
Hari
itu cuaca cukup cerah. Binatang piaran tabib itu berkeliaran di pekarangan
hingga jalanan. Suara bising yang dikeluarkan piaraan-piaraan itu mengusik Xiao
An yang merasa tidak nyaman dengan adanya mereka.
Xiao
Bai bergantian dengan Xia Yue untuk menggantikannya membersihkan luka Jin Xia
yang tengah menunggu di dalam pondok. Setelah melewati pintu kayu, Xiao Bai
menutupnya agar tidak terlihat oleh orang luar kalau-kalau ada tamu yang datang
ditengah prosesnya merawat Jin Xia.
Xiao
An memperhatikan. Namun harapan tinggalah harapan. Meskipun dia memasang wajah
tercantiknya namun hal itu tidak meruntuhkan ketidakpedulian Xia Yue padanya
apalagi untuk duduk bersamanya.
Xia
Yue berfikir mengenai posisi Yue Qi saat ini. Dia memikirkan jarak perjalanan
mereka kemudian memperkirakaan waktu perjalanannya untuk mengestimasi waktu
yang akan di tempuh oleh Yue Qi untuk bisa sampai di desa itu. Karena desa itu
merupakan yang terdekat dari posisinya sebelumnya sehingga tidak mungkin bagi Yue
Qi untuk lebih memilih melanjutkan perjalanannya menuju Xihua.
Diamnya
Xia Yue membuat Xiao An kesal dan memasang wajah cemberutnya. Sekali lagi
sayang, Xia Yue justru berlalu melaluinya tanpa meliriknya sama sekali. Dia
berjalan menuju sungai yang berada di sebelah pondok. Menikmati pemandangan
hutan yang ada di seberang sungai.
Meskipun
hutan merupakan tempat yang selalu dikunjunginya bahkan tempatnya tumbuh, namun
Xia Yue tidak pernah bosan untuk merasakan kesunyian dan ketenangannya.
Mengambil
langkah hati-hati memijakkan kakinya ke bebatuan yang ada disana. Ketika sampai
disebuah batu yang cukup besar, dia duduk di atasnya sembari memandangi air
sungai yang mengalir dengan tenang.
Xiao
An memandangi Xia Yue dari tempatnya duduk. Dia semakin tertarik dengan ketenangannya
yang tidak tergoyahkan “Siapa dia sebenarnya”
Sementara
itu, tabib yang tengah meracik ramuan di belakang pondok melihat Xia Yue yang
tengah termangu di atas bebatuan sungai seorang diri. Tabib itu tersenyum
sekilas kemudian melanjutkan lagi aktivitasnya menumbuk herbal dengan alat
tumbuk yang terbuat dari batu sembari bergumam “Pemuda yang tidak biasa”
Sementara
Xiao Bai menyeka luka Jin Xia dengan handuk basah setelah membuka pakaiannya.
Pakaian pemberian Putri Xia Mei itu terkotori dengan darahnya hingga butuh
untuk dibersihkan dan bekas sobekan dari panah yang menembus dadanya juga perlu
di perbaiki.
“Nona,
maafkan aku membuatmu jadi seperti ini” Xiao Bai memandangi luka yang masih
__ADS_1
utuh di dada Jin Xia dengan penuh penyesalan.
“Tidak
masalah. Lagipula ini bukan pertama kalinya aku terluka”sahut Jin Xia ringan.
Meskipun sakit, dia masih mampu untuk menahannya.
Xiao
Bai merasa terharu “Nona, siapa namamu? Jika dipikir-pikir, Nona belum
menyebutkan namamu” katanya sembari terus menyeka luka Jin Xia perlahan.
“Ah~
Jin Xia. Kamu bisa memanggilku Jin Xia.”
“Lalu
kedua Tuan Muda tadi?” Xiao Bai hanya bermaksud berbasa-basi untuk mencairkan
suasana diantara mereka daripada diam dan membuat suasana menjadi canggung.
“Oh…
itu yang ikut bersama kita dia Tuan Muda Xia Yue. Dia Pangeran Ketiga” jelas
Jin Xia ringan. Xiao Bai terheran. Bagaimana bisa seorang Pangeran berkeliaran
tanpa penjaganya. “Pangeran? Lalu, kenapa kamu memanggilnya Tuan Muda bukannya
Yang Mulia?”
Xiao
An yang mendengarkan pembicaraan diantara Jin Xia dan saudaranya dari luar
merasa semakin bersemangat.
“Kami
tumbuh di Xihua. Awalnya aku mengenalnya sebagai Tuan Muda di Xihua, sehingga
aku terbiasa memanggilnya Tuan Muda daripada Yang Mulia. Tuan Muda juga tidak
mempermasalahkan apakah aku memanggilnya Yang Mulia atau Tuan Muda. Karena hal
terdengar tidak nyaman dan aneh. Begitu juga dengannya, dia akan berkomentar”
“Benarkah?
Sepertinya hubungan kalian sangat dekat?” Xiao Bai antusias.
“Benarkah?
Dia itu seperti malaikat penyiksa yang selalu menyiksaku sepanjang waktu.”Jin
Xia memasang wajah menyedihkan. Xiao Bai tertawa geli kemudian bertanya
“Benarkah? Tidak terlihat seperti itu”
“Dulu,
secara tidak sengaja. Ya, kesalahanku juga yang memiliki mulut seenaknya dan
tidak bisa dijaga. Aku menjadi pengawal pribadinya. Sehingga mau tidak mau aku
harus berlatih bersamanya dengan menahan siksaan yang melewati batas normal”
“Kamu
pengawal pribadinya?” Xiao Bai nampak tidak percaya. Jin Xia menangkap
ketidakpercayaan yang tertulis jelas di wajahnya kemudian berkata”Aku tahu..
seiring berjalannya waktu, dibanding terlihat sebagai pengawal aku justru lebih
terlihat sebagai pelayannya”
“Benarkah?”
Xiao Bai justru merasakan hal berbeda. Mata yang sebelumnya dilihat olehnya
ketika di hutan justru menunjukan sesuatu yang lebih dari hubungan Tuan dan
pelayan.
“Iya”Jin
Xia menekankan.
__ADS_1
Xiao
Bai tersenyum dan menebak keadaan diantara mereka. “Lalu yang satunya?”
“Yang
satunya, dia Yue Qi, saudara ku” Jin Xia memperkenalkan Yue Qi sebagai
saudaranya bukan sebagai saudara sesumpahnya. Hal itu lebih mudah dilakukan
daripada harus menjelaskan detailnya.
“Ah,
begitu rupanya”
“Nona,
sepertinya kamu tidak terlihat seperti seorang pasien” tabib tiba-tiba saja
datang mengejutkan mereka yang tengah asik bercerita. Meskipun tabib itu
mendengar pernjelasan Jin Xia juga, namun hal itu tidak begitu menarik
perhatiannya karena hal itu bukanlah urusannya. Sekalipun Kaisar datang ke
pondoknya saat itu.
“Ah,
tubuh ku masih begitu lemah” Jin Xia berpura-pura menjadi sosok gadis lemah
sembari bergegas menutup kembali pakaiannya yang sempat terbuka.
“Menjadi
seorang yang dekat dengan pedang, tentu saja hal itu cukup wajar”tabib itu
menaruh tumbukan herbal di meja sebelah wadah yang berisi air beserta perbandi
sebelahnya. “Nona, kamu bisa membalurkannya di lukanya kemudian kamu balut
lukanya dengan perban” tabib itu memberikan intruksi kepada Xiao Bai tentang
apa yang harus dilakukannya selanjutnya.
“Baik tabib” sahut Xiao Bai patuh.
“Aku
akan kembali kebelakang untuk memasak obatnya” tabib itu kemudian kembali
kebelakang setelah menjelaskan. Dia bahkan tidak bertanya kenapa seseorang yang
menemani Jin Xia berganti. Tidak! Dia tidak bertanya.
“Terima
kasih telah melongku” kata Jin Xia ketika tabib itu berjalan menuju belakang.
Untuk sesaat tabib itu terhenti dari
langkahnya dan berkata “Sudah menjadi tugasku menjadi seorang tabib” kemudian
melanjutkan langkahnya.
“Baiklah,
sini aku balurkan” Xiao Bai meminta ijin untuk memulai membalurkan herbal
pemberian tabib pada luka Jin Xia “Iya” jawab Jin Xia singkat.
Setelah
mendapat ijin, Xiao Bai langsung memulainya. Perlahan dia membalurkannya secara
merata kemudian menutupnya dengan perban yang telah disiapkan. Meskipun bukan
ahli medis, namun cara Xiao Bai memerban luka cukup terampil dan rapi “Apakah
kamu mengerti medis?” tanya Jin Xia yang terheran.
“Tidak.
Hanya saja ketika berlatih pedang aku sering terluka, jadi aku juga mempelajari
bagaimana cara merawat luka” jelas Xiao Bai sembari memberikan sentuhan
terakhir pada balutannya “selesai”
“Kamu
__ADS_1
cekatan dalam banyak hal. Kamu juga cantik” puji Jin Xia.