tempat yang selalu dikunjunginya bahkan tempatnya tumbuh, namun


Xia Yue tidak pernah bosan untuk merasakan kesunyian dan ketenangannya.


Mengambil


langkah hati-hati memijakkan kakinya ke bebatuan yang ada disana. Ketika sampai


disebuah batu yang cukup besar, dia duduk di atasnya sembari memandangi air


sungai yang mengalir dengan tenang.


Xiao


An memandangi Xia Yue dari tempatnya duduk. Dia semakin tertarik dengan ketenangannya


yang tidak tergoyahkan “Siapa dia sebenarnya”


Sementara


itu, tabib yang tengah meracik ramuan di belakang pondok melihat Xia Yue yang


tengah termangu di atas bebatuan sungai seorang diri. Tabib itu tersenyum


sekilas kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya menumbuk herbal dengan alat


tumbuk yang terbuat dari batu sembari bergumam “Pemuda yang tidak biasa”


Sementara


Xiao Bai menyeka luka Jin Xia dengan handuk basah setelah membuka pakaiannya.


Pakaian pemberian Putri Xia Mei itu terkotori dengan darahnya hingga butuh


untuk dibersihkan dan bekas sobekan dari panah yang menembus dadanya juga perlu


di perbaiki.


“Nona,


maafkan aku membuatmu jadi seperti ini” Xiao Bai memandangi luka yang masih

__ADS_1


utuh di dada Jin Xia dengan penuh penyesalan.


“Tidak


masalah. Lagipula ini bukan pertama kalinya aku terluka”sahut Jin Xia ringan.


Meskipun sakit, dia masih mampu untuk menahannya.


Xiao


Bai merasa terharu “Nona, siapa namamu? Jika dipikir-pikir, Nona belum


menyebutkan namamu” katanya sembari terus menyeka luka Jin Xia perlahan.


“Ah~


Jin Xia. Kamu bisa memanggilku Jin Xia.”


“Lalu


kedua Tuan Muda tadi?” Xiao Bai hanya bermaksud berbasa-basi untuk mencairkan


suasana diantara mereka daripada diam dan membuat suasana menjadi canggung.


“Oh…


itu yang ikut bersama kita dia Tuan Muda Xia Yue. Dia Pangeran Ketiga” jelas


Jin Xia ringan. Xiao Bai terheran. Bagaimana bisa seorang Pangeran berkeliaran


tanpa penjaganya. “Pangeran? Lalu, kenapa kamu memanggilnya Tuan Muda bukannya


Yang Mulia?”


Xiao


An yang mendengarkan pembicaraan diantara Jin Xia dan saudaranya dari luar


merasa semakin bersemangat.


“Kami


tumbuh di Xihua. Awalnya aku mengenalnya sebagai Tuan Muda di Xihua, sehingga


aku terbiasa memanggilnya Tuan Muda daripada Yang Mulia. Tuan Muda juga tidak


mempermasalahkan apakah aku memanggilnya Yang Mulia atau Tuan Muda. Karena hal


terdengar tidak nyaman dan aneh. Begitu juga dengannya, dia akan berkomentar”


“Benarkah?


Sepertinya hubungan kalian sangat dekat?” Xiao Bai antusias.


“Benarkah?


Dia itu seperti malaikat penyiksa yang selalu menyiksaku sepanjang waktu.”Jin


Xia memasang wajah menyedihkan. Xiao Bai tertawa geli kemudian bertanya


“Benarkah? Tidak terlihat seperti itu”


“Dulu,


secara tidak sengaja. Ya, kesalahanku juga yang memiliki mulut seenaknya dan


tidak bisa dijaga. Aku menjadi pengawal pribadinya. Sehingga mau tidak mau aku


harus berlatih bersamanya dengan menahan siksaan yang melewati batas normal”


“Kamu


pengawal pribadinya?” Xiao Bai nampak tidak percaya. Jin Xia menangkap


ketidakpercayaan yang tertulis jelas di wajahnya kemudian berkata”Aku tahu..


seiring berjalannya waktu, dibanding terlihat sebagai pengawal aku justru lebih


terlihat sebagai pelayannya”


“Benarkah?”


Xiao Bai justru merasakan hal berbeda. Mata yang sebelumnya dilihat olehnya


ketika di hutan justru menunjukan sesuatu yang lebih dari hubungan Tuan dan


pelayan.


“Iya”Jin


Xia menekankan.

__ADS_1


Xiao


Bai tersenyum dan menebak keadaan diantara mereka. “Lalu yang satunya?”


“Yang


satunya, dia Yue Qi, saudara ku” Jin Xia memperkenalkan Yue Qi sebagai


saudaranya bukan sebagai saudara sesumpahnya. Hal itu lebih mudah dilakukan


daripada harus menjelaskan detailnya.


“Ah,


begitu rupanya”


“Nona,


sepertinya kamu tidak terlihat seperti seorang pasien” tabib tiba-tiba saja


datang mengejutkan mereka yang tengah asik bercerita. Meskipun tabib itu


mendengar pernjelasan Jin Xia juga, namun hal itu tidak begitu menarik


perhatiannya karena hal itu bukanlah urusannya. Sekalipun Kaisar datang ke


pondoknya saat itu.


“Ah,


tubuh ku masih begitu lemah” Jin Xia berpura-pura menjadi sosok gadis lemah


sembari bergegas menutup kembali pakaiannya yang sempat terbuka.


“Menjadi


seorang yang dekat dengan pedang, tentu saja hal itu cukup wajar”tabib itu


menaruh tumbukan herbal di meja sebelah wadah yang berisi air beserta perbandi


sebelahnya. “Nona, kamu bisa membalurkannya di lukanya kemudian kamu balut


lukanya dengan perban” tabib itu memberikan intruksi kepada Xiao Bai tentang


apa yang harus dilakukannya selanjutnya.


 “Baik tabib” sahut Xiao Bai patuh.


“Aku


akan kembali kebelakang untuk memasak obatnya” tabib itu kemudian kembali


kebelakang setelah menjelaskan. Dia bahkan tidak bertanya kenapa seseorang yang


menemani Jin Xia berganti. Tidak! Dia tidak bertanya.


“Terima


kasih telah melongku” kata Jin Xia ketika tabib itu berjalan menuju belakang.


Untuk sesaat  tabib itu terhenti dari


langkahnya dan berkata “Sudah menjadi tugasku menjadi seorang tabib” kemudian


melanjutkan langkahnya.


“Baiklah,


sini aku balurkan” Xiao Bai meminta ijin untuk memulai membalurkan herbal


pemberian tabib pada luka Jin Xia “Iya” jawab Jin Xia singkat.


Setelah


mendapat ijin, Xiao Bai langsung memulainya. Perlahan dia membalurkannya secara


merata kemudian menutupnya dengan perban yang telah disiapkan. Meskipun bukan


ahli medis, namun cara Xiao Bai memerban luka cukup terampil dan rapi “Apakah


kamu mengerti medis?” tanya Jin Xia yang terheran.


“Tidak.


Hanya saja ketika berlatih pedang aku sering terluka, jadi aku juga mempelajari


bagaimana cara merawat luka” jelas Xiao Bai sembari memberikan sentuhan


terakhir pada balutannya “selesai”


“Kamu

__ADS_1


cekatan dalam banyak hal. Kamu juga cantik” puji Jin Xia.


__ADS_2